Earl of Billington dan Miss Lyndon

Earl of Billington dan Miss Lyndon
Bab 23


__ADS_3

Ellie menelengkan kepalanya. "Kita tidak jauh dari rumahku. Kurasa tidak sulit untuk berjalan kembali sambil menuntun kuda-kudanya. Aku yakin ayahku bisa mencarikan transportasi lain supaya kau bisa pulang. Atau kita bisa mengirim kurir untuk mengambil kereta kuda baru dari Wycombe Abbey."


"Kurasa itu bisa dilakukan," gumam Charles sambil mengamati kereta yang telah rusak itu lebih dekat.


"Apa ada yang salah, My Lord? kenyataan selain kita menabrak akar besar dan terbalik?"


"Lihat ini, Deliana." Charles mengulurkan tangan dan menyentuh roda kereta yang rusak. "Tidak terpasang pada kereta."


"Kurasa itu akibat dari kecelakaaan."


Charles mengetuk-ngetukkan jarinya ke badan kereta sambil berpikir. "Tidak, seharusnya masih terpasang. Rusak, ketika kita terbalik, tapi masih terpasang pada porosnya."


"Apa menurutmu roda itu terlepas begitu saja?"


"Ya," kata Charles sambil merenung. "Kupikir begitu."


"Tapi aku tahu kita hanya menabrak akar pohon. Aku melihatnya. Aku merasakannya."


"Akar itu hanya memicu roda yang memang sudah longgar terpasang, menjadi mudah terlepas."


Ellie membungkuk dan ikut mengamati kerusakan itu. "Kurasa kau mungkin benar, My Lord. Lihatlah kerusakannya. Jari-jarinya hancur karena beban kereta yang ditahannya, tapi rodanya masih utuh. Aku belajar sedikit fisika, tapi kupikir roda ini seharusnya patah menjadi dua ketika kita terguling. Dan... Oh! Lihat!" Ia meraih ke dalam kantongnya dan menarik sebuah baut metal.


"Di mana kau menemukan ini?"


"Di jalan. Kira-kira di atas bukit. Pasti longgar dan terlepas dari rodanya."


Charles berputar ke arah Ellie, gerakannya yang tiba-tiba membuat hidung mereka saling berdekatan. "Kurasa," kata Charles pelan. "kau benar."


Ellie terperangah. Charles begitu dekat sampai Ellie bisa merasakan napasnya, begitu dekat sampai Ellie tidak hanya mendengar, tapi merasakan ucapannya.


"Aku mungkin harus menciummu lagi."


Ellie ingin mengatakan sesuatu---yah, walaupun sejujurnya ia tidak tahu apa yang ingin ia ucapkan, tapi bagaimanapun juga, semua itu tidak penting, karena pita suaranya menolak untuk bersuara. Ia hanya duduk di situ, diam, sementara Charles perlahan-lahan memiringkan kepalanya dan menyentuhkan bibirnya ke bibir Ellie.


"Manis sekali," gumam Charles, kalimatnya menembus rongga mulut Ellie.


"My Lord..."

__ADS_1


"Charles," koreksi Charles.


"Kita harus... ini..." Ellie benar-benar tidak bisa berpikir. semuanya karena lidah seorang pria yang sedang membelai lembut bibir bawahnya.


Charles tergerak pelan dan mengangkat kepalanya sedikit. "Kau ingin berkata apa?"


Ellie tidak berkata apa-apa selain mengerjapkan matanya.


"Kalau begitu, aku boleh mengira bahwa kau ingin memintaku untuk meneruskannya." Senyuman Charles berubah licik sebelum ia mengangkat dagu Ellie dan menusuri rahang Ellie dengan bibirnya.


"Tidak!" seru Ellie, tiba-tiba tersadar. "Ini sama sekali bukan maksudku."


"Bukan?" goda Charles.


"Aku tadi ingin mengatakan, bahwa kita sedang berada di tengah-tengah jalan umum, dan..."


"Dan kau mengkhawatirkan reputasimu," Charles menyelesaikan kalimat Ellie.


"Dan reputasimu juga, jadi kau tidak harus membuatku menjadi wanita pemalu."


"Oh, aku tidak berniat untuk melakukan itu, sayang."


"Ide bagus," Jawab Charles, berdiri dan mengulurkan tangannya ke Ellie. Ia menerimanya dan membiarkan Charles membantunya berdiri, walaupun ia merasa bahwa gerakan itu cukup menyakiti Charles. Setiap pria punya harga diri, dan Ellie merasa bahwa keturunan Wycombe punya lebih daripada hanya harga diri.


Perjalanan kembali ke rumah sang pendeta pembantu menempuh waktu sepuluh menit. Ellie berusaha untuk berbincang-bincang dengan topik yang aman, kesusastraan, makanan Prancis, dan--- walaupun ia sungguh tidak suka karena kedangkalan topik ini--- cuaca.


Charles terlihat sedikit geli sepanjang perbincangan mereka, seakan-akan tahu persis apa yang sedang dilakukan Ellie. Yang lebih buruk, senyumnya yang sopan hanyalah sentuhan kebaikannya, seakan-akan membiarkan Ellie bicara tentang hujan badai dan yang semacamnya.


Ellie tidak terkesan dengan ekspresi angkuh yang terlihat di wajah Charles, tapi sesungguhnya, ia terkesan bahwa Charles bisa mempertahankan ekspresi itu sementara jalannya pincang, masih menggosok-gosok kepalanya, dan kadang- kadang mencengkeram rusuknya.


Ketika rumah itu mulai terlihat, Ellie menoleh ke arah Charles dan berkata, "Ayahku sudah kembali."


