Earl of Billington dan Miss Lyndon

Earl of Billington dan Miss Lyndon
Bab 12


__ADS_3

Ellie menghela napas, berharap ia bisa melakukan pembicaraan ini dengan tenang. Bukannya hal itu akan lebih membantu, pikiranya muram, apalagi setelah cara masuknya yang "mengesankan". Si kepala pelayan tidak akan pernah memaafkannya. Ellie mendongak dan berkata, "Bolehkah aku duduk?"


"Ah, maaf, tentu saja" Charles menunjuk sofa dan Ellie pun segera duduk. "Apakah kau mau secangkir teh?" tanya Charles.


"Ya, terima kasih." Ellie meraih poci dan mulai menuangkan teh. Entah kenapa rasanya begitu intim, menuangkan teh untuk lelaki ini dirumahnya sendiri. "Krim?"


"Ya, tanpa gula."


Ellie tersenyum. "Aku juga menyukai tehku seperti itu."


Charles menyesap tehnya dan mengamati Ellie dari pinggiran cangkir. Wanita itu gugup. Charles tidak bisa menyalahkannya. Ini bukan situasi biasa, dan Charles harus mengakui bahwa ia kagum dengan sikap Ellie yang berani. Diamatinya Ellie yang sedang menghabiskan tehnya dan berkata, "Omong-omong, warna rambutmu bukan merah."


Ellie tersedak teh yang diminumnya.


"Apa, ya, sebutannya?" tanya Charles, mengangkat tangannya lalu menggosok-gosokkan jemarinya di udara seakan-akan ingin mencari jawaban. "Ah ya, pirang stroberi. Walaupun terdengar cukup aneh untukku."


"Ini merah," kata Ellie keras kepala.


"Bukan, bukan. Rambutmu itu..."


"Merah."


Bibir Charles membentuk senyum menyerah. "Baiklah, merah."


Anehnya, Ellie merasa agak kecewa mendengar Charles menyerah begitu cepat. Ellie selalu ingin rambutnya menjadi sesuatu yang lebih eksotis ketimbang hanya merah saja. Sebuah pemberian yang tak diharapkan dari leluhurnya yang berkebangsaan Irlandia. Satu-satunya hal terbaik tentang leluhurnya adalah betapa hal itu telah menjadi gangguan terus-menerus bagi ayahnya, yang selalu merasa mual bila mengingat bahwa ada sedikit darah Katolik di dalam darahnya.


Ellie selalu menyukai pemikiran adanya penganut Katolik yang nakal terselip di silsilah keluarganya. Ia selalu menyukai pemikiran yang tidak biasa, apa pun yang melanggar rutinitas hidupnya yang menonton dan menjemukan. Ia menatap ke arah Billington, yang duduk anggun di kursi di hadapannya.


Lelaki ini, pikir Ellie, bisa digolongkan luar biasa. Begitu juga dengan situasi yang dihadapinya sekarang. Ellie tersenyum lemah, berpikir seharusnya ia terbuat dari hati yang lebih kuat dari baja. Lelaki ini sangat tampan, dan pesonanya----yah, pesonanya memang tidak terlalu mematikan, tapi bagaimanapun juga, Ellie memerlukan pembicaraan ini bisa ia lakukan dengan pikiran yang jernih, seperti biasanya ia melakukan segala hal.


Ellie berdeham. "Ya, jadi kita sedang berbicara tentang..." Ellie mengernyit. Apa tadi yang mereka bicarakan?


"Rambutmu, sebenarnya" kata Charles dengan santai.


Ellie merasa pipinya memerah. "Ya. Benar. Hmmm."


Charles melihat Ellie dengan tatapan iba dan berkata. "Sepertinya kau tidak mau mengatakan apa yang membuatmu mempertimbangkan lamaranku."


Ellie menatap tajam. "Apa yang membuatmu berpikir ada sesuatu yang terjadi?"


"Matamu memancarkan keputusasaan."


Ellie bahkan tidak bisa berpura-pura bahwa hal itu tidak benar, karena memang begitulah adanya. "Ayahku akan menikah lagi bulan depan." kata Ellie akhirnya, setelah menghela napas panjang. "Tunangannya adalah nenek sihir."


