
Wajah Yui memerah, matanya terbelalak dengan kedua tangan berusaha melepaskan cengkraman dari tangan makhluk berbulu. Pandangannya kian mengabur, kini nafasnya sudah diujung. Mati?
"Libe! Jangan serakah!"
Cengkraman itu lepas sekatika. Makhluk mengerikan lain datang menghampiri mereka. Dia berkaki layaknya manusia, hanya saja wujudnya menjijikkan, sampai Yui hampir muntah menatap keduanya.
"Dia milikku," tegas makhluk itu tak ingin berbagi pada kawannya. "Lihat! Dia sangat harum. Bahkan ... bahkan terpancar magis yang sangat kuat, ahahah!" Makhluk yang disebut Libe itu kemudian tertawa jahat sambil menatap Yui dengan nafsu. "Siapa gadis cantik ini? Dia bahkan mempunyai sihir yang besar."
Libe yang satunya pun mendekat. Tak bisa dipungkiri, dia merasakan magis yang kuat dari dalam tubuh Yui. Bahkan saat berada di dekatnya, dia merasakan gejolak energi mengalir di darahnya. "Libe di bawah mengabarkan bahwa Raja Iblis ada di tempat ini. Aku mengira energi ini berasal dari-Nya, ternyata gadis ini."
"Raja Iblis?!" Kakinya bergetar. "Sebaiknya kita pergi!" teriaknya ketakutan.
Mereka adalah Libe, iblis rendah dan terkucilkan. Beberapa Libe yang pembangkang turun ke bumi untuk mengacau, sebagai bentuk berontak pada Langit, karena memperlakukan mereka dengan tidak layak. Jika sampai Raja Iblis tahu perbuatan mereka, maka neraka akan mengikat.
"Tidak ada gunanya. Libe di bawah sudah bertemu dengan Sang Raja. Sebaiknya kita memohon ampun," usul makhluk itu menasehati.
Iblis berwujud keledai itu merupakan Libe yang sombong, dia tak mendengar nasehat sekawanannya, dia berniat berlari seorang diri dengan memanfaatkan Yui sebagai sumber energinya.
Lantas dia meraih tangan gadis itu, lalu membuat sebuah lubang yang dalam menggunakan gigi tajamnya. Semburan darah membasahi wajahnya.
"Argh!" Yui menjerit. Terdengar suara hentakan keras dari tulangnya. Gigi tajam Iblis itu menembus hingga ke dasar tulangnya. Sangat menyakitkan, sampai Yui tak bisa berdiri dengan kedua kakinya. Dia terhenyak. Tubuhnya terjatuh ke lantai yang berabu. "Iblis menjijikkan!" teriak Yui sekuat tenaga dengan amarah di dadanya. Seketika arterinya menderu seolah angin kencang menghembus di dalam.
Tiba-tiba di pelipisnya timbul urat besar yang menerawang, berwarna merah dan hitam. Sangat mengerikan, sampai Libe itu melepaskan gigitannya dari tangan Yui. Pupilnya berubah pekat, seperti batu rubi yang elok.
"Mati kalian!" serunya lalu melempar tubuh Libe itu.
Bruk!
__ADS_1
Dinding tak berwarna itu hancur akibat benturan keras dari Libe tersebut. Sangat keras. Sampai dari mulut Libe keluar darah kental berwarna hitam.
Tak sampai di situ saja, Yui mulai mendekat ke arah Libe yang satunya. Dia dengan gelap mata menendang kepala Libe hingga tulang lehernya patah. Yui menggunakan kedua tangannya, lalu mulai meremuk tubuh Libe itu. Secara bergantian dia menghabisi kedua Libe tersebut.
"Yui!"
Suara ini ... suara ini yang sejak awal ingin dia dengar. Betapa bahagianya dia ketika namanya terpanggil. Dia menoleh dan tersenyum, kemudian dia berlari memeluk tubuh jangkung pria itu. "Kenapa kamu lama?! Aku ... aku hampir mati!" Air matanya mengalir dengan deras. Tangisnya pecah, dia sangat ketakutan, hingga seluruh tubuhnya bergetar.
Ken tidak bisa berkata-kata. Dia terkejut sejadi-jadinya melihat Yui. "Siapa sebenarnya gadis ini?" tanya Ken dalam hati.
Ken membagul gadis itu ke ranjang besar tertutup kain putih dalam rumah kosong itu. Dia membiarkan waktu menelan takut Yui sembari ia memeluk agar secepatnya tenang.
