DUNIA MEMIHAK MU

DUNIA MEMIHAK MU
Episode 18


__ADS_3

Tidak banyak percakapan diantara mereka setelah perdebatan selesai. Kini Ken dengan berat hati harus memperbaiki tangan Riyu yang patah. Meski dia tak sudi melakukannya, tapi dia harus mengobati manusia yang dia anggap seperti tikus busuk. Semata hanya karena Yui.


Ken mulai memusatkan konsentrasi pada bagian tangan Riyu yang terbalut perban. Perlahan sebuah kabut berwarna hijau asri berkeliling mengitari retakan tulang tersebut. Berlangsung lama, sampai Yui terpegang takjub menonton hingga kabut hijau itu padam. "Wah!" pujinya terpesona.


"Ayo, pulang!" ajak Ken selepas memperbaiki tulang Riyu.


"Yang jaga dia siapa dong?" tanya Yui dengan muka cengo.


Ken menaikkan kedua bahunya. "Aku tidak mau tahu, juga bukan urusanku," jawabnya tidak menghiraukan. "Pulang sekarang!" perintah Ken tegas sembari manarik tangan Yui.


"Ih, tunggu dulu. Aku telpon mama dia dulu. Kasihan ga ada yang jagain," sela Yui, kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi orang tua Riyu. Setidaknya pria yang tak sadarkan diri sana dijaga oleh seseorang.


"Dalam hitungan ketiga, kalau kaki pendek mu tidak jalan. Aku akan membawamu pulang dengan kekuatan ku." Kesabaran Ken yang tipis mulai habis. "Satu ... dua ...."


Dengan cepat Yui merangkak dari diamnya. Dia begitu ketakutan dengan ancaman gila dari mulut Ken. "Iya, ih. Gak sabaran banget. Aku jalan nih," cerocosnya sambil berjalan cepat mengikuti Ken dari belakang.


"Aku lapor ke meja resepsionis dulu, yah." Yui berlari cepat agar Ken tidak memiliki kesempatan untuk mengumpati dirinya. "Cerewet banget jadi cowo," repet Yui saat sudah sampai di depan meja resepsionis.


Setelah semua selesai, keduanya pun akhirnya kembali ke apartemen dengan menaiki mobil Yui. Tak banyak memakam waktu di perjalanan, mereka sampai juga di kediaman tanpa berbincang. Hanya ada keheningan.


~Apartemen~


Begitu pun saat tiba di apartemen, Yui hanya berjalan dengan mulut terkunci ke dalam kamarnya. Sementara Ken kembali duduk di sofa dengan mata mengincar langkah gadis itu.


"Apa lihat-lihat?" sembur Yui berbalik menengok Ken.


Bukannya berbicara, Ken malah membisu sambil melemparkan mata yang terpicing kesal.


"Gak jelas!" tukas Yui lalu membanting pintu kamarnya.

__ADS_1


"Dia kenapa, sih?" tanya Yui bingung sambil membuka baju yang sedang dikenakannya. Dia hendak mandi karena sudah dua hari tidak mengganti pakaian. "Bau banget," makinya saat mencoba mengendus ketiak yang kering.


Yui pun mulai melepas semua yang ada di tubuhnya, hingga tak sehelai benang pun menempel. Kulitnya yang putih terpampang nyata. Dia memandangi lekuk lampai pinggulnya hingga dada yang ranum. "Kemarin ada sinar warna merah di sini," katanya sambil menunjuk ke arah rusuk yang sedikit menonjol. "Ini kenapa ga keliatan lagi, yah?" tanyanya mencoba memperjelas bidikan matanya pada bagian itu. "Aneh."


Kriet!


Pintunya terbuka dengan lambat. Sangat pelan, sampai mata Yui dapat bergerak mengikuti pintu yang mulai terngaga luas.


Terlihat Ken sedang berdiri tanpa rasa bersalah di depan sana. Tangannya masih tergantung di atas gagang.


"Kya!" teriak Yui terkejut. Langsung dia menutup buah d*da juga aset berharga miliknya. Dia beringsut mengambil botol parfum di meja riasnya, lalu membabi buta melempar ke arah Ken. "Cabul! Pergi sana! Argh!" Tidak tahu harus dengan kata apa dia memaki Raja Iblis itu. Seolah lidahnya keluh. Dia hanya dapat melemparkan semua barang yang tersedia di sana untuk melampiaskan amarah pada Ken.


"Aw!" lirih Ken seraya menangkis benda-benda yang hampir mendarat melukai dirinya. "Berhenti!" perintah Ken.


Tidak ada apa pun yang tersisa di atas meja lagi. Semua sudah habis dilempar ke arah Ken. "Sana!!!" teriak Yui kencang sampai urat lehernya timbul. Wajahnya memerah ditemani degup jantung yang tak berirama. Dia sangat malu.


