Earl of Billington dan Miss Lyndon

Earl of Billington dan Miss Lyndon
Bab 14


__ADS_3

Charles menaikkan alisnya. "Sepertinya ada sesuatu yang penting yang ingin kau sampaikan."


Ellie mengernyit. Apa ia setransparan itu?


"Ya," katanya. "Tentang ciuman tadi..."


"Aku akan lebih dari senang membicarakan tentang ciuman tadi," kata Charles, dan Ellie tidak yakin apakah pria itu tertawa atau tersenyum, atau...


Ellie melakukannya lagi. Ia kehilangan konsentrasinya lagi. ini berbahaya. "Hal itu tidak bisa terjadi lagi," sembur Ellie.


"Begitukah?" tanya Charles perlahan-lahan.


"Kalau memang aku akan menikah denganmu..."


"Kau sudah setuju untuk melakukannya," kata Charles. Nadanya terdengar berbahaya


"Aku tahu itu, dan aku tidak akan mengingkarinya."


Ellie menelan ludah, tahu bahwa sebenarnya itulah yang diancam akan dilakukannya ke Charles. "Tapi aku tidak menikah denganmu kecuali kau setuju bahwa kita... bahwa kita..."


"Bahwa kita tidak akan berhubungan suami istri?" Charles menyelesaikan kalimat Ellie dengan nada datar.


"Ya!" kata Ellie dengan penuh kelegaan. "Ya, benar sekali."


"Itu tidak mungkin."


"Tidak akan selamanya," Ellie buru-buru menambahkan. "Hanya sampai aku terbiasa dengan... pernikahan."


"Dengan pernikahan? atau denganku?"

__ADS_1


"Keduanya."


Charles bungkam selama beberapa menit.


"Aku tidak meminta banyak," kata Ellie akhirnya, tidak tahan mendengar kesunyian itu. "Aku tidak menginginkan uang bulanan yang banyak. Aku tidak butuh perhiasan, atau gaun..."


"Kau butuh gaun," sela Charles.


"Baiklah," kata Ellie setuju, berpikir bahwa memakai baju yang tidak berwarna cokelat pasti akan menyenangkan. "Aku memang membutuhkannya. Tapi itu saja, tidak ada lagi."


Charles menatap mata Ellie dengan tajam. "aku butuh lebih."


Ellie menelan ludah. "Kau akan mendapatkannya. Hanya saja tidak bisa dalam waktu dekat."


Charles mengetuk-ngetukkan jari-jarinya. Perilaku yang sudah menjadi kekhasan pria ini di mata Ellie.


"Baiklah," kata Charles. "Aku setuju. Tapi aku ingin kau juga menyetujui permintaanku."


"Kurasa maksudmu memberitahuku kapan kau siap untuk membuat pernikahan kita ini menjadi pernikahan yang sebenarnya."


"Er... ya," kata Ellie. Ia tidak benar-benar memikirkan tentang hal itu. Sulit sekali untuk memikirkan apa pun ketika Charles duduk di hadapannya, menatapnya dengan sungguh-sungguh.


"Pertama, aku harus mengatakan bahwa sikapmu di rencana pernikahan kita ini terkesan menghalang- halangi."


Mata Ellie menyipit. "Apa kau tidak pernah belajar hukum? Karena menurutku semua itu sah saja."


"Seseorang di posisiku harus memiliki keturunan, Miss Lyndon. Bodoh sekali aku mau menyetujui perjanjian seperti ini tanpa kepastian darimu bahwa pantanganmu tidak akan terjadi selamanya."


"Tentu saja," kata Ellie pelan, berusaha mengabaikan perasaan sedih tiba-tiba melanda hatinya. Ia pikir hal itu akan membuat Charles semakin menginginkannya. Harusnya Ellie tahu lebih dari pada itu. Pria ini menciumnya karena hal lain. "Aku... aku tidak akan membuatmu menunggu selamanya."

__ADS_1


"Bagus. Dan permintaanku yang kedua."


Ellie tidak suka cara pria ini menatapnya.


Charles mencondongkan tubuhnya. "Aku punya hak membuatmu yakin untuk melakukan sebaliknya."


"Aku tidak mengerti."


"Oh, ya? kemarilah."


Ellie menggeleng. "Sepertinya itu bukan ide bagus."


"Kemari, Deliana."


Charles memanggil nama kecilnya, dan Ellie benar-benar terkejut. Ellie belum memberikan izin untuk melakukan hal itu---- tapi, Ellie juga harus setuju untuk menikah dengannya, jadi seharusnya ia tidak boleh mendebat hal sekecil itu.


"Deliana," ulang Charles, jelas hampir kehilangan kesabaran. Ketika Ellie tidak bereaksi sama sekali, Charles menjulurkan tangan, meraih tangan Ellie, dan menariknya melewati meja mahoni, dan Ellie pun berakhir di pangkuan Charles.


"Lord Billing..."


Tangan Charles menutupi mulut Ellie, lalu ia mendekat ke telinga Ellie dan berbisik, "Ketika aku mengatakan bahwa aku punya hak membuatmu yakin untuk melakukan sebaliknya, maksudku ini."


Charles pun menciumnya kembali, dan otak Ellie langsung menolak untuk berpikir. Lalu ciuman itu berakhir tiba-tiba, dengan menyisakan getaran di sekujur tubuh Ellie. Charles tersenyum. "Cukup adil?"


"Aku... ah..."


Charles menikmati kebingungan Ellie. "Itu satu-satunya cara supaya aku setuju dengan permintaanmu."


Ellie mengangguk berkali-kali. Sesungguhnya, berapa kali pria ini akan menciumnya? Ellie berdiri terhuyung-huyung. "Lebih baik aku pulang."

__ADS_1


"Tentu." Charles melihat ke luar jendela. Cuacanya sudah terang, tapi matahari sudah muali terbenam. "Dan hal penting lain yang termasuk di dalam kesepakatan, kurasa bisa lakukan sembari jalan."


__ADS_2