
"Maaf, tapi rasanya kaulah yang muncul di kehidupanku."
Charles terkekeh. "Apa aku sudah menyebutkan bahwa kau sangat lucu? Jadi kupikir, 'Ah, dia pasti akan sesuai dalam segala hal,' dan..."
"Kalau kau sedang berusaha untuk membujukku," sela Ellie tajam, "Kuberitahu, kau tidak berhasil."
"Sepertinya tidak begitu," kata Charles. "Sungguh, kaulah wanita pertama yang kurasa aku bisa tahan." Bukannya, pikir Charles, Ia akan mengabdikan seluruh hidupnya pada pasangannya. Ia tidak terlalu membutuhkan apa pun dari seorang istri kecuali namanya di surat nikah. Tapi tetap saja, kalau memang harus menghabiskan sebagian waktu dengan seorang istri, lebih baik memilih yang terbaik. Dan Miss Lyndon tampaknya memang sesuai dengan kriteria itu.
Dan, lanjut Charles dalam hati, pada akhirnya ia harus memiliki keturunan. Lebih baik mencari wanita yang cerdas. Ia ingin keturunannya berotak cemerlang. Charles mengamati Ellie lagi. Wanita itu menatapnya dengan curiga. Ya, wanita ini memang cerdas.
Ada sesuatu yang sangat menarik tentang wanita ini. Charles punya perasaan bahwa proses membuat keturunan itu akan sebaik hasilnya. Ia membungkuk pada Ellie dengan bersemangat sambil mencengkram sikunya untuk penyangga.
"Bagaimana, Miss Lyndon? Bisakah kita melakukannya?"
"Bisakah kita melakukannya?" Ellie bertanya tak percaya. Sungguh, ini sama sekali bukan jenis lamaran yang diinginkannya.
"Hmmm, aku ceroboh sekali. Sejujurnya, Miss Lyndon, kupikir bila seseorang sedang mencari seorang istri, wanita itu harusnya adalah orang yang disukainya. Kita harus menghabiskan waktu lebih banyak."
Ellie memandang Charles dengan tidak percaya. Semabuk apa pria ini? Ellie berdeham beberapa kali, berusaha untuk berbicara. Akhirnya tanpa pikir panjang, ia berkata, "Apa kau ingin mengatakan bahwa kau menyukaiku?"
Charles tersenyum menggoda. "Sangat."
"Aku harus berpikir lagi."
Charles memiringkan kepalanya. "Aku juga tidak mau menikah dengan seseorang yang mengambil keputusan seperti ini dengan cepat."
"Aku mungkin butuh beberapa hari."
"Kuharap tidak terlalu lama. Aku cuma punya lima belas hari sebelum sepupuku, Phillip, yang menyebalkan mulai menancapkan cakarnya di uangku."
"Aku ingatkan, jawabanku kemungkinan besar adalah tidak."
Charles diam. Ellie punya perasaan tidak enak bahwa pria ini sudah mulai berpikir siapa wanita selanjutnya bila Ellie menolaknya.
Setelah beberapa saat, Charles berkata. "Apa kau ingin aku mengantarmu pulang?"
__ADS_1
"Tidak perlu. Dari sini hanya beberapa menit. Kurasa kau bisa berjalan sendiri dari sini?"
Charles mengangguk. "Miss Lyndon."
Ellie membungkuk kecil. "Lord Billington." Lalu ia berbalik dan berjalan menjauh, menunggu sampai pria itu tidak bisa lagi melihatnya sebelum bersandar di dinding salah satu bangunan dan berucap tanpa suara, "Ya, Tuhan!"
Reverend Mr. Lyndon tak akan menerima sikap putrinya yang mengucap nama Tuhannya tanpa maksud apa-apa, tapi Ellie benar-benar masih takjub dengan lamaran Lord Billington sehingga ia masih terus bergumam, "Ya, Tuhan," ketika melewati pintu depan rumahnya.
"Tidak seharusnya seorang wanita muda berkata sepeti itu, walaupun ia sudah tidak muda lagi," ujar suara seorang wanita.
Ellie mengerang. Satu-satunya orang yang lebih parah setelah ayahnya bila menyinggung masalah moral adalah tunangan ayahnya, Sally Foxglove yang baru menjanda. Ellie tersenyum kaku sambil terus berjalan lurus ke arah kamarnya. "Mrs. Foxglove."
"Ayahmu tidak akan suka bila mendengar tentang ini."
Ellie mengerang lagi. Merasa terjebak, ia pun berbalik. "Tentang apa, Mrs. Foxglove?"
"Tentang perlakuan terhadap nama Tuhan kita yang tak kau pergunakan dengan semestinya." Mrs. Foxglove berdiri dan menyilangkan tangannya yang gemuk.
