
Situasi tidak terduga ini membuat tanya di benak Yui, disambut resah juga gelisah. Pasalnya ujung pedang milik Ken yang tajam telah berhasil menggores leher kasir minimarket tersebut.
"Ken!" teriak Yui menarik tangan Ken yang terulur. Secepatnya dia berusaha menjauhkan mata pedang itu. Sayangnya tenaga Ken sangat kuat, hingga usahanya tidak bisa mengusik tangan Ken yang menegang lurus.
"Yui, jangan mendekat!" sahut Pak Ozy. "Dia bukan manusia, kamu ... kamu pergi sekarang!" Pak Ozy tahu betul siapa pria yang ada di hadapannya.
Ken tersenyum. Dia puas sebab Dewa yang diusir dari Langit ini masih mengenal rupa Sang Raja Iblis. "Tidak sia-sia kita bertemu. Aku menghargai ingatanmu tentang ku," kata Ken angkuh.
Pak Ozy tak menghiraukan nyawanya sekarang. Yang terpenting baginya adalah Yui. Dia bertugas untuk menjaga keamanan gadis itu. Sesuai perintah pemimpin bangsanya. "Demi bangsaku, aku rela mati!" koar Pak Ozy lantang.
Sungguh dia sudah merasakan sesuatu yang aneh terpancar dari Ken. "Aku sudah curiga terhadapmu saat itu. Ternyata dugaanku benar," decak Pak Ozy.
Waktu itu Ken pernah datang berbelanja ke toserba miliknya. Membeli bola lampu dalam jumlah yang banyak. Gelagatnya sudah terlihat saat memberikan uang satu ikat padanya. Namun disitu dia berusaha berpikir positif.
Karena sedikit menganggu, lantas dia mengikuti Ken hingga apartemen. Betapa terkejut dia ketika melihat pria itu seatap dengan Yui. Dia pun mengira bahwa firasatnya hanya dugaan tak berlandas. "Toh dia tak menyakiti Yui." Begitulah katanya saat itu. Melihat betapa keras Yui melindungi Ken, membuat Pak Ozy menghapus curiganya.
Seandainya dia cepat menyadari, mungkin masih sempat menyembunyikan gadis itu dari Raja Iblis. "Yui, pergi!" suruhnya dengan nada tinggi.
Ken merasa terganggu dengan suara pengang pria beruban itu, langsung dia menggores tengkuk pria tua itu di sisi sebelahnya. "Cemaskan dulu hidupmu, baru pikirkan dia," suruh Ken dengan senyum menyeringai. Dia begitu menikmati keputusasaan Setengah Dewa itu. Dia terhibur melihat ketakutan yang tersirat di wajah Pak Ozy.
"Mengecewakan. Kau mudah sekali menyerah," ujar Ken mencemooh.
__ADS_1
Yui menoleh ke arah Ken, lalu bergantian menengok Pak Ozy. Dia bingung. Apa keduanya saling mengenal?
"Itu artinya Pak Ozy sama seperti Ken," tebaknya menduga-duga. "Pak Ozy ... ka-kamu ... bukan manusia?" Wajah Yui berubah kaku. Tidak menyangka pria paruh baya yang sering bersenda gurau dengannya ternyata adalah seorang Dewa yang terasingkan. Dilempar ke bumi untuk menanggung dosa atas perbuatannya.
Ken yakin jika Yui tidak tahu-menahu tentang Dewa terasingkan ini. "Kau tidak tahu?" tanya Ken menyambar.
Ken akhirnya mengerti. "Ternyata kau diperintahkan untuk menjaga gadis ini," kata Ken. "Sayangnya dia sudah bertemu denganku. Sekarang dia adalah milikku," sambung Ken tak henti menakuti Setengah Dewa yang sedang gemetar. "Ah, bukan. Maksudku batu yang ada di dalam tubuhnya. Kalian mencurinya, ck." Ken menarik Yui menggunakan kekuatannya, hingga gadis itu bergeser dengan sendirinya ke pelukan Ken. "Kalian kira bisa menyembunyikan tuan dari peliharaannya. Ck, naif sekali," hina Ken merendahkan.
Ken menatap mata Yui dengan lirikan penuh obsesi. "Apa dia harus kubunuh? Dia musuhku," tanya Ken dengan seringai yang belum juga pudar sejak awal. Dia terlihat menakutkan saat hatinya beku.
"Ke-Ken ... jangan bunuh dia. Pak Ozy ... Pak Ozy udah aku anggap keluarga sendiri," pinta Yui memohon. "Dia ... dia orang yang selalu membantu aku. Dia juga yang selalu menolong aku. Aku mohon ... aku mohon ... jangan bunuh dia." Air mata Yui pun ikut meminta agar Raja Iblis itu memberikan sedikit belas kasih terhadap Pak Ozy, Si Setengah Dewa. Dia bahkan sampai bertekuk lutut pada Ken agar membiarkan pria tua itu tetap hidup.