Bibir Charles berkedut sedikit. "Seburuk itukah?"


Ellie merasa bahwa Charles berpikir bahwa dirinya bersikap berlebihan. "Aku tidak bercanda. Kemarin, dia memberiku dua daftar. Daftar pertama adalah tugas-tugas tambahan selain yang selama ini aku kerjakan."


"Apa dia menyuruhmu untuk membersihkan cerobong?" goda Charles


"Ya!" seru Ellie. "Ya, dan itu serius! Dan dengan lancangnya dia berkata bahwa aku makan terlalu banyak ketika aku mengatakan kalau badanku tidak akan muat di dalamnya."

__ADS_1


"Menurutku ukuranmu sudah pas," gumam Charles. Untunglah Ellie tidak mendengarnya. Charles tidak mau menakut-nakutinya lebih jauh. Tidak, apalagi kalau sudah tinggal selangkah lagi menuliskan nama wanita itu di surat nikah. "Daftar apa yang satunya lagi?" tanya Charles.


"Daftar nama pria yang bisa dijodohkan denganku," jawab Ellie dengan nada jijik.


"Apa aku tertulis di situ?"


"Tentu saja tidak. Dia hanya menulis nama lelaki yang dia pikir mau denganku"


"Oh, ya ampun."


Wajah Ellie muram. "Dia memandangku rendah."


"Aku tidak bisa membayangkan siapa saja yang ada di daftar itu."


"Beberapa pria berumur lebih dari enam puluh, satu dibawah enam belas tahun, dan satu lagi pria yang tidak waras"


Charles tidak tahan lagi. Ia tertawa


"Ini tidak lucu!" seru Ellie. "Aku bahkan belum menyebutkan orang yang memukuli istri pertamanya."


Charles langsung berhenti tertawa. "Kau tidak akan menikah dengan orang yang akan memukulmu."


Bibir Ellie terbuka, terpana. Charles terdengar seperti memilikinya. Aneh sekali. "Aku pastikan aku tidak akan melakukannya. Kalau aku harus menikah, maka itu adalah dengan laki-laki pilihanku. Dan maafkan aku harus mengatakan ini, My Lord, dari semua pilihan yang ada, kau adalah yang terbaik."


"Aku merasa tersanjung," kata Charles


"Awalnya aku tidak mengira akan harus meniakh denganmu."


"Aku punya uang," lanjut Ellie. "Cukup untuk menopang hidupku untuk sementara waktu. setidaknya sampai kakakku dan suaminya kembali dari liburannya."


"Yaitu dalam waktu..."


"Tiga bulan," kata Ellie menyelesaikan kalimat Charles. "Atau mungkin lebih lama dari itu. Bayi mereka mengalami masalah pernapasan, dan menurut dokter cuaca hangat bisa membantunya."


"Kuharap tidak terlalu serius."


"Tidak sama sekali," kata Ellie, mengangguk untuk menenangkan Charles. "Kemudian timbul masalah lain. Dan aku khawatir aku tidak punya jalan keluar."


"Aku tidak mengerti," kata Charles.


"Pengacaraku tidak mau mencairkan uangku." Dengan cepat Ellie menceritakan kembali kejadian hari itu, tidak lupa menghilangkan bagian 'diskusi' antara dirinya dengan langit. Charles tidak harus tahu seluruhnya. Lebih baik tidak usah mengatakan hal-hal yang akan membuat Charles berpikir kalau ia agak tidak waras.


Charles duduk dengan tenang, mendengarkan sambil mengetukkan jari-jarinya. "Apa tepatnya yang kau ingin aku lakukan untukmu?" tanya Charles ketika Ellie selesai.


"Sejujurnya, aku ingin kau maju ke kantor pengacaraku atas namaku dan memintanya untuk mencairkan danaku," jawab Ellie. "Sehingga aku bisa tinggal dengan tenang di London dan menunggu kedatangan kakakku."


"Dan tidak menikah denganku?" kata Charles dengan senyum mengerti di wajahnya.


"Itu tidak mungkin terjadi, ya?"


Charles menggeleng.

