Earl of Billington dan Miss Lyndon

Earl of Billington dan Miss Lyndon
Bab 13


__ADS_3

Charles menyipitkan matanya. "Kau bukan tipe wanita yang suka mengatur, kan?"


"Apa maksudmu?"


"Hal terakhir yang kubutuhkan adalah seorang wanita yang tidak ingin mengendalikan hidupku. Aku butuh istri, bukan penjaga."


"Kau agak pemilih untuk seseorang yang cuma punya waktu empat belas hari sebelum kekayaannya akan hilang selamanya."


"Pernikahan itu untuk selamanya, Deliana."


"Percayalah, aku tahu."


"Jadi?"


"Bukan," kata Ellie, terlihat seakan ingin memutar bola matanya. "Aku bukan wanita seperti itu. Tapi bukan berarti aku tidak mengatur hidupku sendiri."


"Tentu," gumam Charles.


"Tapi aku tidak akan mencampuri urusanmu. Kau bahkan tidak akan menyadari keberadaanku."


"Aku sangsi."


Ellie menatapnya dengan tajam. "Kau tahu maksudku."


"Baiklah kalau begitu," kata Charles. "Kurasa kita sudah membuat kesepakatan yang pantas. Aku menikah denganmu, dan kau mendapatkan uangmu. Kau menikah denganku, dan aku mendapatkan uangku."


Ellie berkedip. "Aku belum berpikir sampai situ, tapi ya, kira-kira begitulah kesimpulannya."


"Bagus. Jadi kita sepakat?"


Ellie menelan ludah, berusaha menahan perasaan bersalah karena ia baru saja menjual jiwanya ke iblis. Seperti yang telah disebutkan oleh sang earl, bahwa pernikahan adalah untuk selamanya, dan Ellie baru mengenal pria ini selama dua hari. Ellie memejamkan mata selama beberapa saat, lalu mengangguk.


"Sempurna." Charles berseri-seri sambil berdiri, berpegangan pada lengan kursi sementara ia menyeimbangkan tubuhnya dengan tongkat. "Kita harus merayakannya dengan cara yang lebih pantas."


"Sampanye?" tanya Ellie, berusaha untuk tidak menendang dirinya sendiri karena terdengar begitu berharap. Ia memang selalu ingin mencoba bagaimana rasa minuman itu.

__ADS_1


"Ide bagus," gumam Charles sambil berjalan ke arah sofa yang diduduki Ellie. "Kurasa aku punya di ruang kerjaku. Tapi aku punya ide lain yang agak berbeda."


"Berbeda?"


"Lebih intim."


Ellie berhenti bernapas.


Charles duduk di sebelahnya. "Kurasa sebuah ciuman akan lebih pantas."


"Oh," kata Ellie cepat dan nyaring. "Itu tidak perlu." Dan untuk menegaskan pernyataannya, ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat.


Charles memegang dagu Ellie dengan lembut tapi tegas. "Au contraire, Istriku, kurasa itu sangat perlu."


"Aku bukan..."


"Kau akan menjadi istriku."


Ellie tidak bisa mendebatnya.


"Aku yakin kita pasti cocok. Kita tidak perlu..."


Charles mempersempit jarak mereka berdua. "Ala sudah ada yang bilang kalau kau ini terlalu banyak omong?"


"Oh, setiap saat," kata Ellie, berniat untuk melakukan apa saja asal pria ini tidak menciumnya. "Bahkan..."


"Dan di saat yang tidak pantas pula." Charles sambil menggelengkan kepala dengan gaya menggoda.


"Yah, aku memang tidak punya keahlian mengira-ngira waktu. Kau bisa melihat saat..."


"Shh."


Dan Charles mengucapkannya dengan sangat lembut sehingga Ellie menurutinya. Atau mungkin karena tatapan mata Charles yang membara. Tidak pernah ada yang menatap Deliana Lyndon seperti itu sebelumnya. Rasanya menakjubkan.


