Elegi Cinta Nayla

Elegi Cinta Nayla
Bab. 14


__ADS_3


Happy reading 💕


Suara denting sendok dan garpu yang beradu di atas piring, mengiringi ritual makan siang keluarga Rizal dan para tamu.


Mereka tampak lahap dan teramat menikmati jamuan makan siang yang disajikan oleh dua maid kesayangan Nayla--Sinta dan Sindi.


Seusai menandaskan semua menu yang tersaji di atas meja, mereka berbincang santai diselingi candaan.


Nayla tampak bahagia, begitu juga Rizal dan Rumi. Bagi mereka, ritual makan siang kali ini merupakan ritual yang paling menyenangkan dalam hidup mereka.


"Kyai, kapan Mas Zidan mulai mengajari Papa sholat dan mengaji?" Nayla menyela perbincangan mereka dengan melontarkan tanya yang ditujukannya pada Kyai Hidayat.


"Kenapa Nak Nayla tidak bertanya langsung pada Zidan?" Bukannya menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Nayla, Kyai Hidayat malah balik bertanya diiringi senyuman yang terkembang.


"Saya nggak sanggup untuk bertanya langsung pada Mas Zidan, Kyai. Setiap menatap wajah Mas Zidan yang tampannya se Indonesia Raya, lidah saya terasa kelu dan jantung saya berdentum-dentum. Bibir saya terbungkam, sehingga saya tidak bisa berkata sepatah kata pun, apalagi berpatah-patah kata."


Rizal dan Rumi menggeleng kepala saat mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Nayla. Begitu juga Maria, Safa, dan Sadam. Mereka terlihat kompak menahan tawa yang hampir mengudara dengan mengulum bibir karena perkataan Nayla yang sukses menggelitik indera pendengaran.


Sementara Zidan, ia berusaha menahan diri agar kepalanya tidak membesar karena pujian Nayla yang ditujukan padanya. Tentu saja kata-kata pujian yang terkesan hiperbola.


"Ehem." Sadam menginterupsi dengan berdehem untuk mengalihkan atensi semua orang yang berada di ruangan itu.


"Nak Nayla, jangan terlalu berlebihan memuji Zidan. Kepala Zidan bisa membesar loh!" candanya.


"Nggak pa-pa kepala Mas Zidan membesar, Paman. Karena kenyataannya memang seperti itu. Jujur, saya teramat berharap, Mas Zidan klepek-klepek dan semakin cinta sama saya." Nayla menimpali candaan Sadam sembari melirik wajah Zidan.


Tanpa sengaja, sepasang netra Nayla dan Zidan saling bertaut, hingga membuat keduanya salang tingkah.


Andai Nayla bisa menanggalkan rasa malu, ingin rasanya ia berjingkrak-jingkrak dan salto karena saking salah tingkah nya. Tentu saja salah tingkah bercampur girang karena beradu tatap dengan pemuda idaman hatinya--Zidan Arfa Rasydhan.

__ADS_1


Berbeda dengan Nayla, Zidan segera mengalihkan wajah dan melafazkan istighfar di dalam hati. Lalu diraupnya udara dalam-dalam untuk menormalkan degup jantung yang dengan lancangnya berdentum.


"Maaf, saya harus segera pamit. Karena setelah ashar nanti, saya akan berangkat ke Solo," ujar Zidan setelah degup jantungnya kembali normal.


"Berangkat ke Solo? Untuk apa ke Solo, Mas? Naik apa ke sana dan sama siapa?" cecar Nayla. Ia menanggapi ucapan Zidan dengan melontarkan deretan kalimat tanya.


"Untuk mengunjungi pondok pesantren yang sedang saya bangun, Mbak," jawabnya disisipi sebaris senyum. Namun tanpa menatap wajah lawan bicara.


"Sebelum berangkat ke Solo, kamu harus memenuhi janjimu terlebih dahulu, Mas."


"Janji? Janji apa, Mbak?" Ucapan Nayla mendorong Zidan untuk bertanya pada gadis bernetra bening itu, diikuti tautan kedua pangkal alisnya. Zidan sungguh tidak ingat jika ia memiliki janji pada Nayla.


"Mas Zidan lupa atau cuma pura-pura lupa sih? Padahal yang ngucapin janji baru tadi pagi loh." Nayla mencebik. Ia merasa kesal bin sebal terhadap Zidan yang dianggapnya telah melupakan janji.


"Maaf, saya benar-benar lupa, Mbak."


"Coba diingat-ingat lagi, Mas!" titah Nayla.


Zidan pun berusaha mengingat-ingat janjinya pada Nayla dengan memejamkan sepasang netranya.


Perlahan Zidan membuka sepasang netranya dan menggeleng pelan. "Maaf, Mbak. Saya sungguh tidak ingat."


"Jahat banget kamu, Mas! Masa kamu nggak inget kalau hari ini ... kamu mau mengkhitbahku." Nayla memperdengarkan suara melow dan memasang wajah sedih, sehingga membuat Zidan merasa bersalah.


