Elegi Cinta Nayla

Elegi Cinta Nayla
Bab. 4


__ADS_3


Happy reading 😘


Sadam menghentikan laju kendaraan besinya begitu tiba di halaman rumah minimalis bercat hijau. Rumah itu terlihat sangat sederhana, tetapi tampak cantik dan nyaman bila dipandang.


Di sekelilingnya ditumbuhi beraneka macam bunga dan pohon palem, sehingga menyentuhkan kesan asri.


"Silahkan masuk, Nak Nayla!" Dengan tersenyum ramah, Safa mempersilahkan Nayla untuk masuk ke dalam rumahnya. Rumah yang hanya ditempati oleh ia, Sadam, dan Zidan, karena putra semata wayangnya tinggal di Kairo dan bekerja sebagai seorang dokter di negeri yang mendapat julukan 'kota seribu menara' itu.


Nayla mengedar pandangan netranya ke seisi ruang begitu ia masuk ke dalam rumah Sadam. Ia teramat takjub saat indera penglihatannya membentur kaligrafi yang tergantung di dinding. Kaligrafi itu bertuliskan lafaz dua kalimat syahadat dan di bagian bawahnya tertera huruf Z disertai tanda tangan si penulis.


Nayla sangat yakin, kaligrafi tersebut hasil tulisan tangan Zidan, pemuda berparas tampan yang diidamkan, diimpikan, serta diharapkannya menjadi suami, calon imam yang sempurna, pria yang kelak mencurahi-nya kasih sayang dan menjadikannya sebagai ratu di singgasana kalbu.


Sungguh, indah sekali impian dan harapan Nayla terhadap Zidan. Saat ini ia tengah terlupa bahwa Sang Penulis Skenario lah yang Maha Berkehendak. Ia yang berwenang menuliskan takdir cinta. Entah takdir cinta yang indah, atau takdir cinta yang berujung nestapa dan memaksa Nayla meneteskan air duka.


Siapa Penulis Skenario itu? Dia adalah zat yang Maha segala-galanya, 'Allah SWT'. Sedangkan pengetik kisah ini hanyalah insan yang ditunjuk sebagai perantara-Nya.


"Bi, kaligrafi itu pasti hasil tulisan tangan Mas Zidan ya?" Suara Nayla memecah hening yang sejenak tercipta. Gadis bernetra bening itu bertanya pada Safa sembari menunjuk kaligrafi yang diyakininya sebagai hasil tulisan tangan Zidan.


Safa menerbitkan senyum, lalu ia alihkan pandangan netranya ke arah kaligrafi yang ditunjuk oleh Nayla.


"Iya, benar. Kaligrafi itu adalah hasil tulisan tangan Zidan. Semenjak Zidan bertaubat dan memutuskan untuk berhijrah, Zidan sering menghabiskan waktu luangnya untuk menulis kaligrafi dan memperdalam ilmu agama pada Kyai Hidayat," tutur Safa seraya menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Nayla.


"Aku yakin, pasti banyak orang yang tertarik dan ingin membeli kaligrafi-kaligrafi yang ditulis oleh Mas Zidan. Selain rapi, kaligrafi yang ditulis oleh Mas Zidan bernilai estetik. Teramat sangat indah, seperti kepribadian orangnya."


"Nak Nayla jangan terlalu memuji Zidan, tetapi pujilah Illahi yang telah menciptakan-nya. Dia lah yang merubah kepribadian Zidan, hingga Zidan bisa berubah menjadi pemuda yang berakhlak mahmudah (terpuji) seperti sekarang ini."


"Iya, Bi. Tapi nggak pa-pa 'kan jika sesekali aku ingin memuji Mas Zidan? Karena Mas Zidan memang pantas dipuji."


"Tidak apa-apa jika hanya sesekali memujinya, asalkan jangan berlebihan!"


Nayla menanggapi ucapan Safa dengan mengangguk pelan dan menyematkan sebaris senyum yang membingkai wajah cantiknya.


"Iya, Bi," ucapnya kemudian.


Safa lantas memandu Nayla untuk masuk ke dalam kamar Zidan yang berada tidak jauh dari ruang tamu. Kemudian ia mempersilahkan Nayla untuk beristirahat di kamar itu.


Sebelum meninggalkan kamar Zidan, Safa meminta Nayla untuk mengganti pakaiannya yang basah dengan baju gamis yang telah disediakan olehnya.


Begitu Safa keluar dari kamar Zidan, Nayla segera mengunci pintu kamar itu, lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian.


Selesai berganti pakaian, Nayla mematut diri di depan cermin.


Berkali-kali ia memuji wajahnya yang tampak semakin cantik dengan rikma yang diurai dan tubuh indahnya yang terbalut gamis berwarna putih.


"Duh, cantik banget calon istrinya Mas Zidan. Dijamin, Mas Zidan nggak bakalan nyesel kalau beneran nikah sama aku. Tapi --" Nayla menggantung ucapannya. Raut wajahnya yang semula tampak berseri, seketika berubah muram saat ucapan Zidan terngiang di telinga.