Tak!


"Kau ...."


Ken mendekat. Matanya tertuju pada cahaya merah tersebut. Tidak peduli meski gadis itu bertelanjang bulat, dia hanya melihat sinar itu.


Ken menggeser tangan Yui yang tersilang ketat di atas dadanya, lalu kemudian menyentuh asal cahaya merah tersebut. "Sejak kapan ini ada?" tanyanya.


Plak!


Yui menampar pipi Ken dengan keras. Tentu saja Raja Iblis itu pantas mendapatkannya. Saat ini Yui sedang tidak memakai busana apa pun, namun bodohnya, pria itu malah lancang menyentuh tubuhnya.


"Brengsek!" amuk Yui.

__ADS_1


Untungnya Ken tersadar. Dia baru ingat bahwa manusia akan malu saat dilihat tanpa busana. Dengan demikian dia sigap menjatah selimut tebal yang tergelar di atas kasur empuknya.


"Ma-Maaf," ungkapnya merasa bersalah. Langsung wajahnya berubah kaku. "Lagi pula kau tidak kunci pintu, aku tidak tahu," sambungnya membela diri. Dia berbalik membelakangi Yui.


"Malah nyalahin. Lagian ngapain masuk ke kamar aku?" rutuk Yui dengan tangan masih berusaha membalut tubuhnya dengan selimut berwarna putih polos.


"Alasannya tidak penting dibahas. Sekarang aku hanya ingin bertanya tentang sinar di tubuhmu itu," kata Ken. Lalu dia mulai membalikkan badannya bersiap untuk menerima penjelasan.


"Jangan lihat ke belakang! Mau kena tampar lagi, ha?!" senggak Yui.


Dengan patuh, Ken tidak jadi berputar badan. Dia tetap menghadap dinding. "Baik," angguknya paham.


Mengenai cahaya merah yang bersarang di jantungnya, tidak tahu jelas kapan awalnya, namun cahaya merah itu ada setelah kejadian di rumah kosong waktu itu. Semenjak Yui berubah layaknya iblis, cahaya merah itu pun terkadang hilang timbul dari sana.


Sungguh Yui mengira bahwa cahaya itu ada karena pengaruh liontin yang diberikan oleh Ken. Namun setelah melihat Ken begitu terkejut mengetahui tentang cahaya tersebut, membuat Yui yakin jika Raja Iblis itu tidak tahu-menahu pasal cahaya dari tubuhnya.


"Biarkan aku melihatnya lagi," minta Ken.


Spontan Yui mundur menjauh lalu mengeratkan balutan selimut itu. "Ga boleh!" tangkis Yui menolak.


"Jangan paksa aku berbuat kasar padamu," balas Ken mengancam. "Kemari!"


Yui benar-benar tidak ingin jika pria itu melihat tubuhnya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya tidak mengizinkan.


Gadis itu terus menolak, membuat Ken yang tidak ada sabarnya itu pun langsung mengangkat tubuh Yui, lalu menghempaskan dengan keras di atas ranjang. Dengan cekatan dia mulai menyibak selimut di tubuh Yui. Agar gadis itu tidak berontak, Ken menyegel tangan juga kaki Yui hingga tak dapat bergerak.


"Ken! Lepasin, ga?! Aku ngerasa dilecehin kalau gini. Setidaknya biarin aku pakai baju dulu. Aku ga mau serendah ini!" Dia terus berteriak mencoba memecah segel yang sudah berhasil membuat tubuhnya kaku terikat.


"Aku tidak akan melecehkan mu," jawabnya dengan suara ringan dan berat. Dia mulai merangkak naik ke atas tubuh Yui. "Aku harus memastikan sesuatu. Sebaiknya tutup mulutmu, atau kau tidak bisa berbicara lagi selamanya," ancam Ken dengan raut serius. Jika jiwa iblis nya kembali, tidak ada lagi yang namanya nurani. Hanya ada kekejaman dalam diri.

__ADS_1


"Ken ... kamu ... kamu kenapa jadi gini?" Yui mulai menitikkan air mata sebab tidak menyangka jika pria tersebut tega mengancam dirinya. "Apa kamu memang ga punya hati?" Derasnya rintihan tersebut ternyata tidak membuat Ken tergerak. "Kamu boleh lakuin apa pun, tapi jangan pernah ancam aku gini!" pekik Yui.


"Diam!!" senggak Ken merasa terganggu. Sekarang dia frustasi. Namun gadis itu terus saja bersuara. Bukankah dia sudah mengatakan pada Yui agar tidak berbicara? Lalu kenapa dia masih mengeluarkan unek-unek yang membuat Ken semakin jengkel. "Sudah kukatakan untuk diam! Kenapa kau terus saja berbicara!"


__ADS_2