Earl of Billington dan Miss Lyndon

Earl of Billington dan Miss Lyndon
Bab 22


__ADS_3

Charles berbaring tepat di mana Ellie meninggalkannya, dan terlihat seperti mati.


"Charles!" teriak Ellie, mengangkat roknya dan berlari ke arahnya. Ia tersandung batu lalu mendarat di sebelah Charles, lututnya menusuk pinggang Charles.


Charles mengerang. Ellie menghembuskan napas lega, yang tanpa disadarinya, ditahan sejak tadi. Bukannya ia mengira Charles benar-benar mati, tapi masalahnya pria itu sama sekali tidak bergerak.


"Di mana garam aroma ketika kau benar-benar sangat membutuhkannya?" gerutu Ellie. Mrs. Foxglove selalu melambai-lambaikan ramuan barbau busuk ketika kehabisan cara menghasut.


"Tidak, aku tidak punya vinaigrette," kata Ellie pada sang earl yang masih berbaring tak sadarkan diri. "Karena selama ini tidak pernah ada yang pingsan di hadapanku sebelumnya," Ia melihat sekeliling, mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menyadarkan Charles ketika matanya melihat sebuah botol kecil alkohol yang tadi pasti terjatuh dari kereta yang terguling. Ellie memungut botol itu, membuka tutupnya, dan mengendus isinya.


"Ya, ampun," katanya sambil menjauhkan botol itu dan mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya. Bau minuman keras yang tajam memenuhi udara. Ellie bertanya-tanya apakah minuman keras itu adalah sisa dari minuman yang diminum Charles ketika ia jatuh dari pohon. Yang jelas Charles tidak minum hari ini. Ellie yakin akan hal itu. Kalau ya, Ellie pasti bisa mencium aroma minuman keras dari Charles. Lagi pula, menurut Ellie, Charles bukan jenis pria yang biasa minum minuman keras untuk minuman sehari-hari.


Ellie menunduk, melihat pria yang ia pikir akan dinikahinya. Bahkan saat tak sadarkan diri pun, ada sesuatu yang kuat dari dalam dirinya. Tidak, Charles tidak membutuhkan minuman keras untuk meningkatkan kepercayaan dirinya.


"Yah," kata Ellie lantang. "kurasa kita bisa menggunakannya untuk membangunkanmu." Ellie menjulurkan botol kecil itu tepat di bawah hidung Charles.


Tidak ada reaksi.


Ellie mengernyit dan meletakkan tangannya di dada Charles. "My Lord, kau belum mati sejak terakhir kau mengerang, kan?"


Tentu saja tidak ada jawaban, tapi Ellie bisa merasakan denyut jantung Charles berdetak stabil di bawah telapak tangannya. Ellie merasa lega. "Charles," panggil Ellie, berusaha terdengar galak. "Aku akan sangat menghargai kalau kau bisa bangun sekarang juga."


Ketika tubuh Charles hanya tersentak sedikit, Ellie meletakkan telunjuk dan jari tengahnya menutupi mulut botol dan memiringkannya, membasahi kulitnya sendiri dengan wiski yang dingin. Minuman itu menguap dengan cepat di atas kulitnya, sehingga Ellie mengulanginya lagi, kali ini membiarkan botol itu menuangkan isinya lebih lama. Ketika Ellie sudah merasa puas dengan tangannya yang basah, ia mengatupkan tangannya di bawah hidung Charles.


"Whaa... Aya... Pleeh!"


ucapan Charles tak bisa dimengerti. Ia tersentak bangun seperti peluru yang di tembakkan, mengerjap-ngerjap terperangah, terlihat seperti orang yang bangun dari mimpi buruk.


Cepat-cepat Ellie mundur untuk menghindari kibasan tangan Charles yang tak tentu arah, tapi tidak cukup cepat, karena tangan Charles sempat mengenai botol yang dipegang Ellie. Botol itu terlempar ke udara, menumpahkan isinya. Ellie melompat mundur, dan kali ini ia cukup cepat. Semua cairan minuman keras itu tumpah ke Charles yang masih bicara tak jelas.


"Apa yang kau lakukan padaku?" tuntut Charles setelah berhasil berbicara dengan jelas.

__ADS_1


"Apa yang kulakukan padamu?" tekus Ellie


Charles terbatuk dan mengerutkan hidungnya. "Bauku seperti pemabuk."


"Persis seperti dua hari yang lalu."


"Dua hari yang lalu aku..."


"Pemabuk," sela Ellie.


Mata Charles menggelap. "Aku mabuk, bukan pemabuk. Dua hal yang berbeda. Dan kau..." Charles menunding ke arah Ellie, tapi lalu mengernyit dan memegang kepalanya.