"Ken," lirih suaranya memanggil. "Kepalaku sakit. Aku ngerasa kalau kepalaku lagi ditekan," jelas Yui mengeluh. Dia meraba ke arah kepalanya, hendak meremas sakit yang mendenyut.
Deg!
Dia terpaku. Dengan sembrono, dia mulai menggapai dua buah tanduk di kepalanya. Dia melebarkan kelopaknya, jelas terlihat sebuah pupil tidak biasa di sana. Matanya berwarna merah. Sangat mengerikan, bahkan urat di pelipisnya membuat hatinya tak terima.
"Aaa!!!" Yui berteriak sejadi-jadinya sebab takut melihat dirinya dengan rupa mengerikan.
Ken langsung menutup mata gadis itu, kemudian dia memecahkan cermin di depan dengan tangannya. "Dengarkan aku! Jangan takut," suruh Ken menenangkan Yui.
"Nggak! Aku ga mau! Kenapa ... kenapa aku jadi gini?!" Dia mendengking tak menerima tampangnya. Tangannya dengan kuat menarik dua buah tanduk yang ada di kepalanya, dia berusaha untuk menyingkirkan gundukan tersebut.
"Yui!" Ken memegang tangan gadis itu. Dia mendekap Yui erat hingga tak bisa bergerak sama sekali. "Tenangkan dirimu. Aku ada bersamamu. Jangan takut ... jangan pernah takut."
Kalimat sederhana itu menyejukkan hati Yui. Dia seketika melemah. Dia hanya merintih dengan tangis menyedihkan. Seolah dunianya terasa suram. Dia tak ingin hidup lagi, dia ingin semua berakhir, sebab hatinya tak mampu menerima wujud mengerikan ini.
__ADS_1
"Maafkan aku, Yui. Karena ku, kau terjerat sampai sejauh ini," bisik Ken ke telinga gadis itu.
Rasa bersalahnya terus mendorong Ken untuk segera meninggalkan gadis itu. Dia tak bisa membahayakan nyawa Yui untuk urusan dunianya. "Aku akan pergi dari hidupmu, jangan khawatir," sambungnya ketika mata Yui sudah terpejam menikmati kelelahan.
...****************...
Ketika matanya terbuka. Malam sudah tiba. Sekelilingnya sangat gelap tanpa penerang. Dia terbaring di kursi mobilnya dengan sebuah liontin di genggamannya.
"Apa tadi cuma mimpi?" Dia tersentak dari tidurnya.
Kemudian dia merasakan sebuah sinar berwarna biru di genggamannya. Sebuah batu memancarkan cahaya yang menyilaukan mata. "Ini apa?" tanyanya. Kembali dia teringat dengan Ken. "Dia belum keluar juga?" Yui keluar dari dalam mobilnya dengan membawa ponsel sebagai senter untuk menerangi pandangannya.
Kakinya hendak melangkah, tiba-tiba muncul makhluk mengerikan ke hadapannya. Itu para Libe, rupanya beragam. Sekumpulan Libe itu kemudian menunduk padanya.
"Yang Mulia sudah pergi dari tempat ini. Beliau berpesan agar Nona pergi dari tempat ini. Kemudian Nona diperintahkan agar melupakan semua tentang Sang Raja serta kejadian hari ini." Para Libe itu berdiri lalu segera masuk ke dalam rumah kosong tersebut.
Yui terdiam tak bisa berkata-kata. Langsung dia berlari ke arah spion mobilnya untuk melihat wajahnya. Ternyata benar, tadi bukanlah sebuah mimpi belaka. "Dimana Ken?!" tanya Yui memanggil Libe yang berjalan di barisan paling akhir.
"Nona, kami diperintahkan untuk tidak memberitahu kepada Anda," sahut makhluk itu.
Yui tak peduli dengan perintah itu. Dia mengejar para Libe dan menyergap salah satunya. "Katakan! Katakan dimana dia!!!"
Kekuatannya sungguh mengerikan, bahkan Libe itu tak bisa melepas dekapan Yui. "A-Aku tidak tahu!"
Para Libe akhirnya panik. Mereka mengelilingi Yui dengan memasang muka sangarnya. Gigi mereka menajam, mata pun ikut menerkam. Dengan murka mereka bersiap menyerang Yui.
"Jangan ada yang bergerak!" ancam Yui. "Atau dia akan mati!" Yui berusaha mengeluarkan magis di tubuhnya, meski tidak tahu caranya. Intinya dia tahu bahwa di dalam dirinya ada sebuah kekuatan atau apalah itu. "Cukup katakan dia ada dimana!" paksa Yui menanyakan keberadaan Raja Iblis itu.
__ADS_1