
Happy reading 💕
Teriakan Nayla sukses menghentikan ayunan langkah Zidan.
Zidan yang semula tak acuh, terdorong untuk segera memutar tubuhnya dan berjalan menghampiri Nayla.
"Mas, aku ta-takut itu --" ucap Nayla terbata sembari mengacungkan jari telunjuknya ke arah katak hijau yang tengah berjongkok sambil memainkan li-dahnya yang panjang.
Zidan mengerutkan dahi dan menggulirkan pandangannya ke arah objek yang ditunjuk oleh Nayla. Ia heran, kenapa katak hijau yang terlihat lucu dan menggemaskan baginya itu bisa membuat Nayla sangat ketakutan.
Seolah mengerti apa yang tersirat di dalam hati Zidan, Nayla pun lantas kembali membuka suara. Ia menceritakan kejadian yang menyebabkannya teramat takut pada 'katak', terutama katak hijau. "Mas aku takut banget sama katak hijau, karena du-dulu aku pernah menginjak seekor katak hijau sampai gepeng dan kedua matanya meloncat."
Zidan bergidik ngeri saat mendengar cerita Nayla. Tak terbayang jika dirinya yang mengalami kejadian itu. Tidak menutup kemungkinan, ia pun akan sama seperti Nayla yang teramat takut pada makhluk bernama katak.
"Mas, tolong usir katak itu!" pinta Nayla disertai gerakan dagunya--menunjuk katak yang masih setia berjongkok di hadapannya.
Zidan pun mengiyakan permintaan Nayla. Ia berusaha menangkap katak yang membuat Nayla ketakutan, hanya dengan tangan kosong.
Bukannya tertangkap, katak hijau itu malah meloncat, lalu bertengger di atas kepala Nayla.
Sontak, Nayla berteriak histeris karena ketakutannya kian menjadi dan membuat Zidan merasa bersalah.
"Mbak Nay, maaf." Zidan berucap lirih. Ia berusaha menenangkan Nayla dan dengan sangat hati-hati menggiring katak yang tengah asyik bertengger di kepala Nayla, agar meloncat dan turun dari kepala gadis itu.
Teriakan Nayla yang sangat keras terdengar oleh Sadam dan Safa, sehingga kedua paruh baya itu bergegas mengayun langkah--keluar dari dapur.
Rupanya bukan hanya Sadam dan Safa yang mendengar teriakan Nayla, tetapi Kyai Hidayat yang sedang melintas di depan rumah Sadam pun turut mendengarnya.
Karena khawatir terjadi sesuatu pada Nayla, Sadam beserta istrinya bergegas menghampiri Nayla dan Zidan.
Sama seperti mereka berdua, Kyai Hidayat pun bergegas menghampiri Zidan dan Nayla yang tengah berdiri dengan saling berhadapan dan hampir tak berjarak.
"Zidan! Apa yang kamu lakukan terhadap gadis itu?" Kyai Hidayat memperdengarkan suara baritonnya, hingga membuat Zidan sangat terkejut.
__ADS_1
"Kyai ...," ucap Zidan sembari menoleh ke arah asal suara. Perlahan ia memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Kyai Hidayat.
"Apa yang kamu lakukan terhadap gadis itu?" Kyai Hidayat mengulangi pertanyaan yang sama dan menatap Zidan dengan tatapan tajam.
Zidan menyadari bahwa Kyai Hidayat telah salah faham terhadapnya dan meyakini bahwa gurunya itu kini tengah murka.
"Kyai, maafkan saya. Tadi, saya hanya berusaha mengusir katak yang bertengger di kepala Mbak Nayla," ucap Zidan berterus terang seraya menjawab tanya yang dilontarkan oleh Kyai Hidayat.
"Benarkah? Lantas, kenapa Nak Nayla berteriak histeris?"
"Karena --"
"Huwaaaaaa, katak itu datang lagi, Mas."
Nayla kembali berteriak, sehingga ucapan yang ingin dilisankan oleh Zidan terpangkas.
Bukan hanya berteriak, Nayla pun meloncat ke atas sofa karena katak yang tadi berhasil digiring oleh Zidan kembali masuk ke dalam rumah dan meloncat menghampirinya.
Mungkin katak itu terpesona pada kecantikan Nayla. Namun sayang, kehadirannya malah membuat Nayla ketakutan.
Melihat Nayla yang kembali ketakutan, Zidan pun bergegas menggiring katak hijau itu ke sawah yang berada tidak jauh dari rumah Sadam.
Setelah menyaksikan sendiri ketakutan Nayla, Kyai Hidayat meyakini bahwa Zidan sama sekali tidak berdusta. Ia juga meyakini bahwa memang katak hijau-lah yang membuat Nayla berteriak histeris, bukan kelakuan Zidan yang mungkin saja bertentangan dengan norma agama.
