
Ellie menengok ke arahnya begitu cepat sampai hidungnya membentur bahu Charles. "Apa yang ingin kau ucapkan, My Lord?"
"Aku ingin... hik... bersumpah padamu bahwa aku... hik... sama sekali tidak berniat memperlambat kepulanganmu dengan sengaja."
Ujung bibir Ellie tersenyum sedikit. "Aku tidak tahu kenapa aku mempercayaimu," Kata Ellie. "Tapi, ya, aku percaya padamu."
"Mungkin karena pergelangan kakiku terlihat seperti pir busuk," canda Charles.
"Tidak," kata Ellie penuh pengertian, "Menurutku kau tidak seburuk yang orang-orang kira."
Charles mendengus. "Aku jauh dari... hik... baik."
"Menurutku kau memberikan upah tambahan pada seluruh pegawaimu saat Natal tiba."
Tanpa bisa menahan diri, Charles bersemu merah.
"A-ha!" seru Ellie penuh kemenangan. "Memang benar, kan?"
"Bisa membuat mereka setia," gumam Charles.
"Dan bisa membuat mereka membelikan hadiah untuk keluarganya," lanjut Ellie lembut.
__ADS_1
Charles menggerutu dan membuang muka. "Matahari terbenam yang indah, bukan, Miss Lyndon?"
"Pengalihan topik yang tidak pandai," kata Ellie sambil menyeringai maklum. "Tapi, ya, ini cukup indah."
"Menurutku cukup mengagumkan," lanjut Charles. "betapa banyak warna yang berbeda yang muncul di saat matahari terbenam. Aku melihat jingga, merah muda, dan kuning muda. Oh, dan ada sedikit warna merah di sana." katanya sambil menunjuk ke arah selatan. "Dan yang paling mengagumkan, semua warna indah itu akan berubah lagi besok."
"Apakah kau seniman?" tanya Ellie
"Bukan," jawab Charles. "Aku hanya menyukai matahari terbenam."
"Bellfield tidak jauh lagi," lanjut Ellie
"Oh, ya?"
"Sebenarnya aku tidak ingin pulang," jawab Charles.
Ia menghela napas, memikirkan apa yang menunggu kepulangannya. Tumpukan batu yang menyusun Wycombe Abbey. Tumpukan batu yang juga membutuhkan setumpuk uang untuk perawatannya. Uang yang akan lepas dari genggaman tangannya kurang dari sebulan lagi berkat campur tangan ayahnya.
Orang bisa saja berpikir bahwa kendali George Wycombe terhadap keuangan keluarganya akan berakhir setelah kematiannya, tapu ternyata tidak. Ia masih bisa menemukan cara untuk tetap mengendalikan semuanya dari dalam kubur. Charles memaki pelan saat membayangkan tangan ayahnya berada di sekeliling lehernya. Charles benar-benar merasa ayahnya mencekik lehernya dari liang kubur.
Tepat lima belas hari lagi, umurnya akan menginjak tiga puluh tahun. Tepat lima belas hari lagi, semua warisan akan direggut habis darinya. Kecuali----
__ADS_1
Miss Lyndon terbatuk sedikit dan menggosok matanya yang terkena debu. Charles menatapnya dengan penuh minat.
Kecuali---- pikir Charles lambat -lambat, tidak mau melewatkan detail yang penting dari otaknya yang masih terasa berkabut---- Kecuali dalam lima belas hari ini ia bisa mendapatkan seorang istri.
Muss Lyndon menuntunnya ke arah High Street Bellfield dan terus menuju selatan. "Bee and Thistle ada disana. Aku tidak melihat kereta kudamu. Apa ada di belakang?"
Bagus sekali suaranya, pikir Charles. Suara yang bagus, cerdas, dan selera humor yang baik, dan---- walaupun Charles memang belum tahu apa warna rambut wanita itu---- Miss Lyndon memiliki sepasang alis yang indah. Dan bersandar penub pada wanita ini benar-benar terasa nyaman.
Charles berdeham. "Miss Lyndon."
"Jangan katakan kau salah memarkir keretamu."
"Miss Lyndon, ada masalah penting yang ingin kubicarakan denganmu."
"Apakah pergelangan kakimu semakin sakit? Aku tahu berjalan dalam keadaan sepertimu akan membuatnya semakin parah, tapi aku tidak tahu harus bagaimana lagi untuk membawamu ke kota. kurasa es akan..."
"Miss Lyndon!" Charles hampir berseru.
Ellie langsung terdiam.
"Apakah kau pikir kau mau..." Charles berdeham, tiba-tiba berharap ia tidak mabuk, karena ia tahu perbendaharaan katanya bisa lebih bervariasi ketika ia tidak mabuk.
__ADS_1
"Lord Billington?" tanya Ellie dengan ekspresi khawatir.
Akhirnya Charles langsung berkata tanpa berpikir. "Maukah kau menikah denganku?"