
Happy reading 💕
"Yuk kita nikah!" Nayla mengulangi ucapannya dan kian menatap lekat wajah tampan Zidan. Tersirat kesungguhan pada raut wajahnya dan di tatapan netra beningnya.
"Aku yakin, kamu pasti mau," sambungnya dengan kepercayaan diri tingkat bidadari.
"Mau apa?" Zidan menanggapi ucapan Nayla dengan berpura-pura lemot, meski sebenarnya ia sangat faham dengan maksud ucapan gadis yang baru dikenalnya itu.
"Ya Illah! Kura-kura dalam perahu! Aku yakin, bahkan teramat sangat yakin, kamu cuma berpura-pura lemot 'kan! Seolah kamu nggak ngeh --"
"Memangnya, Mbak Nayla tadi berkata apa?" Zidan memangkas ucapan Nayla dan tanpa sedikit pun menatap wajah gadis yang menjadi lawan bicaranya itu.
Nayla berdecak, lalu menghembus nafas kasar. Ia tampak kesal bin sebal pada Zidan yang kentara sekali tengah pura-pura ber-mode lemot.
"Ya mau nikah sama aku lah, Massssss," lanjutnya sewot. Intonasi suaranya yang sedikit meninggi sukses membuat burung hantu yang tengah bersantai di ranting terhentak kaget, hingga hampir terjatuh ke tanah.
"Kenapa, Mbak Nayla bisa yakin bahwa saya bersedia menikah dengan Mbak Nayla?" Zidan kembali melontarkan tanya.
"Karena aku cantik." Nayla menjawab singkat, tetapi penuh kepercayaan diri. Ia lantas menerbitkan senyum dan memasang wajah puppy eyes, sehingga wajah gadis berusia dua puluh satu tahun itu tampak menggemaskan dan sukses mendorong Zidan untuk mencuri tatap ke arahnya.
Astaghfirullah. Seketika Zidan melafazkan istighfar di dalam hati dan mengalihkan indera penglihatannya ke arah pohon besar yang berdiri gagah tidak jauh dari tempatnya berada saat ini.
Tanpa sengaja sepasang netranya membentur sosok berpakaian putih yang tengah duduk di atas ranting pohon dan tampak melempar senyum ke arahnya.
Entah siapa sosok itu. Zidan tidak tahu dan tidak mau tahu.
"Mbak Nayla, cantik saja belum cukup untuk dinikahi oleh seorang pria, khususnya pria muslim," ucapnya kemudian diikuti helaan nafas pelan.
"Maksud kamu?" Nayla menarik satu alisnya ke atas. Ia tampak sewot saat mendengar perkataan Zidan.
"Rasulullah SAW bersabda, "Wanita dinikahi karena empat perkara. Yaitu karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau akan beruntung.” Jadi, kecantikan bukan merupakan pilihan utama bagi seorang pria untuk menikahi seorang wanita, karena kecantikan bisa luntur ataupun layu seiring bergulirnya waktu. Sementara wanita yang taat beragama, maka ia akan menjadi bidadari dunia bagi suaminya dan madrasah bagi putra-putri yang dilahirkannya kelak."
Nayla terdiam. Ia merasa tertohok dengan untaian kata yang diucapkan oleh Zidan.
Selama ini Nayla mengira, semua kaum Adam tertarik padanya dan berlomba-lomba ingin menikahinya karena kecantikan wajahnya, serta harta yang dimiliki oleh kedua orang tuanya.
Namun ternyata dua hal itu tidak berlaku bagi seorang pria muslim, khususnya Zidan--pemuda berparas tampan yang mampu membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama.
Mereka lebih memilih wanita yang taat beragama dari pada wanita berparas cantik dan bergelimang harta.
"Apa yang menjadi alasan Mbak Nayla, sehingga Mbak Nayla ingin mengajak saya untuk menikah?" Zidan memecah hening yang sejenak menyelimuti keduanya dengan melontarkan tanya.
