
Happy reading 💕
"Jangan pergi!" pinta Nayla dengan suaranya yang terdengar lirih. Namun terdengar oleh Zidan, sehingga pemuda berparas tampan itu menghentikan ayunan tungkainya tanpa menoleh sedikit pun ke arah si pemilik suara.
"Apa kamu tega ninggalin aku di sini, Mas? Apa kamu nggak khawatir kalau ada pria hidung belang yang gangguin aku lagi?"
Suara mellow yang diperdengarkan oleh Nayla memaksa Zidan untuk merotasikan tubuhnya hingga menghadap ke arah Nayla.
Zidan meraup udara dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Disematkannya seutas senyum tipis sebelum ia membalas ucapan Nayla.
"Mbak Nayla tidak perlu khawatir. Paman dan Bibi saya akan mengantar Mbak Nayla pulang ke rumah. Insya Allah Mbak Nayla akan lebih aman dan nyaman jika berada di sisi kedua orang tua Mbak Nayla," tutur Zidan. Tentu saja dengan menundukkan pandangan.
"Tadi 'kan aku udah bilang, aku nggak mau pulang ke rumah, karena aku nggak mau dijodohin. Sebenernya, Mas Zidan pura-pura lupa atau memang anemia sih?" Nayla melipat kedua tangannya di depan dada dan memasang raut wajah sendu bercampur kesal. Disaat serius, bisa-bisanya ia berbicara asal dan membuat indera pendengaran semua orang yang berada di tempat itu tergelitik.
Zidan berusaha menahan tawa dengan mengulum bibir saat mendengar kata 'anemia' yang meluncur tanpa beban dari bibir Nayla.
Begitu juga Sadam, Safa, Deni, Dude, Dwiki, dan Danu. Mereka pun berusaha menahan tawa dengan mengulum bibir.
Sayang, karena tak kuasa menahan tawa yang hampir terlepas, tanpa sengaja Dwiki menghembuskan gas beracun yang sangat dasyat.
Suara gas beracun yang dihembuskan oleh Dwiki memekakkan telinga dan menguarkan aroma khas pete, sehingga membuat semua orang yang berada di tempat itu seketika menjepit hidung mereka masing-masing, terkecuali Dude.
Bukannya menjepit hidungnya, Dude malah menghirup dalam-dalam aroma gas beracun yang dihembuskan oleh Dwiki, sebab ia sangat menyukai pete, terlebih aromanya yang khas.
"Dasar manusia pete! Kalo mo buang gas tuch nyingkir dulu di sonoh!" ujar Deni sambil menempeleng kepala Dwiki.
"Beuh, gue kaga sengaja, Bro! Lagian ya, gas yang ada di dalem perut ntu kaga boleh ditahan biar kaga jadi penyakit." Dwiki membalas ucapan Deni dan berganti menempeleng sahabatnya itu.
"Lu berani nempeleng gue?!" Deni tersulut emosi. Ia mencengkram krah kemeja yang dikenakan oleh Dwiki dan melayangkan tatapan menghunus.
"Ya iyalah. Apa yang patut gue takutin dari elu?"
"Kurang aja*!" Deni berdecih dan bersiap menghadiahi pipi Dwiki dengan bogem mentah.
Zidan tidak tinggal diam. Ia bergegas mengayun langkah, lalu berdiri di antara Deni dan Dwiki untuk melerai kedua pria yang berstatus sebagai muridnya itu.
"Kalian berdua sudah dewasa. Semestinya tidak perlu meributkan hal sepele apalagi sampai berkelahi. Bagaimana kalian bisa menjadi pribadi yang disegani oleh banyak orang jika masih bertingkah seperti seorang anak kecil?" Zidan berucap dengan intonasi rendah. Namun penuh penekanan disertai tatapan tajam, sehingga Deni dan Dwiki tidak memiliki keberanian untuk membantah. Terlebih mereka teringat jurus tendangan maut yang dimiliki oleh Zidan.
Terbayang oleh mereka jika membantah perkataan Sang Guru. Besar kemungkinan, tubuh mereka akan diterbangkan dengan jurus tendangan maut.
Zidan tersenyum tipis, lalu menepuk pelan pundak Deni dan Dwiki. "Belajar bersabar jika kalian tetap ingin menjadi murid saya!" tuturnya yang kemudian dibalas anggukan oleh kedua muridnya itu.
"Iya, Guru. Kami akan belajar untuk bersabar," ucap Deni dan Dwiki hampir bersamaan.
"Gue ama temen-temen bakal tetep jadiin elu sebagai guru kami, meski masa lalu lu berlumur dosa, Guru. Gue juga bakal ngikutin jalan hijrah lu. Sama kaya' elu, gue ama temen-temen juga pendosa yang pingin banget berubah jadi orang baek. Gue yakin, pertemuan kita ini kaga kebetulan, tapi udah digariskan ama Sang Penulis Skenario."
