Elegi Cinta Nayla

Elegi Cinta Nayla
Bab. 8


__ADS_3


Happy reading 💕


Sambil menikmati kesegaran teh melati yang disajikan oleh Sindi, Maria tampak takzim mendengar cerita yang dituturkan oleh Nayla dan tanpa sekali pun menyela.


Sesekali ia mengangguk pelan dan menghela nafas dalam saat Nayla menuangkan keluh kesahnya.


Maria memahami apa yang tengah dirasa oleh Nayla, sebab ia pernah mengalami nasib yang sama dengan cucu kesayangannya itu.


Dahulu ketika masih berusia remaja, Maria dijodohkan oleh ayahnya dengan seorang pria yang sama sekali tidak ia cinta. Pria itu bernama Raymon, pewaris tunggal Berlian Corp.


Maria dipaksa dan diancam oleh ayahnya sendiri, sehingga ia pun pasrah dan dengan berat hati menerima perjodohan itu. Tepatnya perjodohan bisnis antara pemilik Berlian Corp dan Mahesa Corp, demi mengembangkan sayap bisnis kedua perusahaan.


Bukan kebahagiaan yang didapat oleh Maria setelah menikah dengan pria pilihan sang ayah, tetapi kesedihan dan lara hati.


Maria tidak menyangka, pria yang telah menikahinya itu ternyata memiliki lima istri siri dan hanya dia lah yang dinikahi secara sah, baik secara agama atau pun negara.


Bertahun-tahun Maria berteman dengan kesedihan. Bertahun-tahun pula ia menahan lara hati yang digoreskan oleh Raymon.


Maria berusaha mempertahankan bahtera rumah tangga yang telah dibangunnya bersama Raymon demi bakti pada sang ayah dan demi masa depan putra semata wayangnya--penerus tahta Berlian Corp, Rizal Nata Negara, yang tak lain adalah papa Nayla.


Setelah suaminya meninggal, Maria memutuskan untuk tinggal di Desa W. Ia menyerahkan mansion beserta perusahaan dan seluruh harta yang diwariskan oleh almarhum suaminya kepada Rizal--putra semata wayangnya.


"Nay, Nenek harus bicara dengan papa dan mamamu. Nenek sungguh tidak ingin jika papamu mengulang kesalahan yang pernah dilakukan oleh almarhum kakek buyutmu. Kamu berhak memilih calon suami sendiri, terlebih jika calon suamimu itu seperti Nak Zidan, pemuda yang bukan hanya berparas tampan, tetapi juga memahami syariat agama. Nenek teramat yakin, cucu kesayangan nenek tidak salah memilih calon suami. Insyaallah, Nak Zidan bisa membimbing mu menjadi seorang wanita saleha. Ia juga akan mencurahi-mu cinta yang dilandasi dengan ketulusan, sehingga rumah tangga kalian sakinah, mawadah, warahmah," tutur Maria seraya menanggapi keluh kesah Nayla.


"Makasih, Nek. Dari dulu, cuma Nenek yang bisa memahami Nayla. Cuma Nenek yang benar-benar sayang sama Nayla. I love you Grandma ...."

__ADS_1


Nayla melabuhkan kecupan dalam di pipi Maria, lalu menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan wanita sepuh yang teramat disayanginya itu.


"Love you too cucu kesayangan nenek." Maria memeluk erat tubuh Nayla dan menghujani pucuk kepala Nayla dengan kecupan.


"Sayang, nenek akan menemui papa dan mamamu sekarang," bisik Maria sembari merenggang pelukan.


"Iya, Nek. Tapi --" Nayla menggantung ucapannya, sehingga membuat Maria dihinggapi rasa penasaran.


"Tapi apa, Sayang?" tanya Maria disertai kerutan yang tercetak jelas di dahinya.


"Tapi, ada Jordan di ruang tamu, Nek. Apa nggak sebaiknya jika Nenek menunggu mafia ayam itu pergi?"


"Baiklah, Sayang. Kalau begitu, kita jamu dulu para tamu spesial kita. Kebetulan, tadi nenek memasak mie lethek, makanan khas Bantul yang sering nenek nikmati selama tinggal di Desa W."


"Mie lethek? Mie apa itu, Nek?"


"Uniknya bagaimana, Nek?"


"Uniknya, cara produksi mie lethek masih menggunakan tenaga sapi, Nay. Besok kalau kita ke Jogja, nenek akan mengajakmu berkunjung ke Desa Srandakan Bantul untuk melihat proses produksi mie lethek. Nenek juga akan mengajakmu ke Desa W dan mengenalkan-mu pada sahabat nenek--Uti Kirana, Istri Comel Akung Abimana."


"Bener ya, Nek."


"Insyaallah, Sayang," balas Maria sambil mengacak pelan rikma Nayla. Kemudian ia meminta Sindi agar segera mengambil mie lethek hasil olahan tangannya untuk menjamu para tamu.


Sindi pun bergegas menunaikan permintaan Maria. Ia mengambil mie lethek yang disimpan oleh Maria di atas meja makan, lalu membawanya ke taman dan menyajikannya di gazebo--tempat Nayla, Maria, Zidan, Safa, Sadam, dan Kyai Hidayat duduk sambil berbincang.


Nayla tampak lahap menyantap mie lethek. Begitu juga Zidan, Safa, Sadam, dan Kyai Hidayat.

__ADS_1


Meski warnanya kusam, tetapi cita rasa mie lethek olahan tangan Maria sukses membuat semua orang yang menyantapnya ketagihan.


Tepat setelah Nayla dan yang lainnya menandaskan mie lethek, Sinta berjalan ke arah mereka dengan tergesa.


Ia lantas menghampiri Nayla dan memberi tahu bahwa Jordan sudah pergi.


"Baiklah, aku akan menemui papa dan mama sekarang," ucap Nayla sambil beranjak dari posisi duduk.


"Nay, duduklah kembali! Biarkan nenek yang menemui papa dan mamamu. Seperti yang nenek katakan tadi, nenek harus bicara dengan mereka. Nenek akan menyuruh papamu untuk mengurungkan niatnya. Nenek sungguh tidak setuju dengan perjodohan bisnis yang direncanakan oleh papamu dan orang tua Jordan." Maria menginterupsi dan membawa tubuhnya bangkit dari posisi duduk.


"Temani Nak Zidan, Pak Sadam, Bu Safa, dan Kyai Hidayat. Perlakukan tamu kita dengan baik dan jangan meninggalkan mereka sedetik pun," sambungnya.


"Baik, Nek. Nayla berharap, Nenek segera kembali dengan membawa kabar baik untuk Nayla dan Mas Zidan."


"Nenek juga berharap demikian, Nay." Maria mengerjapkan netra dan melabuhkan tepukan pelan di pundak Nayla.


Seusai berpamitan dengan para tamu, Maria mengayun langkah--meninggalkan taman dengan ditemani Sinta. Ia berharap, Rizal mau mendengar wejangan yang ingin dituturkannya. Ia juga berharap putranya itu berkenan untuk menggagalkan perjodohan antara Nayla dengan Jordan.


🍁🍁🍁🍁


Bersambung .....


Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo.


Terima kasih untuk Kakak terkasih yang sudah berkenan mengikuti kisah 'Elegi Cinta Nayla'. 🥰🙏


-Ayuwidia-

__ADS_1


__ADS_2