DUNIA MEMIHAK MU

DUNIA MEMIHAK MU
Episode 10


__ADS_3

Sudah lama sejak Ken pergi ke minimarket, sampai sekarang dia belum juga kembali. Jarum jam sudah menunjuk pukul sepuluh malam, cuaca semakin dingin, Yui khawatir jika pria berkondisi lemah itu tersungkur di tengah jalan.


Cemas dengan Ken, Yui lantas memaki jaket tebalnya berniat menjemput pria itu. Tak sampai membuka pintu, dia mendengar suara dari balik dinding kokoh apartemen. "Loh, apa nih rame-rame?" Sigap, Yui membuka pintunya.


Terlihat Ken sudah berdiri dengan kantongan berisi lampu. Tak ada yang aneh. Lalu kenapa dengan pria tua ini? Untuk apa dia berada di depan apartemen?


"Ada Pak Tua, ngapain nih malem-malem ke sini?" tanya Yui dengan nanda senda gurauan. Dia biasa melempar candaan sedikit berlebihan pada kasir langganannya.


Pak Tua itu dengan tatapan bahagia menujuk wajah Ken, lalu berganti menoleh ke arah Yui. "Kalian pacaran?" tanya Pak Kasir kebingungan.


Sontak Yui langsung menangkis dugaan tersebut. Wajahnya panik seolah terpergok berbuat salah. "Siapa? Aku? Dia?" Yui menggeleng-gelengkan kepala berulang kali. "Ga mungkin lah," sambungnya.


"Dia yang bilang. Seleramu makin meningkat," puji Pak Tua bangga melihat Yui. "Ini lebih tampan dari yang kemarin," timpalnya lagi.


Tidak ingin ada kesalahpahaman, Yui langsung memperkenalkan Ken sebagai kakak sepupunya, takut jika kasir itu menyebarkan gosip tentang keberadaan Ken di apartemennya.


"Benarkah?" Pak Tua langsung kecewa. Segera dia memberikan duit Ken, lalu beranjak pergi dari sana.


~Apartemen~


Yui mendengkus menahan amarahnya. "Ga ada gunanya cemasin dia," batinnya sambil menekan sisi pelipis. Dia hanya bisa menatap pria itu dengan hati yang terus berusaha bersabar. "Pasang yang bener!" perintah Yui meneriaki Ken yang tengah memutar bola lampu.


Setelah semua bola lampu terpasang, Ken mendekati Yui dengan lagak polosnya. Dia melirik sebentar ke arah kanan untuk mengingat, sembari dia berkata," Bukannya waktu itu kau mengatakan pada sekuriti bahwa aku adalah pacarmu?" tanya Ken mencoba memutar kembali kejadian itu.


Yui menilik tubuh Ken dari atas hingga bawah. "Apa dia sebodoh itu?" Yui mendesis.


"Aku bisa dengar suaramu," ucap Ken memperingati gadis yang baru saja menghinanya. "Aku sudah bereskan lampu. Kamar yang tak sebanding dengan kamar mandi di kastil ku sana juga sudah rapi." Ken menunjuk. "Aku tidur," pamitnya kemudian.

__ADS_1


Mereka dengan tenang melewati malam tanpa ada kejadian aneh. Semua tampak normal. Setelah sekian lama Yui mengharapkan gulitanya berubah cahaya tanpa ada kendala, akhirnya dia merasakannya.


...****************...


Seperti biasa, di setiap pagi yang indah, Yui disuguhi pemandangan luar biasa dari pancaran wajah Ken. Pria itu tengah sibuk dengan kompor juga teflon. "Suami idaman," decak Yui kagum sambil menikmati bahu bidang Ken dari belakang. Bukannya membantu pria itu memasak, Yui malah duduk di kursi sambil tersenyum menyerap suasana pagi yang syahdu.


"Ken, hari ini aku mau ke cafe, kamu ikut, ga?" tanya Yui.


Ken tak menyahut, dia duduk di kursi sebelah Yui. Dia kemudian meletakkan hasil masakannya ke sebuah pinggan bundar.


Dia mulai menyantap. "Tidak," tolaknya.


"Ehm, ok."


"Kau tidak bisa pergi hari ini. Kau harus menemaniku mencari Simon," sambungnya memerintah.


Belum sempat bibir Yui menjawab, Ken langsung membungkam gadis itu. "Tidak ada kata menolak. Jangan makan ini kalau mulut kotormu membantah perintahku," cegat Ken.


