Elegi Cinta Nayla

Elegi Cinta Nayla
Bab. 9


__ADS_3


Happy reading 💕


"Ada yang ingin mama bicarakan dengan kalian," ucap Maria setibanya di ruang tamu. Ia lantas mendudukkan bobot tubuhnya di sofa berhadapan dengan putra dan menantunya--Rizal dan Rumi.


"Apa yang ingin Mama bicarakan dengan kami?" Rizal menanggapi ucapan Maria dengan ekspresi datar, tanpa seutas senyum pun menyertainya.


"Mama ingin membicarakan putri kalian--Nayla. Tepatnya mengenai perjodohan Nayla dengan Jordan."


Rizal memutar bola mata malas dan menghembus nafas kasar. Seolah ia sudah bisa menebak apa yang ingin dituturkan oleh Maria--wanita yang telah melahirkannya.


"Zal, urungkan niatmu! Jangan korbankan putri semata wayangmu hanya demi ambisi kalian! Kasihan Nayla. Dia berhak memilih pasangan hidupnya sendiri. Dia juga berhak hidup bahagia bersama pria yang dicintainya." Maria melembutkan nada suaranya.


"Nayla putri saya, Ma. Saya tahu segala hal yang terbaik untuk Nayla, termasuk pria yang pantas dan terbaik untuknya."


"Tidak, Zal. Kamu tidak tahu apapun yang terbaik untuk Nayla. Jika kamu tahu yang terbaik untuknya, kamu tidak akan memaksa putri semata wayangmu itu menerima perjodohan bisnis. Menjodohkan Nayla dengan seorang penjahat hanya karena ambisimu untuk mengembangkan sayap bisnis."


"Jordan bukan penjahat, Ma. Dia seorang pengusaha muda yang ulet dan sukses. Selain itu, dia juga pewaris tunggal perusahaan Adidaya. Perusahaan terbesar di kota ini."


"Kamu yakin, Jordan bukan penjahat?"


"Iya, saya sangat yakin. Jordan bukan penjahat seperti yang Mama dan Nayla tuduhkan, karena tidak mungkin pewaris tunggal perusahaan terbesar di kota ini seorang penjahat, apalagi seorang mafia ayam."

__ADS_1


"Tidak ada yang tidak mungkin, Zal. Lebih baik, kamu buktikan sendiri! Kamu utus orang-orang kepercayaanmu untuk mencari tahu bisnis yang dijalankan oleh Jordan. Jika Jordan terbukti sebagai seorang penjahat ataupun seorang mafia ... entah mafia apapun itu, maka kamu harus menggagalkan perjodohan antara Nayla dan Jordan. Tetapi jika tuduhan kami salah dan terbukti bahwa Jordan bukan seorang mafia, mama tidak akan menghalangi niatmu, menikahkan Nayla dengan pewaris tunggal perusahaan Adidaya. Kecuali jika Nayla nekat kabur ataupun menyiksa dirinya sendiri demi menggagalkan perjodohan itu. Karena mama sungguh tidak ingin kehilangan Nayla--cucu yang teramat mama sayang."


"Baiklah jika itu yang Mama inginkan. Jika Jordan terbukti sebagai seorang mafia, entah mafia ayam atau mafia apapun, saya berjanji akan menggagalkan perjodohan Nayla dengannya. Tetapi jika tuduhan Mama dan Nayla salah ataupun tidak terbukti, saya akan segera menikahkan mereka."


Maria menghela nafas dalam, lalu menghembuskannya perlahan sebelum kembali membuka suara.


"Zal, Mama ingin sedikit bercerita tentang masa lalu Mama dan Papa --"


"Mama tidak perlu menceritakannya, karena saya sudah tahu. Bahkan teramat tahu. Mama dan Papa menikah karena dijodohkan, seperti saya dan Rumi." Rizal menjeda sejenak ucapannya. Ia lantas melipat kedua tangannya di depan dada dan menyilangkan kaki kanannya di atas kaki kiri.


"Ma, perjodohan bisnis di keluarga kita sudah biasa dilakukan. Bahkan turun temurun. Mulai dari Kakek, Mama, saya, dan sekarang Nayla. Tinggal kita nya yang menerima dan menjalani. Kalau kita menerima dan mau menjalaninya tanpa merasa terpaksa, kita akan enjoy saja. Kita tidak bakal merasa sedih, tersiksa ataupun tertekan seperti yang mungkin Mama rasa selama berumah tangga dengan almarhum Papa."