Ellie hampir saja mengingatkan wanita itu bahwa ia bukanlah ibunya dan sama sekali tidak berhak mengatur Ellie, tapi Ellie menahan lidahnya. Hidup tidak akan menjadi lebih mudah setelah ayahnya menikah. Tidak perlu membuatnya menjadi lebih parah dengan langsung memusuhi Mrs. Foxglove. Sambil menarik napas, Ellie mrletakkan tangan ke dada dengan bersikap pura-pura tak bersalah. "Apakah itu yang kau dengar?" tanya Ellie, membuat suaranya terdengar terpana.
"Memang apa yang sebenarnya kau katakan?"
Mrs. Foxglove menatapnya dengan pandangan jelas-jelas tidak percaya.
"Tadi aku sempat salah menilai, er, sesuatu," lanjut Ellie. "Aku masih tidak percaya aku sempat berpikir seperti itu. Karena itu aku berkata, 'Ah, ternyata,' karena, kau tahu, aku memikirkan sesuatu, dan jika saja aku tidak memikirkan hal itu, aku tidak akan melakukan kesalahan dengan logikaku."
Mrs. Foxglove telihat sangat bingung dengan penjelasan itu sehinggan Ellie ingin bersorak kegirangan.
"Yah, apa pun itu," ujar wanita yang lebih tua itu akhirnya, "perilaku aneh seperti itu tidak akan membuatmu mendapatkan suami."
"Bagaimana bisa beralih menjadi topik itu?" gerutu Ellie, merasa bahwa hari ini topik tentang pernikahan terlalu sering dibahas.
"Umurmu sudah dua puluh tiga," lanjut Mrs. Foxglove. "Lebih tepatnya, perawan tua, tapi kurasa kita bisa menemukan seorang pria yang bersedia mengambilmu."
Ellie mengabaikannya. "Apa ayahku ada di rumah?"
__ADS_1
"Dia sedang keluar melakukan kunjungan, dan memintaku tetap berada di sini untuk menerima anggota jemaat yang mungkin berkunjung."
"Dia membiarkanmu mengambil alih?"
"Aku akan menjadi istrinya dalam waktu dua bulan." Mrs. Foxglove mengusap dan merapikan roknya yang berwarna cokelat. "Aku punya posisi sosial yang harus kujaga."
Ellie menggumamkan kata-kata yang tidak jelas dengan pelan. Ia khawatir kalau ucapannya benar-benar jelas, ia akan berkata lebih buruk daripada menyebut nama Tuhan tanpa maksud apa-apa. Ellie menghela napas pelan dan berusaha untuk tersenyum. "Aku permisi dulu, Mrs. Foxglove. Aku merasa sangat lelah dan aku ingin beristirahat di kamarku."
Sebentuk tangan gemuk mendarat di bahu Ellie. "Nanti dulu, Deliana."
Ellie berbalik. Apa Mrs. Foxglove sedang mengancamnyam "Maaf?"
"Kita punya masalah yang harus di bicarakan. Kurasa sekarang adalah saat yang tepat. sementara ayahmu sedang tidak ada di rumah."
"Masalah apa kiranya yang tidak bisa kita bicarakan di depan papa?"
"Ini menyangkut posisimu di rumah tanggaku."
Mulut Ellie terbuka lebar. "posisiku di rumah tanggamu?"
"Ketika aku menikah dengan reverend yang baik, maka rumah ini akan menjadi rumahku, dan aku akan mengaturnya sesuai keinginanku."
Mendadak Ellie merasa mual.
"Jangan kau mengira kau bisa hidup seenaknya di bawah aturanku," ujar Mrs. Foxglove tanpa ampun.
Ellie tidak bergerak sama sekali, takut ia akan mencekik calon ibu tirinya itu.
"Kalau kau tidak menikah dan pergi, maka kau harus menunjukkan bahwa kau pantas hidup disini," kata Mrs. Foxglove
"Apa kau ingin aku mengatakan bahwa aku harus melakukan lebih dari apa yang telah aku lakukan disini?"
Ellie mengingat-ingat semua kewajiban yang selalu ia lakukan untuk ayah dan juga jemaatnya. Ia memasak untuk ayahnya tiga kali sehari. Ia memberi makan orang miskin. Ia bahkan menggosok kursi-kursi gereja. Tidak mungkin ada yang mengatakan bahwa ia tidak pantas tinggal di situ.
Tapi kelihatannya Mrs. Foxglove tidak tidak berpendapat sama, karena wanita itu memutar bola matanya lalu berkata, "Kau hidup dari belas kasihan ayahmu. Dia terlalu memanjakanmu."
__ADS_1
Mata Ellie membelalak. Satu hal yang tidak ada dari Reverend Mr. Lyndon adalah sikapnya yang suka memanjakan. Ayahnya itu bahkan pernah mengikat kakak perempuannya supaya tidak menikah dengan pria yang dicintainya. Ellie berdeham untuk meredam kemarahannya. "Apa persisnya yang kau ingin aku lakukan, Mrs. Foxglove?"
"Aku sudah memeriksa sekeliling rumah dan membuat daftar tugas."