
Malam mungkin bisa saja berlalu begitu tanpa disadari, namun nyatanya perasaan sedih dalam diri Yui masih tersimpan rapat. Dia terus saja memikirkan ujung dari cerita mereka. Dalam hening menanyakan kapan dan dimana mereka akan berpisah.
Pikirannya sudah kalut padahal masih pagi. Hari yang begitu cerah terasa abu-abu baginya. Melihat Ken terbaring tak terganggu, membuatnya semakin kacau. "Dia ini masih jelmaan iblis apa udah normal?" tanya Yui dengan mata melirik dari bibir pintu yang terbuka sedikit.
Lantas dia mengunci kamar itu kembali, lalu berlari keluar menuju basement. Hari ini dia harus pergi ke cafe untuk menyegarkan pikiran. Memanglah tidak berpengaruh, namun setidaknya bayangan tentang Ken sedikit tergoyah dengan urusan layan-melayani pelanggan di cafe.
~Cafe Sweet~
"Bos, ini tiket kemarin yang Bos minta," ujar Lena, karyawannya.
"Loh, kamu bisa dapetin ini? Padahal tiketnya langka banget, loh." Yui tersenyum bahagia melihat secarik kertas yang diberikan Lena padanya. Itu adalah tiket pertemuan antar fanbase, dimana acaranya akan dihadiri langsung oleh aktor yang dituju. "Lena ...." Yui begitu terharu. Sungguh dia tidak percaya bisa dapat menghadiri acara besar itu. "Aku cinta kamu," rayu Yui sambil memeluk karyawannya.
Seharian penuh dia terus tersenyum tanpa beban di pundaknya. Dia bersenandung juga bersiul syahdu dalam kerjanya. Tak biasanya dia langsung turun tangan mengantarkan pesanan ke meja pelanggan, hari ini dia melakukannya.
"Bos kayanya senang banget karena tiket itu," ucap mereka melihat tingkah Yui. Bos mereka itu melemparkan simpul manis ke setiap orang yang ditemui.
"Iya," angguk yang lainnya. "Bisa jadi karena pacar juga, lihat, tuh! Bos kita lagi fall in love," sambungnya lagi sambil menunjuk.
...****************...
Akhirnya pekerjaan di hari ini terselesaikan dengan baik. Dia menyuruh karyawannya pulang lebih cepat. "Kita mau beresin cafe lagi, Bos," kata Lena menolak pulang.
"Aku aja," balas Yui sambil menggosok meja dengan kain di tangan.
"Bos ...."
Langsung Yui menimpal sebelum kalimat karyawannya semakin banyak. "Pulang, sana! Kalau ga mau, gaji kalian aku potong," ancam Yui mengusir. "Anggap aja ini hukuman buat aku, karena udah berminggu-minggu ga dateng ke sini," jelas Yui.
Lantas para karyawan itu langsung pergi terbirit-birit takut jika bos mereka yang rendah hati itu memotong gaji. Tak berapa lama, Lena masuk lagi ke dalam menghampiri Yui. Wajahnya tampak kaku seolah sedang membawa kabar buruk pada Yui.
"Kenapa?" tanya Yui yang juga ikut panik melihat raut wajah Lena.
__ADS_1
"Bos, di sana ...." Lena menunjuk ke arah luar.
Yui langsung melepas celemek yang sedang melingkar di pinggangnya, lalu menghempaskan kain basah dari genggamannya. Dia berlari ke luar dengan perasaan campur aduk.
"Riyu!" Batinnya tersentak melihat sosok pria berdiri dengan gagah di depan cafe. "Buat apa kamu datang lagi?" tanya Yui dengan wajah masam tak senang melihat mantan pacarnya.
Pria yang bernama Riyu Hans itu kemudian tersenyum selepas wajah mungil Yui melintas dari hadapannya. Mata pria itu lengang memandang lentiknya bulu mata pujaan hatinya. "Yui ...." Dia terus tersenyum, seakan gundah gulana yang menyiksa dirinya terobati.
"Kamu kenapa, sih?!" Yui mulai mengamuk. "Ngapain dateng -dateng. Dibilangin jangan pernah injakin kaki di sini, masih aja ngeyel," rutuk Yui tiada henti. Matanya menjegil ke arah pria itu.
