
Happy reading 💕
Langit di pagi ini tampak cerah, secerah wajah Nayla. Gadis yang tengah berbahagia karena Zidan menerimanya sebagai calon istri.
Seusai menunaikan ibadah sholat sunah Dhuha, Zidan mengantar Nayla pulang ke rumah kedua orang tuanya dengan ditemani oleh Safa, Sadam, dan Kyai Hidayat.
Zidan bermaksud untuk berkenalan dengan kedua orang tua Nayla, sekaligus mengkhitbah gadis yang menasbihkan diri sebagai calon istrinya itu.
Setelah melewati perjalanan selama satu jam, mereka tiba di depan rumah mewah milik kedua orang tua Nayla. Rumah mewah itu berdiri kokoh dan sangat megah selayaknya istana dan sepatutnya disebut mansion.
Kedatangan mereka disambut oleh salah seorang security yang bertugas menjaga pintu gerbang. Sebut saja ia Fauzi, karena pada seragamnya tergantung name tag bertuliskan Fauzi Badalah.
Fauzi menyapa Sadam dengan nada bicaranya yang terdengar sopan. Kemudian ia bertanya pada Sadam, mengenai tujuan kedatangan mereka ke mansion milik tuannya.
Sebelum Sadam sempat menjelaskan tujuan mereka, Nayla membuka kaca mobil dan menampakkan diri, sehingga membuat Fauzi terkesiap.
Berulang kali Fauzi mengusap kedua matanya, sebab ia tidak percaya dengan objek yang ditangkap oleh indera penglihatannya saat ini.
"Buka gerbangnya!" titah Nayla. Namun Fauzi tidak segera menunaikan perintah Nayla dan malah melongo. Ia masih tidak percaya, jika yang dilihatnya itu adalah Nayla, putri semata wayang tuannya.
Nayla berdecak kesal, karena Fauzi tidak segera membuka pintu gerbang dan malah melongo--seperti orang yang tengah melihat makhluk tak kasat mata.
"Buka gerbangnya!" Nayla kembali melontarkan perintah dengan meninggikan intonasi suara, hingga membuat Fauzi terlonjak karena saking kagetnya.
"I-iya, No-nona. Sa-saya akan segera membukanya," ucap Fauzi terbata.
Fauzi bergegas membuka pintu gerbang dan mempersilahkan Sadam untuk membawa mobil yang dikendarainya masuk ke dalam.
__ADS_1
Setelah mengucap kata terima kasih yang ia tujukan pada Fauzi, Sadam mulai melajukan mobilnya memasuki pintu gerbang.
"Masyaallah ...." Safa bergumam--memuji asma Illahi ketika indera penglihatannya menangkap pemandangan indah yang tersuguh di halaman mansion.
Di halaman mansion itu terdapat kolam yang cukup besar dan di tengahnya dihiasi bunga teratai yang mengambang indah. Di sekeliling kolam ditumbuhi rumput-rumput hijau dan berbagai macam bunga yang nampak sedap dipandang.
Setelah Nayla, Zidan, Sadam, Safa, dan Kyai Hidayat turun dari mobil, mereka disambut oleh dua maid yang masih sangat belia dan berparas manis. Kedua maid itu adalah Sinta dan Sindi.
Sepasang netra Sinta dan Sindi nampak berbinar saat mereka melihat Nayla--sang nona muda yang semalam menghilang dari mansion.
"Nona Nayla --" pita suara Sindi tercekat. Ia tak kuasa menahan rasa haru yang memenuhi relung kalbu ketika tanpa aba-aba Nayla memeluknya.
"Syukurlah Nona Nayla kembali ke mansion." Sama seperti Sindi, relung kalbu Sinta pun dipenuhi oleh rasa haru saat Nayla berganti memeluknya.
"Sin, papa dan mama ada di rumah?" Nayla bertanya pada Sinta sembari melepas pelukannya.
"Eng, Tuan dan Nyonya ada di ruang tamu --"
"Ja-jangan, Nona! A-ada Tu-tuan Jordan di sana."
"Jordan?" Nayla kembali melontarkan tanya diiringi tautan kedua pangkal alisnya.
"I-iya, Nona."
"Ngapain mafia ayam itu datang ke sini?"
"Eng ... mungkin Tuan Jordan ingin membicarakan perjodohannya dengan Nona Nayla."
"Ck, bener-bener manusia ter nyebelin sejagad halu."
__ADS_1
"Lebih baik Nona Nayla membawa tamu-tamu Nona ke taman. Saya akan memberi tahu Nona jika Tuan Jordan sudah pergi."
"Hmm, baiklah. Segera beri tahu aku begitu mafia ayam itu pergi!"
"Baik, Nona. Saya permisi dulu."
"Heem. Pergilah!" Nayla menanggapi ucapan Sinta dengan mengerjapkan netra dan mempersilahkannya untuk pergi.
Sebelum berlalu dari hadapan Nayla, Sinta membungkukkan sedikit tubuhnya sebagai penghormatan pada sang nona.
Sepersekian detik selepas Sinta pergi, Sindi memandu Nayla, Zidan, Safa, Sadam, dan Kyai Hidayat berjalan menuju ke taman yang berada di belakang rumah. Namun sebelum mereka sampai di taman, seseorang memanggil Nayla.
"Nay, tunggu!" pinta orang itu dengan suara khasnya yang sedikit serak.
Nayla pun refleks menoleh ke arah asal suara. Begitu juga Sindi, Zidan, Safa, Sadam, dan Kyai Hidayat.
Begitu terkejutnya Nayla saat wajah si pemilik suara memenuhi ruang pandang. Rupanya, si pemilik suara itu adalah Maria--nenek yang teramat dirindukan oleh Nayla.
"Nenek ...." Pita suara Nayla tercekat. Ada rasa yang dengan lancangnya memenuhi ruang kalbu dan seolah menyumbat tenggorokan, sehingga ia tidak bisa melanjutkan untaian kata yang ingin dilisankan-nya.
Sama seperti Nayla, pita suara Maria pun tercekat, sehingga ia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Maria menatap Nayla dengan tatapan yang menyiratkan rasa rindu, diiringi sebaris senyum yang terbit menghiasi wajah renta-nya.
Kemudian dengan perlahan ia ulurkan kedua tangannya yang bergetar untuk merengkuh tubuh Nayla. Lalu dipeluknya erat tubuh Nayla seiring kecupan dalam yang ia labuhkan di pucuk kepala cucu kesayangannya itu--Nayla Arunnika.
🍁🍁🍁🍁
Bersambung .....
__ADS_1
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo 🙏
-Ayuwidia-