
Peristiwa itu berkecamuk di benaknya. Bibirnya mengering tak bisa menerima kenyataan. Ken? Tidak ... saat ini yang perlu dibahas adalah sopir di dalam truk. Dia masih sempat terselamatkan.
Segera Yui menghubungi polisi, melapor bahwa terjadi tabrakan di depan kompleknya. Meski takut jika kepolisian menyalahkan semua akibat dirinya, dia tak peduli. Nyawa sopir sana sedang dipertaruhkan.
Tak lama pihak kepolisian bersama dengan ambulance mengamankan sopir juga truk penyok itu.
"Untung sopirnya ga mati," ucap Yui bersyukur.
Semua beres tanpa ada kendala. Kejadian naas itu dinyatakan sebagai kecelakaan tunggal.
Dia dan ken tidak terjerat ke dalam masalah tersebut. Semua rekaman cctv rusak total, tak ada satu pun kamera yang berhasil menangkap tragedi tragis itu.
"Apa dia beneran iblis?" tanya Yui saat berjalan pulang ke apartemennya. Batinnya menduga bahwa Ken yang sudah merusak semua cctv di jalan.
~Apartemen~
Yui langsung mendekati Ken untuk menyampaikan kondisi sopir tadi.
"Ken ... i-itu, ada yang mau aku sampaikan," panggil Yui ragu. Melihat wajah pria itu, membuat Yui enggan mengganggu Ken.
Kekesalannya pada Yui belum juga mereda. Dia sama sekali tak menghiraukan kedatangan Yui dan terus memegang pergelangan tangannya.
Kekuatannya belum pulih, tentu benturan keras tadi menyebabkan tulangnya retak sedikit. Meski menyakitkan, dia tak terlalu khawatir, beberapa hari pun tulangnya akan membaik kembali.
"Tangan kamu sakit?" Yui duduk di ranjang, bersebelah dengan Ken lalu melirik ke arah pergelangan pria itu.
Terlihat memar di sekitarnya. "Maafin aku, Ken." Yui menyentuh tangan pria itu lalu dengan lembut menggenggamnya. "Terima kasih juga udah tolongin aku," sambungnya dengan tutur. Dia tersenyum pada Ken dengan penuh kasih.
Deg!
__ADS_1
Jantung Ken seketika berhenti. Tidak pernah dia merasakan keanehan seperti ini. Wajahnya terasa panas, bahkan api saja tidak pernah membuatnya terbakar, namun kali ini terasa berbeda. Dia tak mengetahui sama sekali penyebabnya. Benaknya menduga bahwa respon itu terjadi karena lukanya disembuhkan oleh gadis di sebelahnya itu.
Sebuah cahaya yang menyilaukan mata tiba-tiba melingkar di pergelangan tangan Ken. Seketika luka dalam yang dia dapatkan tadi sembuh dalam sekejap mata. Kini Ken dapat menggerakkan tangannya kembali seperti sediakala.
"Ini aku yang sembuhin kamu?" Yui melihat lebam di pergelangan Ken menghilang. Betapa senangnya dia. Ternyata manusia tanpa bakat itu bisa menyembuhkan orang. "Bener ga, sih?" tanya Yui lagi dengan antusias.
Matanya berkilauan membayangkan betapa hebat dirinya. Tidak disangka, manusia tak berguna seperti Yui ternyata memiliki kekuatan supranatural yang tak dia ketahui sama sekali. Seandainya dia tahu lebih awal, mungkin dia sudah buka praktek pengobatan tradisional.
"Keren banget, woy!"
Sangking girangnya, Yui tak sadar bahwa telapak tangannya dengan keras menepuk punggung kekar pria itu.
Plak!
Nyeri terasa menjalar sampai ke ke ujung kaki. Begitu sakit, sampai mata Ken terbelalak menahan panasnya tepukan itu. "Apa dia benar wanita?" keluh Ken sambil menjatah punggungnya.
"Itu kamu kan yang nahan truk? Gila banget!" Dengan kagum dia menyeringai lebar. "Kalau gitu, tunjukin ke aku kekuatan super kamu!" pinta Yui kekanak-kanakan.
"Mudah," balasnya. "Tunggu kekuatan ku kembali," sambungnya.
Betapa kecewanya Yui mendengar jawaban Ken, padahal dia sangat ingin melihat kekuatan super dari pria itu. Dia terlanjur girang mengetahui Ken adalah sosok raja dari para Iblis. Yui merasa menjadi manusia paling beruntung sebab bertemu dengan Ken.
