DUNIA MEMIHAK MU

DUNIA MEMIHAK MU
Episode 6


__ADS_3

Ken memberikan pakaian yang sebelumnya dia kenakan dari Kastil Easle kepada Yui. Dia dengan lagak sombong menyuruh Yui untuk menjual pakaian yang dia bawa dari dunianya. Pada bagian saku baju Ken, terdapat berlian asli yang amat berkilau disertai aksesoris dari mutiara, dengan kancing baju yang terbuat dari emas.


"Jual ini! Aku butuh uang," suruh Ken sambil menunjuk seluruh benda berharga yang menempel pada bajunya.


"I-Ini beneran?" tanya Yui terkaget-kaget. Hatinya mencelos. Matanya langsung membesar melihat kilauan dari pakaian tersebut. "Kenapa kemarin aku gak lihat emas-emas cantik ini?" ucapnya tergiur. Kesadarannya hampir hilang ditelan haus akan harta. "Ada berlian juga?!" Dia begitu antusias sampai tak sadar kalau salivanya hampir menetes.


"Jangan yang itu!" tegas Ken


"Ih, kenapa?" tanya Yui kesal. Dia melihat sebuah rantai menyerupai kalung yang terjahit kokoh melingkar di kerah baju tersebut, kemudian terhias sebuah berlian cantik mengisi kekosongan dari rantai itu.


"Yang penting jangan jual yang itu," ucapnya tanpa menjelaskan. Dia hanya menegaskan dan tak memperpanjang percakapan.


"Baju ini hasil curian, yah?" tebak Yui. Dia hampir sesak nafas membayangkan betapa mahal harga dari aksesoris yang menempel di baju Ken.


"Bukan urusanmu," jawab Ken apatis.


"Ih, orang aku nanya loh, gitu banget jawabnya," rutuk Yui.


Tak begitu banyak bertanya tentang keaslian permata dan emas-emas tersebut, Yui sudah tahu bahwa semuanya murni dan memiliki harga jual yang tinggi. Yui dengan semangat pergi ke toko berlian untuk menjualkan semua barang mewah milik Ken. Senyum manis di bibir gadis itu terurir indah sejak menerima bayaran atas barang tersebut.


"Aku kaya!!!" teriak Yui sambil tertawa terbahak-bahak. "Pensiun jaga cafe, uhuy!" ungkapnya girang.


Baru saja memegang tumpukan uang, Ken tiba-tiba muncul dan merampas semua uang tersebut. "Ini milikku," katanya.


Seketika kumpulan api semangat Yui hilang, seakan raganya telah dihisap sebagian. Dia kecewa karena uang yang baru saja dia dapatkan lenyap dirampas oleh Ken. Meski uang tersebut adalah hak Ken, tapi Yui sudah terlanjur menganggap uang tersebut miliknya.


"Brengsek! Aku juga mau!!!" teriak Yui mengejar Ken yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil.


~Di dalam mobil~


"Aku gak nyangka harganya bakal semahal itu. Yang lebih gokil, aku gak nyangka ternyata itu emas asli, astaga! Aku hampir gila, Ken!" Yui terus mengoceh.


"Bisa kecilkan suaramu!" Ken merasa terganggu dengan antusias Yui yang sangat besar. Dia bahkan sampai menutup telinga karena bising mendengar teriakan dari mulut Yui. Dia tak tahan pengang.

__ADS_1


"Aku akan bayar biaya hidup, sekaligus baju yang kau belikan tadi." Ken memberikan seperempat dari uang yang dimilikinya sekarang.


Criiiit!


Kepala mereka hampir terbentur ke depan karena Yui tiba-tiba rem mendadak. Dia shock melihat tumpukan duit yang diberikan Ken, sampai-sampai tak dapat merasakan detak jantung. Dia terlalu senang, Yui sampai tersedak air liur sendiri. "Uhuk … uhuk." Dia memukul dadanya agar pernapasan kembali normal.


"Kamu gak bercanda, kan?" tanya Yui memastikan. "Ini lebih dari cukup buat biaya hidup kamu," jelas Yui sambil tersenyum simpul.


"Tentu," balas Ken angkuh.


"Pantesan kemarin hati aku nyuruh buat nampung kamu di apartemen, gak taunya karena duit ini," bisiknya dalam hati.


"Selebihnya akan kusimpan sendiri. Buatkan aku kartu tabungan!" suruh Ken.


