
Seandainya Sang Raja tak memerintah para Libe agar tak menyakiti gadis rapuh ini, mungkin sekelompok makhluk berupa aneh itu sudah menghabisinya.
"Raja Iblis sudah pergi. Beliau meninggalkan dunia ini," jawab Libe berwajah elang.
Yui mendecak, kemudian tersenyum sinis. "Kalian kira aku bodoh? Brengsek itu ga punya kekuatan, gimana mau ninggalin bumi?" balas Yui tak tertipu dengan bualan para Libe. Dia tahu semua yang mereka katakan adalah perintah dari Ken. "Katakan!" senggak Yui tak bersabar.
Libe berwajah elang itu kemudian menelan saliva, dia yang terbijak diantaranya, demi melindungi temannya itu, akhirnya dia membuka mulut. "Raja Iblis ada di bawah tanah tempat ini. Di sana ada tangga, jalannya sebelah kanan bangunan ini." Libe itu menunjuk. "Itu tempat suci yang kami bangun. Jangan buat keributan di sana," nasehat Libe terpaksa.
Yui tanpa ragu berlari menuju ruangan bawah tanah sesuai perkataan Libe tersebut. Tak ada rasa takut kini dalam dirinya. Seluruh kepalanya hanya ada ken. Bagaimanapun dia harus bertemu pria itu. Sudah sejauh ini, mengapa dia malah meninggalkan Yui? Terlambat. Gadis itu sudah terikat dengannya.
"Jangan main-main Ken!" teriak Yui ketika sudah tepat berada di ruangan itu. Sangat bersih, bahkan sebutir abu pun tidak tampak.
Yui melihat sebuah patuh yang diukir dari pohon ek, sangat agung, sampai batin Yui bergerak untuk bersujud. "Mirip Ken," katanya sambil menyentuh patung itu. "Tapi yang ini ada sayapnya."
Grek!
Tiba-tiba ruangan itu terkunci. Mereka berhasil menjebak gadis itu. Para Libe mengurung Yui di dalam sana, terkunci dan tak dapat membukanya.
"Untungnya Sang Raja sudah mempersiapkan rencana ini," pungkas Libe.
"Semoga Yang Mulia selalu selamat!" sorak mereka bersamaan.
Sebentar lagi matahari akan menyingsing. Namun Yui masih saja terperangkap di dalam. Harapannya pupus, dia tak akan bisa bertemu dengan Ken jika sudah begini. Para Libe tidak berakhlak itu dengan tega membiarkan dia kedinginan melewati malam yang sunyi hanya karena ingin menjauhkan dia dari Ken.
Setelah panas sudah teraba olehnya, pintu itu terbuka. Para Libe memanggil Yui dari atas. "Nona, kau sudah bisa pulang." Seketika mereka lenyap. Dengan cepat meninggalkan tempat tersebut.
"Ck, ga ada akhlak ya iblis-iblis itu!" gerutu Yui kesal. Tak ada satu pun Libe yang tertinggal, mereka sudah pergi. "Ken!!!" teriak Yui murka.
Dia kembali ke apartemen karena berdiam diri di rumah kosong itu tak ada gunanya. Mereka tak akan bisa ditemukan lagi. "Jangan panggil aku, Yui Maona, kalau ga berhasil buat kamu bertekuk lutut untukku," sumpah Yui dengan mata membara di depan cermin kamarnya.
__ADS_1
Wajahnya kembali seperti semula. Tidak ada tanduk, mata berwarna merah, atau urat di area pelipisnya. Kini dia begitu cantik.
Sesungguhnya dia kebingungan dengan semua yang telah terjadi. Bagai sebuah mimpi, namun nyata dialami olehnya. Sungguh Yui hari ini berpikir sangat keras. Mengapa dia bisa berubah menjadi iblis bertanduk? Apa karena digigit oleh Libe itu?
"Ga mungkin karena Libe jelek itu," pungkasnya yakin. Dia berdiri di depan jendela kacanya, sedikit dia menghirup udara segar. "Apa aku sebenarnya iblis?" tanyanya.
Semua pertanyaan dalam kepalanya tak akan pernah terjawab jika Ken belum juga ditemukan. Bagaimanapun caranya, dia harus mendapatkan pria itu untuk meminta kejelasan.
...****************...
Sudah satu minggu berlalu, Ken belum juga kembali. Setiap hari Yui mendatangi rumah kosong kemarin, namun tak kunjung menemukan iblis berwajah tampan itu. Sungguh dia mulai merindu. Bukan hanya tanya yang ingin dia lontarkan, dia menyimpan segudang gelebah untuk Ken. Rasanya hidup sudah tak berwarna sejak ditinggal pria itu.