"Charles?" tanya Ellie khawatir, lupa bahwa ia sedang marah dengannya karena Charles sempat menyalahkan Ellie atas semua kejadian yang menimpanya. Ellie hanya melihat bahwa Charles sedang kesakitan. Sangat kesakitan, dan ekspresi wajahnya jelas menunjukkan itu.


"Demi Tuhan," gerutu Charles. "Apa ada yang memukul kepalaku dengan kayu?"


"Aku ingin melakukannya," Ellie berusaha untuk bercanda, bahwa ucapannya bisa meringankan rasa sakit Charles.


"Banyak hal yang bisa kulakukan bila aku terlahir sebagai pria," gumam Ellie. "dan menikah denganmu tidak termasuk di antaranya."


"Aku beruntung," balas Charles, masih mengernyit. "Kau juga."


"Kuharap bisa terus seperti itu."


keheningan yang canggung merebak, lalu Ellie, merasa harus menjelaskan semua kejadian yang baru terjadi ketika Charles tak sadarkan diri, berkata, "Tentang wiski ini... Aku minta maaf, tapi aku hanya mencoba untuk..."


"Membakarku?"


"Bukan, walaupun saran itu sebenarnya bisa diterima. Aku hanya mencoba untuk menyadarkanmu. Bau-bauan dari alkohol. Lalu kau menumpahkan botol itu ketika kau terbangun."


"Bagaimana aku merasa seperti dihantam kereta sementara kau sama sekali terlihat tidak terluka?"

__ADS_1


Bibir Ellie membentuk senyum masam. "Orang pasti berpikir kalau pria yang santun semacam dirimu akan lega bila keadaan wanitanya utuh tak kurang suatu apa pun."


"Aku sangat santun, My Lady. Tapi aku juga bingung."


"Tampaknya kau tak terlalu santun untuk tidak mengutuk kehadiranku. Bagaimanapun juga..." Ellie mengibaskan tangannya tak peduli ke udara, "untung bagimu karena aku tidak terlalu peduli dengan masalah seperti itu."


Charles menutup matanya, bertanya-tanya kenapa harus melewati rentetan kalimat yang tak perlu untuk sampai ke inti kalimatnya.


"Aku jatuh di atasmu ketika aku terlempar dari kereta," ujar Ellie akhirnya. "Kau pasti menderita luka di punggung ketika terjatuh, tapi sakit yang kau rasakan di... ah... bagian depan, mungkin karena... ah... aku." Ellie mengerjap beberapa kali, lalu terdiam. Pipinya terlihat merah muda.


"Begitu."


Ellie menelan ludah dengan gugup. "Mau kubantu bangun?"


"Ya, terima kasih." Charles menerima uluran tangan Ellie dan menarik dirinya berdiri, berusaha mengabaikan sengatan rasa sakit yang terasa di setiap gerakannya. Ketika akhirnya berdiri tegak, ia meletakkan tangannya di pinggang dan merenggangkan kepalanya ke kiri. Beberapa otot-ototnya bergemeretak. Charles melawan keinginan untuk tersenyum ketika melihat Ellie mengernyit.


"Sepertinya tidak terlalu menjanjikan," ujar Ellie.


Charles tidak membalas, hanya kembali merenggangkan kepalanya, kali ini ke arah sebaliknya. Ia merasa lega mendengar suara gemeretak untuk kedua kali. Setelah beberapa saat, pandangannya jatuh ke kereta kuda yang terbalik, dan ia memaki pelan. Roda kereta itu terlepas dan hancur berantakan tertimpa badan kereta.


Ellie mengikuti pandangan Charles dan berkata, "Ya, aku sudah mencoba memberitahumu bahwa rodanya rusak, tapi sekarang aku baru tahu bahwa kau tadi terlalu kesakitan untuk mendengarkanku."


Ketika Charles berlutut untuk memeriksa kerusakan, Ellie mengejutkannya dengan berkata, "Aku sungguh menyesal karena sempat meninggalkanmu begitu saja beberapa menit yang lalu. Aku tidak tahu betapa sakitnya kau tadi. Kalau aku tahu, aku tidak akan pergi. Aku... aku harusnya tidak pergi. Maafkan aku."


Charles tersentuh dengan ucapan Ellie yang tulus, dan juga kagum dengan kesadaran untuk menjunjung kehormatannya. "Permintaan maafmu sebenarnya tidak perlu." kata Charles murung. "tapi aku menghargainya, dan tentu, menerimanya."


 


Halo semua, disini saya mengucapkan maaf sebesar\-besarnya kerena "Earl of Billington dan Miss Lyndon" updatenya yang sangat lama. itu dikarena saya yang ada sedikit kendala yang tak mengharuskan saya untuk memegang android. dan sekali lagi maaf dan terima kasih sebesar\-besarnya buat kalian yang selalu mendukung novel "Earl of Billington dan Miss Lyndon" ini. terima kasih. dan mohon ditunggu update selanjutnya ya~


 

__ADS_1


__ADS_2