Elegi Cinta Nayla

Elegi Cinta Nayla
Bab. 10


__ADS_3


Happy reading 💕


Setelah Maria dan Sinta berlalu pergi, Rizal dan Rumi bergegas menyusul mereka.


Selain ingin segera bertemu dengan Nayla, kedua paruh baya itu teramat penasaran dengan pria yang dimaksud oleh Maria, sehingga mereka terdorong untuk segera menemuinya.


Rizal dan Rumi tiba di taman bertepatan dengan azan yang mulai dikumandangkan oleh Zidan.


Entah mengapa, hati mereka tergetar saat mendengar suara azan itu. Suara yang menyerukan asma Illahi. Suara yang mengajak semua makhluk untuk kembali menyembah Tuhan-nya, dan tentunya suara yang selama ini selalu mereka abaikan.


Rizal bergeming, begitu juga Rumi. Keduanya berdiri mematung sembari menyaksikan Nayla, Maria, dan para tamu mereka yang mulai menggelar sajadah di atas rerumputan taman dan bersiap menunaikan ibadah sholat zuhur berjamaah.


Seusai Zidan mengumandangkan iqamah, Kyai Hidayat memposisikan diri sebagai imam. Kemudian ia mengangkat kedua tangannya sembari melafazkan takbir. "Allahu Akbar."


Hati Rizal dan Rumi kembali tergetar saat mendengar takbir yang dilafazkan oleh Kyai Hidayat. Mereka terduduk di atas rerumputan, tanpa mengalihkan pandangan netra.


Tubuh Rizal bergetar hebat dan mengeluarkan keringat dingin saat Kyai Hidayat kembali melafazkan takbir pada rakaat kedua, sehingga membuat Rumi teramat khawatir.


"Papa. Papa kenapa?"


Rizal hanya bisa membalas pertanyaan yang terlontar dari bibir Rumi dengan menggeleng pelan. Bibirnya seolah terkunci, sehingga ia tidak bisa mengeluarkan suara meski sepatah kata pun.


"Pa. Papa kenapa? Tadi Papa baik-baik saja. Tapi kenapa sekarang bisa jadi seperti ini." Rumi menangis dan memeluk erat tubuh suaminya yang masih bergetar hebat.

__ADS_1


Tanpa menunggu titah dari Rumi, Sinta bergegas menelepon Dokter Ilham untuk segera datang ke mansion dan memeriksa keadaan tuannya. Sementara Sindi, ia segera membatu Rumi--membawa Rizal ke kamar dengan cara memapahnya.


Setelah melafazkan dua salam dan memanjatkan pinta, Nayla dan yang lainnya segera membawa tubuh mereka bangkit dari posisi duduk.


Mereka lantas berjalan menghampiri Sinta yang tengah berdiri di ambang pintu dengan wajahnya yang terlihat pucat.


"Sin, apa yang terjadi? Kenapa wajahmu pucat banget?" tanya Nayla.


"Tu-tuan --"


"Papa kenapa?"


"Tu-tuan pingsan. Ta-tadi sebelum pingsan, ba-badan Tuan bergetar hebat. Ke-keringat dinginnya juga keluar banyak. Sam-sampai ke-kemeja yang dipake Tuan basah." Sinta menjawab tanya yang dilisankan oleh Nayla dengan terbata.


"Nay, ayo kita temui papamu!" ucap Maria sambil menggamit lengan Nayla yang terbuka. Kemudian ia meminta maaf pada Zidan, Safa, Sadam, dan Kyai Hidayat, sebab ia dan Nayla harus meninggalkan mereka sebentar untuk menemui Rizal. Ia juga meminta para tamunya itu untuk berkenan menunggu di ruang tamu.


Maria lantas memandu Nayla untuk menaiki anak tangga menuju lantai dua. Tepatnya menuju kamar Rizal.


Setibanya di kamar Rizal, Maria melepas gamitan tangannya dan meminta Nayla untuk segera menghampiri Rizal yang baru saja siuman setelah diperiksa oleh Dokter Ilham.


"Nay --" Suara Rizal terdengar lirih. Ia mengulas senyum dan menyambut Nayla dengan merentangkan tangan.


"Papa --" Nayla mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang, lalu memeluk erat tubuh sang papa yang masih terlihat lemah.


Ingin rasanya Nayla menumpahkan titik-titik embun yang sedari tadi menganak di kelopak mata. Namun Nayla berusaha untuk menahannya, sebab ia tidak ingin terlihat cengeng di hadapan papanya.

__ADS_1


"Pa, apa yang terjadi? Kenapa Papa bisa pingsan?" Nayla berbisik seraya bertanya pada papanya.


"Papa tidak tahu, Nay. Tiba-tiba tubuh Papa bergetar hebat dan mengeluarkan keringat dingin saat Papa mendengar seseorang melafazkan asma Tuhan."


"Pa, mungkin saja Allah tengah memberikan hidayah pada Papa, supaya Papa menjadi hamba yang beriman dan bertaqwa. Hamba yang senantiasa menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya."


"Mung-mungkin saja, Nay. Tapi, Papa tidak tahu bagaimana caranya beribadah sesuai ajaran agama kita. Papa memang beragama Islam, tetapi Papa sama sekali tidak pernah menunaikan ibadah selayaknya seorang muslim."


Nayla merenggang pelukan dan mengulas senyum. Diraihnya jemari tangan Rizal, lalu dikecupnya dalam.


"Pa, Nayla pun sama seperti Papa. Nayla juga tidak pernah menunaikan ibadah yang selayaknya ditunaikan oleh seorang muslim. Tetapi mulai pagi tadi, Nayla memutuskan untuk berubah dan berbenah. Nayla ingin berhijrah, Pa. Nayla ingin menjadi seorang wanita saleha, seperti Ibunda Aisyah, Fatimah, Khadijah, dan Bibi Safa. Nayla juga ingin memantaskan diri, supaya Nayla bisa menjadi istri terbaik bagi Mas Zidan," tutur Nayla.


"Zidan? Siapa dia?" cecar Rizal diiringi tautan kedua pangkal alisnya.


"Mas Zidan ... dia pemuda yang telah menolong Nayla saat Nayla dikejar-kejar oleh pria hidung be-lang. Dia pemuda yang telah berhasil menjerat hati Nayla karena pesona dan kepribadiannya. Dia pemuda yang membuat Nayla memutuskan untuk berubah, berbenah, serta berhijrah. Dan dia .... pemuda yang Nayla idamkan menjadi calon suami Nayla, Pa."


Rizal sejenak bergeming. Ia dihinggapi oleh perasaan dilema setelah mendengar jawaban dan penuturan Nayla tentang Zidan.


Ya, Rizal dilema. Menggagalkan perjodohan Nayla dengan Jordan dan merestui putri semata wayangnya itu untuk menikah dengan Zidan--pemuda yang sama sekali belum dikenalnya, atau tetap memaksa Nayla untuk menerima perjodohan bisnis yang terlanjur ia sepakati bersama Jordan dan Adidaya--papa Jordan, pemilik perusahaan terbesar di kota ini.


🍁🍁🍁🍁


Bersambung ....


-Ayuwidia-

__ADS_1


__ADS_2