
Deliana Lyndon sedang sibuk dengan pikirannya sendiri ketika Charles Wycombe, Earl of Billington, tiba tiba muncul di kehidupannya.
Ia sedang bejalan sambil bibirnya menyiulkan sebuah nada gembira, sementara pikirannya sibuk memikirkan perkiraan keuntungan tahunan yang akan diterimanya dari East & West sugar Company, yang sahamnya ia miliki beberapa persen, ketika tiba tiba dirinya dikejutkan oleh seorang pria yang jatuh dari langit dan mendarat di depannya, tepat di atas kakinya.
Setelah diperhatikan, pria itu tidak jatuh dari langit, tapi dari sebuah pohon ek besar. Ellie, yang merasa hidupnya terasa sangat membosankan selama setahun terakhir ini, hampir ingin pria itu telah jatuh dari langit. Pasti lebih menarik daripada sekedar terjatuh dari pohon.
Ellie menarik kaki kirinya dari bawah bahu pria itu, menarik roknya melewati mata kaki supaya tidak kotor, lalu ia membungkuk.
"Sir?" tanya Ellie. "apa anda baik baik saja?"
pria itu hanya berkata, "Ow."
"Aduh," gumam Ellie. "Apakah ada tulang yang patah?"
pria itu tidak berkata apa apa, hanya mengembuskan napas panjang. Ellie mundur ketika embusan napas pria itu menerjang hidungnya.
"Ya ampun," gerutu Ellie. "Baumu seperti baru saja minum sekilang anggur "
"Wiski," balas pria itu. "Pria terhormat selalu minum wiski."
"Tapi tidak sebanyak ini, " sembur Ellie. "Cuma pemabuk yang minum alkohol secara berlebihan."
Pria itu duduk-- jelas dengan susah payah, lalu menggeleng-gelengkan kepala seakan ingin menyingkirkan kabut yang ada di dalam otaknya.
"Tepat sekali," kata pria itu sambil melambaikan tangan ke udara, lalu mengeryit ketika gerakan itu membuatnya pusing. "Sepertinya aku memang agak mabuk."
__ADS_1
Ellie memutuskan untuk menahan diri tidak berkomentar lebih lanjut tentang hal itu.
"Apa kau yakin kau baik baik saja?"
Pria itu menggaruk rambut cokelatnya yang kemerahan dan berkedip.
"Kepalaku sakit seperti dihantam palu."
"Kurasa itu bukan hanya akibat dari jatuh barusan." sahut Ellie
Pria itu mencoba untuk bangun, terhuyung, lalu duduk kembali.
"lidahmu tajam."
"Ya, aku tahu," kata Ellie sambil tersenyum masam. " karena itulah sampai sekarang aku masih sendiri. sekarang , aku tidak bisa melihat lukamu kalau aku tidak tahu dimana letak sakitnya."
Ellie mendongkak ke pohon di atasnya. Dahan terdekat yang seharusnya menahan berat tubuh pria itu terletak sejauh empat meter di atas Ellie.
"Aku tidak percaya kau tidak terluka setelah terjatuh dari ketinggian seperti itu."
Pria itu melambaikan tangan meremehkan dan berusaha untuk berdiri lagi
"Ya, well, karena kami para Wycombe adalah sekumpulan orang yang kuat. Butuh lebih dari... aduh!" Ia meraung
Ellie berusaha sebisanya untuk tidak terdengar sombong ketika berkata,
__ADS_1
"Sakit? Nyeri? Atau keseleo barangkali?"
Mata cokelat pria itu menyipit saat ia meraih batang pohon untuk menjaga keseimbangan. "Kau benar benar wanita yang jahat dan kejam, Miss 'Siapa Pun Namamu', karena kau mengejek penderitaanku."
Ellie batuk untuk menyembunyikan rasa gelinya.
"Mr. 'Siapa pun juga', aku tidak bisa menerima ucapanmu. sudah berkali- kali aku menanyakan keadaanmu, tapi kau terus berkata kalau kau tidak terluka."
Pria itu mendengus seperti anak anak dan duduk bersandar.
"Lord 'Siapa pun juga'," gumamnya.
"Baiklah. My lord," kata Ellie, sambil berharap bahwa ia tidak menyinggung pria ini terlalu jauh. Anggota kerajaan memiliki kekuasaan yang jauh lebih besar dari pada seorang putri pastor pembantu, dan pria ini bisa saja menyengsarakan hidup Ellie kalau pria ini memilih untuk melakukannya. Akhirnya Ellie menyerah untuk menjaga gaunnya tetap bersih, lalu duduk di tanah.
"Pergelangan kaki mana yang sakit, My Lord?"
Pria itu menunjuk pergelangan kaki kananya, lalu meringis kesakitan ketika Ellie mengangkatnya. Setelah memeriksa beberapa saat, Ellie mendongak dan berkata dengan nada sesopan mungkin,
"Sepertinya aku harus melepas sepatu botmu, My Lord. Bolehkah aku melakukannya?"
"Aku lebih suka kau yang berlidah tajam," gerutu pria itu.
Ellie juga lebih menyukai dirinya yang seperti itu. Ia tersenyum "Apa kau membawa pisau?"
Pria itu mendengus. "kau pikir aku akan membiarkan dirimu memegang senjata...?
__ADS_1
"Baiklah. kurasa aku bisa menariknya begitu saja."