Rangkaian kalimat yang mengalir tulus dari bibir Deni membuat Zidan terenyuh hingga netranya berkaca-kaca.
__ADS_1
"Makasih, Brother." Zidan merengkuh tubuh Deni dan memberikan pelukan singkat.
"Yoi, Brother." Deni menarik kedua sudut bibirnya dan membalas pelukan Zidan.
"Mulai detik ini, jangan memanggil saya dengan sebutan 'Guru'! Karena saya lebih nyaman jika kalian memanggil saya dengan sebutan 'Brother'. Supaya kita bisa lebih akrab dan tidak berjarak."
"Tapi --"
"Tidak ada kata 'tapi' jika kalian masih ingin belajar ilmu beladiri dari saya."
"Baiklah, Brother." Deni menyetujui ucapan Zidan diikuti senyumnya yang terkembang.
"Ehem." Nayla menginterupsi dengan berdehem untuk mengalihkan atensi semua orang yang berada di tempat itu, khususnya atensi Zidan.
"Sumpah, nggak enak banget dikacangin," sarkasnya sambil melirik Zidan.
"Em, maaf." Zidan menanggapi ucapan Nayla dan mengalihkan fokusnya pada gadis bernetra bening itu.
"Bukan maksud saya untuk tidak mengacuhkan Mbak Nayla. Lebih baik, Mbak Nayla segera pulang ke rumah dan berterus terang pada kedua orang tua Mbak Nayla. Sampaikan pada mereka bahwa Mbak Nayla tidak bersedia untuk dijodohkan --"
"Ck, aku sudah bilang berulang kali. Tapi Papa dan Mama tetep aja memaksa. Mau nggak mau, suka nggak suka, aku harus menikah sama Jordan. Mereka nggak percaya kalau si Jordan itu sebenarnya mafi-a," tukas Nayla seraya memangkas ucapan Zidan.
"Mafia?" Zidan menarik salah satu alisnya ke atas dan menatap sekilas wajah Nayla.
"Iya, Mafia. Mafia ayam --"
"Hah, nama sekeren ntu cuma jadi mafia ayam?" Dude memangkas ucapan Nayla. Ia yang sedari tadi hanya menyimak obrolan Nayla dan Zidan terdorong untuk melontarkan pertanyaan setelah mendengar ucapan Nayla yang menyatakan bahwa Jordan--pria yang ingin dijodohkan dengannya adalah seorang mafia ayam.
"Emang pantesnya jadi mafia apa?" Bukannya menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Dude, Nayla malah balik bertanya.
"Ya pantesnya jadi mafia senja-ta tajam, atau kalo kagak ya jadi mafia obat ma-bok. Minimal ntu-lah, biar kerenan dikit."
"Mana ada mafia keren? Ngadi-ngadi aja lu, Dud!" Danu menyahut celotehan Dude sambil menjitak pelan kepala sahabatnya itu. Namun Dude tidak terima. Ia lantas membalasnya dengan menempeleng kepala Danu.
Zidan yang menyaksikan tingkah kedua muridnya itu hanya menghela nafas dalam dan menggeleng pelan. Ia semakin yakin bahwa usia bukanlah patokan kedewasaan seseorang.
Tanpa mengacuhkan Dude dan Danu yang masih saling menjitak dan menempeleng, Zidan melirik mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangannya yang saat ini menunjukkan pukul sebelas malam.
"Sudah pukul sebelas malam, lebih baik kalian segera pulang ke rumah! Jika ada waktu senggang, berkunjunglah ke rumah Paman Sadam," tutur Zidan pada keempat muridnya--4D (Deni, Dwiki, Danu, dan Dude).
"Tapi Guru, gue maunya tinggal ama Guru dan ikut ke manapun Guru pergi. Kaya' Sun go kong ama temen-temennya yang selalu setia nemenin Biksu Tong." Dwiki menimpali perkataan Zidan dengan memperdengarkan suara mellow sembari memeras kelopak netranya.
Ji-jayyyy bin lebay--ujar Nayla di dalam hati saat ia mendengar ucapan Dwiki yang terkesan lebay baginya.
Zidan menyungging seutas senyum, lalu menepuk pelan pundak Dwiki, "maaf, untuk saat ini saya belum bisa mengizinkan kamu dan yang lainnya ikut bersama saya, karena saya hanya menumpang di rumah Paman Sadam dan Bibi Safa. Insya Allah jika pondok pesantren yang saya bangun sudah berdiri, kalian bisa ikut dan tinggal bersama saya, Brother."
"Apa? Jadi, Mas Zidan ... membangun pondok pesantren?" Nayla menimpali perkataan Zidan dan menatapnya dengan netra berbinar.
