
Happy reading 💕
Jika suatu malam kamu melihat seseorang berbuat dosa, keesokan harinya jangan memandangnya sebagai orang yang berdosa, mungkin saja pada malam harinya dia telah bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat, dan taubatnya itu diterima oleh Allah. Berkaca lah, mungkin saja dosamu lebih besar bila dibandingkan dosa orang itu.
🍁🍁🍁
"Nak Rizal, lebih baik Nak Rizal memohon petunjuk kepada Allah sebelum mengambil keputusan. Menerima Zidan sebagai calon menantu, atau tetap menjodohkan Nak Nayla dengan Nak Jordan. Sebagai seorang ayah, hendaknya Nak Rizal lebih bijaksana. Jangan sampai Nak Rizal menyesal jika mengambil keputusan yang ternyata salah dan malah menjerumuskan Nak Nayla ke palung duka." Kyai Hidayat memecah hening yang sejenak menyelimuti seisi ruang dengan kembali memberi wejangan.
Rizal menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. "Iya, Kyai," balasnya singkat.
"Sebenarnya, saya juga seorang pendosa, Kyai. Bahkan mungkin, dosa yang pernah saya lakukan lebih besar bila dibandingkan dengan dosa yang pernah dilakukan oleh Zidan. Tetapi sebagai seorang ayah, saya ingin yang terbaik untuk putri saya. Saya tidak ingin putri saya menikah dengan seorang mantan pendosa yang bisa saja khilaf dan mengulangi perbuatan dosanya lagi."
"Nak, berbaik sangka lah pada Zidan. Doakan, semoga Zidan senantiasa istiqomah. Jika Nak Rizal tetap ragu menerima Zidan sebagai calon menantu, Nak Rizal bisa meminta petunjuk pada Allah dengan menunaikan sholat sunnah istikharah."
"Sholat sunnah istikharah? Sholat apa itu, Kyai?"
"Nak Rizal, sholat istikharah adalah sholat sunnah yang sangat dianjurkan ketika seorang hamba mengalami situasi di mana ia dihadapkan pada pilihan yang berat untuk ditentukan. Sholat istikharah bertujuan untuk meminta petunjuk kepada Allah agar diberikan pilihan yang tepat tanpa adanya keraguan," tutur Kyai Hidayat disertai seutas senyum seraya menjawab deretan kalimat tanya yang dilontarkan oleh Rizal.
"Bagaimana cara mengerjakannya, Kyai? Terus terang, saya belum pernah menunaikan ibadah apapun, termasuk menunaikan sholat wajib ataupun sholat sunnah."
"Jika Nak Rizal tidak keberatan, saya akan meminta Zidan untuk memandu Nak Rizal. Zidan akan mengajari Nak Rizal, tata cara menunaikan ibadah sholat. Baik sholat fardhu maupun sholat sunnah. Zidan juga akan mengenalkan Nak Rizal pada Al Qur'an, kitab yang menjadi pedoman hidup kita."
"Bisakah Kyai saja yang memandu saya?"
"Maaf, Nak Rizal. Untuk saat ini sampai beberapa hari ke depan, saya belum bisa. Sebab ada hal penting yang mesti saya selesaikan dengan segera."
Rizal sekejap terdiam. Kentara sekali ia tengah dirundung dilema, karena ia teramat enggan jika Zidan yang memandunya.
"Bagaimana, Nak Rizal? Nak Rizal tidak keberatan 'kan jika dipandu oleh Zidan?"
"Iya, Kyai. Saya tidak keberatan," jawabnya--pasrah.
"Alhamdulillah," ucap Kyai Hidayat sembari mengembangkan senyum.
__ADS_1
"Kyai, kenapa Kyai tidak bertanya dulu pada Zidan? Mungkin saja Zidan keberatan memandu saya."
Kyai Hidayat kembali mengembangkan senyum dan menepuk pelan pundak Rizal. "Tanpa ditanya pun, saya yakin Zidan tidak akan keberatan. Terlebih yang akan dipandunya adalah orang tua dari Nayla. Gadis yang ingin dijadikannya sebagai kekasih halal. Benar 'kan, Zi?"
Zidan menerbitkan senyum dan mengangguk pelan. "Benar, Kyai," jawabnya mantap dan sukses membuat Nayla tersipu malu, sehingga wajah gadis berparas cantik itu terlihat memerah seperti tomat yang tengah masak.
"Alhamdulillah Yaa Allah. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Makasih, Papa. Makasih, Mas Zidan," ucap Nayla.
Tanpa aba-aba, Nayla memeluk erat tubuh Rizal dan menghujani wajah papanya itu dengan kecupan. "Makasih banget, Pa," bisiknya diiringi lengkungan bibir yang membentuk senyuman dan binar mata yang menyiratkan rasa bahagia.
Hati Rizal terenyuh ketika sepasang netranya menatap raut wajah Nayla. Selama ini, ia belum pernah mendapati raut wajah sang putri yang menyiratkan rasa bahagia, seperti yang terlukis saat ini.
