Earl of Billington dan Miss Lyndon

Earl of Billington dan Miss Lyndon
Bab 06


__ADS_3

Ellie melepaskan pegangannya.


Charles berteriak kesakitan ketika pergelangan kakinya yang sakit tak mampu menahan berat tubuhnya, dan ia pun mendarat di tanah dengan kaki dan tangan yang terbelit.


"Perkataanmu buruk sekali!" seru Ellie


Charles menggaruk kepalanya. "Bukankah aku baru saja memintamu untuk menikah denganku?"


Ellie berusaha menahan air matanya. "Itu ucapan yang terlalu kejam untuk menggoda."


"Aku tidak menggoda."


"Tentu saja iya," Ellie berbalik, menahan keinginan untuk menendang pinggang lelaki itu. "Padahal aku sudah begitu baik padamu sore ini."


"Sangat baik" ulang Charles


"Aku tidak harus berhenti dan menolongmu."


"Ya," gumam Charles. "Benar."


"Kau harus tahu bahwa aku pasti akan sudah menikah kalau aku memang menginginkanya. Aku belum mau menikah."


"Aku tidak akan berpikir sebaliknya."


Ellie merasa mendengar nada mencemooh pada suara Charles, dan kali ia benar-benar menendang Charles.


"Aduh!" seru Charles. "Untuk apa itu? Aku berkata yang sejujurnya."


"Kau mabuk," tuduh Ellie.


"Ya" aku Charles, "Tapi aku memang tidak pernah melamar seorang wanita sebelumnya."


"Oh, yang benar saja," dengus Ellie. "Kalau kau ingin mengatakan bahwa kau jatuh cinta pada pandangan pertama kepadaku, kukatakan padamu sekarang, itu sama sekali tidak berhasil."

__ADS_1


"Aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu," Kata Charles. "Aku tidak akan pernah menghina kecerdasanmu dengan cara seperti itu."


Ellie mengerjapkan mata, berpikir bahwa pria ini sepertinya baru saja menghina salah satu karakternya lagi, tapi ia tidak yakin apa.


"Intinya adalah..." Charles berhenti dan berdeham. "Apa menurutmu kita bisa melanjutkan percakapan ini di tempat lain? Mungkin di tempat di mana aku bisa duduk nyaman di kursi, bukan di tanah seperti sekarang."


Ellie mengernyit sebelum menjulurkan tangannya dengan enggan. Ia masih belum yakin bahwa Charles tidak sedang bercanda, tapi perlakuan Ellie kepadanya tadi sudah tidak selembut sebelumnya, dan saat ini, perasaan bersalahnya benar-benar mengganggu pikirannya. Ellie tidak percaya ia baru saja menendang seorang pria yang terjatuh, apa lagi kalau jatuhnya pria itu juga karena dirinya.


Charles meraih tangan Ellie, bangun dan berusaha menyeimbangkan tubuhnya. "Terima kasih," kata Charles datar. "Kau benar-benar seorang wanita dengan kepribadian yang kuat. Karena itulah aku berniat untuk memintamu menjadi istriku."


Mata Ellie menyipit. "Kalau kau tidak berhenti mengejekku..."


"Sepertinya aku sudah mengatakan padamu bahwa aku sangat serius. Aku tidak pernah berbohong."


"Yang barusan kau katakan pasti bohong," balas Ellie pedas.


"Tapi aku tidak pernah berbohong tentang sesuatu yang penting."


Ellie berkacak pinggang dan mendengus dengan keras "Hhmmpp."


"Lord Billington, kau terkenal sebagai playboy di seluruh Kent! Bahkan kakak iparku pun mengatakan hal yang sama."


"Ingatkan aku untuk mencekik Robert kalau aku bertemu dengannya," gerutu Charles.


"Bahkan kau mungkin adalah playboy paling terkenal di seluruh Inggris. Aku tidak tahu dengan pasti karena aku tidak pernah meninggalkan Kent selama bertahun tahun, tapi..."


"Banyak yang bilang bahwa seorang suami playboy akan menjadi suami yang baik," sela Charles.


"playboy yang insaf," tukas Ellie. "Dan aku ragu kau punya rencana ke arah situ. Lagi pula, aku tidak akan menikah denganmu."


Charles menghela napas. "Aku benar-benar berharap kau mau menerimanya."


Ellie melihatnya dengan tatapan tidak percaya. "Kau gila."

__ADS_1


"Aku yakinkan padamu, aku benar-benar waras." Charles menyeringai. "Satu-satunya yang gila adalah ayahku."


Mendadak pikiran Ellie dipenuhi bayi yang tertawa-tawa dengan gila, lalu ia mundur selangkah. Banyak yang bilang kalau gila adalah penyakit keturunan.


"Oh, Tuhanku," gerutu Charles "Tentu saja bukan benar-benar gila. Dia cuma meninggalkan ikatan terkutuk untukku sebelum dia meninggal."


"Aku tidak melihat apa hubungan semua itu denganku."


"Semuanya berhubungan denganmu." sahut Charles tidak jelas.


Ellie mundur selangkah lagi, memutuskan bahwa Billington bukan lagi gila, tapi sudah pantas masuk rumah sakit gila di Bedlam. "Aku permisi," katanya buru-buru, "Aku sudah harus pulang. Aku yakin kau mampu berjalan sendiri dari sini. Keretamu... tadi kau bilang ada disekitar sini. Jadi seharusnya kau..."


"Miss Lyndon," sela Charles tajam.


Ellie berhenti bicara.


"Aku harus menika," lanjut Charles datar, "dan aku harus melakukannya dalam lima belas hari. Aku tidak punya pilihan lain."


"Aku tidak bisa membayangkan bahwa kau akan melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginanmu."


Charles mengabaikan kata-kata Ellie. "Kalau aku tidak menikah, aku akan kahilangan warisanku. Semua yang diwariskan kepadaku." Ia tertawa pahit. "Aku hanya akan memiliki Wycombe Abbey, dan percayalah, rumah itu akan segera runtuh bila aku tidak punya biaya untuk memeliharanya."


"Aku tidak pernah mendengar situasi seperi ini," kata Ellie.


"Ini memang tidak umum."


"Menurutku malah agak bodoh."


"Untuk hal itu, Madam, aku tidak akan mendebatmu."


Ellie meremas roknya yang berwarna cokelat sambil memikirkan kata-kata Charles. "Aku tidak mengerti kenapa harus aku yang menolongmu," kata Ellie akhirnya. "Aku yakin kau bisa menemukan istri yang cocok di London. Bukankah mereka menyebut tempat itu sebagai Pasar Pernikahan? Menurutku kau akan dianggap sebagai calon suami yang cukup pantas."


Charles tersenyum pahit. "Aku merasa seperti rusa yang diburu."

__ADS_1


Ellie mendongak menatap Charles dan merasa napas-nya tercekat. Pria ini sangat tampan dan memesona, dan Ellie tahu bahwa dirinya tidak kebal terhadap pesona pria ini. "Bukan," aku Ellie, "maksudku bukan begitu."


Charles mengangkat bahu. "Aku memang sudah menunda-nunda hal yang tak terelakkan. Aku tahu. Tapi di sinilah kau, muncul di saat kehidupanku sedang sangat putus asa..."


__ADS_2