DUNIA MEMIHAK MU

DUNIA MEMIHAK MU
Episode 20


__ADS_3

Terik mentari pagi mulai menyinari kamar Yui yang luas dari celah-celah jendela. Tirai tipis yang menutupi kaca besar di sebelahnya terbuka lebar seolah disengaja.


Bulu matanya yang lentik mulai terusik. Dia membuka kelapak yang tertutup rapat, perlahan setelah melalui tidur pulasnya.


Badannya terasa pegal, seolah remuk akibat kegiatan mendebarkan kemarin bersama Ken. Dia pun tersenyum mengingat betapa gagah dan bengis pria itu. Pipinya memerah ketika kepalanya mulai mengulang bayangan tersebut. "Aaaaa!" teriaknya sambil menutup mukanya yang merona.


Ketika dia membalik badan ke sisi satunya, tiba-tiba dia sudah melihat tangan yang tergelar di pinggangnya. "Ken!" Dia pun bergeming. Matanya berkedip cepat dalam satu detik. "Selamat pagi," sapanya dengan senyum lebar. Pandangannya tertuju hanya pada wajah tampan pria tersebut.


"Kau terlihat sedang bahagia," sahut Ken sambil menyingkap rambut hitam tebal yang menutupi pipi merah gadis itu.


"Iya. Aku lagi senang," balasnya bangga. Dia pun menggeser tubuhnya sehingga tak memiliki jarak dari dekapan Ken.


Deg!


Yui terdiam. Mengapa tubuhnya terasa aneh? Seolah tak ada penutup yang menghangatkan dirinya.


Perasaannya tidak enak. "Jangan jangan ...."


Yui menarik sedikit selimut yang menutupi tubuhnya menggunakan jari kaki. "Aku udah yakin," ucapnya pasrah. Saat ini dia masih dalam kondisi telanjang bulat tanpa sehelai benang pun menempel di tubuhnya.


Kemudian dia melirik ke balik selimut untuk menangkap pemandangan indah dari kekar pria itu. Dia dengan usil melirik tubuh Ken tanpa pakaian. "Hehe." Dia pun tersenyum nakal.


Saat kepalanya sudah masuk ke balik selimut, betapa kecewa dirinya, ternyata pria itu sedang dalam kondisi berpakaian. "Bisa-bisanya dia pakai baju, sementara aku kedinginan begini," umpat Yui kesal dengan suara pelan.


Ketika dia mengeluarkan kepalanya dari dalam selimut, tiba-tiba mata Ken sudah bersedia melotot untuknya. "Apa yang kau lihat?" tanya Ken.


Sungguh Yui merasa malu. Seolah perangainya yang buruk dipergoki oleh Ken. "Ha? Gak ... gak ada kok," jawabnya gagap.


"Kau kecewa?" tambah Ken menggoda Yui. "Tidak puas lihat tubuhku kemarin?" lanjut Ken terus-menerus. "Atau kau ingin mengulanginya sekali lagi?" Ken menyeringai.

__ADS_1


Seolah niatannya sudah terbaca oleh Ken. Malunya tak bisa disangkal. Sungguh dia hampir mendidih mendengar kenyataan dari mulut pria jahil itu. "Diam!" Yui menutup wajahnya dengan selimut. "Kamu keluar dulu. Aku mau pakai baju," suruhnya dengan suara yang kecil terdengar.


Ken tersenyum lebar melihat betapa lucu tingkah gadis itu. "Untuk apa malu? Bukankah aku sudah lihat semuanya," ucapnya jahil.


"Ken, ini masih pagi. Jangan usil. Keluar sana!" Tetap saja dia bersembunyi di balik selimut.


Ken yang bengal sama sekali tidak mengindahkan perintah Yui. Dia malah mendekap Yui, bahkan kakinya dia letakkan di atas bitis mulus gadis itu, agar semakin dekat pula jarak mereka. "Apa aku boleh melihatnya sekali lagi?" tanya Ken dengan pertanyaan yang mengarah ke hal negatif. Benar, yang dimaksud oleh Ken adalah lekuk lampai gadis itu.


Yui dengan ringan tangan langsung menyikut perut Ken sampai terdiam menahan sakit.


Ken menarik selimut yang menutupi wajah Yui dengan paksa. Lalu kemudian menjetik lembut hidung runcing gadis itu. "Kenapa kau begitu cantik, padahal masih pagi." Selepas untaian rayuan itu terlempar sempurna mengenai hati Yui, langsung Ken mengecup kening Yui. "Aku mencintai mu," tambahnya lalu beranjak pergi dari kamar Yui.


Baru saja jarum jam menunjuk pukul sembilan pagi, namun suasana di kamarnya terasa panas. Ini semua karena Ken.


"Aku bisa gila kalau dia seimut ini," ungkap Yui sambil berguling-guling di atas ranjang seketika setelah kepergian Ken dari sana. Dia meringkuk cepat, kemudian terlentang. Dia melakukannya berulang kali selama hampir seperempat jam. "Dia imut banget!" teriak Yui.


