
Happy reading 💕
"Bangunlah! Saya menerima kalian berempat sebagai murid." Zidan terpaksa mengabulkan permohonan Deni, Danu, Dwiki, dan Dude dengan menjadikan keempat pria itu sebagai murid untuk mengalihkan perhatian mereka dari Nayla, karena ia merasa tidak nyaman dengan pandangan netra mereka yang tertuju pada wajah cantik Nayla.
Benar saja, cara Zidan tersebut ternyata sangat mempan. Perhatian Deni, Danu, Dude, dan Dwiki seketika teralihkan begitu mereka mendengar perkataan Zidan.
Deni dan ketiga temannya lantas membawa tubuh mereka untuk bangkit. Empat sekawan itu bersorak senang seperti bocah kecil yang tengah kegirangan karena mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan.
Sementara Zidan, ia menyungging seutas senyum dan merasa lega karena telah berhasil mengalihkan perhatian mereka dari Maha Karya Illahi yang teramat indah--Nayla Arunnika.
"Makasih, Guru," ucap Deni diikuti oleh ketiga temannya.
Mereka lantas bergantian mencium punggung tangan Zidan dengan takzim sebagai penghormatan seorang murid kepada Sang Guru, hingga membuat Zidan merasa risih karena ia tidak terbiasa diperlakukan berlebihan selayaknya seorang Kyai ataupun Guru.
"Minggir woeee! Aku juga ingin mencium tangan calon suamiku."
Ucapan Nayla sukses mengalihkan atensi Deni dan ketiga temannya yang tengah berdiri mengelilingi Zidan. Mereka serempak merotasikan kepala dan menatap wajah Nayla dengan tatapan tak percaya.
"Apa? Be-benarkah, Nona cantik ... calon istri Guru?" Deni bertanya pada Nayla tanpa melepas tatapannya dari wajah cantik bidadari bernetra bening itu.
Nayla menanggapi pertanyaan yang dilontarkan oleh Deni dengan mengangguk mantap diiringi sebaris senyum yang terlukis indah di wajahnya. "Iya, aku calon istri Mas Zidan."
Hati Deni, Dwiki, Danu, dan Dude tercabik-cabik saat mendengar pengakuan yang terlisan dari bibir Nayla.
Keempat pria itu menekan dada mereka yang terasa sangat nyeri begitu mengetahui bahwa sang bidadari yang mereka kagumi kecantikannya ternyata calon istri Zidan--guru mereka.
Pupus sudah harapan 4D (Deni, Dude, Dwiki, dan Danu) untuk memikat hati Nayla dan menanggalkan status jomblo. Ikhlas tidak ikhlas, rela tidak rela, mereka harus bisa menerima kenyataan.
Beginilah cinta, penderitaannya tiada akhir. Selalu aja gue salah sasaran. Kalo kaga istri orang yang gue taksir, pasti calon istri orang. Hah, semoga aja gue kaga jadi BUDI. Bujang Abadi. Dude bermonolog di dalam hati sembari menatap hampa wajah cantik Nayla.
"Ehem." Zidan menginterupsi dengan berdehem.
"Sudah larut malam. Lebih baik kalian segera pulang ke rumah!" titahnya kemudian pada keempat pria yang kini telah berstatus sebagai muridnya.
"Gue kaga mau pulang. Gue mau ikut Guru." Deni dengan tegas menolak perintah Zidan dan menuturkan keinginannya.
"Iya, Guru. Gue juga kaga mau pulang. Gue harus ikut Guru kemana pun Guru pergi. Seandainya Guru ingin berkelana seperti Tong Sam Chong, gue pastiin bakal ikut Guru." Sama seperti Deni, Dude pun menolak perintah Zidan dan bersikukuh untuk turut bersama Zidan ke manapun gurunya itu akan pergi.
"Iya, Guru. Sama kaya' Deni dan Dude, gue rela kog ninggalin rumah dan ikut kemana pun Guru pergi." Danu menimpali ucapan Dude.
"Sama kaya' lu pada, gue juga bakal ikut Guru kita," sahut Dwiki dengan suaranya yang terdengar lantang dan berapi-api.
Zidan kembali dibuat bingung oleh keempat teman Duta--Deni, Danu, Dude, dan Dwiki.
__ADS_1
Bagaimana ia bisa membawa mereka berempat untuk ikut bersamanya, sementara dirinya sendiri hanya menumpang di rumah sang paman.