"Zal, kamu bisa bicara seperti itu karena wanita yang dijodohkan dengan kamu adalah Rumi. Wanita yang kamu cinta sejak kalian masih duduk di bangku SMA. Berbeda dengan mama dan Nayla. Kami dijodohkan dengan pria yang sama sekali tidak kami cinta --"


"Kamu salah besar, Zal! Sangat salah! Karena tidak ada yang mustahil bagi seorang wanita yang bergelar anak sekaligus ibu." Maria memangkas ucapan Rizal dengan meninggikan intonasi suara. Ia tidak kuasa mengendalikan amarah karena perkataan putranya yang mengoyak ulu hati.


"Asal kamu tahu, Mama berusaha mempertahankan rumah tangga kami dan dengan setia mendampingi Papa sampai beliau meninggal, karena mama sangat menyayangi kamu dan kedua orang tua mama. Mama tidak ingin mengecewakan kakek dan nenekmu. Mama juga tidak ingin masa depanmu hancur, jika Mama nekat meninggalkan Papa. Mama memilih berteman dengan penderitaan, demi memperjuangkan hakmu sebagai penerus tahta Berlian Corp, bukan karena Mama mencintai Papamu. Sama sekali bukan."


Rizal bergeming. Ia berusaha mencerna rangkaian kata yang dituturkan oleh Maria.


"Coba kamu tanyakan pada Rumi! Bisakah dia berbagi suami dengan wanita lain? Sanggupkah dia mempertahankan rumah tangga yang tidak dilandasi dengan cinta dan ketulusan? Mampukah dia hidup bersama pria yang mewarnai hari-harinya dengan dera dan air mata, bahkan mendorongnya ke palung duka? Coba tanyakan pada istrimu itu! Coba tanyakan!"


Rizal tetap bergeming. Sisi hatinya serasa teriris saat mendengar perkataan Maria. Namun sisi hatinya yang lain masih enggan menerima perkataan wanita yang telah melahirkannya itu.

__ADS_1


"Ma, kendalikan emosi Mama! Jangan sampai Mama terkena stroke karena amarah Mama yang meluap-luap. Lebih baik Mama beristirahat di kamar. Bila perlu, saya akan menyuruh Sinta untuk mengantar Mama dan menemani Mama beristirahat," ucap Rumi dengan tutur katanya yang terdengar lembut tetapi nyelekit (menyakitkan hati), bukan malah menentramkan.


"Tidak perlu! Mama bisa sendiri. Mama akan meminta Nayla menemani Mama, bukan Sinta apalagi kamu!"


"Nayla? Apa Nayla sudah kembali, Ma? Di mana dia sekarang?" Rumi mencecar Maria dengan deretan kalimat tanya.


"Ya, Nayla sudah kembali. Cucu kesayanganku sudah kembali ke istana kalian dengan membawa pria yang dicintainya. Pria yang akan mengkhitbah Nayla dan menjadikannya kekasih halal."


"Apa?" Rizal menggebrak meja dan membawa tubuhnya bangkit dari posisi duduk. Ia teramat murka saat mendengar perkataan Maria.


"Zal, beri Nayla kesempatan untuk memperkenalkan pria yang dicintainya! Beri dia kesempatan untuk mengutarakan keinginannya! Jadilah seorang ayah yang bijaksana! Redam ego dan ambisimu! Redam juga amarahmu! Mama yakin, setelah kamu mengenal pria itu, kamu akan tahu ... siapa yang pantas dan terbaik untuk Nayla--putri semata wayangmu."


Seusai bertutur, Maria beranjak dari posisi duduk, lalu berjalan menghampiri Rizal.


"Bergegaslah ke taman! Temui Nayla dan para tamu spesial yang dibawanya." Maria berbisik tepat di telinga Rizal diiringi lengkungan kedua sudut bibirnya yang membentuk senyuman. Kemudian ia membawa langkahnya berlalu dari hadapan Rizal dan Rumi dengan diikuti oleh Sinta yang berjalan di belakangnya.


Seorang ibu akan berjuang membahagiakan anaknya, sekalipun dia harus mengorbankan kebahagiaannya. Dan seorang ibu akan mudah memaafkan, sekalipun lidah anaknya telah melukai hatinya.


🍁🍁🍁🍁


Bersambung .....


-Ayuwidia-

__ADS_1


__ADS_2