__ADS_1


Rasulullah SAW bersabda, "Wanita dinikahi karena empat perkara. Yaitu karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau akan beruntung.” Jadi, kecantikan bukan merupakan pilihan utama bagi seorang pria untuk menikahi seorang wanita, karena kecantikan bisa luntur ataupun layu seiring bergulirnya waktu ....


Nayla menghela nafas dalam, lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


"Apa iya, Mas Zidan mau menikahi wanita seperti aku? Wanita yang sama sekali tidak mengenal agamanya sendiri, apalagi taat beribadah," monolognya sambil menatap langit-langit kamar.


Sama seperti Nayla, Zidan pun tengah merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan menatap langit-langit kamar. Tepatnya di kamar Ridwan, salah satu murid Kyai Hidayat yang tinggal di asrama Hidayah. Asrama yang disediakan oleh Kyai Hidayat bagi para mahasiswa yang tidak memiliki uang untuk menyewa rumah ataupun kos.


Zidan tersenyum kala teringat ucapan serta tingkah polah Nayla yang terkesan bar-bar dan membuatnya geli. Namun detik berikutnya, ia melafazkan istighfar, memohon ampunan pada Robb-nya.


"Astaghfirullah, ampuni hamba ya Allah. Ampuni kelemahan iman hamba."


Zidan menghembus nafas pelan. Kemudian ia beranjak dari posisi berbaring dan meraih mushaf Al Qur'an yang diletakkannya di atas nakas.


Dibukanya lembar demi lembar mushaf itu, lalu dipilihnya Qur'an Surah Al Mulk. Surah yang selalu dibacanya setiap ingin memejamkan netra dan berlayar ke negeri mimpi.


Rasulullah bersabda, "siapa yang membaca surat Al Mulk setiap malam, Allah SWT akan menghindarkannya dari siksa kubur dengan surat tersebut," (HR An Nasa'i).


🍁🍁🍁


Suara kerinduan Illahi berkumandang di subuh hari. Membangunkan jiwa-jiwa yang terlelap di alam mimpi.


Safa yang baru saja selesai membaca Surah Al Waqi'ah, segera menyimpan mushaf Al Qur'an di atas meja dan membawa tubuhnya untuk bangkit. Hampir saja ia terlupa untuk membangunkan Nayla.


"Assalamu'alaikum, Nak Nayla." Safa mengucap salam dan mengetuk pintu kamar Zidan yang ditempati oleh Nayla.


Karena tidak ada jawaban dari Nayla, Safa mengulanginya hingga tiga kali.


Disaat Safa bersiap memutar tumit, tiba-tiba pintu kamar Zidan terbuka perlahan dan menampakkan sesosok wanita bermuka bantal yang berdiri di balik pintu. Siapa lagi jika bukan Nayla Arunnika, gadis bar-bar yang menasbihkan dirinya sebagai calon istri Zidan Arfa Rasydhan.


"Hoammmmm." Nayla menguap, lalu mengucek kelopak matanya yang masih dipenuhi oleh be-lek.


Ia berusaha mengumpulkan nyawa dengan meraup udara dalam-dalam dan membuka sepasang netranya lebar-lebar.


"Ada apa, Bi? Kenapa Bibi membangunkan aku sepagi ini dan berceramah panjang kali lebar?" Nayla mencecar Safa dengan suaranya yang terdengar serak khas bangun tidur dan memasang raut wajah kesal.


Ya, Nayla merasa kesal karena ucapan salam yang dilisankan oleh Safa dan suara ketukan pintu membuat tidur lelapnya terganggu, sehingga mimpi indahnya berakhir dengan cerita menggantung.


Selama ini Nayla terbiasa bangun siang dan tidak pernah menunaikan ibadah sholat subuh. Papa dan mama-nya terlalu sibuk dengan urusan duniawi hingga keduanya tidak memiliki waktu untuk membangunkan Nayla di pagi hari, apalagi membimbing Nayla untuk menjalankan ibadah yang seharusnya ditunaikan oleh seorang muslim.


Mereka mempercayakan Nayla pada para maid dan memanjakan sang putri dengan kemewahan. Padahal bukan itu yang Nayla butuhkan, tetapi curahan kasih sayang dan bimbingan dari mereka.


Di KTP tertera bahwa agama yang dianut oleh Nayla dan kedua orang tuanya adalah Islam. Namun mereka tidak pernah menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim, terlebih ibadah sholat dan menjalankan puasa Ramadhan.


Bagi mereka agama hanyalah identitas. Tidak lebih. Sehingga mereka tidak pernah tertarik untuk belajar ilmu agama, apalagi menunaikan ajaran yang disyariatkan.


Harta yang sejatinya hanyalah titipan dari Illahi telah memperdaya dan melalaikan mereka, hingga mereka terlupa bahwa kehidupan di dunia ini bersifat fana dan di akhirat lah kehidupan yang kekal abadi.

__ADS_1


Kembali ke alur cerita ....


