DUNIA MEMIHAK MU

DUNIA MEMIHAK MU
Episode 7


__ADS_3

Dia tak melihat apa pun. Hanya kegelapan yang jelas menyelimuti ruangan. Yui ingin membuka tirai jendela kamar, tapi dia lebih takut jika sampai petir yang menyambar melintasi dari maniknya yang elok.


"K-Ken ... ka-kamu di situ?" panggil Yui dengan suara lirih ketakutan.


Yui meraba-raba sekeliling untuk mendapatkan secercah cahaya di dalam kegelapan. Dia keluar dari kamar untuk mengambil pemantik menghidupkan lilin. Ingin sekali Yui menggunakan ponselnya sebagai alat penerang, sayangnya ponsel itu tinggal di dalam mobil.


"Di-Dimana pintunya?" Dia masih berusaha merasakan bentuk gagang pintu agar bisa keluar. "Ken! Ken!" panggil Yui terus-menerus. Suara pria itu tak terdengar sama sekali.


"Apa dia kabur?" tebak Yui berburuk sangka.


Krek!


Akhirnya dia menemukan gagang pintu kamarnya. Belum sampai kakinya selangkah keluar dari dalam, Ken sudah berdiri tepat di hadapannya dengan sebatang lilin di tangan.


"Astaga! Bikin kaget aja!" Yui spontan memukul perut Ken karena terkejut. "Aku kira hantu," katanya merasa bersalah karena sudah memukul Ken.


"Apa hantu mempan ditinju dengan kepalan kecil ini?" Ken menggenggam tangan Yui yang terkepal dan mengenai perutnya.


"Lepasin!" Yui menghentakkan tangannya yang tergenggam.


"Ck, tadi terus berteriak memanggil, sekarang dicampakkan. Dasar manusia," decak Ken.


"Jadi kamu dengar aku waktu panggil kamu tadi?" Amukan Yui terasa begitu mencekam, amarahnya membludak karena Ken tak menyahut panggilannya. Sungguh dia sangat takut, berharap seseorang menyahut, nihil, bagai seorang diri di apartemen gelap itu. "Kamu… kamu emang tega! Kamu bisu makanya ga bisa jawab aku? Ha?!" Yui mengepalkan tangannya menahan amarah yang dipenuhi hasrat untuk membunuh. Dia tak tahu harus bagaimana mengungkapkan rasa takutnya.


Ken meletakkan lilin itu di sebuah rak tepat di sampingnya, lalu dia menarik pinggul kecil Yui dan memeluk gadis itu. Dia memberikan kehangatan sekaligus rasa aman pada gadis yang sedang ketakutan. Meski terlihat kuat, tubuh Yui bergetar tak kunjung reda sejak tadi. Ken mencoba merasakan detak jantung Yui, dan benar saja terasa cepat dan memburu.


"Tenang, tidak ada yang perlu ditakutkan. Aku ada di sini," kata Ken menenangkan gadis dengan hati gundah hampir mati getir.

__ADS_1


Seketika Yui merasa tenang. Jiwanya mulai aman. Untuk pertama kali dalam hidupnya seseorang menenangkan rasa takutnya. Begitu bahagia, sampai dia enggan melepaskan dekapan hangat Ken dari tubuhnya.


Yui perlahan menyentuh badan bidang Ken lalu membalas rangkulan pria itu. Dia menyandarkan kepalanya tepat di dada Ken. Dia menghilangkan rasa takut yang dirasakan lalu membiarkan waktu melahap habis sisa ketir di dalam dirinya.


...****************...


Waktu berjalan dengan lambat. Yui menghabiskan malam bersama dengan Ken, mereka duduk di sofa panjang dengan memberikan jarak sekitar satu meter. Dia ketakutan jika harus sendiri, tapi dia juga tak kuasa berdekatan dengan pria yang sudah membuat hatinya hampir meledak.


"Mana lampu padam sampai pagi lagi," keluh Yui dalam benak. Dia tidak tahan hanya berdiam tanpa ada komunikasi dengan Ken. Dia terlalu malu untuk memulai pembicaraan setelah pelukan yang diberikan Ken padanya. Sungguh dia tak sanggup walau hanya sekedar menatap pria itu. Dia terlanjur tersipu.


Yui hanya duduk tanpa melakukan hal lain sambil menunggu detik jarum jam menyatakan pagi. Bahkan untuk bergerak pun dia tak mampu. Badannya mati rasa menahan pegal pada punggung. Dia mengantuk, tapi tak bisa tertidur, bayang tentang Ken terus berputar-putar di kepala.


Segera setelah fajar menyingsing, Yui dengan ceroboh langsung berlari ke kamar tanpa menoleh ke arah Ken. Matanya lurus ke pintu kamar, lalu terburu-buru masuk ke dalam.


Betapa tenang hatinya ketika lepas dari jarak mencekam itu. Dengan lega, Yui menarik nafas dalam sambil mengelus kepalanya sebagai bentuk penghargaan karena berhasil melewati malam yang mengerikan.


