
Happy reading 💕
Angin rindu mengingatkan aku padanya. Pada seorang Adam yang telah berhasil merebut hati. Seorang Adam yang padanya pernah aku gantungkan harapan serta impian indah tentang cinta, hingga terucap janji setia dari bibirku ini.
Hei .... Zidan Arfa Rasyidhan, apa kabarmu di sana? Apa kau merindukan aku, seperti aku yang selalu merindukan pertemuan denganmu?
Nayla tersenyum getir membaca untaian kata yang baru saja ditulisnya itu. Tanpa terasa, air bening yang sedari tadi menganak di kelopak mata turut mengiringi dan jatuh membasahi lembar buku harian berwarna biru.
"Zi, aku merindukanmu ...." Nayla berbisik dan sang bayu pun mendengarnya.
Tangis Nayla pecah tatkala sayup terdengar suara Zidan mengusik indera, diikuti bayang-bayang kenangan masa silam yang tiba-tiba menari di pelupuk mata dan memaksa Nayla memejamkan sepasang netra, mengenang masa indah yang pernah tertoreh di lembar hidupnya.
🍁🍁🍁🍁
Sudah hampir satu jam Nayla berjalan menembus kegelapan malam dengan hanya berbekal alas kaki dan pakaian yang dikenakannya saat ini.
Ia terus mengayun langkah tanpa tahu arah tujuan yang pasti.
Di sela-sela ayunan kakinya, Nayla bermonolog dan merutuki dirinya sendiri yang terlupa membawa gawai kesayangan.
"Sial! Dasar pikun, bodoh, ceroboh!" Nayla menendang kaleng minuman yang tergeletak di jalan dengan sekuat tenaga sebagai pelampiasan kekesalannya.
Kaleng minuman itu terbang dan sialnya mendarat cantik di kepala seorang pria yang sedang menikmati minuman syaiton bersama teman-temannya.
Pria itu bernama Duta. Bukan Bang Duta vokalis Sheila On 7, melainkan Duta Nirmolo Noto Boto Songo Pecah Sedoyo.
Aneh memang nama panjang si Duta. Tapi itulah nama yang diberikan oleh ibundanya sebagai pengingat momen disaat Duta akan terlahir ke dunia.
Ya, disaat Duta akan terlahir ke dunia, ibundanya tengah menata batu bata berjumlah sembilan di kebun terong. Dalam Bahasa Jawa, angka sembilan disebut sanga (songo).
Ketika tengah asik menata batu bata, tiba-tiba ibunda Duta merasakan kontraksi yang membuatnya teramat kesakitan.
Untuk melampiaskan rasa sakit yang sangat menyiksa, ibunda Duta berteriak sambil memecahkan batu bata yang baru saja ia tata.
Kembali ke alur cerita ....
Duta mengaduh sambil mengusap kepala botaknya yang benjol menyerupai bentuk bola bekel akibat sentuhan kasar kaleng yang ditendang oleh Nayla. Ia mengumpat dan mengabsen semua penghuni kebun binatang dengan berteriak.
Beruntung para penghuni kebun binatang tidak mendengar teriakan Duta. Andai mereka mendengarnya, mungkin mereka akan datang memenuhi panggilan Duta, bahkan meminta salam tempel atau uang angpao.
"Woey! Sapa yang udah berani ngelempar pala gua pake kaleng? Awas aja! Kalau lu cewe, gua bakal jadiin lu istri kelima. Tapi kalo lu laki, gua bakal gebugin lu tanpa ampun. Kalo perlu gue patahin kaki lu, biar lu kaga bisa jalan! Ben kapok kowe!" Duta melontarkan ancaman dengan bahasa Betawi dan bercampur bahasa Jawa.
Bukannya terdengar menakutkan, tetapi malah terdengar menggelikan di telinga semua makhluk sejagad halu karena Duta tidak bisa menanggalkan logat Jawanya yang medok. Bahkan sangat medok.
Duta beranjak dari posisi duduk, lalu mengedar pandangan ke segala arah sambil berkacak pinggang, mencari pelaku yang telah menjadikan kepala botaknya menyonyo (benjol).
"Itu noh orangnya, Bro!" Salah seorang teman Duta yang bernama Deni mengacungkan jari telunjuknya ke arah Nayla.
Sontak, Duta membuang pandangan netranya ke arah objek yang ditunjuk oleh Deni. Manik mata pria berkepala botak itu seketika berbinar disaat indera penglihatannya membentur wajah cantik seorang gadis yang tak lain adalah Nayla.
