DUNIA MEMIHAK MU

DUNIA MEMIHAK MU
Episode 17


__ADS_3

Ken membisu mendengar kalimat itu. Sangat menyakitkan, sampai dia tak dapat berdentum membela diri. Bukankah dia hanya ingin melindungi gadis itu? Dimana letak kesalahannya? Dia tak mungkin menyakiti manusia lemah sana, jika bukan karena Yui. Ken belum bisa mencerna alasan mengapa Yui sebegitu murka terhadapnya.


Mobil milik Yui beralalu hingga menghilang dari pandangan Ken dengan cepat. Yui menconcong pergi tanpa menghiraukan keberadaannya. Seolah dia tak menganggap keberadaan Raja Iblis.


"Baru kali ini aku diperlakukan kurang ajar," gumamnya ketika mobil yang dikendarai Yui benar-benar menghilang dari hadapannya.


~Rumah Sakit~


Sudah dua hari berlalu sejak kericuhan yang disebabkan oleh Ken. Kini Si Korban sedang tertidur lemah menahan kemelut. Dia hanya bisa meringis menahan sakit yang begitu menyayat.


Riyu baru saja selesai dari operasi tulang.


"Uhmm ... sakit," rengeknya mengadu pada Yui. Dia begitu manja pada gadis itu.


Belum pernah Yui kembali ke apartemen. Sepanjang hari hanya duduk mendampingi Riyu. Dia merasa bersalah, sebab itu bertanggungjawab atas perbuatan Ken.


"Cowo kemarin kayanya bukan manusia, deh," duga Riyu ketika disulangi makan.


Tangan Yui terus saja berayun menyendokkan makanan ke dalam mulut mantan pacarnya. "Jangan banyak ngomong. Makan dulu baru bicara!" nasehat Yui tak ingin memperpanjang.


Momen ini menjadi kesempatan bagus bagi Riyu untuk rujuk kembali. Dia sengaja menyuruh keluarganya untuk tidak perlu menjaga, agar dia dapat dirawat langsung oleh Yui. Startegi yang cukup efektif.


"Yui ... kamu masih marah sama aku?" tanya Riyu.


Yui terdiam. Tangannya tak lagi bergerak. Dia menatap mata Riyu dengan kelopak yang sayu. Sungguh dia tak ingin membahas masalah itu. Hatinya terasa sakit ketika mengingat betapa munafik pria di depannya ini.


"Bisa ga jangan bahas itu lagi? Aku udah muak, Riyu," balas Yui tak senang. "Aku benci kamu, apalagi cewe menor itu," sambungnya dengan kesal.

__ADS_1


Riyu langsung menimpali. "Cewe menor itu?" duganya yakin. Matanya terbelalak besar ketika mendengar. "Dih, tante tante itu. Kenapa? Dia ngaku hamil?" tanya Riyu.


Yui mengangguk. Sesuai perkataan Riyu, wanita dengan riasan tebal itu datang dengan perut bunting memaki Yui. Dia juga membawa lembaran foto mesra dengan Riyu.


"Itu foto editan. Kamu percaya?" Dia melihat mimik Yui. "Jangan bilang ... kamu percaya?"


Yui hanya mengangguk. Jika diingat kembali, memang salahnya karena tidak meminta penjelasan dari Riyu. Kala itu seharusnya dia tidak langsung memutuskan hubungan secara sepihak. Sehingga kesalahpahaman tidak muncul seperti saat ini.


Wanita itu adalah anak sahabat ibunya Riyu. Berhiaskan benda berkilauan, juga make-up yang tebal. Dia sungguh bukan tipe Riyu. Wanita bersolek bahana itu memang sudah sejak lama menyukai Riyu. Bukan hanya sekali ini saja dia merusak hubungan percintaan Riyu, bahkan sebelum bersama dengan Yui, dia pun sudah melakukan aksi yang sama. "Aku ga pernah ada niatan selingkuh," tegas Riyu meyakinkan.


Bukannya senang mendengar kenyataan itu, Yui malah termenung dalam murung. "Harusnya aku senang pas tahu kalau cewe menor itu bukan selingkuhannya," gumam Yui dalam benak. "Ga mungkin karena Ken," tebaknya menduga.


Sementara di sisi lain, Ken hanya duduk menonton televisi. Dia tidak melakukan apa pun selain menyaksikan film juga acara di sana. Sungguh dia belum melangkah dari sofa semenjak Yui tak kembali. Dia terus menunggu sampai pintu apartmen itu mengabarkan kepulangan Yui.