"Ck, ck, ck, kalian sungguh keterlaluan! Sudah diberi hati, minta ampela." Nayla menggeleng pelan sambil berkacak pinggang.
"Seharusnya kalian bersyukur, karena Mas Zidan sudah memenuhi permintaan kalian. Dengan kerelaan hati, Mas Zidan bersedia mengangkat kalian sebagai murid. Dan sebagai murid yang baik, seharusnya kalian berempat mentaati perintah guru. Bukan malah menentangnya, apalagi memaksakan kehendak. Kalau Mas Zidan memerintahkan kalian untuk pulang, ya kalian harus segera pulang! Nggak boleh ngotot untuk ikut serta bersamanya. Lagian ya, malam ini Mas Zidan butuh istirahat total, supaya besok pagi bisa menyiapkan pernikahan kami," tutur Nayla pada Deni dan ketiga temannya.
"Ya 'kan, Mas Zidan?" sambungnya dengan tersenyum manis sembari mengalungkan tangannya di lengan Zidan yang terbuka.
"Astaghfirullah." Zidan terkesiap.
Refleks ia menghempas tangan Nayla yang semula melingkar di lengannya, lalu diraupnya udara dalam-dalam untuk menormalkan degup jantung yang berdentum-dentum karena ulah gadis bar-bar itu.
"Mas, kamu kenapa sih? Kenapa, kamu menghempas tanganku? Apa mungkin karena tanganku na-jis, hingga kamu merasa jijik?" Nayla mencecar Zidan dengan kalimat tanya dan memasang raut wajah sendu.
Ia teramat kecewa dengan sikap Zidan yang menurutnya sangat berlebihan dan membuat dirinya merasa rendah.
"Maaf," ucap Zidan dengan menundukkan pandangan.
"Maaf jika menurut Mbak Nayla sikap saya tadi terlalu berlebihan. Bukan karena Mbak Nayla na-jis, tetapi karena kita belum halal. Seorang pria dan wanita yang bukan mahram ataupun belum terikat pernikahan, maka tidak boleh saling bersentuhan. Seperti kita --"
"Kenapa tidak boleh?" Nayla memangkas ucapan Zidan.
"Sebab untuk menjaga diri kita dari perbuatan zina dan agar terhindar dari dosa yang ditimbulkan karenanya. Saya berharap, Mbak Nayla bisa memahami," terang Zidan.
"Oke, aku faham kog. Kamu ingin menjaga diri dari perbuatan zina karena takut dosa 'kan, Mas? Baiklah kalau begitu, ayo kita segera menikah! Kalau perlu malam ini juga! Biar kita bisa saling bersentuhan dan nggak takut dosa."
Disaat Zidan tengah terdiam dan terjebak dalam kebingungan, terdengar ucapan salam yang berhasil mengalihkan perhatian semua orang yang berada di tempat itu, tak terkecuali ia dan Nayla.
Rupanya Sadam dan Safa yang telah mengucap salam. Mereka berdua adalah paman dan bibi Zidan.
"Wa'alaikumsalam," sahut Zidan dan Nayla hampir bersamaan seraya membalas salam yang terlafaz.
Sementara Deni dan ketiga temannya hanya diam tanpa melepas tatap dari Sadam dan Safa.
"Alhamdulillah, Paman dan Bibi sudah datang." Zidan menerbitkan senyum. Ia bernafas lega karena paman dan bibinya tiba di waktu yang tepat. Tentu saja saat dirinya ingin mengabaikan ucapan Nayla yang membuatnya terjebak dalam kebingungan.
"Woah. Jadi, beliau berdua paman dan bibi Mas Zidan?" Sebelum Sadam sempat membalas perkataan Zidan, Nayla menyahutnya terlebih dulu. Terkesan tidak sopan, tapi begitulah Nayla. Gadis bar-bar yang gemar sekali ceplas-ceplos jika bicara.
"Paman, Bibi, perkenalkan saya Nayla. Calon istri Mas Zidan." Dengan kepercayaan diri tingkat bidadari, Nayla memperkenalkan dirinya sebagai calon istri Zidan pada Sadam dan Safa.
Kedua paruh baya itu seketika menatap lekat netra Zidan. Dari tatapan keduanya, Zidan mampu memahami bahwa paman dan bibinya tengah meminta penjelasan pada dirinya.