Yui tak bersemangat seperti hari yang lalu, dia terus murung dan gelisah. Sejak saat itu pula, senyum manisnya hilang. Dia belum pernah menginjakkan kakinya selain ke rumah kosong itu. Bahkan dia membengkalaikan cafenya sendiri, membiarkan karyawan mengambil alih sementara.
Yui memandangi liontin pemberian Ken yang terakhir. Kemudian dia memejamkan matanya sambil berucap sangat tulus," Ken! Kamu dengar aku, kan? Ini bakal jadi hari terakhir aku, kalau kamu ga datang nolongin aku."
Di tengah malam diterangi bulan penuh, Yui dengan getar menaiki gagang jembatan. Dia mengibarkan kedua tangannya sambil memandangi curam dasar sungai yang mengalir deras. Ketika kakinya lemah mendengar desir angin, disitulah mulai timbul permohonan dari mulut pasihnya.
"Aku ga mau mati!" teriak Yui memejamkan matanya karena takut melihat aliran sungai yang deras. Dia ragu melompat ke bawah. Bagaimana jika Ken tidak muncul? Tentu nyawanya akan melayang. Namun hanya ini satu-satunya cara memancing pria itu keluar dari persembunyiannya.
"Kalau aku mati ... aku bakal gentayangin kamu duluan!"
Yui memegang liontin berbatu biru di lehernya. Kemudian dengan pasrah menjatuhkan tubuh liuknya menghantam sungai.
Brusss!
Hanya ada cekikan air yang mengalir. Tidak ada yang dia dengar. Kini hanya gelembung akibat hentakan tangan juga kaki yang dia lihat. Dia tak bisa bernafas, seolah air membasahi tenggorokannya. Perutnya mengembang menampung cairan dingin itu. Sungguh dia tak bisa bertahan lebih lama lagi. Sangat dalam, sampai tangannya tak mampu menjatah hingga ke atas. Dia berteriak dalam hatinya, terus menyebut nama pria itu seraya menggerakkan kaki juga tangan.
"Aku ga akan mati, kan? Waktu itu pun begini. Dia pasti datang," ucapnya untuk yang terakhir kalinya sebelum semua benar-benar menghitam.
__ADS_1
Dia berlabuh hampir mencapai dasar sungai. Sangat jauh, sampai udara menekan tubuhnya yang kaku. Seluruh rangka miliknya terhuyung mengikuti derasnya arus sungai. Tak berhenti, sampai sebuah benda asing menjamah pinggangnya.
Dia mulai terangkat naik. Yui tak tahu apa itu. Kesadarannya samar-samar kembali, walau hanya sedikit, dia bisa melihat cahaya yang terpancar dari liontin yang melingkar di lehernya. Begitu terang sampai dia tak bisa meraba setempat.
...****************...
Matanya terlonjak sadar. Dengan gegabah, Yui duduk dari tidurnya. Melihat sekeliling untuk memastikan keadaannya.
"Uhuk ... uhuk." Tenggorokannya terasa sakit, bahkan perutnya begitu penuh.
Yui mendapati dirinya sedang berada di tempat yang begitu akrab dengannya. Ini kamarnya. Dia berpiyama layaknya tidur sempurna. Bahkan tubuhnya sudah diselimuti dengan selimut tebal berbulu.
"Jangan-jangan ...." Langsung dia menyibak kain hangat itu, dia menampakkan kaki ke dasar lantai yang dingin. Membuka pintu untuk menangkap kondisi apartemen. Dia berharap jika pria itu yang pertama kali dia lihat. "Ini pasti Ken," ucap Yui sambil tersenyum dengan tangan membuka tangkai gandar pintu.
Senyumnya luntur. Wajahnya yang pucat itu langsung berubah kaku. Dia terdiam melihat beberapa manusia duduk di sofa dengan mata kompak menolehnya.
"Boss!" panggil mereka dengan antusias.
Karyawan yang bekerja di cafenya dengan manis duduk melemparkan senyum bahagia setelah melihat atasan mereka keluar dari kandang. Sudah lama mereka tak melihat wajah Yui.
"Kok ... kalian bisa di sini?" tanya Yui kebingungan.
Mereka tak menjawab. Empat pasang mata yang terduduk di sofa malah saling bertatapan dengan senyum mencurigakan. Mereka semua tampak memperolok Yui.
"Ternyata ... Boss ga datang gara-gara udah punya pacar," serang Karyawan itu dengan lirikan gerecok.
Yui semakin bingung. Dia mendekat untuk mendengar suara karyawan yang mengambang. "Apa?" tanyanya memperjelas.
"Itu." Tunjuk Karyawan tersebut ke arah dapur.
__ADS_1