~Kamar~


“Argh! Sialan! Dia terlalu mempesona ,” keluh Yui sambil menutup wajah menggunakan telapak tangan. Tak henti pikirannya terus terbayang akan perlakuan Ken malam itu.


Segera Yui melemparkan tubuh ke atas kasur yang empuk untuk membalas tidur yang tak sempat tadi malam. Dia bersumpah tidak akan turun dari ranjang selama seharian penuh.


Belum sempat beberapa waktu berlalu, perutnya mulai berulah. Terdengar gemuruh dan juga jeritan dari dalam sana. "Ck, kenapa laparnya harus sekarang, sih?" decak Yui kesal menghardik perutnya yang terus meminta asupan.


Meski ragu untuk keluar dari kamar, Yui harus menyiapkan mental karena perutnya sudah dalam masa urgent. Dia sungguh hati-hati terhadap Ken, sebisa mungkin Yui mengusahakan agar mereka tak saling tatap.


Krieet!

__ADS_1


Dia membuka pintu kamar sedikit lalu mengintip keadaan di luar sana. Dia dengan langkah pelan mencoba meminimalisir suara pijakan kakinya. "Yui, bodoh! Ini kan rumahmu? Ngapain jinjit begini? Kamu maling?" Dia berbicara dengan suara membisik pada dirinya sendiri. Jelas terlihat bahwa dia takut jika ketahuan keluar dari kamar.


Segera dia berlari menuju kulkas untuk mengambil beberapa makanan. Namun niatannya belum membuahi hasil. Ketika tangannya berhasil menggapai kulkas lalu membuka, tak ada satu pun di dalam. Hanya ada sebotol air mineral yang sudah habis setengahnya. "Kalian semua lagi bercanda, kan?" Yui tersenyum menahan kepedihan saat tahu bahwa kulkas telah mengecewakannya. Dia begitu sial, sampai kesalnya tak terlampiaskan.


Tak ingin mati kelaparan, Yui keluar dari apartemen menuju mini market langganannya, yang letak toko itu tepat di seberang komplek.


Kala itu Yui sedang dalam keadaan tidak stabil. Kepalanya terasa berat karena kekurangan tidur, bahkan matanya terasa perih saat berkedip setelah sepanjang malam terus terbuka.


Semakin dia memaksakan diri untuk terus berjalan, semakin sakit pula kepalanya. Pijakannya pun samar-samar teraba kaki. Ketika hendak melintasi jalan, tak sengaja Yui terjatuh dari dataran trotoar ke bawah aspal yang terasa panas.


"Au!" Lutut yang lebih dulu menghantam aspal langsung terluka dan mengeluarkan darah. Meski hanya luka kecil, Yui merasakan perih untuk sesaat. Dia fokus membersihkan luka itu dari kotornya aspal, sampai tak melihat sebuah truk melaju kencang ke arahnya.


Pupilnya membesar seirama dengan laju truk tersebut. Karena takut, Yui langsung memejamkan mata seolah pasrah dengan takdir yang akan terjadi padanya. Dia siap mati jika memang sekarang lah waktunya.


Brukh!


Yui membuka matanya. Tak terjadi apa pun padanya. Dia masih pada posisi awal, tak berpindah sama sekali. Lalu dari mana asal suara benturan keras itu?


"Ken?"


Yui dikagetkan dengan keberadaan pria itu. Telapak tangan pria itu tepat menyentuh kepala truk yang hampir menghantam tubuhnya. "Ka-Kamu ...," Yui menoleh ke arah truk yang sudah hancur. Bagian depan truk tersebut penyok sampai ke kursi sopir yang mengemudi. Kaca truk itu pun berubah menjadi kepingan kaca yang menyebar di jalan. "Aku ga mimpi, kan?" Yui langsung berdiri dari posisi sungkur. Dia mendekati Ken lalu menyentuh tangan pria itu lembut. "Kamu yang menahan ini?" tanya Yui masih tak menyangka.


Melihat kecerobohan gadis itu, Ken langsung murka terhadap Yui. "Kau bosan hidup?!" Dengan bara api kemarahan, Ken meninggikan suaranya mengamuki Yui. "Bagaimana jika aku terlambat datang?!"


Yui terdiam. Dia memalingkan wajahnya karena tak kuasa melihat murka Ken. Dia sakit hati. Padahal dia juga masih dalam gejolak emosi yang tak stabil. Dia juga tak ingin mati konyol tertabrak truk, dia masih ingin hidup. "Kamu kok marahin aku?!" balas Yui dengan suara yang tak kalah tinggi dari Ken.


"Tidak tahu terima kasih." Setelah kalimat itu lepas dari mulutnya, Ken lantas beranjak dari hadapan Yui. Dia dengan wajah kaku dan datar meninggalkan Yui meski tahu bahwa gadis itu masih membutuhkan penenang hati.

__ADS_1


__ADS_2