
Kalimat yang terlontar dari mulut Ken begitu perih. Seolah hatinya tersayat pisau tajam. Tangisan bahkan tidak bisa menggambarkan kesedihan itu. Saat ini Yui diam tak bersuara setelah mendapat senggakan dari Ken. Dia membisu dengan tubuh menggegar. Tampak jelas dia sedang ketakutan, bahkan bibirnya bergetar hebat menahan pilu di benaknya.
Ken terlihat tidak peduli dengan perasaan Yui. Dia mulai memasukkan jari telunjuknya ke asal cahaya pada tubuh Yui. Dia menembus kulit Yui, hingga berhasil membuat lubang sampai jantung gadis itu tersentuh.
"Agh!" erang Yui menahan sakit. Tentu saja terasa tersayat. Jarinya seperti meruncing dan dengan bengis menusuk hingga jantungnya. "Sakit," tambahnya terus merintih.
Selepas jari Ken mengenai jantung Yui, wajahnya langsung berubah. Matanya mengerjap mendadak disambut tangkas kedua kepakan sayap yang berkibar sempurna. "Tidak mungkin," ungkapnya kecewa. Langsung dia menarik pucuk jarinya dari sana lalu menjauh dari Yui. "Argh!" raungnya kesal.
Suaranya yang dahsyat membuat gempar tanah. Seluruh bangunan yang berdiri di atasnya langsung bergetar. Begitu mengerikan. Lampu-lampu bergoyang, bahkan cermin ikut retak. Pepohonan tampak melambai. Guncangan tersebut begitu nyata merusak pertapakan, khusunya komplek apartemen Yui. Semua orang terkena imbas akibat raung Raja Iblis tersebut.
"Ken! Cukup!" teriak Yui mencoba menyadarkan Raja Iblis yang sedang mengamuk itu. "Aku mohon ... Ken ... jangan begini. Kita bisa mati!"
Krek!
Retak sudah cermin hias yang digunakan Yui saat berkaca.
Setelah semuanya tak bergetar lagi, Ken menatap Yui dengan mata intens. Tubuh jangkung pria itu melangkah mendekati Yui yang tergeletak tak bergerak.
"Apa kau mencintai ku?" tanya Ken tiba-tiba.
Yui tidak tahu mengapa Raja Iblis itu bertanya demikian. Di tengah kekacauan yang diperbuatnya, Ken malah menanyakan sesuatu yang tak terduga . "Apa itu cinta?" tanyanya lagi dengan tatapan kosong. Jelas dia sedang tersiksa atas pertanyaan tersebut.
__ADS_1
"Ken ... kamu kenapa?" Yui melihat sebutir tangisan di pinggir saluran air matanya. Kelopaknya yang sayu membuat Yui merasakan kesedihan yang amat mendalam.
Seketika kaki Ken yang kokoh melemah. Dia terjatuh sampai kedua lututnya tertekuk menghantam lantai. Sungguh dia sangat terpukul. Sebuah kenyataan yang pahit menyapanya. "Kenapa harus kau?" tanya Ken dengan mata terduduk. Perlahan segel di tangan juga kaki Yui terlepas.
"Ken!" panggil Yui. Gadis itu langsung menghampiri Ken yang melungguh seolah lumpuh. Tidak peduli jika sekarang tubuhnya terekspos tanpa busana. "Kamu kenapa, Ken?"
Yui meletakkan kedua telapak tangannya yang dingin di atas pipi Ken. Perlahan dia menyapu air mata yang baru saja menetes di sana. "Jangan buat aku sedih, Ken. Kamu ga boleh nangis. Kamu Raja Iblis, harusnya ga boleh cengeng," ucap Yui menguatkan Ken.
Ken tersenyum tipis mendengar suara Yui. Langsung dia meneliti wajah cantik gadis itu. "Tentu saja aku tidak akan sanggup membunuhmu," katanya dengan jiwa terpukul.
Yui tidak menghiraukan ucapan Ken. Tangannya terulur tulus memeluk Ken. Dia tahu bahwa pria itu sangat bersedih. "Kamu boleh bunuh aku kalau memang harus, Ken," balas Yui sambil menepuk punggung kekar Raja Iblis itu. "Aku cinta sama kamu. Aku gak tahu kapan ... tapi aku terus mikirin kamu. Aku ngerasa bersalah karena udah marahin kamu. Apa itu cukup dijadikan alasan?" Terus dia bersuara. "Ken ... maafin aku. Waktu itu aku udah ngatain kamu. Aku yakin kamu sakit hati ... aku yakin. Jadi maafin aku, yah." Yui melepas rangkulannya. Dia dengan lantang mencium bibir Ken. Tubuhnya yang terpampang itu begitu dekat dengan Ken. Bahkan gundukan miliknya melekat erat di dada Ken.