Bibir Charles menyentuh bibir Ellie, dan gelenyar tajam terasa di sekujur punggung Ellie ketika tangan Charles menyentuh lehernya. "Oh, ya ampun." Bisik Ellie.

__ADS_1


Charles terkekeh. "Dan kau juga bicara ketika berciuman."


"Oh." Ellie mendongak gugup. "Apa seharusnya tidak?"


Charles tertawa begitu keras sampai ia harus menarik diri dari Ellie dan menyandarkan tubuhnya. "Sebenarnya," katanya ketika akhirnya ia bisa mengendalikan diri. "Menurutku malah menawan. Selama maksudnya adalah pujian."


"Oh," kata Ellie lagi.


"Bisakah kita mencobanya lagi?" tanya Charles.


Ellie merasa sudah kehabisan alasan di ciuman pertamanya tadi. Lagi pula, dengan sudah mencobanya, ia ingin tahu lebih jauh. Ellie mengangguk kecil.


Mata Charles menyiratkan sesuatu yang sangat jantan dan posesif, lalu bibirnya sekali lagi menyentuh bibir Ellie. Rasanya sama lembutnya seperti yang pertama tadi, tapi kali ini jauh lebih dalam. Lidah Charles membelai bibir Ellie sampai Ellie membuka sedikit bibirnya sambil mendesah. Lalu, dengan percaya diri lidah Charles membelai bagian dalam mulut Ellie.


Ellie sepenuhnya menyerahkan diri, tenggelam ke tubuh Charles yang kokoh. Kehangatannya, kekuatannya, dan ada sesuatu yang menggetarkan dari cara tangan pria ini menekan punggungnya. Ellie merasa terbakar, dimiliki, seakan-akan sedang ditandai sebagai miliknya.


Gairah Charles semakin membara... dan mengerikan. Ellie tidak pernah mencium lelaki sebelumnya, tapi Ellie bisa tahu bahwa Charles ahli melakukannya. Ellie tidak tahu harus berbuat apa, sedangkan Charles tahu terlalu banyak, dan... Ellie menegang, mendadak tersadar. Ini tidak benar. Ellie tidak mengenalnya, dan...


Charles menarik diri, merasakan tubuh Ellie yang menenggang. "Kau tidak apa-apa?" bisiknya.


Ellie mengingat-ingat cara bernapas, dan ketika akhirnya ia bisa menemukan suaranya, ia berkata, "Kau sudah pernah melakukan ini sebelumnya, kan?" Lalu ia menutup mata dan bergumam sendiri, "Aku ini bicara apa? Tentu saja sudah."


Charles mengangguk, tubuhnya agak terguncang agak terguncang karena tawa yang ditahannya. "Ada masalah dengan hal itu?"


"Aku tidak yakin. Aku cuma merasa bahwa aku ini seperti..." Kalimat Ellie menggantung.


"Seperti apa?"


"Hadiah."


"Wah, memang benar," kata Charles. Nadanya memberitahu bahwa ucapannya adalah pujian.


Tapi Ellie tidak menganggapnya seperti itu. Ia tidak suka dirinya dianggap seperti barang yang bisa dimenangkan, dan terutama, ia tidak menyukai kenyataan bahwa Billington membuat kepalanya berputar begitu cepat sehingga ketika ia menciumnya, otaknya tidak bisa lagi berpikir. Cepat-cepat Ellie menjauh darinya dan duduk di kursi yang diduduki oleh Charles tadi. Kursi itu masih hangat akibat tubuh Charles, dan Ellie bersumpah ia bisa mencium baunya, dan...


Ellie menggeleng kecil. Apa yang telah dilakukan ciuman tadi pada otaknya? Pikirannya meloncat ke sana kemari tak tentu arah. Ia tidak yakin menyukai dirinya yang bertingkah konyol seperti ini dan tampak terengah-engah. Ellie menguatkan hatinya dan mendongak.

__ADS_1


__ADS_2