Elegi Cinta Nayla

Elegi Cinta Nayla
Bab. 17


__ADS_3


Happy reading 💕


Bagi Nayla, sehari tidak melihat wajah Zidan rasanya seperti sewindu.


Ia teramat merindu, tapi sayang insan yang dirindukannya seolah masih enggan untuk bertemu.


Berkali-kali Nayla berusaha menghubungi Zidan dengan melakukan panggilan vidio call, berkali-kali pula ia harus menelan kekecewaan karena Zidan tidak menerimanya meski hanya sedetik.


Nayla mencoba untuk berpikir positif. Ia meyakinkan dirinya bahwa Zidan tengah sibuk.


Yang sebenarnya, Zidan memang tengah sibuk mengecek bangunan setengah jadi yang kelak ingin dijadikannya pondok pesantren.


Selain itu, ia berusaha menghindari bertatap muka dengan Nayla meskipun melalui vidio call untuk menjaga hati dan imannya yang terkadang melemah.


"Nay --" Suara Rumi dan tepukan lembut yang berlabuh di pundak menyadarkan Nayla dari lamun.


Seketika Nayla menoleh ke arah asal suara, lalu memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Rumi--wanita yang telah melahirkannya.


"Mama --"

__ADS_1


"Nay, ada yang ingin mama bicarakan dengan kamu," ucap Rumi sembari meraih jemari tangan Nayla diiringi sebaris senyum yang membingkai wajah cantiknya.


Meski sudah berusia setengah abad, tetapi kecantikan Rumi belum memudar. Ia masih terlihat sangat cantik tanpa polesan dan kecantikannya itu menurun pada Nayla.


"Bicara apa, Ma?" tanya Nayla.


Rumi tidak lantas menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Nayla. Ia mengajak putri semata wayangnya itu untuk duduk di sofa sebelum mereka berbincang, agar keduanya merasa nyaman.


"Nay, sebenarnya mama tidak keberatan jika kamu memilih Zidan sebagai calon suami dan menggagalkan perjodohanmu dengan Jordan. Tapi yang menjadi masalah, Jordan dan papanya tetap bersikukuh untuk menjadikan kamu bagian dari keluarga mereka. Bukan hanya karena bisnis, tapi karena perasaan Jordan terhadap kamu," tutur Rumi setelah mereka mendaratkan bobot tubuh di sofa.


"Perasaan Jordan? Maksud Mama apa?" Nayla bertanya heran dengan mengerutkan dahi, hingga kedua pangkal alisnya saling bertaut.


"Begini, Nay ... tadi pagi Jordan menghubungi mama via telepon. Seperti biasa, Jordan menanyakan kamu. Dia bilang, dia sangat merindukanmu dan ingin segera bertemu. Dia juga mengutarakan perasaannya terhadapmu. Jordan sangat mencintaimu, Nay."


"Mama tau itu, Nay. Mama juga sudah bilang pada Jordan, kalau kamu tidak mau dijodohkan dengannya, karena kamu mencintai pemuda lain."


"Lantas, Jordan bilang apa, Ma?"


"Jordan bilang, dia akan segera berkunjung ke rumah kita untuk melamar kamu, Nay. Dia tidak peduli jika kamu mencintai pemuda lain."


"Ma, Mama dan Papa harus tegas. Mama masih ingat 'kan perkataan Kyai Hidayat? Beliau berpesan pada papa, supaya papa bijaksana dalam mengambil keputusan. Jika Jordan bukan pria yang baik untuk Nayla, papa harus menggagalkan perjodohan kami, meski resikonya ... mereka memutuskan hubungan bisnis dengan perusahaan papa."

__ADS_1


"Ya, mama masih ingat, Nay. Tapi, Kyai Hidayat juga berpesan pada papa untuk menunaikan sholat sunnah istikharah sebelum mengambil keputusan. Tetap menjodohkan mu dengan Jordan atau menerima Zidan sebagai calon suami kamu. Rencananya, papa dan mama akan meminta Jordan untuk datang ke mansion kita setelah kami menunaikan sholat sunnah istikharah. Mama sangat berharap, semoga papa dan mama tidak salah mengambil keputusan karena menyangkut masa depan kamu, Nay."


"Aamiin, semoga Ma. Sama seperti Papa dan Mama, Nayla juga akan menunaikan sholat sunnah istikharah."


"Iya, Nay. Tapi, kapan Zidan akan kembali ke Jakarta untuk mengajari kami tata cara menunaikan ibadah sholat dan mengaji?"


"Insya Allah, nanti sore Ma."


"Syukurlah. Mama sudah tidak sabar untuk belajar sholat dan mengaji, Nay. Mama sudah mantap untuk berbenah dan berhijrah. Mama ingin sekali seperti Mbak Safa--bibinya Zidan. Selain cantik, wajah Mbak Safa terlihat bercahaya dan tenang. Kentara sekali jika Mbak Safa seorang muslimah yang baik dan taat pada Tuhan-nya."


"Alhamdulillah. Jujur, Nayla teramat bahagia, Ma. Bahkan saking bahagianya, Nayla tidak mampu melukiskan kebahagiaan yang Nayla rasa dengan rangkain kata. Nayla teramat sangat bersyukur, karena Allah telah berkenan memberikan hidayah-nya pada kita, Ma."


"Sama seperti kamu, mama juga teramat bersyukur, Nay." Rumi merengkuh tubuh Nayla, lalu membawanya ke dalam pelukan.


"Ma --" ucap Nayla tertahan karena rasa yang tetiba hadir dan membuat pita suaranya tercekat.


Nayla lantas mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Rumi.


"Nay, maafkan mama. Maaf, karena selama ini mama telah mengabaikan kamu." Rumi berbisik tepat di telinga Nayla dan semakin mengeratkan pelukannya.


🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Bersambung ....


-Ayuwidia-


__ADS_2