Earl of Billington dan Miss Lyndon

Earl of Billington dan Miss Lyndon
Bab 04


__ADS_3

Charles mengulurkan tangan dan meraih tangan Ellie yang bersarung tangan.


sekali lagi Ellie menarikknya berdiri, lalu menjauh dari jangkauan ketika pria itu sudah bisa menyeimbangkan dirinya dengan tongkat.


"Aku akan mengantarmu sampai Bellfield," kata Ellie. "Tidak terlalu jauh dari sini. Apa kau sanggup untuk pulang sendiri dari situ?"


"Aku meninggalkan kereta kudaku di Bee and Thistle," jawab Charles.


Ellie berdeham. "Aku akan sangat menghargai bila kau bisa berlaku dengan sopan dan tidak menarik perhatian. Aku mungkin belum menikah, tapi aku punya reputasi yang harus dijaga."


Charles melirik Ellie. "Sepertinya aku dianggap sebagai ****, ya?"


"Memang."


"Dan sepertinya relutasimu sudah hancur begitu aku mendarat di atasmu."


"Ya ampun, kau cuma jatuh dari atas pohon!"


"Memang, tapi kau tadi menyentuh kakiku dengan tanganmu. Tanpa sarung tangan."


"Untuk tujuan yang baik."


"jujur saja, kupikir menciummu rasanya tindakan yang baik, tapi sepertinya kau tidak setuju."


Wajah Ellie terlihat cemberut. "Komentar sembarangan seperti ini yang kumaksud. Walaupun tahu bahwa seharusnya aku tidak usah peduli, aku masih tetap peduli dengan pandangan orang kepadaku, dan aku harus tinggal di tempat ini selama sisa hidupku."


"Benarkah?" tanya Charles "Menyedihkan sekali."


"Tidak lucu."


"Aku tidak bergurau."


Ellie menghela napas tidak sabar. "Kumohon, berusahalah untuk bersikap sopan begitu kita sudah sampai Bellfield."

__ADS_1


Charles menyangga tubuh dengan tongkat yang dipegangnya, lalu membungkuk dengan sopan. "Aku akan mencoba untuk tidak mengecewakan seorang wanita terhormat."


"Hentikan." gerutu Ellie sambil menarik siku Charles untuk beridiri. "Kau bisa terjatuh lagi."


"Wah, Miss Lyndon, sepertinya kau mulai peduli padaku."


Reaksi yang diberikan Ellie hanya berupa gerutuan pelan yang tidak jelas. Dengan tangan terkepal, Ellie mulai berjalan ke arah kota. Charles, dengan senyum simpul dibibirnya, berjalan di belakang Ellie dengan langkah tertatih-tatih. Wanita itu berjalan lebih cepat darinya sehingga ketika jarak di antara mereka semakin lebar, Charles pun terpaksa memanggilnya.


Ellie berbalik.


Charles memberikan senyum yang dia harap terlihat menarik.


"Aku tidak bisa mengikutimu."


Ia mengulurkan tangan untuk memohon tapi justru kehilangan keseimbangan. Ellie bergegas menghampiri untuk membantunya berdiri tegak.


"Kau payah sekali," gerutu Ellie sambil terus memegangi siku Charles.


"Aku tidak bisa berjalan pincang dengan cepat."


Ellie menghela napas. "Sini. Kau bisa berpegangan pada pundakku. Aku akan membantumu berjalan sampai kota."


Charles menyeringai dan meletakkan tangan di atas pundak Ellie. Wanita itu kecil, tapi cukup kuat sehingga Charles mencoba untuk menjatuhkan beban tubuhnya lebih Ellie. Tubuh Ellie menegang, lalu menghela napas dengan keras.


