DUNIA MEMIHAK MU

DUNIA MEMIHAK MU
Episode 14


__ADS_3

Banyak yang akan mereka bahas di hari yang hampir gelap. Kini jingga begitu elok tampak dari kaca besar di sisi kanan mereka. Sedikit angin menghembus tirai halus sehingga melambai-lambai menyapa keduanya.


Yui duduk di sofa berbulu menghadap Ken. Kedua lututnya bertemu sebab tegang melihat Ken dengan raut serius.


"Kamu mau nanya apa?" tanya Yui dengan terus menghindari sentuhan mata Ken.


"Tidak jadi," katanya dengan santai. Sejak awal memang tidak ada yang hendak dia tanyakan. Raja Iblis itu hanya ingin agar Yui tidak canggung padanya.


"Brengsek!" Yui begitu murka. Tangannya langsung bergerak ingin mencekik leher Ken dengan kuat. Untungnya dia berhasil menahan amarah. Sia-sia gadis itu gelisah sejak awal.


"Hahaha." Tawa Ken terdengar puas. Dia terkekeh tanpa jeda melihat jengkel di wajah Yui. Tak pernah dia merasakan puas seperti ini. Melihat mimik Yui, perutnya tergelitik tiada henti.


Yui menampakkan muka masamnya. Tidak terima dengan candaan juga tawa Ken, Yui menarik telinga Ken dengan keras hingga pria itu meringis kesakitan. "Sakit!" bentak Ken sambil mengelus-elus telinganya agar nyerinya berkurang.


"Rasain tuh," balas Yui lega, namun wajahnya masih saja merengus.


Melihat hal tersebut, Ken langsung merengkuh tubuh Yui hingga tak ada jarak diantara mereka. Dia mendekap Yui lalu menghidupkan televisi menggunakan remote. "Aku hanya ingin menonton bersama denganmu," katanya sambil tersenyum ke arah gadis itu.


Darah Yui mendidih. Serasa letusan asap akan keluar dari atas kepalanya. Senyuman itu ... senyuman Ken sangat menawan hingga jantungnya tak berhenti bergejolak. "Aku bisa pingsan, dia deket banget," ungkapnya dalam hati.


Yui hanya diam sambil melihat ke arah televisi. Dia dengan patuh membiarkan tangan pria itu merangkul dirinya. "Ehm ... Ken!" panggil Yui ragu. "Waktu itu kamu pergi kemana?"


Ken menoleh. Kini mereka bersirobok satu sama lain. Sekejap tatapan Yui merubah cara pandang pria itu. Hatinya ikut berayun ketika manik mata mereka beradu.


"Apa kau khawatir saat itu?" tanya Ken balik. Tak ada yang bisa mengalihkan pandanganya dari sana. Mereka saling terpaku. Sangat lama, hingga Yui tak nyaman dengan tatapan itu.


Yui menoleh ke samping agar tak saling memandang. Jika terus begini, dia bisa mati beku karena wajah tampan Ken mengguncang perasannya.

__ADS_1


"Hmm?" Ken mempertegas. Dia menggunakan telunjuknya untuk menggeser kepala gadis itu ke arahnya. "Kau tidak boleh berpaling dariku. Kau hanya boleh melihat ku saja," perintah Ken egois.


"Ke-Ken ... kok kamu gini, sih? Aku ga nyaman lihat mata kamu," jelas Yui lalu mengalihkan pandangannya lagi.


"Entahlah, aku pun tidak mengerti. Saat ini aku hanya ingin agar kau terus memandangi ku." Seketika di sekeliling tubuh Ken terpancar sebuah kabut berwarna hitam. Sangat mengerikan, sampai Yui terbelalak melihatnya.


Dia semakin erat mendekap Yui. Pria itu tampak terobsesi, lirikan itu menggambarkan kehausan. Jelas bahwa tatapannya sangat berbeda. Ken telah diselimuti rasa ingin memiliki. Dia bahkan tak bisa mengendalikan dirinya sendiri.


Ken tersenyum bengis. Perlahan kabut hitam itu bertambah pekat. Disahut oleh kepakan sayap yang tiba-tiba saja berkibar dari belakang punggung Ken.


"Ke-Ken ... ka-kamu ...." Kepala Yui terhentak kuat ke dasar sofa. Tubuhnya kini terbaring tak bisa bergerak sebab Ken mendindih lekuk lampai gadis itu. Ken tampak beringas, bahkan Yui tak berani melihatnya.


"Sadar Ken! Ken ... kamu jangan menakuti aku!" teriak Yui berusaha mengembalikan kesadaran Ken.


Mata pria itu tak berkedip sama sekali. Sudut bibirnya terus menyeringai tak henti.


"Ken!!!" Suaranya menggema keras.