Safa menghembus nafas pelan dan melafazkan istighfar di dalam hati saat mendengar deretan kalimat tanya yang dilontarkan oleh Nayla. Ia tidak marah pada Nayla dan memaklumi gadis itu. Safa meyakini bahwa selama ini Nayla tidak pernah menunaikan ibadah sholat subuh, bahkan mungkin ibadah-ibadah fardhu lainnya.


"Bibi membangunkan Nak Nayla supaya Nak Nayla menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim di subuh hari, yaitu menunaikan ibadah sholat 'wajib' subuh dua rakaat." Safa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Nayla dengan menekankan kata 'wajib' yang berarti harus ditunaikan dan tidak boleh ditinggalkan. Ia berharap, Nayla bisa memahami perkataannya dan bergegas mengambil air wudhu sebelum menunaikan sholat subuh berjamaah.


"Eng ... maaf, Bi. Aku nggak pernah menunaikan ibadah sholat subuh dan sholat wajib lainnya. Jadi, aku nggak tau bagaimana gerakan dan bacaan sholat." Nayla berucap lirih sambil menundukkan wajah.


Ingin rasanya ia bercerita pada Safa tentang kedua orang tuanya yang tidak pernah mengajarkan ilmu agama kepadanya, sehingga ia teramat buta dan tidak tau bagaimana tata cara menjalankan ibadah sesuai tuntunan syariat. Namun ia masih ragu untuk menceritakannya.


Safa mengulas senyum dan membelai rikma Nayla. Lantas ia bertutur dengan nada suaranya yang terdengar lembut, "Bismillah, mulai sekarang Bibi akan mengajarimu tata cara menjalankan ibadah. Bibi akan memperkenalkan mu dengan Al Qur'an. Harta yang diwariskan kepada kita--umat manusia sebagai pedoman hidup, agar kamu bisa mengenal Tuhan-mu dan mencintainya dengan sepenuh hati tanpa keraguan sedikit pun, sehingga kamu senantiasa menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya tanpa merasa terbebani ataupun terpaksa."


"Makasih, Bi." Nayla mengangkat wajahnya dengan perlahan dan menerbitkan seutas senyum. Ditatapnya wajah Safa dengan netra yang terbingkai kaca-kaca, lalu direngkuhnya tubuh Safa dan dibawanya ke dalam pelukan.


"Iya, Sayang," ucap Safa. Ia membalas pelukan Nayla dan melabuhkan kecupan di pucuk kepala Nayla sebagai ungkapan kasih sayang yang mengalir tulus dari dalam hati.


Tanpa mereka sadari, ada dua pria yang tengah menyaksikan mereka saling berpeluk. Kedua pria itu adalah Zidan dan Sadam.


Atmosfer haru menyelimuti seisi ruang batin dan menciptakan titik-titik embun yang bergelayut manja di pelupuk mata.


Zidan segera mengusap titik-titik embun itu agar tak tertumpah dan membasahi wajah tampannya. Kemudian ia berdehem dan mengucap salam untuk mengalihkan atensi. Khususnya atensi Nayla dan Safa, bukan atensi cicak-cicak yang sedang terpaku menatap pahatan tampan wajahnya.


Nayla dan Safa seketika saling melepas pelukan, lalu membalas salam yang terlafaz dari bibir Zidan.


"Mas Zidan --" Pita suara Nayla tercekat saat wajah tampan Zidan memenuhi ruang pandang. Ia kian terjerat pesona Zidan yang saat ini terlihat paripurna.


Ya, ketampanan Zidan kian bertambah di mata Nayla, saat pemuda idaman hatinya itu mengenakan stelan baju koko dan sarung. Ditambah lagi peci hitam yang bertengger di kepalanya.


Ya Tuhan, Engkau ciptakan makhluk setampan ini dari apa?


Karena saking terpesonanya, Nayla memandang wajah Zidan dengan intens dan tanpa berkedip, hingga membuat pemuda idaman hatinya itu salah tingkah dan memalingkan wajah.


"Sudah terdengar iqamah. Mari kita segera berangkat ke Masjid!" Sadam menginterupsi dengan memperdengarkan suara baritonnya dan membuat Nayla tersadar dari mode terpesona.


Setelah pamit pada Safa dan Nayla, Sadam dan Zidan mengayun langkah. Mereka berjalan beriringan menuju Masjid Muttaqien yang berada tidak jauh dari rumah.


Sementara Safa dan Nayla, mereka bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Dengan sabar, Safa memandu dan mengajari Nayla tata cara berwudhu yang benar, lalu ia membawa Nayla ke mihrab yang berada di samping taman belakang untuk menunaikan ibadah sholat subuh.


"Allahu Akbar." Untuk pertama kalinya Nayla mengucap takbiratul ihram. Bibirnya bergetar, begitu pun tubuhnya.


Di dalam hati ia menjerit, menangis, meratap, meminta ampunan Illahi, Tuhan yang selama ini diabaikannya.


🍁🍁🍁🍁


Bersambung ....

__ADS_1


Mohon maaf jika ada salah kata atau bertebaran typo 😊🙏


-Ayuwidia-


__ADS_2