Earl of Billington dan Miss Lyndon

Earl of Billington dan Miss Lyndon
Bab 20


__ADS_3

"Tidak pernah selama hidupku aku mengalami kesulitan merayu wanita."


"Aku percaya."


"Terutama wanita yang sudah setuju untum menikah denganku."


"Saat itu aku mengira akulah satu-satunya yang mendapatkan kehormatan itu."


"Begini, Deliana," kata Charles, nada suaranya mulai terdengar tidak sabar. "Kita sama-sama membutuhkan pernikahan ini. Jangan katakan kau tidak membutuhkannya. Aku sudah bertemu Mrs. Foxglove. Aku tahu apa yang menunggumu di rumah."


Ellie mendesah. Charles tahu kesulitan yang dihadapinya. Mrs. Foxglove dan mulutnya yang cerewet sudah menantinya.


"Dan," Charles menambahkan dengan kesal. "Apa maksudmu dengan 'Kau percaya' bahwa kau tidak punya masalah untuk merayu wanita."


Ellie memandangnya seakan-akan Charles itu bodoh. "Tepat sekali. Aku percaya padamu. Kau pasti tahu bahwa kau ini sangat tampan."


Charles melihat tidak tahu bagaimana harus membalas. Ellie sendiri cukup puas bisa membuatnya kehilangan kata-kata. Ellie meneruskan, "Dan kau cukup memesona."


Charles tampak berseri-seri. "Menurutmu begitu?"

__ADS_1


"Terlalu memesona." ujar Ellie menambahkan sambil menyipitkan matanya. "Sehingga sulit untuk membedakan pujianmu yang tulus dan yang kau buat-buat."


"Anggap saja semuanya tulus," kata Charles sambil mengibaskan tangan. "dan kita bisa sama-sama senang."


"Kau yang senang."


"Kau juga akan senang. Percayalah."


"Percaya padamu? Hah! Wanita-wanita London cantik yang hanya mengurusi baju dan dandanan mungkin bisa mudah percaya padamu, tapi aku jauh lebih pintar untuk bisa mempercayaimu begitu saja."


"Aku tahu," balas Charles. "Karena itulah aku menikah denganmu."


"Kira-kira begitu," gumam Charles, sama sekali tidak menyukai cara Ellie memutarbalikkan kata-katanya tapi tidak bisa menemukan cara membalasnya kembali.


Sekarang, Ellie benar-benar tertawa, dan Charles tidak suka. "Hentikan," perintah Charles. "Hentikan sekarang juga."


"Oh, aku tidak bisa," kata Ellie terengah-engah. "Sungguh"


"Deliana, kukatakan sekali lagi..."

__ADS_1


Saat Ellie menoleh untuk membalas, tapi lalu ia melihat ke arah jalan. "Tapi... ya, Tuhan! Perhatikan jalannya!"


"Aku memang memperhatikan ja..."


Apa pun yang ingin dikatakan Charles terputus ketika kereta kuda yang mereka naiki tersandung sebuah akar pohon yang besar, membuatnya terguling ke samping, dan melempar kedua penumpangnya ke tanah.


Charles mengerang ketika tubuhnya terhempas ke tanah, merasakan sengatan sakit di semua tulang, otot, bahkan semua rambut di seluruh tubuhnya.


Setengah detik kemudian Ellie mendarat di atasnya seperti sekarung besar kentang yang dihempaskan.


Charles menutup matanya, bertanya-tanya apakah ia masih bisa memiliki anak, bahkan bertanya-tanya apakah ia mau mencobanya.


"Ow!" seru Ellie sambil menggosok bahunya.


Charles ingin sekali membalasnya, mungkin dengan sesuatu yang terdengar sarkastik, tapi ia tidak bisa bicara. Rusuknya sakit sekali sampai ia yakin kalau ia sampai berbicara, maka semua tulang rusuknya akan rontok. Setelah sesaat yang terasa hampir seumur hidup, Ellie berguling bangun dari Charles dengan meletakkan sikunya yang tajam di bagian rentan di bawah ginjal kiri Charles.


"Aku tidak percaya kau tidak melihat akar sebesar itu," kata Ellie sambil memperlihatkan ekspresi angkuh bahkan ketika berhasil duduk di tanah.


Rasanya Charles ingin mencekiknya, memberangus mulutnya, bahkan menciumnya supaya ekspresi menjengkelkan itu terhapus dari wajah Ellie. Tapi akhirnya Charles hanya berbaring saja, masih berusaha untuk bernapas.

__ADS_1


__ADS_2