"Iya, Sayang." Rizal mengulas senyum dan membalas pelukan Nayla, lalu dihirupnya aroma tubuh sang putri sembari sejenak memejamkan netra.
Damai. Ya, Rizal merasa damai. Seolah ia tidak rela jika melepas pelukan putri semata wayangnya. Darah daging yang tercipta karena ikatan cinta antara ia dan Rumi--wanita tercantik sejagad jiwa yang merajai hatinya sedari SMA hingga saat ini dan sampai akhir nanti. Insyaallah.
"Nay, Papa terus yang dicium dan dipeluk. mama juga mau ... tau'." Rumi merajuk dan menekuk wajahnya.
Nayla seketika melerai pelukan saat mendengar suara Rumi merajuk, begitu juga Rizal.
"Sini Nayla peluk!" lanjutnya--merayu.
"Emoh!" Rumi mencebik.
"Sini lah, Ma! Kita bertiga saling berpeluk."
"Emoh!" Lagi-lagi Rumi mencebik.
"Mama Sayang, ayo kita berpelukan!" Nayla menarik lengan Rumi dan membawanya ke dalam pelukan. Ia hujani wajah wanita yang telah melahirkannya itu dengan kecupan sayang.
Sama seperti Rizal, Rumi pun merasa damai ketika berada di dalam pelukan putrinya. Ia merasa teramat disayang saat Nayla menghujani wajahnya dengan kecupan.
Andai waktu bisa bergulir kembali, Rumi ingin kembali ke masa lalu. Masa disaat Nayla masih kecil dan teramat membutuhkan curahan kasih sayang dari kedua orang tuanya, ia dan Rizal.
"Ma, ayo kita berhijrah dan berbenah, karena kita tidak tahu ... kapan malaikat utusan Allah akan menjemput kita dan membawa kita meninggalkan dunia yang fana ini." Nayla berbisik dan kian mengeratkan pelukan.
__ADS_1
Hati Rumi tergetar kala mendengar bisikan Nayla. Perasaan takut tiba-tiba hadir dan mendekapnya erat.
"Nay, jangan bicara tentang malaikat! Mama benar-benar takut."
"Kenapa Mama takut?" tanyanya diiringi seutas senyum.
"Ya, karena Mama takut bertemu dengan mereka, Nay. Mama belum siap meninggalkan dunia ini, karena Mama masih bergelimang dosa. Mama tidak pantas masuk ke dalam surga-Nya, tetapi Mama juga tidak sanggup bila harus berada di neraka."
"Manusiawi jika Mama takut bertemu dengan para malaikat utusan-Nya. Manusiawi juga jika Mama belum siap meninggalkan dunia ini. Maka dari itu, ayo kita berhijrah dan berbenah, Ma."
Nayla merenggang pelukan dan menatap intens wajah Rumi. "Ma, Bibi Safa bilang, kita harus membekali diri sebelum pulang ke alam akhirat, kampung halaman kita."
"Apa saja bekal yang kita butuhkan, Nay?"
"Iman dan taqwa, Ma."
Nayla lantas menoleh ke arah Safa. Ia meminta Safa untuk menjelaskan arti iman dan taqwa pada Rumi-mamanya.
Dengan senang hati, Safa menuruti permintaan Nayla. Ia jelaskan arti iman dan taqwa dengan lugas, sehingga mudah difahami oleh Rumi.
"Iman adalah keyakinan bulat yang dibenarkan oleh hati, diikrarkan oleh lidah, dan dimanifestasikan dengan amalan atau pembenaran dengan penuh keyakinan, tanpa adanya sedikit pun keraguan mengenai ajaran yang datang dari Allah SWT dan Rasulullah SAW. Sedangkan taqwa memiliki arti ... mematuhi semua perintah serta menjauhi segala larangan Allah SWT," terang Rumi.
"Lantas, bagaimana kita bisa memupuk dan menjaga keimanan dalam hati kita? Bagaimana kita mengetahui apa saja yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah? Jawabnya ... dengan mengaji. Kita berteman dan berkumpul dengan orang-orang saleh! Kita timba ilmu agama, supaya kita tidak salah langkah dan tersesat," imbuhnya.
🍁🍁🍁🍁
"Esensi dari takwa adalah membuat perisai yang melindungi diri dari murka dan siksa Allah. Perisai tersebut yaitu dengan mematuhi segala perintah-Nya dan menjauhkan diri dari larangan-Nya." - Ibn Rajab
Bersambung .....
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan berupa like, komen, atau pun vote. Syukur-syukur ada yang berkenan menghibahkan koin, supaya author nya semakin melek dan bersemangat untuk selalu berkarya. 😉
Terima kasih untuk Kakak-kakak terkasih yang setia mengawal kisah 'Elegi Cinta Nayla'. Peluk online dan love se kebon 😘🙏
-Ayuwidia-
__ADS_1