
Charles barus sadar bahwa ia lupa menanyakan alamat Ellie, tapi ternyata tidak sulit menemukan rumah sang pendeta pembantu Bellfield. Ia mengetuk pintu tepat pukul satu siang dan terkejut ketika pintu tidak dibuka oleh Ellie, bukan juga ayahnya, tapi seorang wanita gemuk berambut hitam yang langsung memekik.
"Kau pasti sang earrrrrrrrrrrrrl."
"Kurasa begitu."
"Aku tidak bisa mengungkapkan betapa terhormat dan senangnya kami karena kau bersedia bergabung dengan keluarga kami yang sederhana."
Charles melirik ke dalam rumah itu, bertanya-tanya apakah ia salah alamat. Makhluk ini tidak mungkin bertalian keluarga dengan Ellie. Wanita itu meraih tangan Charles, tapi ia diselamatkan oleh suara di seberang ruangan yang terdengar seperti erangan kesal.
Ellie. Syukurlah.
"Mrs. Foxglove," ujar Ellie, suaranya sarat kekesalan. Cepat-cepat Ellie menghampiri mereka.
Ah, Mrs. Foxglove. Jadi ini rupanya tunangan sang reverend yang menyeramkan itu.
"Ah, ini dia putriku yang kusayangi," kata Mrs. Foxglove, berbalik ke arah Ellie sambil merentangkan tangannya.
Ellie menghindari wanita yang lebih tua itu dengan halus. "Mrs, Foxglove adalah calon ibu tiriku," kata Ellie dengan tajam. "Dia menghabiskan banyak sekali waktu di sini."
__ADS_1
Charles menahan senyum, berpikir bahwa Ellie bisa mengertakan giginya sampai hancur kalau ia terus memandang Mrs. Foxglove dengan cara seperti itu.
Mrs. Foxglove berbalik ke Charles dan berkata, "Ibu Deliana tersayang meninggal bertahun-tahun yang lalu. Aku senang sekali bisa menjadi ibu baginya."
Charles melirik Ellie yang sudah siap untuk meludahi calon ibu tirinya itu.
"Keretaku sudah siap di depan," kata Charles pelan. "Kurasa kita bisa piknik di padang rumput. Mungkin kita harus..."
"Aku punya lukisan ibuku," kata Ellie, melihat kearah Mrs. Foxglove walaupun ucapannya ditunjukkan untuk Charles. "Mungkin kau ingin melihat seperti apa dia."
"Ya, aku ingin melihatnya," jawab Charles. "Dan mungkin setelah itu kita bisa langsung berangkat."
Charles sebenarnya agak terkejut kerena mendapati Mr. Lyndon tidak ada di rumah. Cuma Tuhan yang tahu bahwa jika putrinya berencana menikah dalam waktu yang sangat singkat, ia pasti ingin melihat calon suaminya.
Charles tersenyum sendiri membayangkan hal itu. Menjadi orang tua sepertinya hal yang sama sekali asing.
"Ayahku akan tiba begitu kami kembali," kata Ellie. Ia berbalik ke arah Charles dan berkata, "Beliau sedang mengunjungi jemaatnya. Dan biasanya akan mengambil waktu yang lama."
Mrs. Foxglove terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi dihentikan oleh Ellie, yang melewatinya dengan kasar, dan langsung menunjukkan lukisan kecil itu ke arah Charles. "Ini ibuku." berkata pada Charles.
__ADS_1
Charles mengambil lukisan kecil itu dari tangan Ellie dan melihat seorang wanita berambut merah. "Cantik sekali," kata Charles pelan.
"Memang."
"Kulitnya agak gelap."
"Ya, kakakku Victoria lebih mirip dirinya. Ini..." Ellie menyentuh rambutnya yang merah keemasan yang lepas dari sanggulnya yang rapi, "adalah kejutan, kurasa."
Charles membungkuk untuk mencium tangan Ellie.
"Kejutan yang menyenangkan."
"Ya," kata Mrs. Foxglove dengan keras, jelas tidak suka karena merasa tidak dihiraukan. "Kami juga bingung apa yang harus kami lakukan dengan rambut Deliana."
"Aku tahu persis apa yang ingin kulakukan," gumam Charles, begitu pelan sehingga hanya Ellie yang bisa mendengarnya. Wajah Ellie langsung bersemu merah.
Charles menyeringai dan berkata, "Lebih baik kita pergi sekarang. Mrs. Foxglove, senang bertemu denganmu."
"Tapi aku baru..."
__ADS_1
"Ayo, Deliana." Charles meraih tangan Ellie dan menariknya ke arah pintu. Segera setelah mereka keluar cukup jauh dari jarak pendengaran Mrs. Foxglove, Charles tertawa ringan dan berkata, "Berhasil. kupikir dia tidak akan membiarkan kita pergi."