
Yui tengah berduka. Hidup yang dulunya ceria, berubah penuh bencana. Kacau balau terus terjadi dan mengejarnya. Seperti sebuah kutukan, semua terasa rumit bagi Yui.
Kemunculan Ken bukanlah sebuah kebetulan. "Ini takdir," kata Yui dengan pikiran sedang kalut. Dia memeluk kedua kakinya yang tertekuk. "Aku ga paham. Semuanya rumit," keluh Yui lalu memukul kepalanya berulang kali.
Banyak tanya yang ingin dia sampaikan. Ken, batu Osct, bahkan Pak Ozy. Tidak satu pun diantaranya dapat membantu dirinya menyelesaikan teka-teki ini.
Saat pikiran kacaunya berhura-hura menghanguskan kewarasannya, tiba-tiba dia teringat akan satu hal.
"Semuanya terhubung!" Dia langsung menginjakkan telapak kakinya ke lantai, lalu lenggak-lenggok berlari menghampiri Ken. "Ken!" teriak Yui.
"Ada apa?" sahutnya melempar tanya.
"Kamu ingat toko tempat aku jual berlian waktu itu?" (eps.6)
Ken mengangguk. "Ya."
"Aku ga yakin bener enggaknya, tapi dia sama Pak Ozy dekat. Mungkin ... mungkin mereka punya hubungan," jelas Yui. Dia mulai menunduk. "Aku selalu jual emas itu ke tokonya. Sekarang aku baru curiga. Tokonya aneh banget, bisa-bisanya nerima emas yang ga punya surat, padahal toko dia terbilang besar."
"Apa kau ingin memastikan?" tanya Ken. Dia tersenyum tipis karena menemukan dewa tanpa harus mengeluarkan tenaga. "Tidak salah lagi, kau bukan manusia biasa," gumam Ken dalam hati.
Ketika usia Yui lima tahun, dia ingat bahwa bibinya lah yang telah mengurus dia. Ayah-ibunya? Entahlah, dia pun ragu mengenai hal itu. Dia tidak mengingat apa pun tentang orang tuanya. Seolah memori tersebut tampak buram ketika Yui mencoba memikirkannya.
Dewasa ini, bibi Yui tidak pernah lagi muncul. Namun terus saja memberikan dia kabar melalui Pak Ozy. "Mereka teman dekat," kata Yui menjelaskan.
Bibinya terus menitipkan emas batang yang tidak jelas asal-usulnya. Emas murni yang bahkan hampir tidak pernah ditemukan di bumi. Memiliki nilai jual yang amat tinggi. Semua biaya hidupnya berasal dari sana. Bahkan cafe miliknya pun berhasil dibangun hasil dari penjualan emas pemberian bibinya.
Anehnya, Pak Ozy selalu memberikan alamat toko emas yang berbeda setiap kali hendak menjual. "Alamatnya tertulis di kertas, biasanya terselip di dalam peti ini," terang Yui sambil menunjukkan peti kayu pemberian Pak Ozy. Pemilik toko emas itu tetaplah orang yang sama, namun berpindah-pindah di tempat acak.
__ADS_1
"Aku ga pernah curiga. Malah aku ngiranya dia punya cabang yang banyak," tukas Yui dengan sebalah alis naik. Dia tampak serius saat berbicara dengan Ken.
"Apa untungnya kau mengatakan ini padaku? Bagaimana jika mereka adalah dewa? Kau tidak takut jika aku membunuh mereka?" tanya Ken.
Yui terdiam sangat lama. Tidak tahu harus mengatakan apa pada Ken, namun dia sejujurnya ingin mengetahui lebih dalam mengenai dirinya. "Aku mau tahu kenapa dewa menjagaku."
Pantas dipertahankannya. Mengapa para dewa menjaga gadis itu? Jika karena batu tersebut, maka akan lahir persoalan yang baru. Kenapa mereka meletakkan batu berharga itu ke dalam tubuh manusia ini? Dewa tidak sebodoh itu, mereka pasti memiliki alasan.
"Ken," panggil Yui dengan suara sendu. "Aku tahu kalau batu ini berharga bagi kamu. Kalau kamu butuh kekuatan dari batu ini, itu artinya ...."
Ken memotong kalimat Yui. Langsung dia menimpali," Aku harus membunuh mu," sambungnya ringan.
