
Berkat Yui, Ken memiliki kekuatan yang cukup untuk mencari keberadaan jendral kepercayaannya, Simon Akhter. Meski kekuatan tersebut hanya sementara, Ken harus memanfaatkannya sebaik-baik mungkin.
Dia dengan sigap, memejamkan matanya sembari menyalurkan seluruh energi untuk melambungkan sebuah radar ke pencakar langit. Tingkat keberhasilan radar itu mungkin tak seratus persen, jika beruntung sebuah sinyal akan dia dapatkan.
Samar-samar dia merasakan keberadaan jendral itu. Memang sangat lemah, sampai dia kesulitan untuk menerima sinyal keberadaan Simon.
"Argh!" decaknya kesal. Dia tak memiliki banyak waktunya lagi. Secepatnya dia harus mengejar sinyal tersebut sebelum kekuatannya benar-benar kembali hilang.
Ken membuka jendela kaca kamarnya, lalu dengan tegap melompat ke bawah. Sebelum pijakannya sampai ke dasar, Ken langsung terbang mengejar sinyal yang terkoneksi padanya.
Hanya dalam waktu singkat, Ken tiba ke radar yang dia buat untuk mencari jendral. Sekarang kakinya berdiri tepat di tengah kerumunan orang-orang. Entah apa yang membawa dia hingga bisa sampai di tempat tersebut, yang dia yakini bahwa Simon berada diantara manusia yang begitu dia hindari.
Ken mencari jejak keberadaan Simon. Meski tak jelas terlihat olehnya, dia bisa merasakan sosok jendral kepercayaannya di tengah lautan manusia di sana.
"Manusia sampah ini sangat menjijikkan," hina Ken sambil menghindari sentuhan dari gerombolan orang yang saling berdesakan. "Meet and greet?" Begitulah tulisan yang dibaca oleh Ken. "Dimana bocah itu?!" tanya Ken mencari-cari. Dia sudah kesal karena sejak tadi terus tersenggol manusia yang tiada henti berteriak dan menjerit histeris.
Muak dengan suara itu, Ken dengan murka menjetikkan jarinya. Seketika semua orang berhenti, tak ada yang bergerak di lapangan yang luas itu. Bahkan angin tak berhembus hari itu. Semua mematung, hanya dia yang berjalan. Kini dia merasa damai dalam pencariannya, karena para manusia lemah itu sudah tak ricuh lagi.
Sayangnya kekuatannya cukup terkuras untuk menghentikan waktu yang berputar. Segera dia merasa energinya sudah berkurang. Jika tak menemukan Simon, maka hari esok akan mustahil baginya bisa mencari keberadaan jendralnya.
Dengan setitik sisa energi yang dia miliki, Ken kembali ke apartemen Yui. Namun konyolnya, belum sempat sampai ke apartemen tersebut, kekuatannya menghilang. Alhasil dia terlempar jauh dari lokasi Yui. Terpaksa dia harus berjalan kaki menuju komplek yang jaraknya sangat jauh.
Malam sudah tiba. Ken belum juga sampai ke apartemen Yui. Dia tak terlalu hapal dengan jalanan di sana, sehingga langkahnya sering kali salah, bahkan tersesat.
Sementara itu, Yui sudah menunggu Ken sejak sore. Bukannya membereskan kamar yang sudah dia hancurkan, pria itu malah pergi secara diam-diam, tanpa sepengetahuan Yui. Sungguh dia sangat kesal. Dia berancang-ancang akan mengamuki Ken jika melihat batang hidung pria itu sebagai pelampiasan amarahnya.
__ADS_1
Ting-Nong!
Bel pintunya berbunyi. Melalui monitor intercom apartemen miliknya, dia melihat pria itu dengan keringat yang bercucuran. Pria itu akhirnya kembali setelah sekian lama Yui bersabar menunggu. Langsung dia mempersilahkan Ken masuk meski amarah sudah tertahan dalam lubuk hatinya.
"Dari mana aja kamu?!" tanya Yui dengan kedua tangan di sebelah pinggang. Dia dengan cerewet memulai amukannya.
Ken dengan wajah lemas dan lesu, tak sanggup menjawab Yui. Dia mengacuhkan gadis itu, lalu berjalan terus sampai menuju sofa panjang yang ada di sana. Dia dengan lega membaringkan tubuhnya yang kekar, kemudian menormalkan pernafasannya.