Tak banyak menunggu lama, mereka kemudian memulai perjalanan menuju keberadaan Simon, jendral dari langit. Dengan mobil baru milik Yui, keduanya bergegas.


"Kamu udah tahu si Simon dimana?" tanya Yui dengan mata berkonsentrasi ke jalan.


"Hmm," jawab Ken malas. Dia hanya meratapi kendaraan yang berlalu lalang di depan matanya.


Setelah menempuh perjalanan yang panjang, akhirnya tibalah mereka ke sebuah rumah kosong di pinggiran kota. Tempat itu sudah lama ditinggal oleh pemilik, tentu gelap dan juga menyeramkan. Mereka akan masuk ke dalam sana meski tahu tempat itu bisa jadi sangat berbahaya.


Kini mereka semakin dekat dengan gerbang tinggi terlilit mawar berduri. Ken merasakan sesuatu yang tak asing dari dalam sana. Meski kekuatannya sangat lemah, sangat jelas bahwa tempat itu memiliki aura familiar.

__ADS_1


"Kau tunggu di sini," kata Ken melarang Yui masuk ke dalam bersamanya.


Bulu kuduknya meremang. Gadis itu sudah ketir sebelum masuk ke sana. Tentu dia pun enggan melangkah lebih jauh ke tempat angker tersebut. Dia mengangguk mendengarkan perintah Ken.


"Jika terjadi sesuatu, pergi secepatnya dan jangan pedulikan aku," tambah Ken lalu segera membuka gerbang berkarat itu dengan hempasan jarinya.


Meski resah dengan Ken, Yui tak memiliki keberanian menyusul pria itu sana. Yui tahu bahwa kekuatan pria itu tak seberapa besar, sebab semalam sudah terkuras habis.


"Kenapa lama banget?" Yui menggigit kuku jarinya karena cemas. Sudah berapa lama Ken memasuki rumah tak berpenghuni sana, tapi belum juga ada tanda-tanda kepulangannya.


Yui semakin panik saja dengan Ken. Tak bisa hanya duduk diam di dalam mobil, Yui memberanikan diri untuk menghampiri Ken di dalam sana. Dia melawan ketakutannya dan membusungkan dada melewati gerbang tua itu.


"Jangan takut, Yui!" serunya menyemangati diri. "Aku juara satu bertahan taekwondo, merdeka!" tambahnya sambil berjalan lebih dalam ke rumah kosong itu.


Sepanjang lorong, hanya ada kegelapan menyelimuti setiap sudut, bahkan tempat ini terasa lembab. Bertebaran debu dari dinding hingga atapnya, jelas bahwa lorong itu baru saja dilewati. Seisi rumah hancur dengan perabot tak tentu arah. Tengkuknya merinding.


Sesekali dia mendengar suara mendecap dari balik ruangan di sebelahnya. Dia tak acuh dan melewati ruangan tersebut tanpa menoleh. Kakinya melemah, dia tak sanggup melangkah lebih jauh lagi, karena setiap ruangan terasa seperti kuburan. Begitu sunyi dan mengeluarkan hawa mematikan.


Yui berhenti dari langkahnya, dia melihat sepasang mata berwarna merah melotot ke arahnya. sangat mengerikan, hingga dia terpental ke belakang. Sungguh kalbunya berhenti sejenak.


"Aaa!!" teriak Yui histeris.


Sesosok makhluk mengerikan berdiri di depannya. Kulit bersisik juga air liur yang kental menetes membasahi lantai yang berlumpur. Kakinya menyeret dengan kuku hitam yang panjang. Wajahnya menjijikkan, seperti keledai kehausan.


"Pe-Pergi!" usir Yui dengan langkah gentar menjauh perlahan.


Sayangnya makhluk mengerikan itu semakin mendekat, dia mengendus bak binatang. Tangannya mulai terangkat bersiap mencekik leher gadis itu.

__ADS_1


"Rauwr!" Auman makhluk itu begitu menggelegar. Burung-burung kematian yang hinggap di sana langsung berterbangan keluar dari celah terbuka.


"Agh!" ringis Yui kesakitan. Lehernya membengkak akibat cengkraman yang begitu erat. Dia tak dapat bernafas bebas, suaranya mengambang. "Le-pas-kan ... aku!" Yui mencoba berteriak, sayangnya tak bisa. Bahkan untuk menghirup udara pun sulit.


__ADS_2