Earl of Billington dan Miss Lyndon

Earl of Billington dan Miss Lyndon
Bab 02


__ADS_3

Ellie memiringkan kepala dan pura- pura memikirkan ide itu. "Mungkin akan sedikit sakit ketika sepatu ini melewati pergelangan kakimu yang bengkak, tapi seperti yang tadi kau katakan, kau bukan orang lemah, jadi pasti bisa menahan sedikit rasa sakit."


"Bicara apa kau ini?"


Ellie mulai menarik sepatu bot pria itu. Tidak terlalu keras-- ia tidak pernah bisa bersikap sekejam itu. Ia hanya menarik sedikit untuk menunjukkan bahwa sepatu itu tidak bisa lepas tanpa dirobek dengan pisau. Ellie menahan napas.


Pria itu berteriak, dan Ellie menyesal memberinya pelajaran seperti itu, karena saat itu juga hidungnya mencuim aroma wiski yang kuat.


"Berapa banyak wiski yang kau minum?"


tanya Ellie sambil memalingkan wajah untuk menghirup udara segar.


"Tidak terlalu banyak," erang pria itu. "Mereka belum menciptakan minuman yang cukup kuat untuk..."


"Oh, yang benar saja," sembur Ellie. "Aku tidak menarik sekeras itu."


Ellie terkejut karena pria itu tertawa.


"Sayangku," kata pria itu dengan nada yang memberitahu Ellie dengan sangat jelas kalau dirinya adalah playboy sejati,


"Kau bukanlah hal yang terburuk yang terjadi padaku akhir akhir ini."


Ellie merasa bulu kuduknya meremang mendengar pujian asal-asalan yang dilontarkan oleh pria itu. Ia bersyukur topi bonnet-nya yang besar menyembunyikan pipinya yang bersemu merah, lalu ia mengembalikan perhatiannya ke pergelangan kaki pria itu.


" Apa kau sudah berubah pikiran mengenai memotong sepatu botmu?"


Pria itu langsung meletakkan pisau di telapak tangan Ellie sebagai jawabannya.

__ADS_1


"Aku tahu pasti ada alasan kenapa aku selalu membawa benda ini. aku hanya tidak tahu apa alasannya, sampai saat ini."


Pisau itu agak tumpul, sampai Ellie harus menggertakan gigi ketika berusaha memotong sepatu bot pria itu. Ellie mendongkak ke atas sebentar.


"Beritahu kalau aku..."


"Ow!"


"...menusukmu," tambah Ellie menyelesaikan kalimatnya. "Maaf."


"Sangat mengagumkan," kata pria itu, nada suaranya penuh ironi. "mendengar nada suaramu yang sedih."


Ellie berusaha menyembunyikan tawanya lagi.


"Oh, ayolah," gerutu pria itu. "Tertawa saja. Tuhan pun tahu kalau hidupku memang pantas ditertawakan."


"Namaku Miss Deliana Lybdon."


Mata pria itu menghangat.


"Terima kasih mau memberitahu informasi penting itu, Miss Lyndon. Tidak setiap hari aku memperbolehkan wanita asing mengoyak sepatuku."


"Tidak setiap hari pula aku hampir terjerembab karena seorang pria yang jatuh dari pohon. seorang pria asing," tambah Ellie untuk penekanan.


"Ah ya, kurasa aku juga harus memperkenalkan diri." Lelaki itu memiringkan kepalanya dengan gerakan yang mengingatkan Ellie bahwa lelaki itu masih mabuk.


"Charles Wycombe, siap melayanimu, Miss Lyndon. Earl of Billington." Lalu ia menggerutu. "Setidaknya begitulah."

__ADS_1


Ellie menatapnya tanpa berkedip. Billington? Pria ini salah satu bujangan yang paling diminati sampai Ellie pun tahu tentangnya, dan Ellie bahkan tidak ada di daftar mana pun dari wanita yang paling diminati. Dari desas-desus yang terdengar, pria ini playboy sejati. Ellie pernah mendengar pria ini dibicarakan dalam pertemuan penduduk desa, walaupun sebagai wanita yang belum menikah ia tidak pernah diberitahu gosib terbaru. Ellie menganggap reputasi pria ini pasti sangat buruk sampai sampai Ellie tidak boleh mendengarnya.


Ellie juga mendengar bahwa pria ini sangat kaya, bahkan lebih kaya dari pada suami kakaknya, Victoria, yang bernama Earl of Macclesfield. Ellie tidak bisa menilai begitu saja, karena ia belum pernah melihat laporan keuangan pria ini, dan ia menegaskan pada dirinya sendiri untuk tidak pernah berspekulasi tentang finansial seseorang tanpa melihat bukti nyata. Tapi ia tahu pasti, bahwa estat Billington memang sangat luas dan tua.


Dan berjarak kira- kira tiga puluh kilometer dari tempat mereka berdiri sekarang.


"Apa yang kau lakukan di Bellfield sini?" tanya Ellie tanpa bisa menahan mulutnya.


"Hanya mengunjungi kenangan masa kecilku."


Ellie menunjuk dahan di atas mereka dengan kepala nya.


"Jadi ini pohon favoritmu?"


"Dulu aku sering memanjatnya bersama Macclesfield."


Ellie selesai memotong sepatu Charles dan meletakkan pisaunya.


"Robert?" tanya Ellie


Charles melihatnya dengan tatapa curiga, bahkan sedikit protektif.


"Kau memanggilnya dengan nama kecilnya? Dia baru saja menikah."


"Ya. Dengan kakakku."


"Dan bumi pun semakin mengecil," gumam charles "Senang bisa berkenalan denganmu."

__ADS_1


"Kau mungkin mau berpikir dua kali tentang itu." kata Ellie. Sepelan mungkin Ellie melepaskan sepatu bot itu dari kaki charles yang bengkak.


__ADS_2