...****************...


"Makanannya bisa dingin," ucap Ken dari luar.


Yui membuka pintu kamarnya yang terkunci, lalu membiarkan sedikit celah agar kepalanya bisa keluar, dengan tubuh bersembunyi di belakang pintu.


Ken menaikkan alisnya sebelah. Sungguh dia bingung mengapa gadis itu terlihat canggung. "Apa lagi?" tanya Ken.


Yui perlahan merangkak dengan gerak yang teratur. Dia berusaha menjadi sosok yang tenang. Bisa dikatakan sekarang ini dia tengah salah tingkah. "Gapapa," jawabnya cepat lalu berjalan lebih dulu menuju dapur.


Kini keduanya duduk di kursi yang berhadapan. Tidak ada percakapan diantara mereka, bahkan makanan yang terhidang hanya ditelan Yui sebanyak tiga kali.


"Ekhem," deham Ken berusaha memecahkan keheningan.

__ADS_1


Yui langsung melirik. Dia mengaitkan rambutnya yang terurai ke belakang telinga. "Ya?" tanya Yui dengan suara yanag sengaja diperhalus. Sehingga jelas bahwa dia sedang mengatur perilakunya. Dia bukanlah dirinya yang sesungguhnya.


"Kenapa denganmu?" tanya Ken dengan bingung. Dia begitu risih melihat sikap gadis itu. "Aneh sekali," sambungnya.


Yui tidak berkutik. Pagi ini dia hanya tersenyum, tersenyum dan tersenyum. Dia begitu meminimalisir gerakan-gerakan yang berlebihan agar Ken tidak ilfeel terhadapnya. "Aku harus tampil elegan," ambisinya dalam benak.


Ken tidak suka jika gadis itu sedikit berbicara. "Yui!" panggilnya dengan tatapan serius. "Kenapa dengan ekspresi wajahmu?" tanya Ken.


"Hmm? Kenapa? Ada yang salah?"


"Aku tidak suka," ungkap Ken. "Bukannya kau biasanya banyak bicara? Kenapa mendadak bisu?" tanya Ken seraya mengungkapkan benalu di benaknya.


"Jantungku berdebar-debar sekarang. Gimana mau ngomong banyak. Mau gerak aja aku gemetar," jawab Yui mengatakan kebenaran. Dia pun mengangkat tangannya sambil menggenggam sendok. Terlihat bergemuruh. Tangan gadis itu gemetar sekarang. "Lihat!" tunjuk Yui ke arah tangannya.


"Puffht ...." Ken tersenyum lebar melihat getar tangan gadis tersebut. Dia menunduk menahan diri agar tak terkekeh.


"Kamu ngeledek?" Yui kehilangan percaya diri sebab malu. "Ehm," rajuk Yui lalu mengerucutkan mulutnya. "Tsk, nyebelin," katanya lalu menurunkan kedua tangannya ke atas pangkuan. "Jadi ga nafsu," sambung Yui ketika mulutnya tak sanggup lagi mengunyah makanan di depannya.


Wajah gadis itu berubah cemberut dalam waktu singkat. Dengan sigap, tangan Ken merambat ke arah pipi Yui. Mencubit sampai gadis itu terusik. "Kau tersinggung?" tanya Ken dengan senyum simpul. Giginya yang rapi hampir terpampang sebagian, hingga sudut bibirnya mencapai ujung tawa. "Haruskah aku meminta maaf?"


"Ah ... sakit," rutuk Yui mendesis. Telapaknya langsung menepuk punggung tangan Ken agar segera dilepas dari sana. "Aku ga bakal maafin. Aku udah terlanjur malu," ungkapnya menolak.


"Pendendam sekali manusia satu ini. Berani menantang Raja Iblis," sambung Ken bergurau. "Masih tidak memaafkan aku?" Dia semakin mengencangkan cubitan di pipi Yui.


"Ah ... iya iya. Aku maafin, lepasin dulu ini!" erang Yui.


Ken menurunkan tangannya yang jahil. Lalu berganti menyendokkan salad buatannya ke mulut Yui. "Buka!" perintahnya ketika sendok berisi salad itu tepat di gerbang bibir Yui.


Pipi Yui memerah. Wajahnya terasa panas ketika mendapat perlakuan romantis dari Raja Iblis di depannya ini. "Lama-lama gila juga kalau gini terus. Ga bisa! Ga bisa! Dia so sweet banget! Dia beneran iblis? Kok bisa semanis ini?" celetuk Yui menahan gejolak dalam hatinya. Dia berusaha menutupi perasaannya yang sedang menari-nari. "Ganteng banget," tambahnya tidak henti-henti memuji pria yang sedang menyuapi dirinya.

__ADS_1


"Enak?" tanya Ken menunggu penilaian Yui terhadap masakan yang baru saja dia pelajari dari televisi.


"Banget," jawabnya mengangguk-anggukkan kepala.


__ADS_2