"Paman, Bibi, Zidan akan jelaskan --" Zidan berniat untuk memberi penjelasan pada Sadam dan Safa mengenai perkataan Nayla. Namun Nayla memangkasnya.
"Biar aku aja yang menjelaskan pada Paman dan Bibi, Mas."
__ADS_1
Zidan menghela nafas dalam dan mengangguk pelan. Dengan berat hati ia mempersilahkan Nayla untuk menjelaskan pada Sadam dan Safa.
Nayla lantas menceritakan awal mula pertemuannya dengan Zidan dan menjelaskan alasan keinginannya untuk segera menikah dengan pemuda yang baru beberapa menit dikenalnya itu.
Sementara Sadam dan Safa, keduanya mendengar kata demi kata yang dituturkan oleh Nayla dengan takzim.
"Saya merasa, Mas Zidan adalah lelaki yang tepat untuk menikahi saya. Lelaki yang mengetahui dan memahami syariat. Yang bakal memperlakukan saya selayaknya seorang ratu, bukan seperti seorang buda*," tutur Nayla di akhir ucapannya.
Sadam dan Safa saling menautkan tatapan. Keduanya menerbitkan senyum, lalu mengalihkan pandangan netra ke arah Zidan.
"Bagaimana, Le? Kamu sudah siap menikahi Nak Nayla?" Sadam mendaratkan tepukan kecil di bahu Zidan diiringi senyumnya yang kian terkembang. Seolah ia sudah bisa menebak jawaban apa yang bakal diberikan oleh Zidan. Sebab bukan hanya Nayla, gadis yang berkeinginan untuk dinikahi oleh keponakannya itu.
Zidan menanggapi deretan kalimat tanya yang dilontarkan oleh Sadam dengan menggeleng pelan.
"Saya belum siap, Paman," ucapnya kemudian.
"Kenapa belum siap?"
"Karena Mbak Nayla belum mengenal siapa saya sebenarnya. Begitu pun sebaliknya. Selain itu, karena saya --"
"Kata orang, tak kenal maka ta'aruf. Kita bisa ta'aruf sekarang juga, Mas," cetus Nayla seraya memangkas ucapan Zidan.
"Setelah ta'aruf, kita lanjut menikah. Tapi ta'aruf nya jangan lama-lama. Dua jam aja! Supaya kita bisa menikah malam ini. Jika nggak memungkinkan menikah malam ini, besok pagi juga nggak pa-pa. Asal jangan sampai besok lusa," sambungnya.
"Ta'aruf selama dua jam?" Zidan mengerutkan dahi, hingga kedua pangkal alisnya saling bertaut. Ia teramat heran pada Nayla yang mengajaknya ta'aruf selama dua jam. Terkesan kilat dan ngadi-ngadi baginya.
"Heem," balas Nayla. Ia mengangguk mantap diiringi lengkungan bibir hingga membentuk senyuman yang menghiasi wajah ayunya.
"Iya, dua jam saja. Tidak lebih!" lanjutnya.
"Maaf, saya tidak bisa. Belum tentu kedua orang tua Mbak Nayla menerima saya sebagai menantu, karena saya --"
"Karena apa, Mas?"
"Karena saya seorang pendosa. Saya pernah memiliki usaha perjudian. Saya juga pernah memiliki hotel khusus untuk berzin*. Saya bukanlah pria baik. Yang pantas untuk dijadikan sebagai seorang imam."
Nayla terbungkam tatkala mendengar pengakuan yang terlisan dari bibir Zidan.
Sama seperti Nayla, Deni beserta ketiga temannya pun terbungkam dan tampak sangat syok. Mereka sungguh tidak menyangka, seorang pemuda yang terlihat alim dan sempurna seperti Zidan ternyata memiliki masa lalu yang teramat kelam.
"Alasan utama kenapa saya belum siap untuk menikah, sebenarnya karena saya tengah berbenah dan berusaha memantaskan diri. Saya ingin menjadi seorang suami dan imam yang sanggup membimbing istri saya, sehingga kami bisa membangun rumah tangga yang sakinah, mawadah, warahmah, sesuai tuntunan baginda Nabi." Zidan menyambung ucapannya dan menyematkan sebaris senyum. Kemudian ia berlalu dari hadapan Nayla yang masih setia terbungkam tanpa kata.
🍁🍁🍁🍁
Bersambung ....
__ADS_1
-Ayuwidia-