
"Seharusnya Wycombe Abbey bisa memiliki sebutan lain selain 'tumpukan batu besar'," sahut Ellie refleks. Ia selalu menghargai karya arsitektur yang indah, dan Wycombe Abbey adalah salah satu bagunan terindah di distrik itu.
Charles menatap Ellie dengan tajam. "Bangunan itu benar-benar akan menjadi tumpukan batu besar kalau aku tidak memiliki dana untuk merawatnya."
Ellie punya perasaan bahwa Charles sedang memperingatkannya. Ia pasti akan sangat marah bila Ellie mundur dari pernikahan ini. Tanpa ragu lagi, pria ini bisa membuat hidup Ellie seperti di neraka kalau memang ia menginginkannya, dan Ellie punya perasaan, bila Ellie meninggalkannya di altar, itu saja sudah cukup untuk memberi motivasi pada Charles untuk mengabdikan hidupnya dengan menghancurkan hidup Ellie.
"Kau tidak usah khawatir," ujar Ellie datar. "Aku tidak pernah dan tidak akan pernah berniat mengingkari ucapanku."
"Aku lega mendengarnya, My Lord."
Ellie mengeryit. Charles sama sekali tidak terdengar lega. Malah lebih terdengar berpuas diri. Ellie sedang berpikir kenapa hal ini sangat mengganggunya ketika Charles melanjutkan ucapannya.
"Kau harus tahu sesuatu tentangku, Deliana."
Ellie menoleh ke arahnya dengan mata terbuka lebar.
"Aku mungkin sering menganggap hidup sebagai lelucon, tapi aku bisa menjadi sangat serius kalau aku memang menginginkannya."
"Maaf?" Lalu Ellie menggigit bibirnya karena mengucapkan kata itu.
"Aku bukan pria yang ingin kau hadapi."
__ADS_1
Ellie mundur. "Apa kau mengancamku?"
"Calon istriku?" kata Charles datar. "Tentu saja tidak."
"Kurasa kau memang mengancamku. Dan aku tidak suka itu."
"Oh, ya?" kata Charles. "Begitukah menurutmu?"
"Kurasa," tukas Ellie, "aku lebih menyukai dirimu dalam keadaan mabuk."
Charles tertawa. "Aku lebih mudah dikendalikan, ya? Kau tidak suka kalau kau tidak bisa memegang kendali."
"Dan kau suka?"
Ellie mengamatinya dengan sangsi. "Itu atau malah saling membunuh."
"Itu mungkin saja," sahut Charles sambil menggosok-gosok dagunya. "Aku harap posisi kita sejajar kalau memang ini sampai terjadi."
"Apa sebenarnya yang kau bicarakan?"
Charles tersenyum pelan, "Aku bisa menembak cukup jitu. Bagaimana denganmu?"
__ADS_1
Ellie ternganga. Ia benar-benar terpana Sampai tidak bisa berkata, "Maaf."
"Itu lelucon, Deliana."
Ellie langsung menutup mulutnya lagi. "Tentu saja," katanya dengan nada kesal. "Aku tahu itu."
"Tentu saja."
Ellie mulai merasakan emosi memuncak di dalam dirinya, rasa frustasi Charles berkali-kali membuatnya tak bisa berkata-kata. "Tembakanku jarang sekali jitu," balasnya, senyum kaku menghiasi bibirnya. "Tapi aku sangat hebat menggunakan pisau."
Charles membuat suara seperti tercekik sampai harus menutup mulutnya sendiri.
"Dan langkahku tak bersuara." Ellie mencondongkan tubuhnya ke depan, senyumnya terlihat licik, sadar bahwa ia mulai bisa menguasai diri kembali. "Kau mungkin harus mengunci pintu setiap malam."
Charles pun mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya berkilau. "Tapi, sayangku, aku justru mau pintumu tak terkunci. Setiap malam."
Ellie merasa tubuhnya terasa hangat. "Kau berjanji..."
"Dan kau berjanji...," Charles bergerak semakin dekat sampai hidung mereka saling bersentuhan, "...untuk membiarkanku mencoba merayumu kapan pun aku mau."
"Oh, demi Santo Petrus," kata Ellie dengan sikap sangat meremehkan sampai Charles mundur karena bingung. "Benar-benar kata-kata paling ngawur yang pernah kudengar dalam satu kalimat penuh."
__ADS_1
Charles mengerjap. "Apakah kau menghinaku?"
"Yah, yang jelas aku tidak sedang memujimu," dengus Ellie. "Membiarkanmu mencoba merayuku,' Yang benar saja? Aku memang berjanji kau bisa mencobanya. Tapi aku tidak pernah berkata bahwa aku akan 'membiarkannya'."