DUNIA MEMIHAK MU

DUNIA MEMIHAK MU
Episode


__ADS_3

Jangan lupa untuk membaca novel ku yang lainnya, dengan judul The Little Moan. Sedikit scene di cerita sebelah,



Episode 2


Saat Celine ingin meninggalkan anak itu, tiba-tiba dia menarik tangan Celine. Lalu anak itu memberinya kalung berlian berwarna biru dengan ukiran yang begitu mewah. Bahkan bentuknya terlihat seperti berlian seorang ratu.


"Dari mana kau dapat ini? Apa kau mencurinya?" tanya Celine gemetar.


"Apa aku terlihat seperti pencuri, kakak? Aku memberi ini padamu karena ini akan membantu mu saat dalam bahaya," terang Anak itu. Seketika dia berhenti menangis lalu memasangkan kalung berlian itu pada Celine.


"Hey hey hey ... kau akan dihukum karena mencuri. Apa ibumu tidak marah, atau kau sebenarnya diusir karena berbuat salah," tebak Celine curiga.


Namun dia masih belum percaya kalau anak itu mencuri. Tampak dari wajahnya tidak ada mengalir darah seorang pencuri. Belum selesai kasus daun yang tiba-tiba muncul, sekarang dia semakin bingung lagi dengan kedatangan anak yang asal usulnya tidak diketahui. Ditambah dengan kalung berlian yang diberikan anak itu.


"Aku tidak bisa memakai ini," ucap Celine lalu berniat membuka kalung yang sudah melingkar di lehernya. Ketika tangannya mencoba membuka pengait kalung itu, ternyata kalung itu sama sekali tidak bisa dibuka.


"Loh, ini kenapa bisa? Bantu kakak buka kan ini," perintah Celine pada anak itu.


"Bahkan pangeran saja tidak bisa membuka ini, apalagi aku. Ini menang milikmu jadi tidak akan bisa dilepas lagi," jawab Anak itu dengan bijak.


"Heh ... masih kecil sudah punya penyakit halusinasi. Karena kau raja tentu saja bisa buka kalungnya," ucap Celine meledek.


"Aku ini pangeran bukan anak raja," jawab Anak itu.


"Aish, kau nakal sekali. Pantas saja ibumu meninggalkan kau di tengah jalan," gerutu Celine dalam hati. "Aku akan bawa saja kau ke kantor polisi," sambung Celine pada anak itu.


"Aku bisa pulang sendiri, lagi pula polisi tidak akan tahu kemana akan mengantar ku nanti," jawab Anak kecil itu. Kemudian dia berjalan pergi dari apartemen Celine.


Tentu saja Celine mengejar anak itu dan tidak membolehkan dia keluar, apalagi sendiri. Terlalu berbahaya bagi anak seusia dia.


Namun sayangnya Celine kalah cepat dengan anak itu. Saat membuka pintu Celine tidak mendapati anak itu dari segala arah. Ia sudah melihat seluruh lorong bahkan menunggu lift untuk mencari anak berpakaian pangeran itu, tapi tidak ketemu juga. Akhirnya dia mencoba langkah terakhir, yaitu dengan mencari di tangga darurat.


"Huft ... sudah tiga puluh kali berputar di lorong, dan menunggu antrian lift lima kali, tapi dia tidak ketemu. Aish, dan sekarang ... huh tidak ada di sini juga," umpat Celine sambil terengah-engah karena kelelahan.


Akhirnya dia kembali ke apartemen miliknya untuk beristirahat.


"Aish anak aneh itu bikin capek saja. Kalau ketemu awas saja kau, aku akan balas perbuatan mu," ungkap Celine kesal.


Pertama kali membuka pintu dia langsung mengambil botol minuman di dalam kulkas. Karena masih heran tentang keberadaan anak itu, Celine berniat menatap dari luar jendelanya, siapa tahu anak itu lewat. Namun bukannya melihat anak itu, dia malah melihat kebenaran yang mengejutkan. Celine terkejut dan ketakutan sejadi-jadinya. Tangannya gemetar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Daun-daun berwarna coklat kering yang persis sama dengan di lukisan, berguguran dan berjatuhan di lantai apartemen miliknya. Daun-daun itu bertumpuk sangat banyak persis seperti jalan yang ditutupi daun musim semi. Tentu saja Celine yakin bahwa daun itu berasal dari dalam lukisan. Tahun itu dihadapi dengan musim dingin, tentu saja tidak akan ada daun yang gugur bak musim semi.


Celine yang bahkan tidak percaya, mendekat dan mengambil selembar daun yang ada di lantai apartemennya. "Apa kalian keluar dari lukisan ini?" tanya Celine pada daun kering berwarna coklat.