"Maaf, Mbak. Hari ini saya memang berencana untuk mengkhitbah Mbak Nayla, tapi --"


"Tapi kenapa, Mas?"


"Tapi, saya rasa waktunya belum tepat."


"Kenapa belum tepat?"

__ADS_1


"Karena Papa dan Mama Mbak Nayla butuh waktu terlebih dahulu untuk mengenal pribadi saya, supaya beliau berdua bisa menilai pantas atau tidaknya saya untuk menikahi Mbak Nayla," tutur Zidan seraya menjawab tanya.


"Zidan benar, Nay. Papa dan Mama butuh waktu untuk mengenal pribadi Zidan. Kami juga butuh waktu untuk meminta petunjuk kepada Allah dengan menunaikan sholat sunnah istikharah sebelum mengambil keputusan. Menerima dan merestui Zidan sebagai calon suami kamu atau tetap menjodohkan mu dengan Jordan. Terus terang, tidak mudah bagi kita untuk menggagalkan perjodohanmu dengan Jordan, karena kami terlanjur membuat kesepakatan dengan orang tua Jordan." Rumi turut membuka suara.


"Nay, kamu harus bisa bersabar. Jika Nak Zidan memang jodohmu, insyaallah kalian pasti dipersatukan dalam ridho dan halal-Nya. Namun jika kalian tidak berjodoh, baik kamu maupun Nak Zidan harus bisa menerima kehendak dan takdir yang sudah dituliskan oleh Sang Penulis Skenario Kehidupan. Yakin, bahwa apapun yang dikehendaki oleh Allah pastilah yang terbaik," tutur Maria.


"Iya, Nek. Tapi jika boleh meminta dan memaksa, Nayla pingin banget berjodoh sama Mas Zidan. Nayla nggak mau berjodoh dengan yang lain. Seandainya kami memang nggak berjodoh, Nayla tetap akan setia pada Mas Zidan. Nayla akan menunggu sampai Allah mengubah takdir cinta seperti yang Nayla inginkan."


"Mbak Nayla tidak boleh seperti itu. Mbak Nayla harus bisa menerima takdir yang telah digariskan oleh Allah dengan keikhlasan hati dan keridhoan. Seperti yang dituturkan oleh Nenek Maria, bahwa kehendak Allah adalah yang terbaik." Zidan menjeda sejenak ucapannya, lalu menerbitkan seutas senyum.


"Allah berfirman dalam kitab-Nya, "boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." Jadi, kita tidak perlu memaksakan kehendak. Jalani dan terima apapun yang telah digariskan oleh Allah. Jika kita tidak berjodoh, saya yakin ... Allah tengah menyiapkan jodoh yang lebih baik untuk Mbak Nayla. Namun jika kita memang berjodoh, insyaallah ... Allah akan memudahkan langkah kita dan menyingkirkan segala halangan yang menghadang. Boleh jadi saat ini Mbak Nayla membenci Jordan, padahal Jordan adalah sosok Adam yang terbaik untuk Mbak Nayla. Dan boleh jadi pula, Mbak Nayla menyukai saya, padahal saya bukanlah sosok Adam yang terbaik untuk Mbak Nayla," sambungnya.


"Mana ada lelaki breng-sek seperti Jordan jodoh yang terbaik untuk aku, Mas? Kalau memang iya, berarti aku teramat hina di hadapan-Nya --"


"Bukan seperti itu maksud saya, Mbak."


"Lantas apa, Mas?"


"Mungkin saja, kelak Jordan akan bertaubat dan mau berbenah. Meninggalkan segala yang haram dan tercela, lalu berhijrah menuju jalan yang lurus dan diridhoi oleh Allah. Bisa jadi, kelak Jordan akan lebih mengerti dan faham ilmu agama dari pada saya, Mbak. Sehingga, dialah yang pantas menjadi menjadi imam Mbak Nayla. Bukan saya. Wallahualam. Hanya Allah yang Maha Tahu."


Nayla terdiam. Entah mengapa ulu hatinya terasa sangat nyeri saat mendengar untaian kata yang mengalir deras dari bibir Zidan.


Terbayang olehnya jika benar Jordan-lah jodoh yang terbaik untuknya dan bukan Zidan.


Sungguh, Nayla tidak sanggup, karena hatinya terlanjut tertaut pada satu Adam--Zidan Arfa Rasydhan.


🍁🍁🍁🍁


Bersambung ....


Teruntuk Kakak-kakak terkasih, author minta maaf karena belum bisa UP rutin. Bukan hanya karena kesibukan author di RL yang cukup menyita waktu, tetapi karena badan author yang kurang sehat.

__ADS_1


Mohon doanya, semoga author bisa menyelesaikan kisah 'Elegi Cinta Nayla' sampai end.


Terima kasih dan banyak cinta untuk Kakak semua 😘🙏


__ADS_2