Tak ada gunanya. Ken tak bisa mendengar apa pun. Dia telah dipenuhi oleh buasnya Sang Iblis. Tak lama kemudian Ken mulai menyantap bibir ranum Yui lalu berganti menggigit dengan keras.


Tak bisa dihindari, akibat ulahnya, bibir gadis itu terluka sehingga darah melancut dari sana. Semakin gadis itu mengerang, semakin lebar pula senyumnya. Dia terus ******* bibir gadis itu hingga cairan berwarna merah itu bercucuran hingga ke kerah bajunya. Tanpa ampun, Ken semakin liar.


Belum puas di satu tempat, Ken akhirnya berpindah ke arah bawah dengan menjilati seluruh sisi yang dia lalui sampai tiba di tengkuk gadis itu.


"Ken ... berhenti! Cukup," isak Yui menahan perih di bibirnya.


Nafas pria itu terdengar kacau dan terburu-buru. Detak jantungnya berdebar kencang hingga darahnya terasa deras terombang-ambing.

__ADS_1


Ken sama sekali tidak peduli, tanpa basa-basi dia mulai mencium leher gadis itu berulang, hingga terdengar suara kecupan bertalu-talu. Tak sampai disitu saja, Raja Iblis itu mulai memagut tengkuk Yui, lalu dia mengatupkan kedua bibir lembutnya untuk mengajak gadis itu terbuai bersama.


"Ah ...." Gadis itu mendesah panjang. Dia tak pernah merasakan perasaan berkecamuk ini. Bulunya meremang sesaat setelah dingin terasa di lehernya.


Kelopaknya tertutup rapat. Dia mulai menggeliat bersama alunan lidah Ken yang sejak tadi menari di atas kulitnya. Sangat nikmat, hingga ujung jarinya saling berpelintir.


Ketika raganya hampir berdansa denga nikmat, tiba-tiba sekujur tubuhnya seakan tertarik ke luar. Matanya terbelalak, sakitnya mulai menjalar, nafasnya pun tersengal-sengal. "Argh!"


Dia mendorong dada bidang Ken dengan kedua tangannya. Berusaha sekuat tenaga agar pria itu menjauh dari hadapannya. Nyawanya seakan dipaksa keluar ketika nafas Ken berpacu.


"Uhuk ... uhuk!" Nafas Yui kembali normal. Dia bisa menghirup udara setelah selesai dicekam mati oleh Ken. "Sadar, Ken!" teriak Yui.


Setelah gadis itu jauh dari jangkauannya, Ken merasakan tekanan pada kepala. Seluruh ruangan terasa berputar. Dia berdiri lalu meraba-raba jalan mengejar cahaya dari kaca di sebelahnya. "Agh!" desis Ken sambil memijat pelipisnya. Dia memejamkan mata dengan keras untuk menormalkan pandangan yang terguncang.


Langkahnya sempoyongan tak tentu arah. Dia terhuyung-huyung menuju balkon di sisi mereka.


"Ken!" Tahan Yui. Hampir saja pria itu terjatuh.


Ken berada di birai balkon dengan keadaan begitu kacau. "Kamu kenapa?" Yui memapah Ken masuk ke dalam, lalu mengunci pintu kaca itu dengan kuat. Dia menutupnya kemudian dengan tirai yang bergantung di sana.


Perlahan sayap berwarna hitam itu lungsur kemudian menghilang. Barulah Ken terjatuh tak sadarkan diri tepat di pelukan Yui.


Meski belum sepenuhnya berani mendekati Ken, gadis itu mengubur dalam-dalam keraguan dalam dirinya. Yui membawa tubuh Ken hingga ke atas ranjang. "Dia panas banget," kata Yui saat tak sengaja merasakan suhu tubuh Ken.


"Aku ga ngerti, Ken. Semuanya serasa mengerikan buat aku. Tapi ... gak tahu kenapa, aku malah menikmatinya." Yui bercerita pada Ken meski pria itu tak akan mendengar.


Yui akhirnya meninggalkan Ken beristirahat sendiri. Dia lantas masuk ke kamarnya lalu mengunci pintu rapat-rapat.

__ADS_1


Dia duduk termenung di atas kasurnya. Lalu dengan sedih hati memikirkan ujung kisah mereka. "Aku takut kalau Ken kembali ke dunianya. Tapi aku lebih takut kalau Ken ninggalin aku." Yui tidur meringkuh dengan genangan air membasahi ranjangnya. Hatinya sangat sedih saat membayangkan bagaimana kedepannya. Dia tak tahu kapan pria itu pergi dari kehidupannya. Bisa saja esok, atau malam ini, bahkan bisa saja detik ini. Mungkin Ken bisa pergi meninggalkan Yui sesuka hatinya, lantas bagaimana nasibnya? Bisakah dia membiarkan pria itu pergi begitu saja?


__ADS_2