Ia semakin salut sekaligus bangga pada Zidan begitu mengetahui bahwa pemuda berparas tampan yang sukses membuatnya jatuh hati itu tengah membangun pesantren.
__ADS_1
"Woahhh, kamu bener-bener keren lho, Mas. Aku semakin yakin, seorang Nayla Arunnika nggak salah memilih calon suami. Meskipun kamu mantan pendosa, tapi kamu bertobat dan berusaha berbenah, Mas. Bahkan, kamu membuktikan kesungguhanmu dengan mendirikan pondok pesantren."
"Sama seperti Nona cantik. Gue juga salut dan bangga ama elu, Bro." Deni menyahut ucapan Nayla diiringi lengkungan bibir dan tepukan pelan yang berlabuh di bahu Zidan.
"Terima kasih. Doakan saya, semoga senantiasa Istiqomah dan kelak husnul khatimah ketika kembali ke hadapan-Nya."
Ucapan Zidan di-amini oleh Nayla, Deni, dan semua orang yang berada di tempat itu.
Bahkan alam dan langit pun seolah turut mengamini dengan memperdengarkan suara gelegar petir, diikuti rintik gerimis yang jatuh membasahi bumi.
"Hujan." Nayla berucap lirih dan sekejap menengadahkan wajah, menatap langit yang kian terlihat pekat.
"Aku mohon, bawa aku bersamamu, Mas. Ijinkan aku bermalam di rumah Paman dan Bibi. Setidaknya untuk malam ini saja. Besok pagi, antarkan aku pulang ke rumah untuk meminta restu pada Papa dan Mama, supaya mereka mau membatalkan perjodohanku dengan Jordan dan mengizinkan kita untuk menikah," sambungnya.
Zidan sejenak terdiam. Kentara sekali ia tengah berpikir.
"Le, kita bawa Nak Nayla pulang ke rumah. Bibi mengizinkan Nak Nayla untuk bermalam di rumah kita. Seperti ucapan Nak Nayla, besok pagi kita antarkan Nak Nayla pulang ke rumah kedua orang tuanya." Safa membuka suara. Ia bertutur dengan nada suara yang teramat lembut.
Zidan menghembus nafas pelan dan mengalihkan pandangan netranya ke arah Safa, bibi yang sudah dianggapnya sebagai ibunya sendiri. Wanita yang memiliki hati nan lembut dan mampu membuatnya tersadar dari khilaf serta dosa besar yang pernah ia perbuat.
"Baiklah, Bi. Kita bawa Mbak Nayla pulang ke rumah. Tapi --" Zidan menggantung ucapannya, sehingga membuat Safa bertanya heran.
"Tapi apa, Le?"
"Tapi, untuk malam ini saya tidak bisa tidur di rumah Paman dan Bibi."
"Lalu, kamu mau tidur di mana?"
"Saya bisa tidur di serambi masjid, Bi. Atau menginap semalam di asrama milik Kyai Hidayat."
Safa menarik kedua sudut bibirnya ke atas dan mengerjapkan sepasang kelopak netranya. "Baiklah, Le. Jangan lupa, bawa sarung kesayanganmu supaya tidurmu nyaman!"
"Iya, Bi." Zidan mengangguk dan menerbitkan sebaris senyum.
"Kenapa, Mas Zidan nggak tidur di rumah Paman dan Bibi aja? Kenapa malah mau tidur di serambi masjid atau bermalam di asrama milik orang lain?" Nayla mencecar Zidan dengan deretan kalimat tanya.
Namun sebelum Zidan memberi jawaban, terdengar bunyi gelegar petir yang memekakkan telinga diiringi hembusan angin yang memporak porandakan dedaunan dan menumbangkan ranting-ranting pohon.
"Mbak Nayla, segeralah masuk ke dalam mobil Paman Sadam!" titah Zidan yang tidak bisa dibantah oleh Nayla.
Nayla mengangguk pelan. Kemudian ia masuk ke dalam mobil dan duduk bersebelahan dengan Safa yang telah terlebih dahulu mendaratkan bobot tubuhnya di jok bagian belakang.
Sementara Zidan, ia bersiap menggeber sepeda motor kesayangannya setelah berhasil membujuk Deni, Dude, Danu, dan Dwiki untuk segera pulang ke rumah mereka masing-masing.
Zidan melajukan sepeda motornya di bawah derasnya air langit yang tumpah ke bumi sambil bertasbih memuji Sang Maha Kasih dan melafazkan doa. "Subhaanalladzii yusabbihur ro'du bihamdihi wal malaaikatu min khiifatih. Maha Suci Allah yang dengan memuji-Nya bertasbihlah halilintar dan juga para malaikat karena takut kepada-Nya.”
🍁🍁🍁🍁
Bersambung ....
__ADS_1
-Ayuwidia-