__ADS_1
"Wah, cantik bener calon jodoh gua! Cocok banget kalo dijadiin bini kelima." Duta bermonolog dan menarik salah satu sudut bibirnya. Ia lantas membawa langkahnya mendekat ke arah Nayla dengan tergesa.
"Oh, No! Nggak sudi aku kalo beneran dijadiin bini kelimanya si botak." Nayla bergidik ngeri. Terbayang olehnya jika pria berkepala botak yang tengah berjalan ke arahnya itu benar-benar menjadikannya sebagai istri kelima.
Sebelum Duta tiba di hadapan, Nayla segera melepas alas kaki, lalu berlari dengan sangat kencang tanpa menghiraukan teriakan Duta.
"Woey! Tunggu, Yang! Jangan lari!" pinta Duta pada Nayla. Ia memaksakan diri berlari mengejar Nayla meski kepalanya terasa sedut senut bercampur pening karena pengaruh minuman syaiton yang tadi dinikmatinya.
Sementara Deni dan teman-teman Duta yang lain, hanya menyaksikan sambil meneguk minuman syaiton yang masih tersisa.
Salah satu dari mereka bermonolog lirih dan merutuki Duta karena hanya menyisakan setengah botol minuman untuk keempat temannya.
"Kejar calon cewe lu, Bro! Pepet terus, jangan kasih doi kendor!" ujar Deni diiringi tawanya yang mengudara seraya memberikan semangat pada Duta.
Duta menanggapi ucapan Deni dengan menoleh sekilas sembari mengacungkan satu jempol tangannya diikuti lengkungan bibir yang membentuk senyuman. "Ogeh!" sahutnya mantap.
"Ya Tuhan, jangan biarkan si botak berhasil menangkap aku." Nayla berucap lirih sambil terus berlari.
Sial! Karena kurang berhati-hati dan tidak fokus melihat jalanan yang terbentang di depan, kaki Nayla tersandung batu hingga ia jatuh terjungkal.
Nayla mengaduh dan meringis. Kaki dan seluruh tubuhnya terasa sakit karena menghantam aspal.
"Gua bilang juga apa, Yang? Jangan lari! Lu sih, Yang. Kaga mau denger nasehat calon laki lu. Manut karo Kang Mas!" ucap Duta dengan melembutkan nada suaranya tanpa menghentikan ayunan kaki.
"Please, jangan mendekat!" pinta Nayla. Namun tidak diindahkan oleh Duta yang terus membawa langkahnya kian mendekat.
"Terima nasib lu, Yang! Lu udah ditakdirin jadi bini kelima gua. Dadi garwaku. Sigaraning nyawaku ingkang kaping lima."
"Nggak! Aku nggak sudi!"
Duta kembali menarik salah satu sudut bibirnya, lalu mengulurkan kedua tangannya untuk merengkuh tubuh Nayla.
Nayla pasrah, sebab ia merasa sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Untuk bangkit saja, Nayla sungguh tidak sanggup. Apalagi untuk melarikan diri dari pria berkepala botak yang berniat untuk menjadikannya sebagai istri kelima.
Ya, Tuhan. Kenapa nasibku sial banget. Kabur dari rumah karena nggak mau dijodohin, sekarang malah ketangkep suhunya buaya. Nayla berucap di dalam hati dan sekejap memejamkan sepasang netra indahnya.
Sebelum kedua tangan Duta berhasil merengkuh tubuh Nayla, tiba-tiba seseorang menarik kaus yang dikenakan oleh Duta dari belakang, lalu melemparnya dengan sangat kuat, hingga tubuh Duta masuk ke dalam truk pengangkut sampah.
"Brengse*!" Duta mengumpat. Ia berusaha bangkit dan turun dari truk. Namun sayang, roda truk pengangkut sampah itu mulai menggelinding dan membawa Duta menjauh dari Nayla.
"Bye, Botak!" Nayla melambaikan tangannya dan tersenyum lebar. Ia teramat lega sekaligus girang karena telah terlepas dari suhunya buaya--Duta Nirmolo Noto Boto Songo Pecah Sedoyo.
"Mbak." Suara lembut dan terdengar menyejukkan sukses membuat Nayla terdorong untuk menoleh ke arah asal suara.
"Oh, my God," ujar Nayla spontan.
Nayla terpana begitu ruang pandangnya dipenuhi oleh wajah rupawan pemuda yang telah menolongnya. Pemuda itu bernama Zidan. Seorang pemuda berparas tampan yang menjadi pujaan para gadis di negeri ini.