"Kartu tabungan? Hahahah …. siap, laksanakan!"


Yui langsung bergegas ke bank sekitar untuk membuatkan Ken kartu tabungan. Mendadak dia sadar sebelum sampai tujuan.


"Tidak," jawab Ken cepat.


"Kalau ga punya KTP gak akan bisa buat kartu tabungan, gimana sih kamu?"


"Aku penduduk asli Kastil Easle, tidak ada KTP," jelasnya.


"Jujur aja deh kamu. Sebenarnya kamu ini pencuri nomaden, kan?" Yui kembali berulah. "Masa sih beneran dari dunia lain, ada-ada aja kamu," tambah yui merasa tergelitik mengingat pengakuan Ken tentang hidupnya.


"Kau akan mengerti ketika kekuatanku kembali," ucapnya sakit hati karena diragukan.


"Iya, Raja Iblis, iya," balas Yui berniat mengejek Ken.


Saat atmosfer kembali sunyi, Yui mencoba mencairkan suasana. Dia melirik Ken beberapa kali secara sembunyi, lalu sejenak terpikat akan ketampanan pria tersebut. Ken sedang menoleh ke arah luar jendela, pandangannya begitu jauh menatap ke sana. Sebagian wajahnya amat mempesona hingga Yui tersipu sejenak. Tiba-tiba Ken menangkap basah Yui yang sedang asik meratapi Ken.


"Ekhem," deham Yui mengalihkan pandangannya. "Ng-Ngomong-ngomong, kamu ga ada niat buat sewa apartemen sendiri. Uang kamu cukup sih buat sewa plus biaya makan, malahan bisa buat foya-foya lagi," kata Yui panjang lebar.

__ADS_1


Tampak jelas Ken tidak tertarik dengan pembahasan Yui, dia begitu enggan menjawab untaian kata tak bermakna dari mulut gadis itu. "Ken! Ken!" panggil Yui yang masih menunggu respon dari Raja Iblis tersebut.


"Ck, kau mengusirku?"


"Loh? Aku cuma nanya doang, sensi banget deh," balas Yui yang hampir naik darah karena sejak tadi tidak direspon oleh Ken.


"Lalu?"


"Ya kamu gak ada niatan gitu?" tanya Yui sekali lagi.


"Tidak," jawabnya singkat, padat dan jelas.


Suasana kembali senyap. Kali ini berbeda dengan yang sebelumnya, Yui tak ingin lagi meleburkan dinginnya mobil tersebut. Mereka berada di keadaan teramat sunyi yang terus menemani hingga sampai di apartemen milik Yui.


"Capek banget," keluh Yui sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk miliknya.


Berbeda dengan Ken, Pria itu langsung masuk ke dalam kamar tanpa berkata-kata lagi pada Yui.


"Eh, Ken! Duit kamu bisa simpan di kartu aku. Aku punya dua, satu buat kamu," saran Yui berniat baik.


"Kau ingin menipuku?"


"Astaga! Nipu? Gak niat kali. Kalau gak mau ya udah, gak usah nuduh yang nggak-nggak dong," rutuk Yui membabi buta. Dia menyolot dengan cerewet.


"Aku akan pikirkan," jawab Ken. Kemudian dia masuk ke kamar dan mengunci pintu rapat-rapat.


"Dih, gitu amat dah. Yui diragukan," umpatnya kesal.


Beberapa jam berlalu, tampak tidak terjadi apa-apa diantara keduanya. Terlihat tenang dan sibuk melakukan kegiatan masing-masing. Hingga pada malam hari, tepat pukul dua belas malam, hujan deras turun dari langit, serta petir yang menyambar dengan keras.


Tentu hal itu tak membuat Yui takut, meski dia gadis mandiri dan pemberani, meski sudah biasa melalui hujan dan badai sendirian, seketika keberaniannya padam. Seluruh kota menjadi gelap akibat terjadi pemadaman arus listrik serentak. Tidak ada cahaya di dalam apartemen Yui, hanya ada tetesan air hujan serta petir yang menyambar saling bersahutan.


"Aaaaaa!" teriak Yui ketakutan selepas lampu padam. Dia berlari tidak tahu arah sampai tak sengaja menabrak dinding yang kokoh. "Aaaaa!" Dia kembali berteriak, namun kali ini terdengar sedang kesakitan. Kepalanya tak sengaja terbentur.

__ADS_1


__ADS_2