Setelah kehebohan yang terjadi di ruang tamu mereda, Safa meminta Kyai Hidayat untuk turut serta menikmati menu sarapan pagi yang telah tersaji di meja makan.
🍁🍁🍁
Suasana di ruang makan tampak hening. Namun sesekali suasana hening itu terpecahkan oleh suara sendok dan garpu yang saling beradu di atas piring.
Safa, Sadam, Zidan, dan Kyai Hidayat terlihat sangat lahap menyantap semua makanan hasil olahan tangan Nayla, sehingga membuat Nayla merasa teramat senang dan berbangga hati.
"Bagaimana rasa sup kembang waru, tempe goreng, dan sambalnya, Kyai? Saya lho yang masak. Tapi dipandu oleh chef hebat, Bibi Safa," ucap Nayla seusai menandaskan makanannya.
Kyai Hidayat menanggapi ucapan Nayla dengan menerbitkan senyum dan mengangkat dua jari jempolnya. "Masakan Nak Nayla mantul. Mantap betul. Sebelas dua belas dengan masakan Fatimah, putri saya."
__ADS_1
"Eng, pasti putri Kyai sangat cantik, pandai memasak, dan tentunya saleha. Kriteria wanita idaman bagi semua pemuda saleh. Mungkin salah satu diantaranya ... Mas Zidan --" Nayla menundukkan kepala untuk menutupi raut wajahnya yang berubah muram. Entah mengapa segumpal daging yang bersemayam di dalam da-da berdenyut nyeri saat membicarakan tentang Fatimah--putri Kyai Hidayat.
"Alhamdulillah, Fatimah memang dikaruniai paras cantik. Ia juga pandai memasak dan saleha. Tetapi Nak Nayla sama cantiknya dengan putri saya." Kyai Hidayat menjeda sejenak ucapannya dan mengulas seutas senyum.
"Nak, Allah menganugerahi semua wanita dengan kecantikan dan kelebihan. Seperti Fatimah, Nak Nayla pun juga pandai memasak dan insyaallah saleha. Saya yakin, pasti banyak pemuda saleh yang ingin menjadikan Nak Nayla sebagai kekasih halal," sambungnya.
"Saya masih jauh dari kata saleha, Kyai. Saya tengah berbenah dan masih harus banyak belajar tentang ilmu agama. Jadi, tidak mungkin jika para pemuda saleh menginginkan saya sebagai kekasih halal, terutama Mas Zidan."
"Siapa bilang saya tidak menginginkan Mbak Nayla sebagai kekasih halal?" Zidan menginterupsi dengan nada bicaranya yang tenang, tetapi sukses membuat jantung Nayla berdenyut merdu.
Nayla menengadahkan wajah dan menatap Zidan. Ia sungguh tidak percaya dengan kata-kata yang baru saja diucapkan oleh pemuda idaman hatinya itu.
"Mas, tadi ... kamu ngomong apa? A-aku nggak salah dengar 'kan?"
Zidan mengulas senyum dan mengangguk pelan. "Tentu saja Mbak Nayla tidak salah dengar."
"Jadi, Mas Zidan mau menjadikan aku sebagai kekasih halal?"
"Ya, dengan senang hati saya bersedia menjadikan Mbak Nayla sebagai kekasih halal, asalkan kedua orang tua Mbak Nayla berkenan menerima saya sebagai calon menantu."
"Alhamdulillah, makasih Mas. Aku sangat berharap, Allah berkenan meluluhkan hati papa dan mama, supaya mereka mau menggagalkan perjodohanku dengan Jordan dan menerima Mas Zidan sebagai calon menantu."
"Aamiin yaa Allah." Zidan mengamini ucapan Nayla. Begitu juga Sadam, Safa, dan Kyai Hidayat.
Hari ini merupakan hari yang teramat membahagiakan bagi Nayla. Ia sungguh berharap, Illahi menggariskan Zidan sebagai jodohnya. Jodoh di dunia dan akhirat.
Nayla juga berharap, kisah cinta mereka akan tertulis indah di lembar kitab-Nya dan kelak berakhir bahagia. Bukan seperti kisah cinta Romeo dan Juliet, ataupun kisah cinta Sampek dan Engtay yang berakhir tragis.
🍁🍁🍁🍁
Bersambung ....
Assalamu'alaikum Kakak-kakak terkasih. Apa kabarnya? Mohon maaf, author baru kembali menulis setelah berbulan-bulan hibernasiiii.
Semoga Kakak-kakak terkasih masih berkenan mendukung author untuk berkarya dengan meramaikan kisah cinta Zidan dan Nayla di 'Elegi Cinta Nayla'.
__ADS_1
Sampai berjumpa lagi di bab berikutnya. Terima kasih dan peluk kangen dari author Ayuwidia. 😘
Wassalamu'alaikum ....