"Bilang aja kamu ga bisa," ledek Yui memancing. Apa pun yang terjadi, gadis itu bersikukuh ingin melihat kekuatan Ken sebagai Iblis.
Ken terdiam. Dia kesal karena gadis itu meremehkan dirinya. Tidak ingin dipandang rendah manusia lemah seperti Yui, dia semampunya berusaha memikirkan ide mendapatkatkan kekuatannya. Dengan nakal Raja Iblis itu memandangi bibir padat berwarna merah milik Yui. Matanya yang tajam dengan liar hendak menerkam ranum seelok persik itu.
Spontan tangan Yui tergerak menutupi bibirnya. Dia tahu maksud dan tujuan pria itu. Dari sudut matanya saja, Yui sudah tahu paham tujuan lirikan tersebut.
Ken tersenyum sedikit. Hatinya tergelitik melihat Yui menghindari dirinya. Dia sedikit senang karena berhasil membuat gadis itu merasa terancam."Kenapa? Bukannya kau ingin melihat kekuatan dari Raja Iblis ini?" tambah Ken mengganggu Yui.
__ADS_1
Yui perlahan menjauh dari Ken, dengan cepat dia berdiri dari posisi duduknya. "Ga akan!" tegasnya dengan muka panik.
Sesungguhnya Ken memiliki alasan terus mencium gadis itu. Dia tak bernafsu pada Yui, bahkan dia tak tertarik. Ken melakukannya karena sedang memancing sihir dalam tubuh gadis itu keluar. Energi yang begitu besar mencuat dari dalam sana ketika jantung Yui berdegup dengan kencang.
Respon alami tubuh Yui akibat serangan dari Ken, membuat irama jantungnya berdetak dengan cepat, sehingga Ken memanfaatkan momen tersebut sebagai cara efektif dan efisien untuk memaksa keluar kekuatan itu.
Mendengar penjelasan dari mulut Ken, Yui merasa kecewa. Entah mengapa hatinya teriris ketika Ken dengan ringan menjelaskan arti sebuah ciuman dari dirinya. Sungguh dia tak menyangka, kecupan yang berharga baginya ternyata tak bermakna.
"Ja-Jadi gitu, ya?" Yui tampak murung. Jelas tergambar dari rautnya sebuah kekecewaan. Dia merasa tersakiti, padahal tak dilukai.
Ken bahkan merasakan perubahan suasana yang terpancar dari Yui, dengan cepat dia menghempaskan duka gadis itu. Dia berjalan dengan langkah panjang ke arah Yui.
Kini mereka saling berhadapan dengan manik saling menatap. "Biar aku tunjukkan seperti apa Raja Iblis itu," ucapnya. Dia dengan berani meraih pipi gadis itu sambil mencengkram erat pinggang ramping tersebut. Perlahan dia mengendus wangi dari helai rambut Yui. Dia begitu menikmati waktu yang berlalu, tampak dari derai nafas yang dia hembuskan setiap gerakan bibir yang baru saja dilemparkannya pada Yui.
Seolah jam berputar dengan lambat, mereka bergantian mulai mengulurkan lidah seraya meliuk-liuk. Dengan mantap, Yui memejamkan matanya hendak merasakan gejolak panas dari tubuhnya. Tangannya berjalan melingkari leher pria yang tingginya jauh dari badannya.
Ketika dia mulai terbuai dalam ciuman tak berarti, tiba-tiba lantai terasa bergemuruh. Bahkan lemari juga lampu ikut menari mengikuti gemuruh yang tak berhenti.
Sontak Yui melepaskan rangkulannya, dia berjongkok lalu melindungi kepalanya. "Gempa!!!" teriaknya ketakutan.
Lampu di kamar itu pecah, seluruh benda di dalamnya jatuh berserakan tak tentu arah.
"Bagaimana?" Pria itu tersenyum puas. Dia terlihat senang dengan getaran semacam gempa yang berhasil dia ciptakan.
Yui menoleh dengan pelan, meski sekarang tubuhnya masih bergetar, dia dengan kesal mengepalkan tangannya bersiap melemparkan tinjuan keras ke arah Ken.
Bruk!
Yui dengan sekuat tenaga melayangkan tinju mematikan tepat mengenai perut sixpack Ken. "Makan tuh!" Dia langsung keluar dari kamar yang sedang berantakan, sambil menyeka bibirnya dengan punggung tangan. Dia sangat murka pada Ken. "Dasar cowo bego!" decaknya ketika melewati pintu.
__ADS_1