DUNIA MEMIHAK MU

DUNIA MEMIHAK MU
Episode 21


__ADS_3

Layaknya pasangan kekasih yang baru saja resmi, begitu pula dengan Yui dan Ken. Mereka seolah berada di taman bunga yang luas, hidup di kelilingi kupu-kupu. Keduanya selalu berdempetan satu sama lain, menempel bagai prangko.


Hari ini mereka menghabiskan waktu di apartemen saja. Dengan menghidupkan televisi untuk ditonton bersama.


"Yang ini aja," suruh Yui menahan Ken yang sejak tadi menekan tombol remote. Dia terus mengganti siaran karena belum menemukan film yang pas di hatinya.


Yui sangat kesal. Dia hanya diam dengan tatapan bosan memandangi layar datar di depan sana. "Ih, Ken! Sini! Yui merampas remote yang ada di tangan Ken dengan kasar. "Nyari siaran aja ga bisa," semburnya dengan tatapan sinis.


Ken hanya menoleh meratapi wajah Yui yang kusut. Batinnya keheranan memaklumi perangai gadis yang mudah kesal itu. "Untung cantik," decak Ken mengelus dada.


Saat jempolnya hendak mulai mengutak-atik tombol remote, tiba-tiba sebuah berita muncul di layar. Terdengar bahwa mereka sedang membahas mengenai gempa yang tidak diketahui penyebabnya. Gelombang dahsyat yang berhasil mengguncang tanah, membuat para warga tercekam. Semua panik dan khawatir jika terjadi gempa susulan lagi.


Yui menjegilkan mata ke arah Ken. Hidungnya mengembang, sudut bibirnya turun. "Lihat tuh, gara-gara kamu ... orang-orang jadi panik," semprot Yui mengamuki Ken.


Si Raja Iblis itu pun hanya bergeming menelan semua kata-kata dari mulut Yui. Sangat cerewet. "Kau menyalahkan ku?" tanya Ken dengan mimik tertindas.


"Loh, emang benner, kan?"


"Itu semua karena kau," balas Ken tak ingin disalahkan. Bukan membela diri, memang benar jika amukannya disebabkan oleh Yui saat itu. "Siapa suruh tidak mendengarkan perkataan ku?" tambahnya melempar tuduhan.


"Oh ... jadi gini, yah? Baru lima hari pacaran sama kamu, sifat aslinya langsung keluar!" tukas Yui naik pitam. "Kemarin manis banget, sekarang udah bosan? Makanya ngomong gini ke aku?"


Ken semkain bingung. Dia benar-benar tidak tahu letak salahnya dimana. Bukankah gadis itu yang sejak awal mengamuk menggerutuinya? Lalu kenapa sekarang malah berlagak seolah korban?


"Apa?" Ken terbelalak.

__ADS_1


Tidak ingin jika keadaan semakin rumit, Ken akhirnya memilih untuk mengalah. Mungkin gadis itu sedang dalam periode haid, sebab itu terasa lebih sensitif dari biasanya. "Maafkan aku," katanya mencoba meredam amarah Yui. "Katakan padaku, apa yang salah? Sejak tadi kau hanya mengamuki aku, sungguh ... aku tidak tahu dimana letak kesalahan ku," jelas Ken dengan niat berdamai.


Kali ini dia begitu bijaksana. Jika saja Ken terbawa suasana, mungkin semakin pelik pula masalah mereka. "Jangan cemberut," katanya lalu memeluk Yui. "Sebaiknya tidak memancing singa betina marah," ucap Ken dalam benak, kemudian mengusap pundak belakang Yui berulang.


Yui mendorong tubuh pria itu agar menjauh darinya. Wajahnya yang masam ditujukan langsung pada Ken. "Gak tau, ah. Kamu nyebelin pokoknya," ungkapnya sambil memukul dada Ken satu kali.


Ken menaikkan alisnya sebelah, rautnya penuh tanda tanya. "Ha? Apa lagi?"


"Gimana kalau orang lain tahu gempa kemarin itu kamu yang buat? Kamu dipenjara, dihukum mati. Terus kamu ... kamu ninggalin aku," jelas Yui mengatakan alasan dibalik kekesalannya.


Ken terkekeh mendengar alasan dari mulut gadis itu. Jiwanya tergelitik mendengar logika manusia. Meski masuk akal, dan bisa saja terjadi, namun tak berlaku baginya. "Aku Raja Iblis, kematian pun tidak berani mendekati ku," jawabnya menyombongkan diri.


