
Yui tercenung selepas jari telunjuk karyawannya memberitakan sosok pria di ujung sana. Tampak sedang memegang nampan di sebalah tangannya. Dengan gagah mengegah ke arah bola matanya. Semakin dekat, hingga jantungnya terasa hebat menderu.
"Ken ...." Hanya kata itu yang terucap. Lirih suaranya amat menyedihkan. Dia sudah menyuguhi pria itu dengan tangis hampir lepas. "Ken!!!" raung Yui berlari bak anak kecil mengadu pada ibu. Dia menggelar kedua tangannya, bersiap menangkap badan kekar pria itu.
Cepat jari telunjuk Ken menahan kening gadis itu. Sebelum Yui berhasil memeluknya, Ken sudah mendorong gadis itu terlebih dahulu dengan telunjuknya. "Banyak orang di sini, Sayang. Tidak malu?" katanya dengan suara lantang, seolah berharap seisi ruangan mendengar.
Yui tertegun sejenak. Jiwanya sedang kalut, lelucon apa yang sebenarnya terjadi? Dia hanya ingin memeluk pria itu, tapi kenapa manusia-manusia di sana menghalangi?
"Kalian!" bentak Yui sambil berkacak pinggang. Mukanya melukiskan kekesalan. "Gimana cafe? Kalian tutup lagi?" tanya Yui bersama dengan hentakan kaki mendekati kerumunan itu.
Mereka tersenyum. "Boss, sih. Ga pernah datang. Kita kan jadi khawatir," balas Lena memanyunkan bibir. "Eh, ga taunya karena ini. Kita ikut senang, ya ga, guys?" sambungnya sambil mengangkat alis cepat.
"Terima kasih buat kalian semua, hehe." Senyumnya sungguh kaku, terasa pahit saat dipandang. "Kalian emang paling baik," sambungnya lagi. Lidahnya keluh untuk melanjutkan kalimat positif lainnya.
Yui tak berselera berbicara panjang lebar dengan karyawan itu, dia sungguh lelah, benar-benar lesu. "Kalian mau buat cafe bangkrut?" Yui mencondongkan tubuhnya ke salah satu muka karyawannya. "Angkat kaki dari sini sebelum aku tutup cafe selamanya," ancam Yui mengusir para karyawan yang sejak tadi memandangi Ken.
Bergegas mereka keluar dengan terbirit-birit. "Aku habisin teh buatan mas ganteng ini," kata yang satu lalu memburu langkah keluar pintu selesai meneguk habis minuman buatan Ken.
Sekarang mereka hanya berdua. Tidak ada siapapun. Tersedia ketenangan menghembus mereka. "Gimana rasanya dipuji mereka? Senang? Puas? Jawab! Makin genit aja kamu, yah," ungkpnya cemburu.
Kesal melihat Ken tersenyum pada wanita-wanita tadi, langsung dia mengambil semua gelas di meja, hasil seduhan pria itu. Dia meneguk semua sampai tak tersisa setetes pun.
"Argh!" Amuknya setelah tiga gelas teh penuh masuk ke dalam perutnya. Dia menyapu bibir dengan punggung tangan, lalu beranjak ke kamar dengan meninggalkan tatapan mengerikan pada Ken.
__ADS_1
Brak!
Pintu terbanting keras.
Tak lama, Ken mendengar rintihan dari dalam sana. Tentu tak heran, itu pasti Yui. Kehebohan apa lagi yang akan dilakukan gadis sana?
Ken masuk tanpa seizin Yui. Dia dengan lancang mendekat ke arah Yui. Gadis itu menekuk lutut sembari menangis. Rambut panjang hitamnya terurai menutupi tubuhnya. Hanya jari lentik itu sajalah yang bisa di gapai oleh Ken.
Dia menyentuhnya, perlahan sampai tubuh mereka bertemu. Kini Yui berada di dekapan Ken, dengan posisi masih duduk meringkuk.
Air matanya makin deras. Kini tangannya terurai mendekap erat tubuh pria itu. Matanya basah dan merah. Dia kemudian memalangi butiran air mata dengan menyeka wajahnya.
"Kamu jahat! Kamu memang tega!" raungnya sambil memukul dada pria itu berulang. "Aku hampir mati ... hampir mati." erang Yui. Seolah masih banyak sambatan lain di hatinya. Belum semua terungkap melalui tangisanya.