"Karena aku yakin, kamu pasangan yang tepat untuk aku." Nayla menjawab lirih. Namun tak tersirat setitik pun keraguan dari nada bicaranya.
__ADS_1
"Apa yang membuat Mbak Nayla yakin?"
"Karena dari tutur katamu menyiratkan bahwa kamu mengerti dan memahami syariat agama. Bukankah tadi kamu bilang, menikah itu enak asalkan kita menikah dengan pasangan yang tepat. Yang mengetahui serta memahami syariat agama --"
Zidan menarik kedua sudut bibirnya hingga terlukis senyuman yang tampak indah di wajah tampannya.
"Ya, tadi saya memang berkata seperti itu. Tapi, kita baru beberapa detik berkenalan. Bahkan, Mbak Nayla belum tahu siapa saya sebenarnya --"
"Kalau begitu, beritahu aku siapa kamu sebenarnya!"
"Saya akan memberitahu Mbak Nayla, tetapi tidak di sini."
"Lalu, di mana?"
"Di rumah Mbak Nayla atau di rumah paman saya."
"Baiklah, ayo kita ke rumah pamanmu!"
"Heem. Sebentar, saya hubungi paman dan bibi dulu --"
"Untuk apa menghubungi paman dan bibimu? Toh kita mau ke rumah mereka." Nayla menyahut ucapan Zidan.
"Saya ingin meminta paman dan bibi untuk menyusul kita."
"Maaf, saya tidak bisa."
"Kenapa nggak bisa?" Nayla bertanya heran diiringi tautan kedua pangkal alisnya.
Tanpa mengacuhkan pertanyaan yang dilontarkan oleh Nayla, Zidan segera mengambil gawai yang ia simpan di dalam saku kemeja. Kemudian ia bergegas menghubungi Sadam--pamannya.
Disaat Zidan tengah berbincang dengan pamannya melalui sambungan telepon, seseorang berjalan mendekat sambil mengayun botol minuman ke arah kepalanya.
"Awasssssssss!" Seketika Nayla berteriak saat menyaksikan adegan tersebut.
Teriakan Nayla mendorong Zidan untuk bergerak refleks. Ia memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan ikan terbang menjulang ke angkasa hingga membuat tubuh seseorang yang ingin mencelakainya seketika roboh. Orang itu adalah Deni, salah seorang teman Duta.
Bukannya bergegas menolong Deni yang jatuh terjungkal menghantam aspal, ketiga teman Duta yang lain malah terpana menyaksikan sepak terjang Zidan. Mereka tidak menyangka, pemuda seperti Zidan mampu merobohkan Deni yang berbadan besar dan kekar.
"Woah, keren banget!" ujar salah seorang dari mereka yang bernama Danu seraya memuji tendangan Zidan.
"Hooh, keren banget. Deni yang badannya segede gajah bisa roboh dengan sekali tendang. Gue kaga bayangin, gimana kalo gue yang kena tendang," sahut yang lain. Sebut saja dia Dude. Bukan Dude Herlino, melainkan Dude Dorayaki.
"Gue jadi tertarik belajar nari ama ntu orang." Dwiki bermonolog lirih. Namun didengar oleh kedua temannya--Danu dan Dude.
"Lu kata belajar nari? Ntu orang kaga nari woeeee! Ntu orang ngluarin jurus tendangan kodok terbang! Kebanyakan minum lu! Jadi sliwer mata lu!" Danu menyahut ucapan Dwiki sambil menempeleng kepala temannya itu.
__ADS_1
"Bukan jurus tendangan kodok terbang, tapi jurus tendangan ekor buaya menjulang ke awan," cetus Dude yang turut berargumen. Namun sayang, argumennya teramat salah. Bahkan terkesan asal.
"Suka-suka gue mo ngomong apa! Mulut-mulut gue, bukan mulut lu pada!" Dwiki tampak sewot. Ia lantas berjalan meninggalkan kedua temannya untuk menghampiri Zidan.