Semakin kesal pula Yui terhadap Ken yang begitu bengal tak mendengarkan nasehatnya. "Cih, kamu memang egois. Aku khawatir tahu sama kamu," sembur Yui.


Di tengah kegaduhan kedua pasangan baru ini, tiba-tiba dering ponsel Yui berbunyi. Seseorang menghubungi dirinya. Entah alasan apa sebenarnya, pelakunya adalah kasir minimarket di depan komplek apartemennya. Dia Pak Ozy.


"Sudah datang, jemput ke sini," sahut Pak Ozy. Paruh baya itu langsung memutuskan panggilan selepas suruhan itu keluar dari mulutnya.


Setiap bulan Yui harus menjemput titipan bibinya di minimarket milik Pak Ozy. Kiriman bibi yang mengasuhnya sejak kecil itu bukanlah sembarang benda. Titipan tersebut berisi emas batangan.


"Ternyata keluargamu kaya juga. Pekerjaan apa itu sampai sanggup mengirim emas batangan setiap bulannya?" tanya Ken merasa takjub.


"Entah. Aku juga ga tahu. Bibiku tinggal di luar negri." Yui mulai berjalan menuju toserba milik Pak Ozy. "Jangan tanya tinggalnya dimana. Aku juga ga tahu," sanggah Yui sebelum Ken membuka mulut untuk mengorek identitas Yui.


~Minimarket~

__ADS_1


"Oy, Tua Bangka!" sapa Yui setelah pintu kaca itu terdorong.


"Kurang ajar! Yang sopan kalau bicara sama orang tua," nasehat Pak Ozy.


Yui tak mengindahkan perkataan Pak Ozy. "Loh, emang tua, kan? Ga terima banget deh dikatain tua. Sok muda banget," hinanya tanpa memikirkan perasaan Pak Ozy.


"Diam, kamu ribut sekali! Nih, ambil. Jual ke tempat biasa," suruh Pak Ozy selepas memberikan sebuah kotak kecil seperti peti kayu. "Bibimu belum bisa pulang. Jadi kamu harus jaga kesehatan. Itu pesannya," ujar Pak Ozy menyampaikan.


"Udah dua tahun bibi ga pulang. Bahkan aku ga tahu kabar dia sekarang kalau bukan dari kakek peyot ini. Makasih." Yui langsung pergi dari dalam. Menghampiri Ken yang sudah berdiri di depan minimarket.


"Ayo!" ajak Yui. Niatnya ingin menjualkan emas pemberian bibinya itu.


"Ada yang hendak ku pastikan," jawab Ken. Dia masuk ke dalam minimarket lalu berjalan mendekati Pak Ozy. Sesuatu mengganjal di hatinya.


Emas yang diberikan oleh kasir ini bukanlah jenis emas biasa. Tidak ada di bumi. Ken tahu betul jika emas itu hanya ada di Kerajaan Langit. "Ck, ketemu kalian."


Wajahnya tegang. Bahkan matanya terasa begitu tajam. Aura membunuh dari tubuhnya terpancar kuat, sehingga suasana begitu gelap saat ini.


"Eh, tunggu!" Yui mengikuti Ken.


Ken mengepalkan kedua tangannya. Matanya berapi-api menerkam Pak Ozy yang masih berdiri kaku melihat aura yang tidak asing ini. Kakinya bergetar hebat, dia teringat kembali akan sesuatu hal yang besar. "Kenapa aku baru menyadari ini?" umpatnya mengatai dirinya sendiri.


Satu tangan Ken diluruskannya ke samping. Sekejap itu pula, sebuah bayangan hitam pekat menjalar memenuhi batang tangannya, hingga akhirnya melingkar di genggamannya. Sebuah benda seperti tonfa terpegang kuat di telapaknya. Sangat indah, namun terdapat mata pedang di ujungnya, hingga jenis senjatanya tidak terdeteksi.


Dia mengacungkan pedang berwarna hitam itu, tepat di leher Pal Ozy. Darah tipis keluar dari kulit yang tergores ujung pedang milik Ken.

__ADS_1


"Jelaskan semua, atau kau mati detik ini," ancam Ken. Sebelah matanya tak tampak, sebab sebuah cahaya berwarna ungu menutupi. "Setenga Dewa," sebut Ken.


Pak Ozy terdiam. Kerongkongannya berat saat menelan ludahnya sendiri. Bibirnya kering, sesaat setelah menatap bidik mata Si Raja Iblis. "Ken Reymond," sebutnya ketir.


__ADS_2