Earl of Billington dan Miss Lyndon

Earl of Billington dan Miss Lyndon
Bab 09


__ADS_3

"Tentu saja," kata Mr. Tibbett. "Aku hanya membutuhkan ayahmu datang ke sini sendiri untuk mencairkan dananya."


Ellie terkesiap. "Maaf?"


"Di Tibbett & Hurley, kami menjunjung tinggi ketelitian pada praktik bisnis kami. Aku tidak bisa mencairkan dana ke tangan sembarangan orang kecuali ayahmu."


"Tapi kita sudah berkerja sama selama bertahun-tahun," protes Ellie. "Namaku juga tertulis sebagai penanam dana."


"Ya, penanam dana pembantu, tapi ayahmu adalah penanam dana utama."


Ellie menelan ludah dengan tegang. "Ayahku seorang penyendiri. Kau tahu itu. Dia tidak pernah meninggalkan rumah. Bagaimana mungkin aku membawanya kemari?"


Mr. Tibbett mengangkat bahu. "Dengan senang hati aku yang akan mengunjunginya."


"Tidak, itu tidak mungkin," kata Ellie, sadar bahwa suaranya terdengar bergetar. "Dia menjadi sangat gelisah kalau berada di sekitar orang asing. Sangat gelisah. Jantungnya, kau tahu. Aku tidak bisa mengambil resiko."


"Kalau begitu, aku butuh instruksi tertulisnya, tentu dengan tanda tangannya."

__ADS_1


Ellie menghela napas lega. Ia bisa memalsukan tanda tangan ayahnya dengan mata terpejam.


"Tanda tangan ini akan disaksikan oleh warga yang terpecaya." Mata Mr. Tibbett menyipit curiga. "Kau tidak memenuhi syarat menjadi seorang saksi."


"Baiklah, aku akan mencari..."


"Aku kenal dengan hakim di Bellfield. Kau bisa menyertakan tanda tangannya sebagai saksi."


Jantung Ellie seolah merosot. Ia juga kenal hakim itu, dan tahu bahwa tidak mungkin ia bisa mendapatkan tanda tangannya di kertas penting itu kecuali hakim itu benar-benar menyaksikan ayahnya menuliskan intruksinya. "Baiklah, Mr. Tibbett," kata Ellie, suaranya tercekik du tenggorokan. "Aku akan... aku akan mengusahakannya."


Ellie bergegas meninggalkan kantor itu, menekan wajahnya dengan sapu tangan untuk menyembunyikan air mata kekesalan. Ia merasa tersudut. Tidak mungkin ia bisa mendapatkan uang itu dari Mr. Tibbett. Dan Victoria belum akan kembali dalam beberapa bulan dari liburannya di Benua Eropa. Ellie berpikir, ia bisa saja meminta belas kasihan dari mertua Victoria, sang Marquess of Castleford, tapi ia juga tidak yakin bahwa kehadirannya tidak akan membawa keributan. Sang Marquess tidak begitu menyukai Victoria, jadi Ellie hanya bisa membayangkan aoa perasaannya terhadap Ellie.


Dan sekarang ia tertahan di Faversham, tiga puluh kilo jauhnya dari rumah bahkan sekarang sudah tak ingin ia tuju kembali. Kecuali...


Ellie menggelengkan kepalanya. Ia tidak akan mempertimbangkan penawaran Earl of Billington.


Lalu benaknya dipenuhi bayangan Sally Foxglove. Lalu wajahnya yang jelek itu mulai bicara tentang cerobong, dan perawan tua yang seharusnya bisa lebih bersikap menerima apa adanya. Lalu Earl of Billington terlihat jauh lebih baik daripada itu semua.

__ADS_1


Bukannya pria itu pernah jelek, aku Ellie dalam hati, kalau memang ada yang ingin mengartikan kata 'lihat' dalam artian sesungguhnya. Karena Earl of Billington sesungguhnya sangat tampan, dan Ellie punya perasaan kalau ia sadar akan ketampanannya. Hal itu, pikir Ellie, bukan sesuatu yang bagus, karena itu artinya ia adalah seseorang yang angkuh. Jenis pria yang mungkin menghitung berapa orang wanita simpanannya. Ellie tidak bisa membayangkan bahwa ia mengalami kesulitan untuk menarik perhatian wanita, terhormat atau tidak.


"Hah!" seru Ellie pada dirinya sendiri, lalu memandang sekeliling untuk memeriksa apakah ada yang mendengarnya. Pria kejam yang diajukan oleh calon ibu tirinya mungkin akan memukul wanita dengan tongkat. Sungguh, Ellie tidak mau berurusan dengan seorang suami yang punya "masalah" seperi itu.


Tapi, bukan berarti Ellie jatuh cinta dengan sang earl. Mungkin nanti ia bisa menerima kenyataan tentang suami yang tidak setia. Walaupun itu sesuatu yang selalu ditentangnya, tapi pilihan hidup dengan Sally Foxglove jauh lebih mengerikan untuk dihadapi.


Ellie berpikir sambil mengetuk-ngetukkan kakinya. Wycombe Abbey tidak terlalu jauh dari sini. Kalau ia tidak salah ingat, letaknya di sekitar bagian timur garis pantai Kent, sekitar tiga Kilometer dari tempatnya berdiri sekarang. Ellie bisa berjalan ke sana. Bukannya ia berniat menerima lamaran pria itu begitu saja, tapi mungkin mereka bisa berdiskusi tentang hal itu. Mungkin mereka bisa mencapai kesepakatan di mana Ellie juga tidak merasa dirugikan.


Keputusan bulat. Ellie mengangkat dagunya dan muali berjalan ke arah utara. Ia berusaha menyibukkan otaknya dengan menebak-nebak jumlah langkah yang akan dilakukannnya di tempat yang ada di depannya. Lima puluh langkah ke pohon besar. Tujuh puluh dua langkah ke rumah kosong. Empat puluh langkah ke---


Apa itu tadi? Air hujan? Ellie menghapus setetes air dari hidungnya dan mendongkak. Awan mulai bergulung, dan kalau Ellie bukan wanita yang logis, ia bersumpah bahwa dirinya baru saja melihat awan-awan itu langsung berkumpul di atas kepalanya.


Ia mengeluarkan suara yang mirip geraman lalu tetap berjalan maju, berusaha untuk tidak bersumpah serapah ketika setetes hujan memukul pipinya. Lalu bahunya, tangannya, dan---


Ellie mengepalkan tangan ke arah langit. "Ada yang marah kepadaku di atas sana," teriaknya, "dan aku ingin tahu kenapa!"


Jawabannya yang ia dapatkan berupa guyuran air yang langsung membuatnya basah kuyup.

__ADS_1


"Ingatkan aku untuk tidak pernah lagi mempertanyakan tindakan-Mu lagi," gerutu Ellie dengan kurang ajar, sama sekali tidak menunjukkan ketakutannya terhadap Tuhan, sesuatu yang selalu diajarkan oleh ayahnya. "Jelas Kau tidak suka ditanya-tanya."


Kilat menyambar membelah langit, diikuti suara guntur yang memekakkan telinga. Ellie melompat hampir semeter. Apa yang pernah dikatakan oleh suami kakaknya beberapa tahun yang lalu? semakin dekat jarak antara kilat dengan guntur, maka semakin dekat jarak kilat dengan diri kita? Robert selalu berbakat dalam hal ilmiah; untuk saat ini Ellie lebih memilih untuk mempercayainya.


__ADS_2