Charles melengkungkan alisnya. "Bagaimana kau bisa tahu?"


"Beliau menyalakan lilin di kantornya, mengerjakan khotbahnya."


"Sudah mulai mengerjakan? Tapi hari Minggu masih lama. Aku ingat, pastor pembantuku malah baru mulai mencoret-coret di hari sabtu malam. Biasanya beliau datang ke Wycombe Abbey untuk mencari inspirasi."

__ADS_1


"Oh, ya?" Ellie bertanya sambi tersenyum ceria. "Menurutnya kau bisa memberi inspirasi? Aku tidak tahu kau termasuk anak baik."


"Sejujurnya, malah sebaliknya. Beliau suka mempelajariku, lalu memilih mana dosaku yang cocok untuk menjadi tema Khotbahnya selanjutnya."


"Ya, ampun," jawab Ellie, lalu tawanya meledak. "Bagaimana kau bisa tahan dengannya?"


"Lebih buruk dari yang kau kira. Beliau juga guru bahasa Latinku dan mengajar tiga kali dalam seminggu. Beliau mengatakan bahwa aku lahir di dunia ini untuk menyiksanya."


"Sepertinya itu tidak pantas diucapkan oleh seorang pendeta pembantu?"


Charles mengangkat bahu. "Dia juga terlalu menyukai minuman keras."


Ellie menjulurkan tangannya untuk membuka pintu depan, tapi sebelum tangannya meraih gagang pintu, Charles memegang lengannya. Ketika Ellie mendongak menatapnya kebingungan, Charles berbicara dengan suara pelan, "Bisakah aku bicara denganmu dulu sebelum bertemu dengan ayahmu?"


"Tentu saja," jawab Ellie sambi beranjak menjauhi pintu.


"Apa kau masih memegang ucapanmu untuk menikah denganku besok lusa?" Bibir Charles menegang ketika berbicara.


Mendadak Ellie merasa pusing. Charles, yang selama ini menuntut supaya Ellie memegang janjinya, tampaknya sedang memberikan tawaran pada Ellie untuk melepaskan diri. Ellie bisa saja menangis, mengatakan bahwa ia mendadak ketakutan...


"Deliana," desak Charles.


Ellie menelan ludah, berpikir betapa membosankannya hidupnya akhir-akhir ini. Ide menikah dengan orang asing memang membuatnya ngeri, tapi lebih baik daripada hidupnya yang membosankan. Tidak, bisa lebih buruk dari sekedar membosankan. Hidup bosan seumur hidup ditambah kehadiran Mrs. Foxglove. Apa pun kesalahan sang earl--- dan Ellie punya perasaaan kalau kesalahan itu tidak sedikit---jauh di dalam hatinya, Ellie tahu bahwa pria ini bukan pria jahat, apa lagi lemah. Ia yakin bisa menemukan kebahagiaan dengannya.


Charles menyentuh bahunya, dan Ellie mengangguk. Ellie mengira ia melihat pundak Charles sedikit melengkung lega, tapi dalam sekejap topeng seorang earl muda yang memesona kembali terlihat di wajahnya.


"Apa kau sudah siap masuk?" tanya Ellie.


Charles mengangguk, dan Ellie pun mendorong pintu depan dan memanggil, "Papa?" setelah hening beberapa saat, Ellie berkata pada Charles, "Aku akan pergi ke ruang kerja dan menjemputnya."


charles menunggu dan tak lama kemudian Ellie kembali diikuti seorang pria berwajah galak. Rambutnya yang beruban mulai menipis.


"Mrs. Foxglove harus kembali ke rumahnya," kata Ellie sambil memberikan senyum rahasia ke arah Charles. "Tapi, perkenankanlah aku memperkenalkanmu pada ayahku, Reverend Mr. Lyndon. Papa, ini Charles Wycombe, Earl of Billington."


Keduanya saling berjabat tangan, diam-diam saling menilai. Charles merasa sang reverend terlihat kaku dan disiplin untuk membesarkan seorang putri dengan semangat seperti Deliana. Ia bisa melihatnya dari cara Mr. Lyndon menatapnya, menilainya apakah ia akan menjadi menantu yang pantas atau tidak.


Mereka saling mengucapkan salam, duduk, dan setelah Ellie meninggalkan ruangan untuk menyiapkan teh, sang reverend menoleh ke Charles dan berkata, "Sebagian besar pria akan setuju penuh pada pernikahan putrinya bila calon menantunya adalah seorang earl. Aku bukan jenis pria seperti itu."

__ADS_1


"Anda tidak berpikir begitu, Mr. Lyndon. jelas Deliana telah dibesarkan oleh pria dengan karakter dan moral yang kokoh." Charles hanya berniat untuk menenangkan suasana, tapi ketika mengucapkannya, Charles menyadari betapa benar kalimatnya barusan. Tidak sekalipun Deliana Lyndon menunjukkan perilaku bahwa ia tersihir oleh gelar ataupun kekayaan Charles. Bahkan, wanita itu lebih tertarik pada uang tiga ratus poudsterling miliknya sendiri daripada kekayaan Charles yang melimpah.


Sang reverend memajukan tubuhnya, matanya menyipit seakan-akan mencari tahu kebenaran di balik ucapan sang earl. "Aku tidak akan menghalangi pernikahan ini." katanya pelan. "Aku sudah pernah melakukannya, dengan putri tertuaku, dan konsekuensinya buruk. Tapi biar kukatakan padamu, kalau kau memperlakukan Deliana dengan buruk, maka aku akan mengutukmu dengan semua kalimat kutukan yang bisa kuucapkan."


__ADS_2