Earl of Billington dan Miss Lyndon

Earl of Billington dan Miss Lyndon
Bab 08


__ADS_3

Mrs. Foxglove menyodorkan selembar kertas. Ellie menunduk, membaca, lalu berseru marah. "Kau mau aku membersihkan cerobong asap?!?"


"Rasanya kita menghambur-hamburkan uang untuk sapu cerobong padahal kau bisa melakukannya."


"Tidakkah kau pikir aku agak terlalu besar untuk tugas itu?"


"Itu masalah lain. Kau makan terlalu banyak."


"Apa?" pekik Ellie


"Jangan membuang-buang makanan."


"Separuh dari jemaat membayar persembahan mereka dengan bahan makanan," kata Ellie. Tubuhnya bergetar menahan amarah. "Kita mungkin kekurangan di banyak hal, tapi bukan makanan."


"kalau kau tidak suka aturanku," kata Mrs. Foxglove, "silahkan menikah dan tinggalkan rumah ini."


Ellie tahu kenapa Mrs. Foxglove begitu bertekad untuk melihatnya pergi. Mrs. Foxglove munkin salah satu tipe wanita yang harus memiliki otoritas tunggal di rumah tangganya. Dan Ellie, yang telah mengurus urusan rumah tangga dan ayahnya selama bertahun-tahun, akan menghalangi jalannya.


Ellie bertanya-tanya apa yang akan wanita tua cerewet itu katakan bila ia bercerita bahwa sore itu ia baru saja dilamar. Dan dari seorang earl. Ellie berkacak pinggang, bersiap untuk memberi tunangan ayahnya kemarahan yang sudah ditahannya sejak tadi, ketika Mrs. Foxglove menyodorkan sehelai kertas lagi.

__ADS_1


"Apa ini?" sentak Ellie


"Aku sudah berbaik hati membuat daftar calon suami yang ada di distrik ini."


Ellie mendengus. Oh ya, ia harus melihat daftar ini. Dibukanya kertas itu dan dibacanya. Tanpa mengangkat mata, Ellie berkata, "Richard Parrish sudah bertunangan."


"Belum menurut sumberku."


Mrs. Foxglove adalah penggosib sejati di Bellfield, jadi Ellie memang harus percaya padanya. Tapi itu tidak berpengaruh apa-apa. Richard Parrish berbadan gemuk dan napasnya bau. Ellie terus membaca dan tersedak. "George Millerton berumur lebih dari enam puluh tahun."


Mrs. Foxglove mendengus meremehkan. "Kau tidak berada dalam posisi bisa memilih."


Tiga nama selanjutnya juga pria tua, dan salah satunya, bukan hanya tua, tapi juga kejam. Anthony Ponsoby dikabarkan memukuli istri pertamanya. Tidak mungkin Ellie bersedia mengikat dirinya dengan seorang pria yang menganggap bahwa komunikasi dalam pernikahan akan berjalan baik dengan tongkat pemukul.


Mrs. Foxglove sudah siap menjawab, tapi Ellie menyela. "Billy Watson!" jeritnya. "Otaknya tidak beres. semua orang tahu itu. Teganya kau berusaha menjodohkanku dengan orang seperti dia!"


"Aku sudah mengatakan, wanita dengan posisi sepertimu tidak..."


"Jangan katakan," potong Ellie, sekujur tubuhnya gemetar menahan amarah. "Jangan katakan apa-apa."

__ADS_1


Mrs. Foxglove menyeringai. "Kau tidak bisa bicara seperti itu dirumahku."


"Ini belum menjadi rumahmu, wanita cerewet," sembur Ellie


Mrs. Foxglove mundur. "Oh, kasar sekali.".


"aku tidak pernah menggunakan kekerasan," gerutu Ellie, "Tapi aku selalu suka mencoba hal-hal yang baru." Ia merenggut kerah Mrs. Foxglove dan mendorongnya keluar rumah.


"Kau akan menyesali semua ini!" teriak Mrs. Foxglove dari halaman.


"Aku tidak akan pernah menyesalinya," Ellie berbalik. "Tidak akan pernah!"


Ellie membanting pintu dan melempar tubuhnya ke atas sofa. Tidak salah lagi. Ia harus menemukan cara untuk keluar dari rumah ayahnya. Wajah Earl of Billington menari-nari di benaknya, tapi ia menyingkirkannya. Ia belum seputus asa itu sehingga mau menikah dengan orang yang bisa dikatakan asing. Pasti ada cara lain. Pagi berikutnya, Ellie sudah menyusun rencana. Ia belum seputus asa seperti yang dikira oleh Mrs. Foxglove. Ia punya uang simpanan. Tidak terlalu banyak, tapi cukup untuk menopang seorang wanita dengan gaya hidup yang sederhana dan hemat.


Ellie sudah menabung di bank sejak bertahun-tahun yang lalu, tapi ia tidak puas dengan bunga yang diberikan, sehingga ia mulai membaca London Times, membuat catatan-catatan kecil tentang bisnis dan perdagangan. Ketika merasa sudah memiliki pengetahuan cukup, ia menemui seorang pengacara yang khusus menangani masalah dana. Tentu saja ia harus melakukannya atas nama ayahnya. Tidak akan ada seorang wanita muda, apa lagi wanita muda yang menginvestasikan uangnya tanpa sepengetahuan ayahnya. Jadi Ellie pergi ke suatu kota, menemukan Mr. Tibbett, seorang pengacara yang tidak pernah mendengar nama Reverend Mr. Lyndon, dan mengatakan bahwa ayahnya adalah seorang penyendiri. Mr. Tibbett bekerja dengan seorang broker di London, dan tabungan Ellie pun semakin bertambah.


sudah saatnya untuk mengambil dana itu. Ia tidak punya pilihan lain. Tinggal dengan Mrs.Foxglove sebagai ibu tirinya merupakan penderitaan yang tak tertahankan. Uang itu akan cukup untuk menopang hidupnya sampai kakaknya, Victoria, kembali dari liburan panjangnya di Benua Eropa. Suami baru Victoria adalah seorang earl yang sangat kaya, dan Ellie yakin mereka bisa membantunya mendapatkan pekerjaan---mungkin sebagai pengasuh, atau pendamping.


Ellie naik kereta kuda umum ke Faversham, menuju ke kantor Tibbett & Hurley, lalu menunggu gilirannya untuk menemui Mr. Tibbett. Setelah menunggu sepuluh menit, sekretarisnya mengantar Ellie masuk.

__ADS_1


Mr. Tibbett, seorang pria gemuk berkumis tebal, berdiri ketika Ellie masuk ke ruangan. "Selamat pagi, Miss Lyndon," katanya. "Apakah kau datang dengan intruksi baru dari ayahmu? Sungguh suatu kehormatan melakukan bisnis dengan orang yang sangat memperhatikan investasinya dengan cermat."


Ellie tersenyum kaku, benci karena ayahnya yang mendapat rasa hormat atas hasil jerih payah yang dilakukannya, tapi ia tahu tidak ada cara lain lagi. "Bukan, Mr. Tibbett. Aku datang untuk menarik sebagian danaku. Lebih tepatnya, setengahnya." Ellie tidak yakin berapa biaya yang dibutuhkannya untuk menyewa sebuah rumah kecil di sebuah lingkungan terhormat di Lyndon, tapi ia punya tiga ratus poundsterling, jadi ia pikir seratu lima puluh akan cukup.


__ADS_2