Jantung Yui terasa nyeri mendengar Ken. "Dia setega itu? Ya, dari awal dia memang ingin membunuh ku, bahkan sekarang juga dia bisa bunuh aku. Cuma lagi ngundur waktu, atau mungkin dia lagi nunggu waktu yang pas," gumam Yui dalam benak. Dia begitu menderita mengingat betapa menyakitkan kehidupannya.
Yui tak berkutik. Seakan mulutnya tak sanggup mengeluarkan suara. Dia bungkam seolah bisu. "Ka-Kapan kamu butuh batu ini, Ken?" tanya Yui dengan mata berkaca-kaca. Dia menahan air matanya agar tidak terjatuh. Sebisa mungkin Yui menyembunyikan sebat di dadanya.
Yui tertegun mendengarnya. "Apa Ken benar-benar cinta? Atau selama ini dia berlagak manis karena batu yang ada di tubuhku?"
Semakin banyak yang dia ketahui tentang dirinya, semakin rumit pula penyelesaiannya. Kalau ternyata Pak Ozy juga pemilik toko emas itu adalah dewa, lantas bagaimana dengan bibinya?
Tidak ingin menumpuk banyak pertanyaan di kepalanya, Yui mengajak Ken menemui pemilik toko yang selalu bersedia membeli emas yang dia miliki. Mereka berdua dengan gerak cepat pergi ke alamat yang tertulis di dalam peti kayu itu.
~Mobil~
Yui begitu berkonsentrasi dalam menyetir. Dia tidak bersuara sejak tadi. Matanya tertuju ke depan memandangi jalan yang dipenuhi pendengara lain. Dia bahkan tidak terusik dengan kendaraan yang terus lalu-lalang.
Ken mendengus panjang melihat raut wajah Yui yang komplik. "Apa yang kau pikirkan?" tanya Ken merasa terganggu dengan mimik gadis itu. Sungguh dia tidak senang melihat Yui murung begitu. "Jika tidak siap menerima kenyataan lebih baik tidak pergi ke sana. Aku tidak sudi melihat wajah masam mu ini," kata Ken ketus.
__ADS_1
Yui terhenyak. "Aku harus tahu semuanya. Gimanapun nanti jawabannya, aku harus terima," sahut Yui tegar.
"Ck." Ken mendecak. "Bagaimana jika sebenarnya kau ini bukanlah manusia? Melainkan iblis atau bisa jadi anak dewa. Hanya itu pilihannya."
Yui akhirnya menoleh menatap Ken. "Aku bukan manusia?" tanya Yui memperjelas.
"Entahlah, itu hanya dugaanku saja," balasnya tidak ingin memperpanjang.
Bisa saja perkataan Ken benar. Wujud iblis yang terjadi pada Yui beberapa waktu lalu bisa dijadikan landasan kuat. "Gitu, yah?" sahutnya tak bersemangat. (eps.11)
Apa pun jawabannya, Yui harus menerima. Setidaknya dia harus tahu alasan mengapa batu itu ada dalam dirinya. Jika masa hidupnya berakhir nanti, dia sudah tahu identitas yang sesungguhnya. "Aku harus terima semuanya," ungkapnya tegas dalam hati.
Tidak terduga, Ken mengacaukan konsentrasi Yui, hingga gadis itu banting setir karena ulah Si Raja Iblis. "Kamu kenapa, ha?!" amuk Yui dengan jantung yang hampir pecah. Sedetik saja terlambat, mereka akan menabrak kendaraan lain di depan.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Apa lagi? Aku mikirin semua!" jawab Yui dengan nada tinggi. "Aku takut, Ken. Gimana kalau aku bukan manusia. Aku takut," adunya sambil meneteskan air mata.
Kala ini hatinya sungguh berkecamuk. Semua terlalu tiba-tiba, hingga dia tak sempat untuk menerima. Belum lagi karena kematian Pak Ozy. Yui sangat terpukul.
Saat Yui hampir terbuai ke dalam kegelapan, muncul aura hitam dari tubuhnya. Sangat pekat.
"Dia akan berubah!" duga Ken dalam hati.
Ken langsung menutup mata Yui dengan cepat. Sebisa mungkin menyembunyikan perubahan wujud yang terjadi pada gadis itu. Ken memeluk Yui, lalu membuat semua kaca yang ada di sekitar menjadi buram.
"Aku pusing," keluh Yui sambil mengusap kepalanya berulang kali.
__ADS_1