
Ellie tidak pernah kehilangan kesabaran. Oh, tapi sebenarnya, seperti yang selalu diucapkan ayahnya, ia sedikit cerewet, tapi secara keseluruhan ia selalu bisa berpikir jernih dan tenang, emosinya tidak mudah terpancing untuk melampiaskan kemarahannya.
Sifatnya ini, ternyata, tidak bisa ia tunjukkan di Wycombe Abbey.
"Apa?!?" pekik Ellie sambil melompat berdiri. "Beraninya kau!" Lalu ia meraung, berlari ke arah Billington yang berusaha melangkah mundur, sebisa mungkin menghindar dengan kakinya yang bengkak dengan tongkatnya.
"Kurang ajar!" omel Ellie akhirnya, mendorong tubuh Charles lalu jatuh bersama-sama ke lantai.
Charles mengerang. "Kalau aku bisa dirobohkan seperti ini," kata Charles, "maka kau pasti Miss Lyndon."
"Tentu saja aku Miss Lyndon," seru Ellie. "Memangnya siapa lagi?"
"Aku harus mengatakan kalau kau sama sekali tak terlihat sepeti dirimu."
Ellie terdiam mendengarnya. Ia tahu kalau sekarang dirinya terlihat seperi tikus yang tercebur got, dengan pakaian yang penuh lumpur, dan topinya... Ia melihat sekelilingnya. Di mana topinya?
"Kehilangan sesuatu?" tanya Charles.
"Topiku," jawab Ellie, tiba-tiba merasa malu.
Charles tersenyum. "Aku lebih suka melihatmu tanpa topi. Aku ingin tahu apa warna rambutmu."
"Merah," sembur Ellie, berpikir bahwa hal ini harus menjadi penghinaan terakhir. Ellie benci rambutnya. Sejak dulu.
Charles terbatuk untuk menyembunyikan senyum gelinya. Ellie benar-benar marah, bahkan lebih dari marah. Ellie murka, dan Charles tidak ingat kapan ia merasa sesenang ini. Yah, sebenarnya kemarin ia sudah cukup bersenang-senang, ketika terjatuh dari pohon dan mendapatkan sebuah keberuntungan dengan mendarat di depan wanita ini.
Ellie mengangkat tangan untuk menyingkirkan rambutnya yang menempel di wajahnya. Gerakannya membuat gaunnya yang basah menempel erat di tubuhnya. Charles merasa kulitnya tiba-tiba menghangat.
Oh ya, pikir Charles, dia akan menjadi istri tang hebat.
"My Lord?" Si kepala pelayan menyela sambil membungkuk untuk menolong Charles bangun. "Apakah anda mengenalnya?"
"Sepertinya begitu," jawab Charles dan langsung mendapat tatapan marah dari Ellie. "Sepertinya Miss Lyndon baru saja mengalami hari yamg buruk. Mungkin kita harus menawarkan segelas teh. Dan..." Ia mangamati Ellie dengan bimbang, "handuk."
"Itu akan sangat membantu," ujar Ellie dengan sopan. "Terima kasih."
__ADS_1
Charles mengamatinya ketika Ellie berdiri. "Sepertinya kau sudah mempertimbangkan lamaranku."
Rosejack berhenti berjalan dan berbalik. "Lamaran?" Suaranya tercekat
Charles menyeringai. "Ya, Rosejack. Dan aku harap Miss Lyndon mau menerima lamaranku."
Rosejack pucat pasi.
Ellie memandang Rosejack dengan marah. "Aku baru saja terjebak di tengah hujan badai," kata Ellie, merasa bahwa hal itu bisa sedikit membelanya. "Biasanya aku tampil lebih baik dari ini."
"Dia baru terjebak du tengah hujan," ulang Charles. "Dan aku bisa menjamin bahwa dua bisa tampil jauh lebih baik. Aku pastikan dia akan menjadi countess yang sempurna."
"Aku belum menerima lamaranmu," gumam Ellie.
Rosejack terlihat seperti hampir pingsan mendengarnya.
"Kau akan menerimanya," kata Charles dengan senyum mengerti.
"Bagaimana mungkin kau..."
"Aku tidak datang untuk menerima lamaranmu," sergah Ellie. "Aku hanya ingin berbicara denganmu tentang hal itu. Aku..."
"Tentu saja, Sayang," gumam Charles. "Maukah kau masuk ke ruang tamu? Aku ingin menawarkan lenganku, tapi aku khawatir aku tidak bisa melakukanya untuk beberapa hari kedepan." katanya sambil menuntuk tongkatnya.
Ellie menghela napas dengan frustrasi dan mengikutinya ke ruangan terdekat. Ruangan itu dihias dengan dominasi warna putih gading dan biru, dan Ellie tidak berani duduk dimana pun. "Kurasa sekadar handuk tidak akan cukup untukku, My Lord." kata Ellie. Ia bahkan tidak mau menginjak karpet. Tidak ketika roknya meneteskan air kotor.