Atmosfer hening sesaat menyelimuti kedua insan. Hingga suara deheman berhasil memecahkannya. "Ehem." Zidan sengaja berdehem dan memutus tautan netra mereka berdua.
"Enggg. To-long ban-tu aku!" pinta Nayla ragu sambil mengulurkan kedua tangannya ke arah Zidan.
__ADS_1
Zidan mengangguk pelan dan merengkuh lengan Nayla yang terbalut kain. Kemudian dengan sangat hati-hati, ia membantu Nayla untuk bangkit.
"Terima kasih." Dua kata yang terlisan dari bibir Nayla setelah Zidan mendudukkannya di atas trotoar.
"Iya, Mbak." Zidan membalas ucapan Nayla dengan menundukkan pandangan.
"Aku Nayla. Siapa nama kamu?" Tanpa basa-basi Nayla memberanikan diri bertanya pada Zidan untuk memulai obrolan.
"Nama saya Zidan."
"Zidan? Zidan Ramadhan? Ustaz muda yang lagi naik daun dan digandrungi oleh para gadis?"
Zidan menanggapi deretan kalimat tanya yang dilontarkan oleh Nayla dengan menyungging seutas senyum diiringi gelengan kepala.
"Bukan," jawabnya singkat.
"Lalu, Zidan siapa?"
"Saya, Zidan Arfa Rasydhan."
"Owh. Nama kamu cakep banget. Secakep orangnya."
Zidan kembali menyungging seutas senyum saat mendengar kalimat pujian yang mengalir tanpa beban dari bibir Nayla. Ia merasa biasa saja dan sedikit pun tidak merasa berbangga hati, sebab sudah terbiasa mendengar kalimat pujian yang sama dari para gadis. Tentu saja para gadis yang mengagumi dan terpesona pada ketampanan wajahnya.
"Maaf, kalau boleh saya tahu, rumah Mbak Nayla di mana?" Zidan melontarkan tanya untuk mengalihkan pembicaraan.
"Buat apa kamu bertanya di mana rumahku?" Bukannya menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Zidan, Nayla malah balik bertanya.
"Saya akan mengantar Mbak Nayla pulang."
"Tapi sayangnya, aku nggak mau pulang."
Zidan menarik satu alisnya ke atas dan menatap sekilas wajah Nayla. "Kenapa, Mbak Nayla tidak mau pulang?" tanya-nya heran.
"Karena aku nggak mau dijodohin. Aku masih ingin bebas. Aku belum siap menikah. Aku belum siap jadi ibu rumah tangga yang capek ngurusin rumah dan nggak bisa bebas pergi ke mana pun." Nayla menjeda sejenak ucapannya, lalu membuang nafas dengan kasar.
"Kata temen-temenku yang udah berumah tangga, menikah itu nggak enak. Kami para wanita harus berdiam di rumah dan tunduk patuh pada perintah suami. Kami bagaikan seorang buda*. Sementara para suami seperti seorang raja," lanjutnya kemudian.
"Justru menikah itu enak. Laki-laki dan wanita yang sudah menikah insyaAllah akan terhindar dari perbuatan zina. Mereka bisa saling berbagi kasih sayang tanpa takut dosa, sebab sudah halal. Seorang suami yang baik bakal menjadikan istrinya sebagai seorang ratu dan memperlakukan wanita yang telah dinikahinya itu dengan penuh kelembutan, bukan seperti buda*. Dia akan mengawal dan menjaga istrinya, sehingga tidak akan ada pria lain yang berani bertindak kurang ajar terhadap istrinya. Seperti yang mungkin akan diperbuat oleh pria tadi terhadap Mbak Nayla," tutur Zidan. Lalu ia memperlihatkan sebaris senyum yang teramat manis, sehingga menjadikan ketampanannya kian bertambah dan berhasil membuat Nayla terpukau menatap keindahan Maha Karya Illahi yang saat ini tersuguh di hadapannya itu.
"Benarkah menikah itu enak?" Nayla melontarkan tanya tanpa mengalihkan indera penglihatannya yang masih intens menatap wajah Zidan.
"Ya. Asalkan kita menikah dengan pasangan yang tepat. Yang mengetahui serta memahami syariat agama."
"Kalau benar begitu, yuk kita nikah!"
Ucapan Nayla sukses membuat Zidan terkesiap. Pemuda tampan dengan segudang pesona itu melongo dan tak mampu mengucap sepatah kata pun karena saking terkejutnya.
Speechless ....
🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Bersambung .....
-Ayuwidia-