Ken terkekeh mendengar pertanyaan gila itu. Dia tergelitik. Perasaannya yang sedang berguncang tiba-tiba berubah pulih sebab gadis itu menunjukkan tingkah menggemaskan. "Polos sekali," ucapnya tanpa beralih dari wajah elok gadis tersebut. "Kau boleh menyentuh semuanya," katanya sambil membelai lembut wajah Yui yang pucat.
Ken seharusnya membunuh gadis malang ini secepatnya. Karena di dalam tubuhnya tertanam batu yang selama ini dicari olehnya. Batu Osct. Ya, dari awal memang tujuan Ken adalah demi batu tersebut. Ternyata ada pada tubuh gadis yang selama ini mengasuhnya.
Membunuh gadis menggemaskan ini? Tentu saja Ken tidak sanggup. Hatinya terobsesi dengan Yui. Dia bahkan tak sanggup jauh dari gadis tersebut. Ken mencintainya. Tidak peduli jika cintanya adalah dosa. Bahkan melawan takdir pun dia sanggup.
"Sekarang tubuhku, bahkan nyawaku adalah milikmu. Seutuhnya," ungkapnya dengan tatapan penuh makna.
Yui dengan nakal mulai menggerakkan tangan untuk mengangkat kaos yang dikenakan Ken dari bawah. Jemari lentiknya melemparnya jauh ke arah sembarang. Dia merangkak ke paha Ken tanpa rasa malu, lalu duduk di atasnya. Dengan lihai, Yui mulai menyentuh perut indah itu, kemudian menjelajahi hingga tengkuk. Dia melingkarkan tangannya di leher pria. Langsung dia membidik bibir rona pria berwajah tampan itu.
__ADS_1
Dia melahap habis setiap sisi bingkai milik Ken yang menggoda. Tak ada sedetik pun yang terlewatkan. Begitu nikmat, sampai tak sadar jika tingkahnya mengundang prahara dari Ken.
Ken hanya bergeming. Dia diam menikmati setiap belaian juga sentuhan dingin gadis itu. Dia pasrah. Sampai dirinya benar-benar memanas, gejolaknya meledak.
Mendadak Ken mengambil alih lihai lidah Yui yang terus mengajak bergulat sejak tadi. Dia mulai melu-mat. Dia berdiri dari duduknya sambil mengangkat tubuh ringkih Yui. Dengan hati-hati, dia meletakkan lampai gadis itu di atas ranjang, segera dia menimpa tubuh gadis itu.
Mereka berdua mulai mendayung perahu yang sama. Kini suasana begitu panas, hingga Yui mulai menggeliat di atas ranjang menikmati pautan lidah yang terus bergumul.
Entah dorongan apa yang menekan hasratnya menjalankan tangannya untuk membelai rambut Yui yang panjang. Perlahan turun melewati tulang selangka yang begitu tangkas, lalu menyapa gemulai gundukan molek menawan milik Yui. Sedikit dia meremas lalu mengecup meninggalkan jejak di sana. "Ini milikku," kata Ken dengan terus membasahi bukit itu.
"Ke-Ken? Kamu ... kamu udah kelewat batas," ungkapnya dengan suara hampir tak terdengar. Dia menggigit bibir bawahnya menahan gairah yang sudah mencuat.
Tidak puas hanya sampai di setengah perjalanan. Akhirnya dia menjalarkan tangannya yang bengal. Kini jarinya tepat menyentuh hangat kesucian Yui. Dia mulai berdansa di sana. Dia meregangkan kedua kaki gadis itu, lalu membuatnya tertekuk agar seluruhnya dapat dinikmatinya.
"Ah ...." desah Yui panjang, dia memegang tangan Ken yang terus-menerus bergerak membuatnya hampir melayang. "Ehm." Yui terkesiap. Pria bertubuh kekar itu mulai memasuki liang surgawi miliknya. Semkain menderu pula darahnya. "Ken .... pe-pelan! Aku ... aku ga kuat." Matanya nanar memohon agar Raja Iblis itu berhenti melaju.
Mendengar des*han manis dari bibir Yui, Ken semakin beringas. Berulang kali dia menggerakkan tubuhnya agar suara itu memenuhi telinganya. Begitu syahdu, sampai tubuhnya berpacu hebat untuk mengendarai tubuh Yui.
"Bukankah ini yang kau inginkan?" bisik Ken dengan senyum bengis.
Mereka terus berpacu satu sama lain. Hingga tak sadar waktu pun terus berlalu. Gadis itu terpejam lelah setelah diguncang habis oleh Raja Iblis tersebut.
__ADS_1