Charles mengamatinya dengan penuh perhatian. "Kurasa kau benar. Apakah kau mau mengganti pakaianmu? Adikku sudah menikah dan sekarang tinggal si Surrey, tapi dia menyimpan beberapa gaun disini. Kurasa ukuran kalian sama."
Ellie tidak suka dengan ide meminjam pakaian orang lain tanpa meminta izin pemiliknya terlebih dahulu, tapi pilihan Ellie tinggal itu atau terserang radang paru-paru. Ellie melihat jari-jarinya, yang gemetar menahan dingin, lalu mengangguk.
Cahrles membunyikan bel, dan dalam sekejap seorang pelayan wanita masuk keruangan itu. Charles memerintahkannya untuk menunjukkan kamar adiknya kepada Ellie. Merasa sudah tidak mampu lagi mengendalikan nasibnya, Ellie langsung mengikuti pelayan wanita itu.
Charles duduk di sebuah sofa yang nyaman, mengembuskan napas lega yang panjang, lalu mengucapkan terima kasih dalam hening kepada siapa pun yang telah mengirim Ellie ke depan pintu rumahnya. Tadinya ia malah takut harus pergi ke London dan menikahi salah satu gadis debutante yang terus ditawarkan oleh anggota keluarganya yang lain.
Ia bersiul-siul sambil menunggu tehnya dan Miss Lyndon. Apa kiranya yang membuat wanita itu datang kemari? Charles sadar saat dirinya melamar Miss Lyndon, ia masih agak mabuk, tapi ia tidak begitu mabuk sampai tidak bisa mengira-ngira perasaan wanita itu.
__ADS_1
Charles menyeka Ellie akan menolaknya. Ia hampir yakin akan hal itu.
Ellie seorang wanita yang cerdas dan logis. Semua itu tampak jelas di perjumpaan singkat mereka. Apa gerangan yang membuatnya menerima lamaran seorang lelaki yang hampir tak dikenalnya?
Ada beberapa alasan yang mudah saja ditebak, tentu saja. Charles punya uang dan gelar, dan kalau Ellie menikah dengannya, maka ia akan memiliki uang dan gelar juga. Tapi Charles merasa alasan Miss Lyndon bukan itu. Charles sempat menangkap tatapan matanya yang putus ketika ia...
Charles mengernyit dan tertawa sambil berjalan untuk melihat ke luar jendela. Miss Lyndon baru saja menyerangnya. Di situ, diruangan itu. Tidak ada kata-kata yang bisa melukiskan hal itu.
Tehnya datang beberapa menit kemudian, dan Charles meminta pelayan wanitanya untuk meninggalkan daun tehnya tetap berada di dalam pocinya. Ia suka teh yang kental.
Beberapa menit setelah itu, terdengar ketukan pelan di pintu. Charles berbalik, terkejut karena setahunya pelayan wanitanya meninggalkan ruangan itu tanpa menutup pintu.
Ellie berdiri di ambang pintu, tangannya terangkat untuk mengetuk kembali. "Kukira kau tidak dengar," katanya
"Pintunya sudah terbuka. Tidak perlu mengetuk."
Ellie mengangkat bahu. "Aku tidak mau menganggu."
Charles memberinya isyarat supaya masuk, memperhatikan dengan seksama ketika Ellie melintasi ruangan. Baju adiknya agak kepanjangan di badan Ellie, sehingga ia harus mengangkat rok berwarna hijau pucat itu ketika berjalan. Saat itulah Charles melihat bahwa Ellie tidak memakai sepatu. Aneh sekali hanya dengan melihat kaki tanpa balutan sepatu bisa membuat Charles bagian bawah perutnya tergelitik.
Ellie melihat sang earl sedang memandangi kakinya dan tersipu. "Kaki adikmu kecil sekali," katanya. "dan sepatuku sendiri basah sampai ke dalam."
Charles berkedip, seakan baru tersadar dari lamunan, lalu menggeleng sedikit dan melihat mata Ellie. "Tidak apa-apa," katanya, lalu pandangannya jatuh kembali ke kaki Ellie.
Ellie menjatuhkan roknya, bertanya-tanya apa yang menarik dari kakinya.
"Kau cocok sekali mengenakan baju berwarna hijau," kata Charles sambil berjalan terpincang-pincang ke samping Ellie. "Kau harus lebih sering memakainya."
"Semua bajuku berwarna gelap dan sangat awet," kata Ellie, nada suaranya terdengar ironis sekaligus muram.
"Sayang sekali. Aku akan membelikanmu baju baru setelah kita menikah."
"Hei, tunggu dulu!" protes Ellie. "Aku masih belum menerima lamaranmu. Aku datang kemari hanya untuk..." Ia mendadak terdiam ketika menyadari kalau ia berteriak, lalu melanjutkan dengan nada suara lebih lembut. "Aku datang kemari hanya untuk membicarakannya dengamu."
Perlahan-lahan Charles tersenyum. "Apa yang ingin kau ketahui?"
__ADS_1