Kemudian dia menyentuh lukisan itu karena penasaran. Tiba-tiba kalung yang dia pakai bersinar hingga matanya silau saat melihat. Matanya buram seketika dan menjadi gelap. Sesekali dia membuka mata meski hanya sedikit, untuk memperhatikan sekeliling. Namun dia tidak bisa melihat apa pun. Cahaya itu terlalu silau hingga dia tidak mampu membuka mata.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, cahaya itu redup. "Aish ... mataku berkunang-kunang. Apa itu tadi?" umpat Celine sambil mengucek matanya. Tangannya bahkan masih memegang botol minuman yang hendak diminumnya tadi.


Sekelilingnya berubah menjadi hutan dengan pepohonan musim gugur yang berhamburan ditiup angin.


"Woah ... dimana ini? Hmmmm? Ini, ini, ini, dan ini, apa yang terjadi?" decak kagum Celine sekaligus heran kebingungan.


Celine menginjak tanah tempat ia berdiri beberapa kali untuk memastikan kalau yang dia pijak adalah nyata. Dia memukul pohon dan mencoba mendengar suara yang keluar. Sesekali dia menjerit dan melempar batu yang bergeletakan ke pohon yang ada di hadapannya.


"Ini sungguhan, dan ini juga sungguhan. Lalu pertanyaannya, ini dimana?" ucap Celine sambil meraba sesuatu yang ada di sana.


Pemandangan yang ada di hadapannya sama persis seperti lukisan itu. Beberapa pohon berjejer dan jalan yang lurus diselimuti daun kering. Namun sesuatu yang berbeda hanya kasti tua yang tidak ia temukan.


"Apa aku ada di dalam lukisan itu? Hahaha ... apa ini sungguhan? Aku masuk ke dimensi lain, oh my God, aku tidak percaya. Ternyata ... ternyata cerita yang ada di komik betul adanya," ungkap Celine bahagia. Senyum riang tidak luntur dari bibirnya. Sangking senangnya dia berjoget kecil dan melompat karena bahagia.


Dia memang sangat candu pada komik, sampai otaknya sedikit bermasalah, begitulah kata Lyn menanggapi kebodohan Celine.


Tentu saja dia tidak takut atau kaget karena masuk ke dalam lukisan itu. Dia malah senang dan tidak ingin keluar untuk beberapa saat.


Celine berjalan menyusuri hutan dan tidak henti-hentinya bernyanyi karena senang. Tiba-tiba dia teringat akan kastil tua yang ada di lukisan. Dia tidak melihatnya.


"Ho ho ho, waktunya mencari kastil tua dimana pangeran ku berada," kata Celine bahagia sambil tertawa terbahak-bahak. Tangannya bahkan masih memegang botol minuman yang dia bawa dari apartemen miliknya dan tidak melepaskan dari genggamannya.


"Wah ... haus sekali," hela Celine lalu meminum minuman yang ada di tangannya. Dari apa yang dia lakukan, terlihat bahwa dia sangat santai. Tidak ada rasa takut ataupun resah dari dirinya. Dia malah menikmati tempat yang sesungguhnya bukan di dunia nyata.


Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya Celine melihat pemukiman warga. "Kyaa! Di sini betul seperti dunia nyata, hanya saja agak berbeda dengan era modern. Bahkan mereka masih menggunakan transportasi kuda," ungkap Celine saat melihat beberapa kuda yang lalu lalang dari hadapannya. Pakaian yang mereka gunakan juga sedikit kuno. Persis seperti pakaian yang ada di film Cinderella. Semua wanita memakai gaun tebal, berbeda dengan dunia yang ia tinggali.


Tidak peduli dengan ribuan tanya yang akan dia lontarkan, Celine cukup lelah karena sudah menghabiskan hari dengan berlari dan menyusuri, dia memejamkan mata dan tidur dengan pulas.


Ketika dia masih sibuk dengan mimpi indahnya, tiba-tiba jendela kayu yang diukir indah terbuka hingga angin masuk ke dalam meniup tirai.


Angin itu menusuk hingga ke tulang. Bukannya terbangun dari tidurnya, Celine malah semakin lelap saja dan menarik selimut menutupi tubuhnya.


"Dari mana wanita jelek ini berasal?"


Terdengar decakan seorang pria yang kesal melihat Celine ada di kamarnya. Kemudian pria itu menarik selimut dari tubuh Celine dan langsung mencekik leher Celine demi berjaga-jaga.


Tentu saja Celine langsung terbangun dari tidur indahnya. "Wah ... kenapa ada orang setampan ini dalam mimpiku," celetuk Celine sambil tersenyum dan memegang wajah pria tidak dikenal itu. Celine yang masih setengah sadar mengira kalau dia sedang bermimpi. Dia malah menatap wajah pria tampan itu dengan senyum puas.


"Katakan siapa kau?" tanya Pria itu sambil mencekik leher Celine dengan kuat.


"Uhuk uhuk ... aku akan mati kalau kau tidak lepaskan tanganmu," desis Celine dan mencoba melepaskan cekam an pria itu.


"Siapa yang mengirim mu?" tanya Pria itu lagi dengan penuh curiga.