__ADS_1


"Mungkin aku bisa menikah denganmu, lalu kau bisa membantuku mendapatkan uangku, lalu, setelah warisanmu akhirnya aman, kita bisa melakukan pembatalan..." Ellie berusaha terdengar meyakinkan, tapi kalimatnya semakin lemah ketika dilihatnya Charles menggeleng kembali.


"Skenario itu bisa menimbulkan dua masalah," kata Charles.


"Dua?" ulang Ellie. Ia mungkin bisa mencari solusi untuk satu masalah. Tapi dua? Ia sangsi.


"Wasiat ayahku secara spesifik menyebutkan adanya kemungkinan kalau aku melakukan pernikahan palsu hanya untuk mendapatkan warisanku. Sehingga bila aku melakukan pembatalan, seluruh hartaku akan jatuh ke tangan sepupuku."


Jantung Ellie merosot.


"Dua," lanjut Charles. "Pembatalan pernikahan hanya bisa dilakukan kalau kita tidak berhubungan."


Ellie menelan ludah. "Sepertinya itu bukan masalah."


Charles mencondongkan tubuhnya, matanya menyiratkan sesuatu yang tidak di mengerti oleh Ellie. "Oh, ya?" tanyanya lembut.


Ellie tidak suka merasakan perutnya yang mendadak terasa seperti digelitik. Earl ini terlalu tampan---- terlalu tampan untuk Ellie. "Kalau kita menikah," ujar Ellie, mendadak ingin segera mengganti topik pembicaraan. "Kau harus mendapatkan uang itu untukku. Bisakah kau melakukannya? karena kalau tidak, aku tidak mau menikah denganmu."


"Aku bisa mencukupi lebih dari yang kau butuhkan," kata Charles tanpa basa-basi.


"Tapi uang itu milikku, dan aku bekerja keras untuk mendapatkannya. Aku tidak mau membiarkan uangku membusuk di tangan si Tobbett itu."


"Tentu saja tidak," guamm Charles, terlihat berusaha menahan senyum.


"Ini masalah prinsip."


"Dan untukmu, masalah prinsip itu penting. Bukankah begitu?"


"Tentu saja." Ellie berhenti. "Tapi tentu, prinsip tidak bisa membuat kenyang. Kalau ya, aku pasti tidak akan berada disini."


"Baiklah. Aku akan mendapatkan uangmu. Seharusnya tidak akan sesulit itu."


"Untukmu, ya," gerutu Ellie dengan kaku. "Aku bahkan tidak punya kesempatan untuk memberitahu pria itu bahwa aku lebih cerdas dari kambing."


Charles terkekeh. "Tidak perlu khawatir, Miss Lyndon, aku tidak akan membuat kesalahan yang sama."


"Dan uang itu tetap akan menjadi milikku," lanjut Ellie. "Aku tahu kalau kita menikah, semua milikku, walaupun sedikit, akan menjadi milikmu, tapi aku ingin rekening terpisah dengan menggunakan namaku."


"Baiklah."


"Dan kau akan memastikan kepada pihak bank bahwa aku memiliki kendali penuh atas rekeningku?"


"Kalau kau menginginkannya begitu."


Ellie menatap Charles dengan curiga. Charles menangkap tatapannya dan berkata, "Uangku lebih dari cukup, kalau-kalau kita segera menikah. Aku tidak butuh uangmu."


Ellie menghela napas lega. "Bagus. Karena aku suka bermain saham. Aku tidak mau harus slalu menggunakan tanda tanganmu setiap aku melakukan transaksi."


Charles ternganga. "Kau bermain saham?"


"Ya, dan aku cukup pandai, kalau kau mau tahu. Aku mendapat banyak keuntungan di gula tahun lalu."

__ADS_1


Charles tersenyum tak percaya. Mereka akan cocok, Charles yakin itu. Waktu yang akan dihabiskan bersama istri barunya akan sangat menyenangkan, dan tampaknya Ellie bisa menyibukkan dirinya sendiri sementara ia mengerjakan urusannya sendiri di London. Hal terakhir yang diinginkannya adalah terikat dengan wanita yang setiap saat kerjanya hanya bisa merengek setiap ditinggal pergi.


__ADS_2