Jam terus berputar, hari semakin panas, namun dekapan iyu belum juga melekang. Bahkan kaki Ken sudah kebas menahan tekuk kaki yang sejak awal tak berubah posisi. Ingin sekali dia meluruskan kaki panjangnya, tapi dia takut jika gadis sana belum cukup puas memeluk dirinya.
Sontak Yui menengadahkan kepala melihat wajah Ken. Matanya sayu tertimbun air mata yang terus mengalir. Sekarang terlihat kering, kelopaknya bengkak juga memerah. Ken tak sampai hati melihat bola mata Yui yang indah berubah sengsara. "Jangan bilang kau jatuh cinta padaku," tebak Ken sambil mengernyitkan dahi menatap dua manik elok Yui.
Yui tak bersuara. Seolah bungkam mendengar pernyataan Ken. Benar ... dia merasakan kerinduan amat mendalam ketika pria itu menghilang dari hadapannya. Dia bahkan tak sanggup menjalani hari-hari tanpa melihat iblis itu. Sungguh inikah cinta?
"Sembarangan," tangkis Yui tak ingin mengaku. Tidak mungkin dia jatuh hati pada iblis itu. Batinnya terus bertarung melawan akal yang ada di kepalanya. "Ga mungkin aku suka sama dia. Aku belum move on dari Riyu," gumamnya dalam benak.
"Ya sudah, lepaskan aku!" Ken beranjak dari ranjang. Langsung dia berbalik hendak pergi dari hadapan Yui.
__ADS_1
Segera Yui mencegat langkah kaki Ken, tangannya menjulur seolah memohon agar tak menjauh dari pandangannya. "Ken!" panggilnya dengan mata memelas. "Apa aku boleh suka sama kamu?" Seakan dunia memaksanya untuk menahan pria itu. Bahkan mulutnya dengan mudah mengeluarkan kalimat begitu memalukan. Bagaimana seorang perempuan mengatakan hal demikian? "Aku mau mati aja," decaknya kesal dalam hati ketika untaian kata itu keluar dari mulutnya.
Ken mengerutkan dahi. Perlahan dia mencerna kalimat gadis dengan pipi berwarna merah jambu di sana. "Kau bercanda?" tanyanya tak yakin.
Gelagapan menjawab, Yui malah melemparkan guling ke arah Ken, lalu dia menutup seluruh tubuh dengan kain tebal miliknya. "Jangan pikirkan! Aaaa! Pergi sana!" usirnya karena terlalu malu.
...****************...
Yui menggerutu terus menerus menyalahkan dirinya tiada henti.Mengapa dia mengatakan hal bodoh itu pada Ken? Seharusnya dia tak perlu bertanya. Karena sudah terlanjur, kini rasa canggung terus menghantui Yui. Untuk keluar dari bilik sendiri pun enggan. Langkahnya terus terhenti ketika bayangan Ken berputar di ingatannya.
Tok-Tok-Tok!
Ketukan pintu terdengar berulang. Tentu saja itu Si Raja Iblis. Siapa lagi kalau bukan dia? Hanya mereka berdua penghuni di apartemen.
Yui tunggang langgang mendengar suara khas pria di luar sana. Bergegas dia membuka pintu dengan sedikit merapikan rambutnya yang kacau.
"Kenapa?" tanya Yui dengan nada berangas. Matanya tak melirik sama sekali, dia hanya membuka sedikit celah pintu agar tak berhadapan langsung dengan Ken. Dia tidak sanggup.
Tangan Ken yang berurat memegang pinggir pintu lalu menyibak sehingga terpampang lebar. "Sedang apa kau ini?" tanya Ken keheranan.
"Jangan dekat-dekat!," jawab Yui memerintah dengan kepala tertunduk. Dia sedang menyembunyikan pipi berwarna merah padam itu.
"Ck." Ken mendecak. "Memang sebaiknya aku tidak kembali ke sini," sambungnya menjegilkan mata. "Apa wanita memang serumit ini? Aku tidak paham denganmu." Ken sudah tidak bisa lagi memaklumi perangai Yui yang terus saja berubah. Dia tak mengerti lagi harus bertindak seperti apa agar gadis di depannya ini tidak perlu berbelit-belit.
__ADS_1
"Kamu mau apa?" tanya Yui.
"Ada yang ingin kutanyakan."