Perlahan-lahan mereka bergerak menuju kota. Charles merasakan dirinya semakin bersandar ke Ellie. Entah karena kakinya yang sakit atau karena mabuk. Ellie terasa hangat, kuat, dan sekaligus lembut di saat bersamaan, dan Charles sungguh tidak peduli kenapa ia bisa merasakan semua ini-- ia hanya ingin menikmatinya saja selagi bisa. setiap langkah mereka membuat sisi payudara Ellie samakin menekan tulang rusuk Charles, dan ia mendapati kalau sensasi itu terasa menyenangkan.


"Hari yang indah, bukan?" tanya Charles, merasa harus membuat percakapan.


"Ya," jawab Ellie sambil menyeimbangkan tubuhnya yang agak limbung karena menahan berat tubuh Charles.


"Tapi saat ini sudah hampir malam. Apa kau bisa berjalan lebih cepat sedikit?"


"Bahkan aku," kata Charles sambil menggerakkan tangan dengan gegabah, "Bukan orang tak tahu diri yang berpura-pura pincang semata-mata hanya untuk menikmati perhatian dari seorang wanita cantik."

__ADS_1


"Jangan gerakkan tanganmu! kau membuat kita kehilangan keseimbangan."


Tanpa tahu apa sebabnya, tapi mungkin karena kesadarannya yang belum pulih benar, Charles suka mendengar sebutan kita yang keluar dari bibir wanita di sebelahnya. Ada sesuatu pada diri Miss Lyndon yang membuat Charles lega bahwa ada wanita itu akan menjadi lawan yang sepadan, tapi lebih karena perhatiannya, pola pikiranya, dan juga tentu saja kecantikannya. Dan selera humornya yang sinis. Tipe wanita yang ingin dimiliki pria ketika membutuhkan dukungan.


Charles mendekatkan wajahnya ke wajah Ellie. "Kau harum sekali," kata Charles


"Apa?" pekik Ellie.


Dan wanita ini sangat menarik untuk digoda. Charles harus ingat untuk menambahkan hal itu di daftarnya. Selalu menyenangkan dapat bersama orang yang mudah digoda.


Charles memperlihatkan wajah tak berdosa. "Kau harum," katanya lagi.


"Itu bukan hal yang pantas diucapkan seorang gentleman kepada seorang wanita terhormat," kata Ellie dengan kasar


"Aku sedang mabuk," balas Charles tanpa penyesalan sambil mengangkat bahu. "Aku tidak tahu apa yang kuucapkan."


Mata Ellie menyipit curiga. "Menurutku kau tahu pasti apa yang kau ucapkan."


"Wah, Miss Lyndon, apa kau menuduhku sedang berusaha merayumu?"


Rasanya tidak mungkin, tapi sepertinya Charles melihat wajah wanita di sampingnya itu semakin memerah. Ia berharap bisa melihat warna rambut wanita itu di balik topi bonnet-nya yang besar. Alisnya pirang, dan alis itu terangkat dengan anehnya seiring dengan wajahnya yang bersemu.


"Jangan memutarbalikkan kata-kataku" Sahut Ellie


"Kau sendiri memutarbalikkan kata-kata dengan sangat pandai, Miss Lyndon." Ketika Ellie tidak menjawab apa-apa, Charles menambahkan, "Itu pujian."


Ellie menyeret langkahnya di sepanjang jalan, menarik Charles bersamanya. "Kau sungguh membuatku bingung, My Lord."


Charles tersenyum, berpikir bahwa membuat Miss Lyndon bingung bukanlah hak yang membosankan. Selama beberapa menit Charles terdiam, lalu, setelah mereka berbelok di ujung jalan, ia bertanya "Apa kita sudah hampir sampai?"


"Kurasa separuh jalan lagi." Ellie memicingkan mata sambil memandang ke arah cakrawala, melihat matahari yang tenggelam semakin cepat. "Oh, Tuhan. ini sudah semakin malam. Papa akan memenggal kepalaku."


"Aku bersumpah di atas makam ayahku..." Charles mencoba untuk berkata serius, tapi mendadak ia cegukan.

__ADS_1


__ADS_2