
"Bahkan aku bisa mengendarai kereta dengan lebih baik," Ellie melanjutkan, berdiri dan menepuk-nepuk roknya. "Kuharap kau tidak merusakkan rodanya, Harganya mahal sekali, dan tukang roda di Bellfield lebih sering mabuk daripada sadar. Tentu saja kau selalu bisa pergi ke Faversham, tapi aku tidak akan menyarankan..."
Akhirnya Charles mengerang kesakitan, walaupun tidak yakin mana yang lebih menyakitkannya: rusuknya, kepalanya, atau mendengarkan ceramah Ellie.
Ellie langsung membungkuk, wajahnya terlihat khawatir. "Kau tidak apa-apa, kan?"
Charles berhasil melengkungkan bibirnya untuk memperlihatkan sedikit giginya, walaupun tidak bisa semua orang bisa menganggapnya sebagai senyuman.
"Tidak pernah merasa sebaik ini," erang Charles.
"Kau benar-benar terluka," seru Ellie, nadanya agak menuduh.
"Tidak terlalu banyak," Charles berusaha bangun. "Cuma tulang rusukku, punggung, dan juga..." Charles terbatuk keras.
"Ya, ampun," kata Ellie. "Aku menyesal sekali. Apakah kau benar-benar kesakitan karena aku tadi jatuh di atasmu?"
"Lumayan."
Ellie mengernyit sambil menyentuh dahi Charles. "Kau terdengar sakit. Apa kau merasa panas?"
"Ya ampun, Deliana, aku bukannya sedang demam."
Ellie menarik tangannya ke samping dan menggerutu, "Setidaknya kau belum kehilangan perbendaharaan kata-katamu yang luas."
"Kenapa," kata Charles, ia menghembuskan napas dengan desahan panjang seperti telah lama menderita, "Setiap berada di dekatmu, aku selalu terluka?"
__ADS_1
"Nanti dulu!" seru Ellie. "Ini bukan salahku. Yang memegang tali kekang bukan aku. Dan aku jelas-jelas tidak ada hubungannya dengan jatuhmu dari pohon."
Charles tidak mau repot-repot membalasnya, suara yang keluar dari mulutnya hanya berupa erangan karena ia berusaha untuk duduk.
"Setidaknya biarkan aku melihat lukamu," kata Ellie.
Charles melemparkan lirikan sinis ke arah Ellie.
"Baiklah!" bentak Ellie, berdiri sambil melempar tangannya ke udara. "Bantu dirimu sendiri, kalau begitu. Kuharap kau akan menikmati waktumu berjalan sampai rumah. Berapa... lima belas, dua puluh kilo?"
Charles menyentuh kepalanya yang mulai berdenyut-denyut.
"Pasti akan menjadi jalan-jalan yang menyenangkan," lanjut Ellie, "apalagi dengan pergelangan kakimu yang masih sakit."
meringankan rasa sakitnya. "Sepertinya kau punya bakat mendendam," geruru Charles.
"Aku orang yang paling tidak pernah memendam dendam," balas Ellie sambil mendengus. "Dan kalau kau berpikir yang sebaliknya, maka sebaiknya jangan menikah denganku."
"Kau akan menikah denganku," erang Charles, "walaupun aku harus menyeret dan menyumbat mulutmu."
Ellie tersenyum dengan sinis. "Kau bisa mencoba," tantangannya. "Tapi dengan keadaan sepertimu, rasanya lalat pun tidak akan bisa kau seret."
"Dan kau bilang kau bukan pendendam."
"Mungkin aku mulai bisa membiasakan diri."
__ADS_1
Charles meraih bagian belakang kepalanya yang terasa seperti sedang di tusuk-tusuk jarum panjang berkarat. Ia mengernyit dan berkata,
"Jangan katakan apa-apa lagi. Tidak satu kata pun. Tidak..." ia tersentak ketika merasakan sengatan rasa sakit lagi, "satu kata pun."
Ellie, yang sama sekali tidak tahu bahwa Charles sedang sakit kepala, mengartikan itu berarti Charles menganggap Ellie bodoh, ngawur, dan menyusahkan. Ellie menegakkan punggung, mengertakkan rahang, dan jarinya tanpa sadar menegang seakan siap mencakar. "Aku tidak pantas diperlakukan seperti ini," kata Ellie dengan nada angkuh. Lalu, dengan menambahkan, "Hmmmph," ia pun berbalik dan berjalan ke arah rumahnya.
Charles mengangkat kepalanya cukup tinggi untuk melihat kepergian Ellie, menghela napas, lalu pingsan.
"Dasar ular kecil," gerutu Ellie pada dirinya sendiri.
"Kalau dia pikir aku mau menikah dengannya sekarang... Dia bahkan lebih buruk daripada Mrs. Foxglove!" Ellie mengangkat alis matanya, memutuskan rasanya tidak adil berbohong pada dirinya sendiri, apalagi di usianya yang sudah dua puluh tiga. Lalu ia menambahkan, "Yah, hampir."
Ia terus berjalan beberapa langkah, lalu ketika melihat sesuatu yang berkilauan di tanah, ia pun membungkuk. Seperti semacam baut. Dipungutnya benda itu dan di amatinya benda itu di tangan, lalu menyelipkannya ke kantong. Ada anak laki-laki di jemaat ayahnya yang menyukai barang-barang seperti ini. Mungkin nanti akan Ellie berikan di waktu berikutnya ia pergi ke gereja.
Ellie menghela napas. Ia punya banyak waktu untuk memberikan baut itu pada Tommy Beechcombe. Sepertinya ia tidak akan pindah dari rumah ayahnya dalam waktu dekat. Bahkan mungkin sore ini ia sudah mulai bisa berlatih membersihkan cerobong.
Earl of Billington mungkin sudah memberi sedikit kegembiraan di hidupnya, tapi sekarang sudah jelas bahwa mereka tidak cocok satu sama lain. Tapi Ellie merasa agak bersalah meninggalkan pria itu berbaring di pinggir jalan. Bukannya Charles tidak patut menerimanya, tentu saja, tapu Ellie memang ingin bersikap selalu menolong, dan...
Ellie menggeleng dan memutar bola matanya ke atas. Menoleh sekali tidak akan menyakitinya. Hanya untuk melihat apakah pria itu baik-baik saja.
Ia menoleh ke belakang tapi menyadari bahwa ia sudah menuruni bukit sehingga tidak bisa melihat Charles lagi. Dihembuskannya napas dengan keras dan kembali melangkah mendekati tempat jatuhnya tadi.
'Ini bukan berarti kamu mulai peduli padanya," kata Ellie pada dirinya sendiri.
"Kau melakukan ini hanya karena kau adalah wanita yang baik dan terhormat, yang tidak menelantarkan orang, betapa pun orang itu sangat kasar, tidak bermoral..." Ellie tersenyum kecil, "ketika mereka tidak bisa menjaga... Ya. Tuhan!"
__ADS_1