"Aku bisa jelaskan, tapi lepas dulu, dasar pria kasar," umpat Celine yang hampir mati karena cekikan Pria tampan bak pangeran negeri dongeng.


Kemudian Pria itu melepaskan genggamannya dari leher Celine dan menyuruhnya agar menjelaskan kedatangannya. "Jika beruntung, kau bebas dari kematian mu," kata Pria itu dengan wajah arogan.

__ADS_1


"Kenapa pria tampan selalu cuek, dingin, dan kejam," gerutu Celine dengan suara pelan dan bibir yang menyudut. "Aku berasal dari dunia yang berbeda denganmu. Aku masuk dari lukisan yang baru saja ku dapat semalam." Celine menceritakan semua pada Pria itu.


"Apa menurutmu aku seperti candaan? Sekali lagi kau membual, jangan salahkan kalau nafas mu harus terhenti detik ini juga," ancam Pria itu.


"Aku mengatakan yang sebenarnya. Kalau tidak percaya, kau bisa ikut ke dunia ku besok," sambung Celine meyakinkannya.


Karena tidak puas dengan jawaban Celine, Pria itu kemudian mengambil belati di sakunya, lalu menyayat leher Celine tipis. Darah mengalir dari lehernya.


Karena panik Celine menjerit keras lalu menangis tersedu-sedu. "Aku tidak mau mati di sini, aku ingin pulang! Paman Sam, Lyn, dimana kalian? Ada psikopat yang akan membunuh ku!" teriak Celine ketakutan.


"Diam!" senggak Pria itu. Seketika Celine terdiam dan tidak berkutik sama sekali. "Aku tanya terakhir kalinya. Siapa kau?"


"Aku juga tidak tahu harus menjawab apa padamu, tapi aku benar-benar bukan berasal dari dunia ini," jawab Celine ketakutan.


Pria itu kemudian menghempaskan tubuh Celine ke sudut dinding ruangan itu. "Ah ..." rintihnya kesakitan. Badannya seolah remuk. Belum lagi karena darah yang mengalir dari lehernya. Berdiri pun dia tidak sanggup lagi.


Pria itu mengangkat tubuh Celine dan mencekiknya. "Kau membuatku muak dengan bulanan mu, sungguh menjijikkan," pungkas Pria itu dengan tatapan jijik.


Karena darah terus mengalir dari lehernya, Celine harus memikirkan cara agar tidak terlalu banyak kehabisan darah.


"Aku mohon padamu untuk melepaskan ku. Aku ... aku," belum sempat Celine menyelesaikan kalimatnya, Pria itu mendorong tubuhnya hingga ke sisi dinding.


"Bagaimana kau bisa masuk ke kastil ini?" tanya Pria itu heran. Bahkan dia sudah menyegel kastil itu dengan magis, tapi Celine bisa masuk ke dalam. Tentu saja dia tidak aka membunuh wanita di depannya dengan mudah. Dia berniat ingin membuat wanita itu mengaku dan jujur padanya.


"Aku ... aku masuk dari pintu tentunya," jawab Celine terengah-engah.


"Yang kutanya bagaimana bukan dari mana," jelas Pria itu dengan geram.


"Ahh ... lepaskan aku," ucap Celine. Lalu kesadarannya pun hilang. Terlalu banyak darah yang keluar dari tubuhnya. Lagi pula seharian itu dia tidak berhenti dan tidak beristirahat sama sekali.


"Wanita yang merepotkan," decak kesal Pria itu.


Pria itu lalu mengobati luka Celine dan membiarkannya tidur di ranjang dengan tenang. Butuh beberapa hari agar luka itu sembuh.


Pria itu menyiapkan makanan di samping Celine lalu pergi entah kemana. Hingga pagi hari Celine tersadar dari malam buruknya.


"Astaga pinggangku, aish ... sakit sekali," decak Celine kesakitan sambil mencoba bangkit dari tidurnya.


Seketika dia teringat dengan kejadian malam itu, dimana nyawanya sangat terancam. Dia kemudian melihat ke sekeliling dan mencari pria itu.


Namun dia tidak menemukan apa pun di sana. Yang dia lihat adalah setumpuk makanan dan air putih di sebelahnya. Karena memang dia sangatlah lapar dan haus, lantas dia langsung melahap habis semua makanan tanpa menyisakan apa pun.


"Hmmm ... ngomong-ngomong dimana psikopat itu?" tanya Celine penasaran. "Aish, baguslah dia tidak ada, aku juga khawatir kalau dia ada di sini," sambung Celine mengabaikan pria itu.


Karena sesak untuk buang air kecil, Celine dengan pelan berjalan keluar kamar dan mencari kamar mandi di kastil itu.


Setelah setiap ruangan yang ada dibuka lalu diperiksanya, akhirnya Celine menemukan kamar mandi. Meski berbeda dengan kamar mandi zaman modern, yang terpenting hanyalah bagaimana dia bisa membuangnya.

__ADS_1


"Wah ... lega sekali," ungkapnya.


__ADS_2