Tak peduli dengan kata-kata kejam dari mulut gadis itu, Riyu lantas masih menatap dan bergeming. "Maafin aku, Yui. Aku ga mau putus dari kamu. Kamu tahu sendiri, aku sibuk banget. Kamu harusnya ngertiin aku," jelas Riyu panjang lebar.
"Bodo amat! Aku ga peduli!" tegas Yui dengan nada tinggi.
Yui melirik Lena yang masih berdiri di dalam cafe sambil menggulung ujung bajunya karena panik. Dia terlihat sedang khawatir. "Aku juga sibuk, ga ada waktu buat ngomong sama kamu!" Yui masuk ke dalam cafe menghampiri Lena yang terpaku tak bergerak.
"Lena, kamu boleh pulang. Jangan takut gitu dong. Aku gapapa kok," kata Yui sambil tersenyum menenangkan hati karyawannya.
Kring!
Suara lonceng pintu terdengar. Riyu masuk mendekati Yui juga Lena. "Yui, aku mohon ... jangan begini. Aku ... aku ga bisa putus dari kamu," jelas Riyu sambil memohon. Wajahnya memelas membujuk Yui agar kembali bersama dengannya lagi.
"Gila kamu, yah? Cowo kayak kamu ga pantas buat aku! Udah, jangan ganggu aku lagi."
Mata Riyu menyipit, dia fokus pada bagian bibir Yui. Terlihat luka bersarang di sana. "Bibir kamu kenapa?" Riyu hendak menjatah bibir Yui.
Secepat mungkin Yui menepiskan tangan Riyu. "Bukan urusan kamu!"
"Kamu kenapa, Yui?" tanya Riyu khawatir. "Kamu harus jujur sama aku," pintanya lagi dengan kalut di hati.
"Ih, jatuh doang. Jangan lebay!" jawab Yui berbohong. Jelas sekali luka di bibirnya adalah bekas gigitan Ken.
__ADS_1
Dia merangkak pergi dari hadapan pria itu. Hatinya begitu jengkel melihat mantan pacarnya berada di satu ruangan yang sama dengannya.
"Bos!" panggil Lena lalu berlari mengejar Yui.
Mereka akhirnya berhasil menghindari pria di sana. Untung saja tidak ada drama yang lebih parah lagi, seperti waktu lalu.
...****************...
Yui dengan hati redut menghentakkan kakinya dengan keras. Wajahnya merengut masuk ke dalam apartemen karena masih jengkel memikirkan Riyu.
"Kenapa dengan wajah jelek itu?" Ken bertanya saat Yui baru saja masuk. Bukannya menyebarkan kebahagiaan, wajah masam itu malah berenang di pandanganya.
"Kalian berdua sama aja!" sembur Yui melampiaskan amarahnya pada Ken.
Si Raja Iblis hanyalah korban.
Dia terus melangkah dengan gundah di wajah. Sampai akhirnya dia tertahan akibat sadar dengan Ken. "Kamu siapa?" tanya Yui dengan wajah bingung.
Ken berdiri dari duduk santainya. "Kau sudah pikun sampai tidak ingat aku siapa?" Dia mulai membusungkan dadanya seraya berkata, "Aku adalah Ken Reymond, Raja Iblis dari ...."
Yui langsung memotong kalimat pria itu. "Stop! Iya, jangan dilanjut lagi," timpal Yui cepat. Kalau dibiarkan, bisa-bisa Ken tidak akan habis mengoceh.
"Kemari!" perintah Ken memanggil Yui mendekat.
"Ah, ga mau!" tolak Yui. Dia langsung melindungi tubuhnya dengan melipat kedua tangan di sisi bahunya. "Aku ga mau!" ulang Yui mempertegas. Dia teringat bagaimana terkahir kali Ken menghabisi dirinya. "Hih," gelengnya ngeri mengingat adegan semalam.
Ken melangkah sampai jarak mereka tak jauh. Dia memberengut melihat kejanggalan dari wajah Yui. Dia mencondongkan tubuhnya sedikit untuk memperjelas. "Apa ini?" tanyanya sambil menunjuk ke arah bibir Yui.
Spontan kaki Yui mundur terburu-buru menjauh dari Ken. Mereka terlalu dekat, jantungnya terasa amburadul ketika melihat wajah Raja Iblis itu. "Jangan dekat-dekat!" tegas Yui melindungi diri.
"Bajingan ini lupa, ha? Parah ... padahal dia yang buat, tapi malah nanya balik," umpat Yui kesal dalam benak.
__ADS_1