
"Kau terlihat sedikit serius," kata Charles, membuat Ellie mendongak melihatnya dan mengerjap beberapa kali.
Ellie terbatuk dan memegang kepalanya secara refleks.
"Oh, ya ampun!" serunya tiba-tiba. "Aku lupa memakai topi."
"Tinggalkan saja," sahut Charles.
"Aku tidak bisa pergi tanpa memakainya."
"Tidak akan ada yang melihatmu. Kita cuma akan pergi ke padang rumput."
"Tapi..."
"Tapi apa?"
Ellie menghela napas kesal. "Wajahku akan berbintik-bintik."
"Aku tidak akan terganggu," kata Charles sambil mengangkat bahu.
"Tapi itu menggangguku!"
"Jangan khawatir. Kau tidak akan bisa melihat bintikmu sendiri."
Ellie memandangnya tak percaya, terpana dengan pemikiran Charles yang tak masuk akal.
__ADS_1
"Intinya," lanjut Charles. "aku ingin melihat rambutmu."
"Tapi ini..."
"Merah," Charles menyelesaikan kalimat Ellie. "Aku tahu. Kuharap kau bisa berhenti menyebutkan warna itu, karena warna rambutmu bukan hanya sekedar merah."
"My Lord, ini cuma rambut."
"Oh, ya?" gumam Charles.
Ellie memutar matanya, memutuskan sudah saatnya mengubah topik pembicaraan. Sesuatu yang mungkin lebih masuk akal untuk dibicarakan. "Bagaimana kakimu? Kuperhatikan kau sudah tak menggunakan tongkat lagi."
"Sudah lebih baik. Walaupun masih agak sakit, dan jalanku masih agak pincang, tapi sepertinya tidak buruk untuk seseorang yang baru jatuh dari pohon."
Ellie mengerutkan bibirnya dengan kesal. "Harusnya kau tidak memanjat pohon dengan perut penuh wiski."
"Sudah harus dilatih dari sekarang, bukan?" balas Ellie, bertekad untuk tidak akan mengalah dengan kata-kata Charles begitu saja, walaupun kata-katanya sendiri tidak terlalu tajam.
"Kurasa begitu. Charles menunduk dan pura-pura memeriksa pergelangan kakinya, lalu melompat ke kereta. "Sepertinya, jatuhku itu tidak terlalu parah. Tapi," tambah Charles dengan licik, "beberapa bagian tubuhku meninggalkan banyak lebam karena perseteruan kemarin."
"Perseteruan?" tanya Ellie terkejut. Nadanya khawatir. "Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?"
Charles mengangkat bahu dan menghela napas dengan gaya dibuat-buat sambil tangannya mengentakkan tali kekang untuk menghela kuda-kudanya. "Aku dijatuhkan ke lantai oleh seorang prajurit wanita berambut merah."
"Oh." Ellie menelan ludah dengan gugup dan menoleh ke arah lain, melihat pemandangan desa Bellfield yang mereka lewati. "Maaf. Saat itu aku sedang tidak menjadi diriku sendiri."
__ADS_1
"Benarkah? Menurutku itulah dirimu yang sebenarnya."
"Maaf."
Charles tersenyum. "Apakah kau memperhatikan bahwa kau selalu mengucapkan 'maaf' ketika kau tidak tahu harus berkata apa?"
Ellie berpikir sepersekian detik sebelum kembali mengucapkan "Maaf,"
"Kau tidak biasa kehilangan kata-kata, ya?" Charles tidak memberi Ellie kesempatan membalas, lalu melanjutkan, "Menyenangkan sekali bisa membuatmu bingung."
"Kau tidak membuatku bingung."
"Oh, ya?" gumam Charles, menyentuhkan jarinya ke ujung bibir Ellie. "Lalu kenapa bibirmu selalu bergetar seakan-akan sangat ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak tahu bagaimana caranya."
"Aku tahu pasti apa pun yang ingin kuucapkan, dasar kau ular licik."
"Baiklah, aku salah," kata Charles sambil tertawa senang. "Tampaknya kau benar-benar tahu apa yang kau katakan, apa lagi dengan pembendaharaan kata barusan."
"Kenapa semua hal harus kau anggap lelucon?"
"Kenapa tidak?" balas Charles.
"Karena... karena..." kalimat Ellie menggantung, dan menyadari bahwa ia tidak memiliki jawaban.
"Karena apa?" desak Cahrles.
__ADS_1
"Karena pernikahan adalah hal yang penting," jawab Ellie buru-buru. "Sangat serius."
Jawaban Charles jelas, dan diucapkan dengan nada rendah. "Percayalah, tidak ada yang tahu hal itu sebaik aku. Kalau kau mundur dari pernikahan ini, aku akan ditinggalkan dengan tumpukan besar batu dan tanpa modal apa pun untuk bisa merawatnya."