"Hei!" panggilnya dengan suara yang lemah. "Ambilkan aku air!" perintahnya menyuruh Yui.
Bagai api yang membara, Yui tak mau mengambil minuman tersebut. "Ambil sendiri!" tegas Yui menolak. "Kamu dari mana? Ngos-ngosan gitu habis ngapain, ha?!" tanya Yui.
Ken duduk dari posisi tidurnya, dia menggerakkan tangannya untuk memanggil Yui mendekat ke sebelahnya.
Yui hanya bisa diam melihat kelancangan pria itu. Bukannya merasa bersalah karena sudah mengguncang apartemen, bahkan seluruh komlek terkena imbas atas perbuatannya. Ken dengan mudahnya malah pergi tiba-tiba tanpa sepengetahuan Yui.
"Kamu gila? Komplek ini hampir roboh karena ulah kamu, semua orang udah panik. Eh kamu ... kamu malah kabur," umpat Yui yang tak kuasa menahan emosinya. Dia bahkan sampai memijat pelipisnya lembut karena tak sanggup memaklumi kelakuan Ken.
Ken berdiri dengan sigap, dia menatap Yui dengan ke angkuhannya. "Bukannya kau yang meminta?" tanya ken tidak ingin disalahkan.
"Ga harus robohin tempat ini juga!!" sambung Yui kesal.
Ken menaikkan bahunya lalu memiringkan sedikit kepalanya. "Bukan salahku," katanya tak peduli.
Tidak ada gunanya menyalahkan Raja Iblis itu, ujungnya yang salah adalah Yui. Tidak akan ada habisnya jika berdebat dengan Ken. Begitulah isi hati gadis itu.
__ADS_1
Saat Yui berbalik pergi berbalik ingin pergi, Ken langsung menahan gadis itu. Tubuhnya masih lemah, dengan berlama-lama di samping Yui sambil memegang tangan gadis itu, perlahan kekuatannya kembali. Meski dengan jumlah energi yang sedikit, setidaknya dia tak selemah sekarang ini. Bahkan untuk berdiri pun kakinya tak berdaya.
"Apa aku bisa mencium mu?" tanya Ken dengan tangan masih menggenggam erat pergelangan Yui.
Mata gadis itu langsung mengeluarkan aura mematikan. Langsung dia mencengkram dagu Ken lalu mendorong pria itu sampai terduduk di sofa. "Jangan pernah buka mulut, sebelum kamar kamu rapi kayak semula!" tunjuk Yui ke arah lemari yang tumbang, juga beberapa vas yang pecah. "Dan kamu! Jangan lupa pergi ke minimarket sana, beli lampu. Ganti tuh yang kamu pecahin," suruh Yui lagi dengan kejam. Dia langsung pergi masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu dengan rapat. Dia sangat jengkel dengan Ken, bahkan dia tak menyangka tangannya berani mencengkram dagu pria itu.
...****************...
Sesekali Yui melihat Ken yang tengah sibuk merapikan kamar. Sejujurnya dia ingin sekali membantu, namun dia terlalu gengsi. Apalagi dia hanya memberi sedikit pelajaran pada pria itu agar lain kali memikirkan perbuatannya.
Ken mengambil uangnya satu ikat, lalu berjalan menuju minimarket hendak membeli lampu yang pecah.
~Minimarket~
"Hei! Ini kembalian uangmu!" panggil Kasir.
Ken tak tahu menahu dengan harga, yang penting dia berhasil membawa sembilan bola lampu. "Ambil saja sisanya," kata Ken. Dia langsung pergi dengan langkah yang ringan. Uang? Dia tak peduli dengan itu. Toh dia hanya sementara di dunia ini.
Kebetulan kasir minimarket itu adalah orang yang jujur. Dia mengikuti Ken hingga depan apartemen Yui untuk mengembalikan duit yang jumlahnya hampir seribu dolar.
"Kenapa kau mengikuti ku?" tanya Ken curiga.
Bukannya menjelaskan, dia nanap melihat pri tampan itu berdiri tepat di depan apartemen gadis cerewet yang sering berbelanja di tokonya. "Kamu tinggal di sini?" tanya Kasir itu.
Seingatnya gadis itu telah menutup hati semenjak trauma masa lalu dengan pria lain. Lalu ada apa dengan pria ini? Mungkin dia sudah melupakan traumanya? "Ternyata dia sudah bisa lupakan pacarnya yang brengsek itu," kata Pak Kasir sambil tersenyum.
__ADS_1