Setibanya di hadapan Zidan, Dwiki meluruhkan tubuhnya dan berlutut. Ia menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada dan sedikit menundukkan wajah, laksana seorang murid memberi hormat kepada sang guru.
"Guru, jadiin gue sebagai murid. Gue pingin banget diangkat jadi murid Guru dan belajar ilmu bela diri, khususnya jurus tendangan yang bisa mentalin orang."
Zidan melongo. Ia tidak tahu mesti bagaimana menanggapi ucapan Dwiki. Zidan meyakini bahwa Dwiki--pria yang memohon untuk menjadikannya sebagai murid itu pasti tengah mabuk berat, sehingga asal berbicara.
"Guru, jadiin gue juga sebagai murid. Gue bakal belajar tekun, biar bisa gantiin Bang Pitung ama Bang Haji Roma." Sama seperti Dwiki, Dude pun turut berlutut dan menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Gue juga, Guru. Angkat gue sebagai murid. Ajarin gue jurus tendangan maut." Seolah tak mau kalah dengan kedua temannya, Danu pun turut berlutut dan memohon pada Zidan untuk menjadikannya sebagai murid.
Zidan benar-benar speechless, sebab baru pertama kali ini ada orang yang memohon padanya untuk dijadikan sebagai murid. Bukan hanya satu orang, tetapi tiga orang sekaligus.
"Guru, gue juga. Jadiin gue sebagai murid." Deni yang baru saja berhasil membawa tubuhnya bangkit pun ikut memohon. Bahkan ia berlutut dan mencium telapak kaki Zidan, sehingga Zidan merasa risih.
"Ba-bangun! Sa-saya bukan seorang guru. Jadi, jangan meminta saya untuk menjadikan kalian sebagai murid," tutur Zidan dengan sedikit terbata. Ia sungguh merasa tidak nyaman dengan sikap keempat teman Duta yang dirasanya sangat berlebihan.
"Guru jangan ngomong seperti itu! Gue yakin, Guru ahlinya beladiri. Buktinya tendangan Guru bisa bikin gue roboh."
"Benar, Guru. Gue juga yakin, Guru ahlinya beladiri. Jadi gue mohon, jadiin kami sebagai murid. Kalo Guru kaga mau jadiin gue ama temen-temen sebagai murid, kami kaga mau bangun." Danu menimpali ucapan yang dilontarkan oleh Deni.
Zidan meraup udara dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Terlihat jelas dari raut wajahnya bahwa ia tengah berpikir.
"Udah dech, terima aja mereka sebagai murid kamu, Mas! Sama seperti mereka, aku pun yakin kalau kamu menguasai ilmu beladiri dan memiliki jurus pemikat hati." Nayla menjeda sejenak ucapannya dan berusaha untuk beranjak dari posisi duduk dengan berpegangan pada tiang yang berada di sampingnya.
"Jangan lupa, kamu punya hutang sama aku, Mas. Hutang penjelasan dan hutang kepastian," lanjutnya diiringi sebaris senyum yang teramat manis dan menjadikan wajah Nayla terlihat semakin cantik, hingga membuat keempat pria yang menatapnya terpana dan lancang melafazkan pujian.
"Cantik," ucap Deni dan ketiga temannya hampir bersamaan.
Zidan menghembus nafas kasar. Sisi hatinya serasa tidak nyaman saat menyaksikan berpasang-pasang mata menikmati kecantikan Nayla yang teramat paripurna.
Indera pendengarannya pun serasa panas kala mendengar pujian yang mengalir dengan sangat lancang yang ditunjukkan pada gadis berikma panjang itu.
🍁🍁🍁🍁
Bersambung ....
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak dukungan setelah membaca tiap bab nya.
Terima kasih dan banyak cinta untuk Kakak-kakak terkasih yang berkenan mengawal kisah Zidan dan Nayla 😇🙏
-Ayuwidia-
__ADS_1