"Kenapa dia belum juga pulang?" Ken berdiri dari duduknya yang panjang. Sekitar empat puluh jam dia bersila, akhirnya kedua kakinya terjuntai ke bawah. Lalu telapaknya meraba lantai berlapis karpet berbulu. "Apa dia sedang mesra-mesraan dengan tikus busuk itu?" Murkanya mencuat.


Untung tubuhnya dalam kondisi yang baik, sehingga kekuatannya cukup untuk menemukan keberadaan gadis tersebut.


Yang dia lihat hanyalah secuil belaian antar keduanya. Membuat darahnya mendidih ingin menghancurkan pria yang tengah terbaring sana.


"Bajingan sana berani sekali menyentuh orang ku," decak Ken kesal. Rahangnya mengeras hingga terlihat garang. Mengerikan. Aura kegelapan muncul secara tiba-tiba dari tubuhnya yang kekar.


Brak!


Dia sengaja membuka pintu dengan keras agar kebisingan yang yang telah diperbuat olehnya menganggu ketenangan. "Kau tidak tahu jalan pulang?!" Belum apa-apa, dia sudah mengamuk duluan. Matanya menjegil sinis melihat Riyu yang sedang menggenggam pergelangan tangan Yui. "Singkirkan tanganmu, sialan!" Ken menepis keras tangan Ken. "Atau kau ingin tangan yang ini ku patahkan juga," ancamnya dengan mata satiras.


"Kamu kok bisa sampai sini?" tanya Yui keheranan. Dia benar-benar tidak menyangka jika Ken bisa sampai di rumah sakit.

__ADS_1


"Hustt!" suruhnya diam sambil menoleh ke arah Yui. "Ayo pulang!" ajaknya sedikit memaksa.


Mendengar kelancangan Ken dalam memerintah Yui. Membuat Riyu berusaha bangkit dari sungkur sehingga dengan mudah mencegat kepergian kekasihnya tersebut. "Yui, jangan pergi," pintanya memelas. Lagi-lagi tangannya menggenggam erat pergelangan tangan Yui.


Spontan Ken merasa terganggu, sehingga dengan jetikan jari Ken, pria itu langsung terjatuh tak sadarkan diri.


Bruk!


Riyu kembali terlentang di atas ranjang tanpa ada kesadaran sama sekali.


"Astaga! Ken ...."


Belum juga dia selesai berbicara, Ken meletakkan telunjuk di bibir penuh Yui. "Aku akan bunuh dia jika kau mengamuki aku," cegat Ken sebelum Yui memaki dirinya.


Ken memanggul Yui di atas pundaknya, sehingga kepala gadis itu berada di bawah, tepat mengenai punggung belakangnya. "Ken! Turunin, ga?" Yui menekan pundak pria itu agar segera diturunkan. Kepalanya terssa pusing seolah darah tumpah ke dasar kepalanya, sebab kini tubuhnya dalam kondisi terbalik.


Ken tidak mendengarkan, dia terus berjalan keluar dari ruangan Riyu.


"Ken!!!" Kali ini suaranya menggelegar. Ken akhirnya menurunkan tubuh Yui. "Kamu kenapa sih?"


Ken memalingkan wajahnya. Dia tidak menatap Yui sama sekali. Bibirnya sedikit menyonyong karena merajuk. "Cih," decaknya kesal. Dia tidak habis pikir pada Yui. Bisa-bisanya gadis itu meninggalkan dirinya selama dua hari di dalam apartemen. Sungguh batinnya terasa sesak ingin mengamuki Yui.


"Jangan buat masalah baru lagi deh. Buruan sadarin Riyu. Kalau ngga ...."


"Apa? Kau sedang mengancam ku?" timpal Ken dengan lirikan mematikan. "Apa yang kau lakukan dengannya dalam dua hari ini? Pasti kau sangat bahagia sekali bisa bermesraan dengan manusia busuk itu," umpatnya kesal.


Yui hanya diam membisu mendengar kalimat Ken yang begitu sarkas. Entah mengapa terdengar kasar, hingga dia hanya bisa menelan saliva dengan berat. "Kamu cemburu?" Mata Yui berbinar-binar. Benaknya menari-nari melihat Si Raja Iblis itu begitu gusar terhadapnya.

__ADS_1


"Ck," decaknya menutupi perasaan. Pipinya terasa panas karena Yui berhasil menangkap isi hatinya. "Tidak sempat," balasnya mengelak. Padahal sudah terlihat jelas dari gelagatnya. Dia cemburu.


"Ya, ga mungkin cemburu," angguk Yui menyadari. Tidak mungkin sosok Ken menyukai dirinya yang hanya sekedar manusia biasa.


__ADS_2