Bukannya merasa senang, Pak Ozy semakin menyalahkan dirinya. Dia terpukul melihat tangisan gadis itu. Tugasnya adalah menjaga Yui dari serangan para iblis, tetapi dia malah gagal dalam misi. Apa artinya hidup baginya? "Aku pantas mati!" gumam Pak Ozy dalam benak.
Jika Setengah Dewa itu tetap hidup, maka kebenaran mengenai latar belakang Yui akan terbongkar. Dia yakin jika Ken pasti akan mengulik semua hingga tuntas.
"Yui!" panggil Pak Ozy sambil melemparkan senyum bercampur rasa bersalah. Matanya sayu. "Ini hari terakhir kita bertemu. Aku harap kamu cepat dewasa. Berhenti jadi cewe cerewet, atau kamu jadi perawan tua." Masih sempat Pak Ozy bercanda. "Mantanmu tidak lebih buruk dari pria ini. Dia bisa bunuh kamu kapan saja. Ingat! Jika dia menyentuh batu merah di tubuhmu, kamu akan mati!" Pak Ozy menitikkan air mata. "Maaf karena ga bisa jagain kamu, Yui. Semoga kita bisa bertemu lagi."
Pak Ozy berhenti bersuara. Dia mengeluarkan belati dari telapak tangannya, lalu kemudian menancapkan pada jantungnya.
"Pak Ozy!!!" Yui mengejar tangan kasir minimarket itu. Namun sayangnya, geraknya kalah cepat. "Aaaa!!!" raung Yui histeris. Pak Ozy berubah menjadi abu. Tak ada yang tersisa, seolah hembusan angin merubah tubuhnya yang ringkih menjadi setumpuk debu di atas lantai.
__ADS_1
Yui menderam sejadi-jadinya. Langkah ketirnya berjalan mendekati abu Pak Ozy. Dia mulai berusaha menyentuh bulir-bulir yang rapuh itu. Lantas dia terisak.
"Ken ... Pak Ozy pergi. Dia pergi, Ken." Yui merengek menahan pilu juga sebat di dada. Dia terjerembab menghantam keramik yang dingin.
Ken tak berkutik. Dia tidak peduli sama sekali atas kematian Pak Ozy. Toh dari awal dia sudah berniat menghabisi nyawa Setengah Dewa yang lemah itu.
Ken sudah menebak kejadian ini sebelumnya. Dia tahu bahwa tua bangka itu akan lari agar kerahasiaan Yui tetap terjaga. "Bukankah dengan begini aku akan semakin ingin mencari tahu tentang gadis ini?" ucapnya dengan suara pelan.
Tidak ingin melihat Yui bersedih meratapi abu pria itu, Ken akhirnya mengajak Yui pergi dari sana. Dia iba melihat tangisan gadis yang terisak hingga sesunggukan.
"Aku mau di sini. Pak Ozy pasti bakal kembali lagi," tolak Yui menepiskan tangan Ken yang terjatah memegang lengannya. "Kamu bilang dia dewa! Pasti dia bakal kembali! Dewa ga mungkin mati ... Pak Ozy ga mungkin mati!" Matanya memerah karena air mata terus mengalir.
"Matamu sudah sembab, ayo," ajak Ken lagi. Dia bertinggung menatap Yui. Lalu kemudian jemarinya yang lembut mulai menyapu pipi gadis itu. "Aku tahu kau sedih." Ken memeluk Yui, lalu menawarkan bahunya untuk dijadikan sandaran. "Katakan jika kau sudah tenang," katanya lagi. Suaranya yang berat berhasil membuat Yui merasa tenang.
Gadis itu mengeluarkan semua kesedihannya, tanpa menyisakan pilu di dalam hatinya. Kemeja yang dikenakan Ken sampai basah sebab air mata gadis itu.
"Sudah?" tanya Ken saat Yui mendongak menatapnya.
"Ehm," angguk Yui.
Ken bertanya-tanya dalam pikirannya sendiri. Mengapa Setengah Dewa itu berani mengakhiri hidupnya, meski tahu jika Ken ada di sisinya? Apa Pak Ozy tidak takut jika Raja Iblis ini membunuh Yui? Membiarkan Yui berada di sampingnya adalah sebuah kesalahan. "Mereka bodoh sekali," umpat Ken menghina.
__ADS_1
Meski dia tak akan membunuh Yui sekarang, namun dewa-dewa itu sungguh keterlaluan karena meremehkan Ken. "Ck, itu artinya bukan hanya satu dewa saja yang menjaga gadis ini," tebak Ken. Terbersit pula niat untuk menumpas seluruh dewa yang ada di bumi.
Ken akhirnya memutuskan untuk menjadikan Yui pemancing para dewa. "Kalian akan kuhabisi," ungkapnya dengan rahang yang terkatup rapat. Dendam terlukis tangkas di wajah Raja Iblis tersebut.